
“Mari Pak Afkar, persidangan sebentar lagi akan dimulai,” ucap pengacara yang mendampingi Afkar. Anggukan pelan Afkar berikan pada pengacaranya itu.
Memasuki ruang persidangan Syafa telah siap dengan pengacara pendampingnya. Ketua hakim pun sudah memasuki ruangan. Persidangan dimulai dengan suasana tenang. Ketua hakim mempersilakan penggugat untuk membacakan permasalahan yang terjadi. Satu persatu permasalahan yang dijadikan bahan gugatan pun dibacakan oleh pengacara Syafa. Semua itu tidak ditampik oleh pengacara Afkar karena semua benar adanya.
Ketua hakim dengan serius dan saksama mendengar keluhan dan permasalahan yang terjadi.
“Dan satu lagi, Pak hakim. Klien saya, Nyonya Syafa menginginkan perceraian ini tidak berlarut-larut. Disebabkan pernikahan mereka dilandasi hukum haram dan dosa dalam agama,” ucap pengacara Syafa.
Ketua hakim mengerutkan alis mendengarnya. “Bisa dijelaskan lebih rinci lagi Pak pengacara,” titah Ketua Hakim
Pengacara Syafa maju beberapa langkah ke depan. “Afkar menikahi dua wanita bersaudara kandung. Dan hal itu di haramkan bahkan berdosa dalam agama. Meskipun Pak Afkar dan istri pertamanya sudah bercerai tapi Pak Afkar dan Nyonya Syafa menikah saat status mereka masih suami istri. Nyonya Syafa baru mengetahuinya belum lama ini.” Pengacara Syafa berbicara dengan tegas dan lancar membuat Ketua Hakim berpikir sejenak.
“Bagaimana pihak tergugat, apa kalian mau membela diri dalam hal ini,” tanya Ketua Hakim pada pengacara Afkar dan pada tergugat.
“Tidak pak hakim, klien saya membenarkan semua gugatan yang dilayangkan padanya,” jawab pengacara Afkar. Afkar menghela napas berat. Pria itu tidak banyak bicara untuk menyanggah semua ucapan yang terlontar dari bibir pengacara Syafa.
Mira yang menyaksikan persidangan itu merasa sedih melihatnya. Kakak kandungnya harus kembali kehilangan orang yang dia sayang.
“Kasihan Mas Afkar,” lirih Mira sedih. Reinaldi- suami Mira yang duduk berdampingan dengan wanita itu merangkul tubuhnya.
“Kita do’akan Mas Afkar kuat dalam menjalani semua ini,” ucap Reinaldi. Anggukan pelan pun Mira berikan. Mereka kembali fokus pada persidangan cerai Afkar.
Keputusan bercerai sudah diambil oleh kedua belah pihak. Tetapi tetap saja, ketua hakim memberikan waktu pada pasutri itu untuk melakukan mediasi.
Awalnya Afkar menolak karena dia tahu Syafa tidak akan merubah keputusannya. Tapi Syafa malah menyetujui untuk bermediasi.
Dan saat ini Syafa dan Afkar berada dalam sebuah ruangan. Hanya mereka berdua di dalam ruangan itu.
Beberapa menit telah berlalu belum ada yang memulai pembicaraan.
“Maafkan aku tidak ikut mengantarkan jenazah papa saat pemakamannya. Aku sudah datang ke rumah. Tapi, kalian dan jenazah papa sudah terbang ke Mojokerto waktu itu,” ucap Afkar mengawali obrolannya.
“Tidak apa, Mas. Memang aku dan Yara ingin pemakaman itu cepat dilakukan. Terlebih amanah papa yang ingin dimakamkan di samping pusara mama. Jadi, kami tidak mau mengulur waktu. Tidak baik juga menurut syariat agama,” sahut Syafa. “Mas,” panggil Syafa.
“Ya, kenapa?” tanya Afkar sambil menatap Syafa tapi wanita yang masih berstatus istrinya itu malah menundukkan kepalanya.
__ADS_1
“Maaf jika keputusan ku ini menyakitkan untukmu, Mas,” ucap Syafa tanpa menatap lawan bicaranya.
Afkar tersenyum miris. “Kalau keputusan ini yang terbaik untukmu dan bisa membuat kamu bahagia, aku menerimanya dengan ikhlas,” sahut Afkar.
Syafa mendongak menatap Afkar. Sesak di dada tak kuasa ia tahan. Begitu juga dengan air mata yang dari tadi mendesak keluar. Air mata perlahan meluncur begitu saja dari sudut mata wanita itu. Akhirnya tangis pun tumpah begitu saja. Jelas terlihat kesedihan mendalam yang Syafa rasakan.
Melihat Syafa menangis. Afkar berdiri lalu berjalan mendekati wanita yang masih menjadi istrinya itu sebelum ketuk palu nanti. Meskipun Afkar kesulitan saat melangkahkan kakinya.
Tanpa banyak bicara Afkar meraih tubuh Syafa kemudian memeluknya dengan erat.
“Ijinkan aku memelukmu sebelum kita berpisah,” ucap Afkar di sela pelukannya.
Tangisan Syafa semakin deras dalam pelukan Afkar. Pundaknya naik turun seiring isak tangis yang dirasakan. “Maaf jika aku melakukan kesalahan selama menjalani tugasku sebagai seorang istri, Mas,” balas Syafa yang membalas pelukan Afkar dengan begitu erat. Suaranya terdengar parau saat berbicara.
Afkar dan Syafa saling memeluk erat, melepaskan rasa rindu. Pelukan itu adalah pelukan terakhir mereka sebagai sepasang suami istri karena baik bagi Afkar juga Syafa pernikahan mereka tidak mungkin terus berlanjut. Pelukan itu baru terlepas saat tangis Syafa mulai mereda. Ikhlas itulah yang harus dilakukan saat ini oleh keduanya.
Afkar merangkup pipi Syafa kemudian mengusap air mata yang masih tersisa di pipi mulus itu. “Aku harap kamu bahagia, Fa. Bisa mendapat pendamping yang tepat nantinya,” ucap Afkar pelan dan lembut. Afkar berusaha tetap tersenyum meskipun berat.
“Itu juga yang aku harapkan untukmu, Mas.” Syafa membalas dengan senyuman pula. Keduanya sama-sama menutupi kesedihan dalam hati masing-masing.
Afkar dan Syafa berusaha saling mengikhlaskan. Hanya dengan cara itu, mereka bisa melewati hari-hari ke depannya dengan hidup dan status baru tentunya. “Satu lagi, Mas,” lanjut Syafa.
“Ada hal yang akan dibicarakan oleh pengacaraku.”
“Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan dengan pengacara. Aku menerima semua gugatannya. Dan sama sekali tidak menuntut apa pun dari perceraian ini, kamu tidak perlu khawatirkan itu,” ucap Afkar.
“Ini amanah dari papa. Tolong pikirkan baik-baik untuk ke depannya. Aku harap Mas bijak dalam menerima semuanya. Sebentar lagi waktu mediasi berakhir dan keputusan aku tetap sama yaitu bercerai darimu,” sambung Syafa dan mendapatkan anggukan pelan dari Afkar.
“Aku mengerti.”
Di saat bersamaan pintu ruangan diketuk dari luar. “Permisi waktu mediasi telah berakhir. Nyonya Syafa dan Pak Afkar diminta kembali ke ruangan persidangan. Keduanya mengangguk bersamaan. Dengan langkah berat, keduanya melangkah bersama menuju ruang persidangan.
Satu jam sudah persidangan kembali berjalan. Menimbang dari masalah dan beberapa gugatan yang dibacakan sebelumnya. Serta proses mediasi pun sudah dilakukan tetap saja keputusan kedua belah pihak masih sama. Ketua hakim menilai dari penuturan tergugat juga yang sudah menalak penggugat beberapa minggu sebelumnya sehingga persidangan tidak harus berjalan alot.
Pada akhirnya ketua hakim pun memutuskan bahwa Bapak Afkar Chairi dengan Nyonya Syafa Aileen Wirawan resmi bercerai.
__ADS_1
Ketukan palu dari ketua hakim menandakan bahwa persidangan cerai hari ini berakhir dengan keputusan cerai Syafa yang disetujui oleh ketua hakim.
Syafa memejamkan mata sejenak saat mendengar ketukan palu dari ketua hakim. Sedangkan Afkar menundukkan kepalanya keduanya sama-sama merasakan kesedihan saat harus saling melepaskan di tengah rasa sayang itu masih ada.
Syafa lekas berdiri kemudian berjabat tangan pada ketua hakim dan petugas yang bertugas hari itu di ruang persidangan. Syafa hanya tersenyum saat mendapat nasehat dari ketua hakim setelah itu ia segera keluar dari ruang persidangan.
“Saya mau langsung pulang, Pak. Tolong segera sampaikan amanah yang telah papa berikan untuk Mas Afkar. Kalau ada apa-apa, bapak bisa hubungi saya,” ucap Syafa pada pengacaranya.
“Baik, Bu.” Pengacara itu menunduk hormat pada Syafa.
Sebelum beranjak, Syafa sempat menoleh ke arah Afkar yang masih menundukkan kepalanya. Syafa bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh pria itu. Ini sudah keinginan dan keputusan mereka, tinggal sama-sama ikhlas melepaskan dan menata diri untuk melanjutkan hidup. Syafa kembali melangkahkan kakinya.
Ketika Syafa menjauh berganti Afkar yang keluar dari ruang persidangan. Ia menoleh ke arah Syafa. Afkar hanya bisa menatap nanar punggung wanita yang bukan lagi istrinya itu.
‘Aku dan kamu akan menjalani hidup masing-masing, Fa. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu dan juga Yara.’
Batin Afkar seraya terus menatap Syafa dari kejauhan hingga sosok wanita itu memasuki mobil. Sampai mobil itu perlahan hilang dari pandangannya.
“Mari, Pak Afkar ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda,” ucap Pengacara Syafa membuyarkan lamunan Afkar. Ajakan dari pengacara itu disetujui oleh Afkar. Mira dan Reinaldi diminta menunggu mobil oleh Afkar.
Saat ini keduanya duduk saling berhadapan. Pengacara itu mulai berbicara. Menjelaskan satu persatu hal penting yang diamanahkan pada Afkar.
Afkar menggelengkan kepala usai pengacara itu selesai menjelaskan maksud dan tujuannya. “Maaf, Pak Pengacara saya tidak bisa menerima begitu saja semua pemberian warisan ini. Saya tidak berhak menerimanya,” ujar Afkar saat pengacara minta tanda tangan persetujuan dari Afkar.
“Saya harap Anda memikirkan lagi keputusan Anda, Pak Afkar. Bukankah ibu Anda harus menjalani pengobatan dengan biaya yang besar. Anda juga bisa melakukan operasi pada kaki Anda. Saya hanya menyampaikan semua amanah ini dari Almarhum Tuan Rio. Nyonya Syafa juga menyetujuinya,” balas pengacara itu.
“Saya akan membawa kembali surat persetujuan waris ini. Kalau Anda sudah siap menerima dan menjalaninya. Anda tahu harus ke mana mencari saya! Untuk kepemimpinan perusahaan yang pernah Anda pimpin sebelumnya harus ditunda dulu. Sebab proses pengalihan akuisisi perusahaan masih dalam proses. Almarhum Tuan Rio sangat berharap Anda kembali memimpin perusahaan tersebut.” Usai berbicara Pengacara itu pamit pada Afkar.
Berpikir sambil termenung itulah yang dilakukan Afkar saat ini. Jika orang lain akan bersuka cita mendapat warisan dan menjadi orang kaya mendadak saat itu. Tapi tidak bagi Afkar.
“Mas,” tegur Mira. “Kita pulang!” ajak Mira seraya mengusap pelan bahu kakaknya.
Anggukan pelan Mira dapatkan dari Afkar yang baru saja tersadar dari lamunannya.
(Mungkin Afkar terkejut jadi orang kaya dalam sekejap.😁😁😁)
__ADS_1
.
.