
Pertempuran yang dilakukan oleh pasangan suami istri itu benar-benar dilakukan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Yara memilih membersihkan diri terlebih dulu. Meninggalkan Erza seorang diri di kamar mandi.
“Sayang hati-hati, pelan-pelan saja! Jangan tergesa-gera,” titah Erza saat Yara keluar dari kamar mandi.
“Iya, Mas.” Yara segera memakai pakaiannya kemudian berjalan menuju pintu kamar. Di mana Dhiya mengetuk pintu sambil berteriak memanggil Erza dan Yara.
“Bunda ... Kenapa dikunci pintunya?” teriak Dhiya dari luar kamar. “Bun, ada Om Leon di depan. Kopi papa juga ditaruh di meja ya.” Dhiya masih bicara dengan suara tinggi di depan kamar Yara.
Yara dengan cepat memakai baju hamil model dress panjang dengan lengan pendek. Sehingga mudah bagi ibu hamil itu untuk memakainya.
Ceklek.
Yara membuka pintu kamarnya. Dhiya masih berada di sana.
“Lama banget sih, Bun,” protes Dhiya.
“Bunda lagi mandi, siang ini panas sekali cuacanya,” elak Yara bohong.
Dhiya mengerutkan alisnya. Manik matanya melirik pada pendingin ruangan yang masih menyala. “AC nya nyala, Bun. Emang nggak dingin ya?” tanya Dhiya bingung.
“Bunda ‘kan lagi hamil besar. Bawaannya pasti gerah terus, Ka,” sanggah Yara. Dirinya tidak mungkin bicara jujur kalau siang itu telah terjadi pertempuran panas dengan Erza.
“Iya juga, Bun. Dulu juga Mamih Syafa begitu padahal hamilnya belum besar apalagi bunda yang besar seperti ini. Kasihan dede bayi ya, Bun.” Dhiya mendekat pada Yara kemudian mengusap perut buncit bunda-nya. “Dede sabar ya, kalau kamu sudah lahir. Nanti kakak yang temenin,” ucap Dhiya seraya mengusap pelan perut Yara.
Yara mengulas senyum membalasnya.
“Kakak yang baik, pasti kamu juga sudah nggak sabar ya nunggu Dede bayi lahiran?” tanya Erza yang tiba-tiba datang dari dalam kamar. Yara menoleh pada suaminya yang ternyata sudah rapi dan wangi.
“Iya, Pah. Aku udah nggak sabar nunggu Dede bayi lahir,” jawab Dhiya sontak membuat Erza mengacak pelan rambut Dhiya.
“Pah, kopinya di meja ya itu aku yang buat. Om Leon juga aku buatkan kopi,” ucap Dhiya bangga.
“Wah putri cantik papa semakin pintar ya.”
“Iya, dong.”
“Mas Erza mau langsung pergi?” tanya Yara.
Sebelum menjawab, Erza melihat jam di pergelangan tangannya. “Sepertinya begitu, Sayang. Kenapa kamu mau ikut?”
Yara menggelengkan kepalanya terpaksa. “Tidak, Mas. Aku hanya bertanya,” balas Yara bohong. Padahal hatinya ingin sekali ikut dengan Erza.
“Ayo, antar aku ke depan!” ajak Erza. Ketiganya melangkah bersama menemui Leon di ruang tamu.
“Sorry lama menunggu,” sapa Erza pada sekretaris andalannya pria sedang menikmati kopi di tangannya.
Seketika Leon langsung menaruh kopinya di atas meja kemudian langsung berdiri menghadap Erza. “Tidak apa Pak Erza,” saya bisa menunggu lama kok,” sahutnya.
“Papa cobain kopi buatanku,” titah Dhiya.
“Ya, papa lupa.” Erza lekas meraih secangkir kopi miliknya. Kopi yang dibuatkan oleh putri cantiknya itu. “Hm, harum, nikmat, pas lagi takarannya,” puji Erza.
Dhiya malah terkekeh menanggapinya. “Ya pastinya pas, Pah. Orang aku pakai kopi kemasan yang tinggal di campur air panas aja, kok.” Dhiya terkekeh pelan.
“Yang penting putri papa yang buat. Rasnya jadi lebih nikmat.” Erza tak hentinya memuji.
“Dih papa pinter banget merayunya, pantas saja Bunda gampang luluh,” ledek Dhiya.
Erza dan Yara tersnyum membalasnya. Begitu juga dengan Leon. Sekretaris nya itu tidak menyangka sikap hangat dan lembut Erza pada anak dan istrinya. Sebab yang Leon tahu. Erza itu sering menunjukkan sikap dingin dan acuh apalagi pada wanita.
“Pak Erza sebaiknya kita berangkat sekarang,” ucap Leon.
Erza mengangguk pelan kemudian beralih pada Yara dan Dhiya. Dhiya meraih tangan papanya kemudian menyalaminya. Begitu juga dengan Yara. Tak lupa kecupan singkat Erza berikan pada dua wanita itu.
“Papa berangkat dulu! Kalau acaranya selesai cepat. Papa akan segera pulang. Kakak temani bunda dulu, ya!” titah Erza pada Dhiya.
__ADS_1
“Siap, Pah.”
Erza beralih pada Yara. “Aku pergi, ya. Hati-hati di rumah. Kalau perutmu terasa kram atau kontraksi segera kabari aku. Aku akan segera pulang saat itu juga,” ucap Erza tegas.
“Iya, Mas. Jangan khawatirkan aku. Ada bibi juga ko. Mas fokus saja dengan acara di sana,” sahut Yara membuat Erza merasa sedikit lega.
Erza merasa lega mendengarnya. “Tasnya mana, Sayang?” tanya Erza.
“Aku lupa membawanya, Mas. Ada di kamar. Biar ku ambil.” Yara hendak melangkahkan kakinya. Tapi dengan cepat Erza mencegahnya. “Biar aku saja.” Erza berbalik badan kembali ke kamarnya. Melihat suaminya beranak dari sisinya.
“Kakak, mandi dulu sana! Udah sore loh, ” titah Yara. Padahal itu hanya alasannya saja agar Yara bisa berbicara dua mata dengan Leon.
“Iya, Bunda.” Dhiya juga berlalu dari hadapan Yara.
Kini hanya tinggal Leon dan Yara yang ada di sana.
“Leon,” panggil Yara.
“Ya, Bu Yara,” sahut Leon.
“Saya bisa minta tolong sama kamu?” tanya Yara
“Apa itu, Bu?” Leon balik bertanya.
Sebelum Erza kembali. Yara segera berbicara serius, cepat dan singkat dengan Leon. Wanita itu meminta tolong pada Leon agar terus bersama Erza. Leon pun mengangguk mengiyakan.
“Terima kasih, maaf aku merepotkanmu,” ucap Yara.
“Sama sekali tidak, Bu. Saya mengerti perasaan ibu hamil. Karena istri saya juga pernah mengalami hal seperti yang ibu rasakan saat ini,” balas Leon.
Yara tersenyum membalasnya. “Salam buat istrimu.”
“Ya, akan saya sampaikan, Bu.”
Tak lama Erza kembali dengan tas jinjing di tangannya. Yara dan Leon seketika saling diam.
“Baik, Pak! Biar saya bawakan tasnya ke mobil,” ucap Leon seraya meraih tas yang dibawa Erza.
“Oh, ya.” Erza menyerahkannya pada Leon. Kemudian beralih pada Yara. “Dhiya mana?” tanya Erza.
“Ke kamarnya, aku suruh dia mandi sudah sore Mas.”
“Ya sudah kalau begitu. Aku pergi ya,” pamit Erza seraya mencium kening Yara.
“Hati-hati, Mas. Hubungi aku kalau sudah sampai.”
“Siap, Sayang.” Erza berlalu dari hadapan Yara kemudian masuk ke dalam mobil yang akan membawanya pergi.
Lambaian dari tangan Yara pada Erza yang berada di dalam mobil jadi perpisahan buat keduanya.
‘Ya Allah, lindungi suamiku dimanapun dia berada. Jauhi dia dari orang-orang yang berniat jahat padanya. Kembalikan dia padaku dengan selamat dan utuh, Aamin.’
Batin Yara seraya mengusap wajah dengan kedua tangannya.
Perjalanan menuju lokasi menghabiskan waktu sekitar 4 jam. Dan saat ini Erza baru saja sampai di sana. Erza sengaja langsung datang menghadiri pesta peresmian swalayan mewah dan terbesar di kota itu.
Erza di sambut oleh Pak Dimar dan Andrea selaku pemilik dari swalayan itu.
“Selamat malam Pak Erza. Selamat datang di tempat yang berdiri megah berkat kerja keras anda ini,” sapa Pak Dimar seraya mengulurkan tangan pada Erza.
“Selamat malam juga Pak Dimar. Maaf apa peresmian sudah selesai?” tanya Erza sebab ia melihat tidak banyak orang di sana. Beberapa toko juga sudah ada yang beroperasi.
“Peresmian dilakukan tadi siang, Pak Erza. Pihak pengelola memajukan waktunya. Menurut mereka lebih baik siang hari saat banyak pengunjung yang akan datang,” ujar Pak Dimar.
Seketika Erza menoleh pada Andrea. “Kenapa Anda tidak memberi tahu saya, Bu Andrea?” tanya Erza dengan tatapan tajam.
__ADS_1
“Maaf, Pak Erza. Tadi siang Anda sudah dihubungi. Saya juga sibuk dengan acara yang mendadak maju. Saya minta maaf,” ucap Andrea seraya menundukkan kepalanya.
Erza terlihat acuh pada Andrea. Kemudian beralih kembali pada Pak Dimar. “Sebenarnya tidak masalah bagi saya. Karena Pak Dimar pemilik tempat ini, bukan saya. Kamu datang ke sini hanya tamu bukan? Kami hanya tinggal menikmati suguhan acara malam ini, bukan begitu Bu Andrea?” Erza kembali menatap Andrea.
Senyum mengembang di wajah wanita itu. Andrea pikir Erza akan marah. Tapi ternyata tidak, dan hal itu semakin menguatkan dirinya untuk melancarkan rencananya.
“Kalau begitu silakan dinikmati acaranya Pak Erza,” ucap Andrea dengan senyum manisnya.
“Mari Pak Erza,” ajak Pak Dimar.
Di dalam tempat acara. Begitu banyak tamu undangan yang datang. Andrea mengajak Erza dan Leon pindah tempat ke area private. “Tempat ini sengaja saya siapkan untuk kedatangan Anda Pak Erza,” ucap Andrea.
“Wah, berada tamu istimewa saya,” sahut Erza.
“Anda memang istimewa, Pak Erza. Kalau bukan karena Anda. Tempat ini tidak akan berdiri semegah ini,” balas Andrea dengan suara menggoda.
Jamuan makanan dan minuman istimewa yang disuguhkan menggugah selera. Apalagi Leon dan Erza yang baru melewati perjalanan panjang butuh asupan untuk mengganjal perut mereka.
Obrolan yang berlangsung selama makan itu menjadi kegiatan asyik buat Andrea. Wanita itu bisa memperhatikan Erza dari dekat. Pak Dimar, ayah dari Andrea seakan memberi banyak celah untuk putrinya lebih dekat dengan Erza.
“Saya sangat puas dengan kerja sama ini, Pak Erza. Ke depannya saya akan terus memakai jasa dari perusahaan Anda. Beberapa proyek yang akan kembali dilaksanakan. Melihat hasilnya memuaskan seperti ini, saya ragu jika orang lain yang mengelolanya. Saya akan percayakan kerja sama selanjutnya pada Anda,” ucap Pak Dimar di sela obrolan santainya dengan Erza.
“Dengan senang hati kami akan menyambut kerja sama itu, Pak Dimar. Kami senang jika klien merasa puas dengan kinerja karyawan saya,” sahut Erza.
“Baguslah kalau begitu.”
Obrolan kembali berlangsung lumayan lama. Leon pamit ke toilet saat Pak Dimar seolah menjadi penghubung antara Andrea dan Erza.
Saat keluar dari toilet. Leon menghentikan langkah ketika mendengar dua orang pelayan sedang berbicara di pojok ruangan. Leon merasa curiga pada dua orang itu. Makanya dia menguping pembicaraan mereka.
“Cepet masukin obat tidur ke dalam brandy ini, mumpung nggak ada orang. Selebihnya wanita yang melanjutkan. Kita hanya dibayar untuk mencampurkan obat tidur itu saja,” ucap salah satu pelayan pada temannya.
Temannya itu mengangguk pelan menanggapinya. “Tunggu gue ambil gelas dan es batu dulu,” ujar temannya.
Leon mengelengkan kepala dengan aksi yang akan di lakukan oleh kedua pelayan itu. Leon tidak berpikir apa pun saat itu. Kemudian melanjutkan langkah ke arah Erza dan Andrea yang terlihat duduk berdua. Jelas terlihat wajah Andrea yang begitu senang berduaan dengan Erza. Tidak terlihat keberadaan Pak Dimar di sana. Sebab pria itu sudah pamit lebih dulu pada Erza dan Andrea.
Leon mengernyitkan alis saat dua pelayan tadi sudah berada di mejanya. Meja yang tadi ia tempati dengan Erza.
“Kebetulan Pak Leon sudah kembali. Saya punya sesuatu untuk kalian. Ini minuman mewah dengan rasa yang menakjubkan. Pak Erza dan Pak Leon wajib mencobanya,” ucap Andrea saat dua pelayan datang membawa sebotol brandy dan gelas khusus untuk minuman itu serta es batu di atas nampan.
Andrea menerima botol tersebut dan menuangkannya ke dalam gelas berisi es batu.
“Silakan di minum Pak Erza!” Andrea menawarkan brandy pada Erza kemudian beralih pada Leon. “Silakan Pak Leon!”
Seketika Leon menoleh pada Erza, ia ingin memberi tahu sesuatu pada bosnya itu. Soal apa yang sudah ia dengar tadi. Tapi Leon bingung bagaimana memberi tahu Erza soal obat tidur yang sudah dicampur dalam brandy tersebut.
‘Bagaimana saya memberi tahu Pak Erza. Saya yakin ada buat jahat Bu Andrea melakukan itu. Benar kata Bu Yara. Saya harus waspada. Tapi bagaimana caranya?’
Batin Leon.
Dua gelas sloki udah terjadi untuk keduanya pria itu. Erza merasa tidak enak dengan jamuan yang dilakukan oleh Andrea. Sebab ia tahu brandy yang ada di hadapannya ini memang minuman mewah dan berkelas.
“Silakan di minum Pak Erza, Pak Leon?” Andrea kembali mendesak.
“Ah, iya Bu Andrea.” Erza pun meraih gelas berisi brandy itu. Kemudian hendak meminumnya. Namun, seketika manik mata Erza terbelalak menatap ke arah Leon yang membuat dirinya terkejutnya
.
.
To be continued
*Apa yang terjadi? Apa Andrea berhasil menjebak Erza?
buat para readers sekali lagi aku minta maaf ya. liburnya kelamaan. 🙏🙏🙏
__ADS_1
semoga kalian selalu setia. jangan di unfav dulu ya...