Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Isi Hati Dhiya


__ADS_3

Afkar kembali mengerutkan alisnya. Ia merasa tidak asing mendengar suara itu. "Erza! Erza Rahardian!" balas Afkar.


Pria yang ada di seberang telepon tertawarinnya mendengar ucapan Afkar.


"Hahaha, ternyata kamu masih ingat dengan suaraku."


"Ternyata benar dugaanku. Ada angin apa kamu tiba-tiba menghubungiku?" Tanya Afkar.


Erza menarik dari sudut bibirnya. "Aku hanya ingin memenuhi keinginan putriku," balas Erza.


"Maksud kamu Dhiya?" Serobot Afkar.


"Ya, Dhiya."


"Dhiya Almeera, Putriku?"


"Benar sekali, Dhiya Almeera Chairi. seorang gadis manis yang menolak nama panjangku di belakangnya. dia memilih menggunakan nama ayah kandungnya. Aku sangat bangga pada anak itu. Dhiya pernah berkata seperti ini kepadaku. Dhiya ingin seperti ayah rajin dan pekerja keras," ujar Erza.


after tersenyum mendengarnya rasa rindu itu muncul kembali dan saat ini semakin besar. selama beberapa bulan ini Afkar menahan diri untuk rasa rindu pada Dhiya. Sama seperti rasa bersalahnya pada Yara. Rasa bersalah itu juga Afkar rasakan untuk Dhiya.


"Apa keinginan putriku?" Afkar langsung bertanya pada intinya.


"Lusa kami pulang ke Indonesia. Yara ingin bertemu dengan papa-nya dan juga Syafa. Dhiya juga memintaku untuk menghubungimu. Anak itu ingin sekali bertemu denganmu, Mira dan juga ibumu."


"Apa benar? Apa aku tidak salah dengar? Putriku ingin bertemu?" Afkar menegaskan pendengarannya.


"Ya, benar. Dhiya sangat merindukan mu."


Mendengar penuturan kerja Afkar merasa begitu bahagia. "Ya Allah keajaiban apa ini? Akhirnya engkau mengabulkan semua doaku. Aku akan bertemu putriku," ucap Afkar disela panggilannya dengan Erza.


"Papa," suara seorang anak kecil terdengar begitu jelas di telinga Afkar.


Afkar diam tidak banyak bicara saat mendengar suara anak kecil itu.


"Hai, Sayang! Bagaimana sudah belanjanya?" Tanya Erza pada Dhiya yang baru saja tiba di kantornya bersama Mama Anggi. tidak ada keberadaan Yara di sana. Sebab Yara sedang mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa ke Indonesia nanti. Yara lebih memilih di rumah dibanding harus ikut dengan Dhiya dan Mama Anggi berbelanja. Yara sudah tahu, pasti butuh waktu banyak untuk berbelanja mengelilingi pusat perbelanjaan di Swiss.


Erza juga meletakkan ponselnya di atas meja. Ia sengaja tidak mematikan sambungan teleponnya dengan Afkar

__ADS_1


"Sudah! Kakak banyak belanja buat oleh-oleh," balas Dhiya.


"Dhiya belanja banyak sekali. Bahkan belanja buat teman-temanya di panti asuhan," Mama Anggi menimpali.


"Benarkah? pasti ongkos kirim oleh-oleh ini lebih besar daripada harga barangnya," seru Erza. "Memangnya belanja apa sih? Dan siapa yang kamu belikan oleh-oleh? Papa jadi penasaran." Erza mengintip barang belanjaan Dhiya. Hampir ada tiga paper bag yang dibawa oleh security ke ruangan Erza.


"Papa nggak marah 'kan aku belanja banyak oleh-oleh?" Tanya Dhiya. Anak kecil itu merasa takut kalau Erza akan melarangnya. Seperti Yara yang selalu mengajarkannya untuk tidak menghamburkan banyak uang hanya untuk keinginan yang tidak ada gunanya.


Afkar dengan setia mendengarkan kata demi kata yang terlontar dari bibir Dhiya putrinya. Afkar merasa isi mendengar kedekatan Erza dengan Dhiya. Rasa sesal kembali muncul dalam hatinya.


dulu sifat manja itu, Dhiya tunjukkan kepadanya. Afkar semakin merindukan sifat manja dari Dhiya.


'Dhiya, ayah kangen sama kamu.'


Batin Afkar. Ia Kemabli fokus mendengarkan obrolan Dhiya dengan Erza.


"Papa tidak akan marah sama sekali. Papa yakin kamu bisa mencerna dengan baik nasehat dari bunda," sahut Erza sembari mengusap pelan pipi anak itu. "Coba jelaskan sama Papa apa aja yang kamu beli," Tanya Erza.


Dhiya terlihat bersemangat setelah mendengar penuturan Erza.


"Papa juga sayang sama kamu. Tapi ingat jangan lupakan nasehat bunda, ya! Kakak harus bisa menanamkan satu hal. Beli sesuatu yang dibutuhkan bukan yang ...." Erza menghentikan ucapannya.


"Bukan yang diinginkan. Kita harus lihat sekitar sebelum membeli sesuatu yang tidak berguna sama sekali. Bukan tidak mampu tapi lebih baik uangnya dibagikan kepada yang membutuhkan," sambung Dhiya. Anak itu hapal betul dengan nasehat Yara.


Meskipun hidup mewah dan berlimpah tapi Yara mengajarkan kesederhanaan dan berbagi pada Dhiya.


Setetes air mata jatuh begitu saja di sudut mata Afkar. Pria itu bersyukur, putrinya tumbuh dengan baik dan mempunyai hati yang mulia seperti Yara, bundanya.


'Kamu tumbuh dengan baik, Nak. Ayah tidak bisa bayangkan jika kamu bersama ayah di sini. Apa ayah mampu mengajarkan baikan itu semua padamu. Yara ... Aku semakin merasa bersalah padamu. Tapi aku bersyukur, Erza memang seorang suami yang tepat untukmu! Aku ikhlas melepasmu, Ra.'


Satu persatu Dhiya menyebutkan untuk siapa saja oleh-oleh yang ia beli. Mama Anggi dan Erza hanya bisa tersenyum melihatnya.


"Dhiya gadis kecil yang pintar dan peduli sesama. Kamu tahu barang belanjaan ini hanya sebagian yang dibawa ke kantor ini, Za. Di jalan tadi Dhiya sudah membagikannya di jalanan. Dia bilang ingin berbagi pada orang lain karena doanya terkabul." Mama Anggi tersenyum sambil menatap Dhiya yang begitu semangat memisahkan satu persatu oleh-oleh yang ia beli. "Mama penasaran memangnya apa doa Dhiya?" Tanya Mama Anggi.


Bukannya menjawab pertanyaan Mamanya Erza malah berjalan menuju meja kerjanya. Ia meraih ponselnya yang masih tersambung dengan Afkar. Kemudian berbicara singkat pada Afkar, Erza meminta agar Afkar tidak menutup sambungan teleponnya. Setelah Afkar menyetujuinya, Erza kembali meletakkan benda pipih itu di atas meja. Sengaja agar Afkar mendengar semua percakapan Dhiya.


"Kita dengar sendiri jawaban dari Dhiya, Mah," balas Erza kemudian beralih pada Dhiya. Erza melihat ada satu kotak kecil yang Dhiya pisahkan. Erza pun meraih benda itu dan bertanya pada Dhiya.

__ADS_1


"Ini buat papa, Ka?" Tanya Erza saat melihat kotak kecil yang Erza tahu isinya salah bolpoin.


"Bukan, buat papa yang ini!" Dhiya mengambil sapu tangan berwarna navy terbungkus rapi juga dengan pita kecil di atasnya. "Ini buat papa!" Dhiya menyodorkan kotak kecil itu pada Erza.


Dahi Erza mengerut melihatnya. "Kenapa lucu sekali bungkusnya?" Erza menatap heran dengan kotak kecil itu. Mama Anggi terkekeh dibuatnya.


"Iya, biar papa tersenyum setiap kali melihat hadiah dari aku!" Dhiya menjelaskan.


"Lalu ini buat siapa?" Tanya Mama Anggi.


Dhiya langsung terdiam. gadis itu terlihat ragu saat ingin mengungkapkannya. Erza kembali mendekati Dhiya. "bicaralah ungkapkan apa yang ada di hati Kakak jangan ragu Ingat pesan Papa untuk tidak menyimpan beban di hati." Erza mengusap pelan bahu Dhiya.


Gadis kecil itu mengangguk membalasnya. "Ini buat ayah," ucap Dhiya singkat.


"Ayah Afkar?" Tanya Mama Anggi.


Dhiya kembali menangguk untuk menjawab. Kemudian Dhiya menghela napas pelan. Gadis kecil itu ingin mengungkapkan keinginannya. "Aku ingin memberikan benda ini untuk ayah. Agar ayah Kemabli bersemangat dalam menjalani hidup. Ayah sangat suka bekerja. Jadi aku memilih memberikan ini untuknya. Kakak juga senang sekali saat mendengar bunda sudah memaafkan ayah, dan bersedia bertemu saat berada di Indonesia nanti. Kakak ingin melihat bunda sama ayah baikkan. Kakak tidak berharap mereka untuk kembali karena Kakak sudah bahagia punya papa di sini," Akhirnya Dhiya mengungkapkan semua isi hatinya.


"Papa tidak marah 'kan kalau Kakak memberikan hadiah untuk ayah?" Dhiya menatap iba pada Erza.


Mama Anggi lekas merangkul gadis kecil itu. "Tentu saja tidak, Sayang! Niat kamu itu benar-benar sungguh mulia. Oma yakin kamu akan menjadi wanita sukses dan pekerja keras seperti ayahmu. Dan menjadi wanita berhati baik seperti bundamu. Oma bangga punya cucu seperti Dhiya," ucap Mama Anggi kemudian memeluk tubuh anak kecil itu.


Dhiya menatap Erza yang ada di depannya. Pria itu mengangukkan kepala pelan dan memberikan acungan jempol untuk Dhiya. Erza segera meraih ponselnya.


Erza mengerutkan alis saat melihat layar ponselnya mati. "Sejak kapan Afkar mematikan sambungan teleponnya." Erza diam sejenak. Ia berharap Afkar mendengar isi hati Dhiya.


Usai mematikan sambungan telepon. Afkar tak kuasa menahan tangisnya. Pria itu bersandar di dinding. Menjadikan dinding itu sebagai sandaran tubuhnya. Sebab hatinya terasa teriris tubuhnya tiba-tiba tak bertenaga mendengar ungkapan hati putihnya.


"Dhiya ... Dhiya putriku!" lirih Afkar sedih dengan Isak tangis yang tak kuasa ia tahan.


.


.


.


to be continued

__ADS_1


__ADS_2