Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Sikap Bu Nuri Yang Tiba-tiba Berubah


__ADS_3

"Nda, kenapa nangis?" Tanya Dhiya polos ketika Yara melepaskan pelukannya.


Yara menggelengkan kepalanya lemah. "Bunda hanya takut!" jawab Yara.


Terlihat raut wajah bingung dari Dhiya, sebab ia melihat eyang uti dan Mira ikut berlinang air mata.


"Apa Ateu Mila dan eyang juga ketakutan?" Lagi-lagi Dhiya bertanya polos dengan suara cadel. Membuat Mira terkekeh kecil mendengarnya.


"Kalau ateu sama eyang menangis bukan karena takut. Tapi karena senang, soalnya Dhiya mau tinggal di sini selama Bunda Yara pergi ke kota," celetuk Mira mengalihkan kecurigaan Dhiya.


Gadis kecil itu menatap bundanya lagi.


Kemudian merangkup wajah sang bunda dengan kedua tangan mungil Dhiya.


"Nda, tak boyeh takut! kalau nda takut beldoa sama Allah, biar hati nda tenang. Nda juga jangan cedih. Dede aja gak nangis, maca nda nangis!" Dhiya mengusap air mata yang terus mengalir di pipi Yara.


Bu Nuri yang melihat itu malah beranjak dari sana. Wanita paruh baya itu masuk ke dalam rumahnya dengan mata yang memerah.


Yara hanya melirik melihat reaksi dari mertuanya. Yara juga bisa melihat manik mata Bu Nuri merah. Mungkin Bu Nuri tersentuh dengan ucapan Dhiya. Ia tidak ingin menangis di hadapan cucu nya


Yara kembali memandang Dhiya. Ia tersenyum hangat mendapat perlakuan manis dari Dhiya. Ucapan yang sering ia lontarkan pada putrinya itu malah berbalik padanya saat ini.


"Dhiya, Sayang... Sebentar lagi bunda akan pergi. Mobil travel yang akan menjemput bunda, tak lama lagi akan datang. Dhiya di sini sama ateu Mira sama eyang uti, ya?" ucap Yara pelan agar Dhiya tidak histeris saat melihat dirinya pergi.


"Sama eyang kung juga, Nda!" sambung Dhiya.


"Ya, sama eyang kung juga."


"Dhiya jangan nakal, ingat pesan bunda!"


Dhiya mengangguk pelan. Tadi subuh Yara sempat berbicara dan menasehati Dhiya, jadi gadis kecil itu ingat betul dengan nasehat apa yang diberikan oleh Yara.


"Ingat, Nda. Dede gak boyeh nakal, hayus lajin solat, banyak beldoa sama Allah agar dede, bunda sama ayah kumpul lagi. Sama-sama lagi. Iya 'kan?" Ucap Dhiya menegaskan.

__ADS_1


Yara mengangguk pelan. "Anak pintar."


Tin... Tin...


Di saat yang bersamaan suara klakson mobil travel terdengar dari seberang jalan raya. Yara, Mira dan Dhiya menoleh ke arah yang sama. Supirnya pun turun dari mobil kemudian mendekati Yara.


"Permisi, apa benar ini titik lokasi penjemputan atas nama Ayara Faeqa?" Tanya Pak supir.


"Iya, saya sendiri, Pak! Tunggu sebentar boleh. Saya mau pamit sama orang tua saya dulu sambil ambil barang-barang," sahut Yara.


"Ya, silahkan, Mba!"


"Titip Dhiya sebentar, Mir!'


"Iya, Mba."


Yara pun masuk ke dalam rumah. Tas yang akan dibawa sudah disiapkan di dekat pintu. Wanita itu kini melangkah menuju kamar Pak Setyo. Saat membuka pintu, Pak Setyo terlihat sedang memejamkan mata. Yara tidak ingin mengganggu pada awalnya. Tapi ia tidak mau pergi tanpa pamit kepada beliau.


Yara dengan sangat hati-hati mendekati pria paruh baya itu. "Pak," panggil Yara dengan suara yang sangat pelan. Tapi berhasil membuat Pak Setyo membuka mata.


"Pak ... Yara berangkat dulu! Yara minta restu bapak, doakan agar Yara bisa menemukan Mas Afkar di sana. Kalaupun setelah Yara mencarinya tidak ada hasil. Mungkin setelah itu, baru Yara ikhlaskan Mas Afkar. Tapi hati Yara yakin, kalau Mas Afkar selamat dan masih hidup. Bapak cepat sehat lagi, ya! Yara tidak bisa lama-lama bicara sama bapak saat ini. Mobil travel carteran sudah menunggu di depan. Yara pamit ya, Pak!" Ucap Yara kemudian meraih tangan pria paruh baya itu lalu menyalaminya.


'Bapak merestui kamu, Nak! Maafkan bapak, saat ini tidak bisa membelamu di hadapan ibu mertuamu. Bapak juga berharap Afkar selamat dan bisa berkumpul lagi bersama kamu dan Dhiya. Pergilah, bapak merestui setiap langkahmu!'


Batin Pak Setyo sambik mengedipkan kelopak matanya. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat membalas ucapan Yara.


Yara tersenyum melihat reaksi dari Pak Setyo, ia paham dengan gerakan mata itu. Yara lekas bangkit dan meninggalkan kamar itu.


Saat menjinjing tas keluar rumah. Yara melihat Bu Nuri sudah berada di depan bersama Dhiya dan Mira, Paman Yono juga berada di sana.


Perasaan sedih kembali Yara rasakan, Saat mereka mengantar Yara sampai pintu mobil travel.


"Bawa bekal ini, buat diperjalanan!" Bu Nuri menyodorkan sebungkus plastik berisi nasi dan makanan pada Yara.

__ADS_1


Yara terkejut dengan sikap Bu Nuri yang tiba-tiba berubah. Ia melirik ke arah Mira, adik iparnya itu mengangguk pelan, memberi kode agar Yara menerimanya.


"Terima kasih, Bu!"


"Jangan lupa kabari kami, kalau kamu sudah menemukan Afkar!" Cetus Bu Nuri.


"Pasti, Bu. Yara pasti akan segera menghubungi kalian," sahut Yara kemudian beralih pada Dhiya yang berdiri di samping Mira.


"Dhiya ... Bunda pergi dulu, ya, Nak! Dia kalau kangen bisa telepon bunda kapan pun," ucap Yara sambil menyelipkan rambut Dhiya ke belakang telinga.


Dhiya hanya mengangguk pelan. Gadis kecil itu begitu pintar, ia tidak mau menunjukkan kesedihannya. Demi melepas kepergian bundanya.


"Aku pamit, Bu!" Yara mengalami Bu Nuri.


"Hm," jawab Bu Nuri singkat.


"Paman, Mira, aku pamit," Yara mengalami Paman Yono kemudian memeluk Mira. "Kabari aku jika terjadi sesuatu di sini, apapun itu!" Ucap Yara dan mendapat anggukan dari Mira.


Setelah itu, Yara naik ke dalam mobil. Tak lama mobil travel itu mulai melaju perlahan.


Yara menoleh ke belakang. Terlihat Mira, Dhiya dan Paman Yono melambaikan tangan ke arah Yara melepas kepergian dirinya. Tidak dengan Bu Nuri yang masih memasang wajah ketus padanya.


Meskipun begitu, Yara merasa lega, Bu Nuri sempat membungkuskan nasi dan lauk untuknya.


'Benar kata Mas Afkar. Dibalik ketus dan galaknya ibu, ada kebaikan yang ia simpan untukku.'


Batin Yara kemudian ikut melambaikan tangan kepada meraka.


Yara siap menjalani petualangan di kota. Mencari suaminya yang hilang di kota metropolitan itu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2