Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Sekelebat Bayangan Terlintas Dalam Ingatannya


__ADS_3

Syafa langsung menghubungi papanya saat itu juga mumpung Afkar berada di kamar Yara. Syafa mengungkapkan kesedihan yang ada dalam hatinya. "Syafa takut, Pah! Syafa tidak mau kehilangan Mas Afkar Syafa begitu mencintainya, Pah!" Ucap Syafa dengan suara sedihnya. Ia berbicara dengan Papa Rio dari seberang telepon.


"Jangan menangis, nanti akan papa pikirkan caranya!" Balas Papa Rio.


"Terima kasih, Pah. Papa memang selalu mengerti Syafa. Aku tutup teleponnya, Ya. Sampai jumpa besok. Papa jadi ke sini 'kan?" Lanjut Yara sambil bertanya.


"Akan papa usahakan. Jangan lupa, besok waktunya Afkar memulai pekerjaannya. Jangan kecewakan papa? Buktikan pada papa Kalau suamimu memang pantas mengemban amanah ini. Menjadi pemimpin beberapa anak cabang perusahaan milik papa," Ucap Papa Rio tegas.


"Iya, Pah. Syafa yakin Mas Afkar pasti bisa memimpin anak cabang perusahaan tekstil itu. Syafa yakin!" Syafa memastikan.


"Baiklah kalau begitu kamu jangan bersedih. Papa akan membuat perhitungan pada Afkar jika kamu masih bersedih," ujar Papa Rio.


"Iya, Pah. Sampai jumpa besok. Love you, Pah?"


"Love you to, Sayang!


Sambungan telepon pun terputus. Syafa melihat jam di dinding kamarnya sudah hampir satu jam lebin ia berkomunikasi dengan papanya tapi Afkar tidak kunjung kembali ke kamar.


"Apa Mas Afkar malam ini bersama Yara?" gumam Syafa dengan perasaan gelisah tidak karuan. Wanita itu sudah biasa tidur bersama dengan Afkar. Apakah ia mampu untuk tidak memeluk Afkar semalam saja.


Syafa terlihat gelisah dan tidak menentu. Syafa berdiri, ia berjalan ke arah pintu dan sedikit memiringkan kepala ke arah kamar Yara yang letaknya ada di lantai bawah.


"Apa aku ke sana, bertanya sama Mas Afkar mau tidur di mana?" Syafa mondar mandir tidak karuan menanti Afkar di luar kamar kemudian memilih masuk kembali ke dalam kamarnya.


Di bawah sana sepasang mata mendongak ke lantai dua. Wanita itu melihat menantu kesayangannya terlihat gelisah. Tatapan matanya langsung tertuju pada kamar Yara berada.


"Apa Afkar sedang di kamar Yara? Ah, aku tidak akan biarkan itu." Bu Nuri lekas berjalan menuju kamar itu.


Dikamar Yara, Bu Nuri berjalan pelan saat melihat pintu kamar itu terbuka. Wanita itu mendengar Afkar sedang berbicara pada Yara. Saat ini posisi keduanya sudah tidak lagi berpelukan melainkan duduk bersisian di sofa panjang yang ada di kamar itu.


"Aku tidak akan melarang kamu untuk mencoba mengingatkanku tentang masa lalu, hanya saja aku minta kamu mengerti keadaanya. Saat ini aku begitu tergantung pada Syafa. Bukan soal materi saja. Tapi juga kenyamanan, Maaf aku lebih nyaman bersama Syafa kali ini. Karena selama ini kami selalu bersama."


"Aku mengerti, Mas. Aku tidak akan menghalangi itu. Aku hanya pernah meminta, jangan pernah bermesraan dengan Syafa jika ada aku," pinta Yara.


"Akan aku usahakan," balas Afkar.


"Ehmm ...." Deheman Bu Nuri membuat Afkar dan Yara menoleh ke sumber suara.


"Kamu mau tidur bersama Yara, Kar?" Tanya Bu Nuri.


Afkar menggelengkan kepalanya pelan. Pria itu bingung akan tidur dengan siapa.


"Pergilah Mas! Mba Syafa pasti nungguin kamu," Ujar Yara.


"Tapi---”


"Aku tidak pa-pa," Yara mengangguk meyakinkan Afkar.


Mendapat balasan dari Yara, Afkar segera kembali ke kamar Syafa.Terakhir kali ia menoleh untuk memastikan ucapan Yara. Anggukan dari Yara membuat Afkar terus melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.


Bu Nuri lekas menghampiri Yara saat Afkar menaiki anak tangga.


"Ra, seharusnya kamu lebih mengerti keadaannya. Jangan selalu mendesak Afkar untuk terus ingat padamu. Syafa pasti sedih, karena selama ini dia sudah payah merawat Afkar,' tegur Bu Nuri.

__ADS_1


"Aku tidak pernah memaksa Mas Afkar untuk ingat padaku, Bu!" elak Yara.


"Ah, kamu sering sekali sekarang membantah ucapan ibu. Ibu gak mau kalau sampai Afkar kenapa - napa karena terlalu berpikir keras untuk mengingat masa lalunya!"


"Bu ... Yara juga tidak mau terjadi sesuatu lagi sama Mas Afkar. Yara juga ingin Mas Afkar sembuh dan kembali mengingatku," sambung Yara.


Wanita yang sudah melahirkan Afkar itu memasang wajah kesalnya. Ia pergi begitu saja dari hadapan Yara.


"Saya malah berharap Afkar tidak ingat kamu lagi, Ra. Lebih baik keadaanya seperti ini saja," celetuk Bu Nuri pelan sambil berlalu dari sana.


Tapi Yara mendengar ucapannya itu. Ia menghela napas berat.


'Kenapa ibu sama sekali tidak menganggap aku ada, Bu! Aku masih tidak mengerti, segitu benci 'kah ibu denganku. Menantumu yang tidak punya apa-apa ini.'


---


Pagi harinya Yara sudah sibuk di dapur bersama para pelayan yang ada di sana. Awalnya para pelayan melarang Yara untuk memasak. Tapi Yara yakin mulai dari masakan ia akan membuat Afkar untuk mengingatnya.


"Wah, ternyata Nyonya Yara pintar masak, ya?" puji salah seorang pelayan.


Yara dibantu dua orang pelayan saat memasak pagi ini.


Yara hanya tersenyum mendengar pujian untuknya itu. Kemudian menyelesaikan masakan terakhirnya.


"Kenapa harus dibagi dua, Nyah?" Tanya pelayan yang lain.


"Ini buat kalian yang sudah bantuin aku masak!" Jawab Yara. "Satu lagi, jangan panggil aku Nyonya. Nyonya kalian adalah Syafa. Panggil aku Yara saja," lanjut Yara.


"Tapi kata Nyonya Syafa---" ucapan pelayan itu terpotong begitu saja saat melihat Yara menggelengkan kepalanya.


"Nyonya Syafa aja marah pada kami," sahut pelayan satu lagi.


"Kalau begitu panggil aku seperti perintah nyonya kalian ketika di hadapannya saja. Tapi kalau lagi seperti ini. panggil saja namaku!" usul Yara.


"Apa boleh begitu?" Pelayan yang pertama berbicara memastikan.


"Boleh-boleh saja," Celetuk Yara.


Mereka bertiga tertawa renyah bersama.


Interaksi pertama Yara dengan orang-orang di rumah Syafa terlihat ramah dan dekat.


Semua masakan telah tersaji di meja makan. Aroma masakan begitu menggugah selera. Afkar dan Syafa yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya berjalan ke ruang makan.


"Loh, kamu ngapain, Ra?" Tanya Syafa saat melihat Yara sedang menyiapkan minuman untuk Afkar. Kemudian mengedarkan pandangannya ke atas meja makan. Syafa melihat beberapa masakan sudah tersaji di sana.


Afkar diam tak banyak bicara. Pria itu langsung duduk di bangku.


"Kamu masak?" Tanya Syafa.


Yara mengangguk pelan. "Iya, Mba."


"Kamu tidak perlu repot-repot, ada pelayan yang masak," Ujar Syafa.

__ADS_1


"Aku terbiasa masak, Mba," jawab Yara singkat kemudian meletakkan segelas teh tarik di hadapan Afkar.


"Apa ini?" Tanya Afkar bingung saat Yara meletakkan gelas tersebut di hadapannya.


"Teh tarik panas! Teh panas campur susu putih. Ini kesukaan kamu, Mas. Aku juga makanan kesukaan kamu. Mas mau berangkat kerja 'kan?" Tanya Yara dan Afkar mengangguk pelan menjawabnya. "Biar aku ambilkan nasinya." Yara dengan telaten melayani Afkar. Kemudian beralih kepada Syafa. "Mba Syafa mau aku ambilkan makanannya?" Yara menawarkan diri.


"Ah ... Tidak perlu. Biar aku ambil sendiri saja, Ra. Terima kasih."


Tak lama Bu Nuri dan Pak Setyo ikut bergabung. Wanita paruh baya itu langsung duduk di sisi Syafa. Ia menatap menantu kesayangannya yang sedang menikmati makanannya.


"Kenapa makannya sedikit sekali, Fa?" Tanya Bu Nuri.


"Aku sedang tidak napsu makan, Bu!"


"Makan yang teratur jangan sampai kamu sakit," ucap Bu Nuri yang begitu perhatian pada Syafa.


Yara menyapa Pak Setyo yang baru saja datang dan itu bergabung di meja makan.


"Pagi, Pak!" Sapa Yara ramah sambil mengusap tangan Pak Setyo pelan.


"Pa... gi ... " Jawab Pak Setyo dengan suara terbata.


"Pak ... Yara sudah buatkan bubur buat bapak, Sebentar Yara ambilkan!" Yara berlalu dari hadapan Pak Setyo menuju arah dapur. Tak lama ia kembali dengan semangkuk bubur di tangannya.


Pak Setyo mengembangkan senyum saat melihat Yara kembali.


"Yara suapi ya, Pak." Yara hendak menyuapi Pak Setyo. Tapi pertanyaan Afkar menghentikan gerakannya.


"Kenapa kamu tidak makan?" Tanya Afkar.


"Selesai menyuapi bapak, aku makan Mas!" Sahut Yara dan dengan hati-hati Yara menyuapi Pak Setyo.


Afkar melihat perlakuan baik dan lembut Yara pada orang tuanya itu. Ia menarik sudut bibirnya. Kemudian melanjutkan makan.


Afkar begitu lahap saat makan. Bahkan ia meminta Syafa mengambilkan cumi balado dan oseng cah kangkung.


"Mas, suka sama Cumi balado?" Tanya Syafa dan mendapat anggukan dari Afkar.


"Ya, sangat suka. Dari dulu masakan Yara memang enak, aku sangat suka! Bahkan saat kerja dulu, aku memilih dibawakan bekal olehnya daripada membeli di warung makan lain!" tutur Afkar. Ia tidak sadar dengan apa yang diucapkannya.


Prang...


Sendok yang Yara pegang jatuh seketika saat ia mendengar penuturan Afkar. Begitu juga dengan Syafa, Wanita yang baru saja menaruh cah kangkung di piring Afkar seketika diam, usai Afkar berbicara.


"Kamu ingat kebiasaan kamu, Mas?" Tanya Yara tak percaya. Senang, perasaan itu yang Yara rasakan saat ini. Keyakinannya benar, Bahwa Afkar akan mengingat sesuatu setelah merasakan masakannya. Sebab suaminya itu sangat bergantung pada masakan yang Yara masak. Selama mereka menikah, Afkar tidak pernah melewatkan makanan di luar selain makan makanan yang Yara masak. Hanya sesekali saat berlibur, itupun harus bersama Yara dan Dhiya.


Afkar tidak bisa menjawab pertanyaan Yara tapi sekelebat bayangan saat ia makan sambil tertawa bersama seorang wanita terlintas dalam ingatannya.


Inilah awal perjuangan Yara untuk suaminya. Melihat reaksi Afkar terhadap masakannya. Yara yakin perlahan ingatan yang hilang itu akan kembali.


Yara menoleh pada Pak Setyo, pria paruh baya itu ikut tersenyum dengan reaksi Afkar pada Yara.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2