Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Jutek Dan Dingin


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat tidak terasa sudah 2 bulan Afkar bekerja di toko tekstil yang berada di Tanah Abang.


Dimana menuju sukses di situ selalu saja ada yang merasa tidak suka. Sama seperti Afkar, saat dirinya sedang menjadi kebanggaan sang pemilik toko tempatnya bekerja. Ada pekerja lain yang tidak suka dengan pencapaiannya.


Kinerja dan hasil yang didapat oleh Afkar dimanipulasi oleh rekan kerjanya.


hampir ada beberapa golong bahan hilang saat Afkar yang bertugas menjaga toko. Usai jam kerja selesai Afkar dipanggil oleh Uda Malik, pemilik toko tempatnya bekerja.


"Kenapa bisa tidak ada barangnya? Bukankah laporan yang kamu buat itu lengkap semua?" Tanya Uda Malik pada Afkar saat mereka berdua sedang menghitung ulang data dan stok barang.


Afkar terdiam sambil berpikir. 'Aneh sekali, kemarin aku sempat beberapa kali cek stok, barangnya ada ko! Kenapa bisa hilang begini?'


Batin Afkar.


"Kamu harus mengganti barang yang hilang itu, Kar! Saya memberi kelonggaran untuk kamu mengganti semuanya tanpa harus keluar dari ini. Maaf saya tidak bisa memberi keringanan lebih lagi buat kamu!" Ujar Uda Malik. Pemilik toko itu tidak bisa membeda-bedakan karyawan yang melakukan pelanggaran. Meskipun agar sudah membantu banyak berjasa mengembangkan tokonya. Peraturan tetaplah peraturan.


Afkar mengangguk menjawabnya. Ia sudah tahu dengan resikonya.


"Baik, Pak! Saya akan bertanggung jawab atas semua kehilangan ini," sahut Afkar. Ia lebih memilih menerima dengan lapang dada musibah yang terjadi. Ada yang membuat Afkar penasaran. Hatinya bertanya-tanya siapa yang sudah berbuat licik seperti itu kepadanya. pikirannya langsung tertuju pada seseorang.


Tanpa Afkar sadari pun, ada seseorang yang sedang mendengarkan obrolan mereka. Orang itu tersenyum penuh kepuasan melihat hukuman yang Afkar dapatkan.


"Rasain lu, siapa suruh gantiin posisi gue," gumam Jono pelan saat ia menguping pembicaraan Afkar dan Uda Malik.


Usai berbicara dengan Uda Malik, Afkar mengembuskan napas berat menghadapi masalah yang terjadi padanya. Afkar sudah tahu, siapa yang berbuat jahat seperti ini padanya.


'Astaghfirullahaladzim,' ucap Afkar dalam hati sambil terus berjalan keluar dari toko tempatnya bekerja. Hari ini dirinya bebas dari membereskan toko. Jadi Afkar bisa pulang terlebih dulu.


"Makanya jadi orang jangan sombong, sok berlaga tahu segala soal tekstil,' Celetuk Jono. Afkar langsung menoleh ke belakang saat mendengar ocehan seseorang.


"Heh, aku sudah menduga kamu yang melakukan ini," seru Afkar.


"Hei, jaga bicaramu! Apa kamu punya bukti menuduhku seperti itu," sanggah Jono.


"Sepandai apapun kamu berkelit. Suatu saat pasti akan terbongkar! Kamu bisa menikmati hasilnya sekarang tapi lihat saja nanti. Kamu akan merasakan hasil yang kamu buat selama ini! Kamu pikir aku tidak tahu siapa yang sering menyelinapkan bahan tekstil selama ini," seloroh Afkar sambil menatap tajam pada Jono.


Tidak terima dengan penuturan Afkar, Jono mengepalkan tangannya. Kalau saja saat ini mereka tidak berada di tempat ramai sekarang ini sudah pastinya perkelahian telah terjadi.


"Buktikan kalau memang kamu tahu siapa aku!" Jono berjalan melewati Afkar sambil menyenggol bahu Afkar.


Mendapat perlakuan seperti itu dari Jono. Afkar hanya bisa mengelengkan kepalanya. Ia lebih memilih segera pulang ke rumah.


Jauh di luar negara, dua wanita yang berbeda usia tengah sibuk merapikan barang-barang yang akan mereka bawa untuk libur panjangnya.


Yara dan Dhiya merasa senang setelah ijin yang didapat untuk Yara agar dapat melakukan penerbangan jauhnya kali ini. Usia kandungannya sudah menginjak 5 bulan sehingga sesuai dengan peraturan penerbangan. Dirinya bisa melakukan perjalanan dengan pesawat terbang.


"Bunda, kalau sudah sampai di Indonesia boleh tidak Dhiya ketemu sama Eyang Uti sama ayah?" Tanya Dhiya saat anak itu sedang membantu Yara di kamar.

__ADS_1


Yara menghentikan gerakannya sesaat. Kemudian menoleh pada Dhiya yang baru saja selesai memasukkan semua pakaian ke dalam koper.


Yara duduk sejenak di tepi tempat tidur. "Kak, kapanpun kakak mau bertemu sama Eyang ataupun ayah, bunda tidak akan pernah melarang. Bunda mengerti kalau kakak begitu rindu pada mereka," ucap Yara pada Dhiya. Tangannya mengulur mengelus perutnya yang mulai terlihat buncit.


"Makasih bunda," seru Dhiya. Anak kecil yang tahun ini masuk ke sekolah dasar itu ikut duduk di samping Yara. "Bunda sudah tidak marah sama mereka 'kan?" Tanya Dhiya.


Yara tersenyum membalasnya. Kemudian menggeleng kepala pelan.


"Bunda sudah memaafkan mereka dari dulu, Sayang!" jawab Yara.


"Kenapa bunda tidak mau kalau bicara sama eyang setiap kali kakak telponan sama ayah?"


Yara menghela napas pelan. Kalau sudah banyak bertanya seperti ini. Yara harus menjawab disertai dengan alasan yang tepat. Kalau tidak pasti akan banyak lagi pertanyaan yang akan muncul.


"Bunda tidak mau bikin eyang pusing, Kak. Kamu tahu 'kan kalau eyang bicara sama bunda seperti apa?" Yara balik bertanya.


Dhiya mengangguk pelan sambil mengerucutkan bibirnya. "Eyang pasti langsung marah-marah. Huh, apa eyang masih seperti itu, Bun?"


"Bunda tidak tahu, Nak. Hanya saja bunda lebih baik menghindar daripada nantinya bunda buat eyang marah. benar 'kan?" Yara menjelaskan. "Kita berdoa saja semoga eyang sudah berubah saat bertemu bunda nanti


Mendengar penuturan Yara membuat Dhiya sedikit terkejut. "Bunda mau ketemu sama eyang sama ayah juga?" Dhiya nampak tak percaya.


"InsyaAllah kalau Sang Pencipta memang mengijinkan bunda untuk bertemu mereka. Bunda akan kembali menjalin silaturahmi sebagai saudara."


Dhiya langsung memeluk Yara. "Kakak senang sekali dengernya, Bun! Akhirnya ayah dan bunda bisa baikkan. Allah kabulkan doa kakak!" Ucap Dhiya disela pelukannya pada Yara.


"Ini yang aku minta, Bun! Aku minta bunda sama ayah bisa baikkan. Bahkan bisa bertemu lagi. Meskipun kakak tahu tidak mungkin kalian bisa bersama lagi karena sekarang sudah ada papa yang menggantikan ayah." Dhiya langsung menunduk usai berbicara.


Yara tersenyum tapi hatinya serasa teriris mendengernya. Yara lekas mengulurkan tangan menyentuh dagu Dhiya.


"Kakak dengar bunda! Meskipun Bunda sama ayah tidak bisa sama-sama lagi, tapi bunda janji, kamu akan mendapat kasih sayang dari ayah dan bunda. Bunda akan mencoba berdamai dengan keadaan. Bunda ingin melihat Dhiya tersenyum seperti tadi. Maafkan bunda, Sayang!" Ucap Yara sambil menangkup wajah Dhiya dengan kedua tangannya.


Ternyata menyimpan kebencian terlalu lama memang tidak baik. Menjalin hubungan baik dengan mantan suami adalah hal terbaik saat ini. Dan ternyata hal inilah yang Dhiya harapkan dari Yara dan Afkar. Dhiya ingin melihat orang tuanya yang sudah berpisah kembali menjalin hubungan baik.


"Apalagi kasih sayang dari papa, pastinya akan lebih besar lagi," ucap Erza yang baru saja masuk ke dalam kamar. Pria itu mendengar semua obrolan dari dua orang wanita yang sangat ia sayangi itu.


"Mas ...."


"Papa ...."


Ucap Yara dan Dhiya bersamaan saat mengetahui kedatangan Erza.


Pria yang mempunyai jenggot tipis itu ikut duduk di tempat tidur. Dhiya berada di tengah-tengah Yara dan Erza.


"Kedepannya kakak akan mendapatkan kasih sayang dari ayah Afkar juga. Ayah dan bunda sudah merencanakan kelahiran adek bayi di Indonesia. Sebelum kakak masuk sekolah kalian akan tinggal di Indonesia sampai adek bayi bisa dibawa lagi ke sini nantinya," ucap Erza sembari merangkul bahu Dhiya.


"Jadi kita akan tinggal di Indonesia lagi, Pah?" Tanya Dhiya. Ia nampak tak percaya dengan ucapan Erza.

__ADS_1


"Hanya sementara, Sayang. Kebetulan papa ada kerjaan satu tahun kedepan di Indonesia. Papa juga tidak mau berpisah sama kalian jadi lebih baik kita pindah dulu ke sana. Tapi nunggu Oma dan Opa datang ke sini. Kita mau buat acara syukuran buat empat bulan kehamilan bunda."


"Oma sama Opa mau ke sini, Pah? Kapan?" Dhiya nampak bersemangat mendengarnya. Meskipun jarang bertemu dengan Mama Anggi dan Papa Rangga kedua orang tua itu sering menghubungi Dhiya lewat Video call. Dan baru satu bulan yang lalu keduanya berkunjung ke negara Land of Milk and Honey. Negara yang terkenal dengan susu dan madu yang kualitasnya nomor satu di Eropa.


"Iya oma dan opa mau ikut pas acara syukuran empat bulanan bunda, Sayang! Mereka baru saja landing di bandara. Mungkin sebentar lagi juga sampai," sahut Erza.


"Yang benar, Mas? Kenapa tidak bilang sama aku? Aku belum siapin apa-apa loh!" serobot Yara. Wanita itu sedikit terkejut mendengarnya. Sebab Yara tidak tahu kedua mertuanya akan tiba hari ini.


"Mama yang nyuruh jangan bilang sama kamu, Sayang."


"Loh kenapa?"


"Kamu pasti sibuk masak dan menyiapkan banyak makanan buat mereka. Mama takut kamu kecapean," ujar Erza.


"Tapi aku sama sekali tidak punya persiapan buat menyambut mama dan papa, Mas." Yara bangkit dari duduknya. Wanita itu hendak menyiapkan makanan untuk menyambut kedua mertuanya.


"Assalamualaikum," Teriak seseorang terdengar di lantai satu rumah mewah itu.


"Waalaikumussalam," jawab Yara dan Erza kemudian mereka saling menatap. Yara membelalakkan matanya. "Mas, itu suara mama!" ucap Yara.


Dhiya yang hapal dengan suara itu langsung ikut berdiri dan berlari keluar kamar


"Oma ...," teriak Dhiya sambil berlari kecil menuju lantai bawah.


"Kakak, hati-hati jangan lari!" Seru Yara sambil melangkah keluar kamar.


"Kamu juga hati-hati, Sayang!" tutur Erza.


Wanita itupun ikut keluar kamar ber-iringan dengan Erza. Dengan pelan dan hati-hati, Yara dan Erza menuruni satu persatu anak tangga.


"Cucu cantik, Oma." Mama Anggi merentangkan tangannya menyambut Dhiya yang berlari ke arahnya.


"Oma," teriak Dhiya sambil menghamburkan tubuhnya ke pelukan Mama Anggi.


Sepasang mata memperhatikan Dhiya dari tadi. Kedua sudut bibirnya tertarik melihat senyum dan keceriaan dari Dhiya. Sikap Dhiya yang baik hati dan dermawan pada orang lain membuat hati anak lelaki itu terpesona padanya. hanya saja sikap Dhiya jutek dan dingin padanya.


.


.


.


To be continued


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444 H, Minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin buat para pembaca setiaku. Mohon maaf juga author lama tidak up. Menjelang lebaran kemarin banyak paket paket lebaran yang dikerjakan. Waktunya tersita di real life. Mohon maaf ya.


Salam sayang buat kalian semua.

__ADS_1


Berita ini pun sudah sampai pada Syafa.


__ADS_2