
...Jangan lupa kasih rating 🌟🌟🌟🌟🌟 untuk karya ini......
Dhiya dan Yara sampai di panti asuhan yang mereka tuju. Paman Yono tidak sempat ikut mampir ke sana. Sebab kedatangannya sudah ditunggu para penjual beras di pasar. Jadi beliau hanya menitipkan salam untuk Bu Lidia, pemilik panti asuhan itu.
Dhiya tersenyum saat berjalan menuju panti asuhan. Yara diam sesaat, mengedarkan pandangannya ke sekeliling panti. Lama tidak berkunjung ke tempat itu, banyak sekali perubahan di sana. Ada dua ruangan baru dan beberapa fasilitas permainan untuk anak-anak di taman.
Seketika Yara segera mencari sesuatu di sekitar taman, wajahnya mengembangkan senyum saat melihat dua pohon yang selalu dijaga dari dulu masih berdiri tegak di atas tanah itu.
Pohon manggis dan pohon mangga. dua pohon itu memiliki banyak kenangan bagi Yara. Pohon yang ia tanam adalah pohon mangga. Sebab Yara sangat doyan sekali dengan buah mangga baik mangga mentah maupun matang. Sedangkan pohon manggis adalah buah kesukaan kakak Yara yang belum pernah ia temui. Kedua pohon itu di tanam bersama almarhum ibunya saat Yara berumur 5 tahun.
'Mah, Yara kangen sama mama. Yara juga ingin sekali bertemu dengan Kak Aileen dan papa. Bahkan sampai Yara sebesar ini belum pernah sekalipun bertemu mereka.'
Batin Yara sambil tersenyum perih mengingat kenangan bersama mamanya yang sudah terlewati begitu lama.
Puspa Almira Rajak adalah mama kandung Yara. Tapi orang desa ini banyak yang menyebut beliau dengan sebutan Mira. Almarhum mama-nya Yara sengaja mengubah nama panggilan untuk jati dirinya. Bahkan nama yang tersemat di belakang nama Yara pun jarang ada yang mengetahui karena Mama Mira tidak mau keberadaannya diketahui seseorang.
"Dhiya ...," panggil seseorang. Ia baru saja keluar dari ruang aula yang ada di sisi kiri bangunan. Yara pun tersadar dari lamunannya.
Wajah Dhiya begitu senang saat melihat wanita tua itu.
"Nenek ...," jawab Dhiya sambil berlari kecil ke arahnya.
Mereka berdua sama-sama berjalan saling menghampiri.
Yara tersenyum hangat pada wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri itu. Semenjak Mama Mira meninggal dunia saat usia Yara 7 tahun. Pengasuhan Yara beralih pada Bu Lidia. Gadis itu tinggal bersama anak panti lain yang ada di sana. Dulu, Bu Lidia berpikir papa-nya Yara akan menjemput gadis itu sebab selama Mira bersembunyi dia tidak pernah lupa untuk memantau keadaan Putri sulungnya yang tinggal bersama suami tercinta di kota lain. Bahkan setiap tahun Mira masih mengirimkan hadiah
Bu Lidia lekas berjongkok menyambut Dhiya yang semakin dekat ke arahnya. Gadis kecil berumur 4 tahun itu terlihat sangat lucu dengan rambut yang di kuncir dua.
"Apa kabar, Dhiya?" Tanya Bu Lidia saat Dhiya tertangkap olehnya.
"Baik, Nek!" jawab Dhiya seraya mengulurkan tangan mungilnya untuk menyalami wanita tua itu. Bu Lidia merasa senang dan juga gemas pada Dhiya. Setelah itu ia ciumi pipi gembul Dhiya berulang kali.
"Nenek, Geyi!" jawab Dhiya karena merasa kegelian oleh serangan Bu Lidia yang menciuminya. Kemudian Bu Lidia mencubit gemas hidung mancung Dhiya.
Bu Lidia lekas berdiri saat melihat Yara ada di hadapan mereka.
"Kamu sehat, Ra?" Tanya Bu Lidia sambil merengkuh tubuh wanita muda itu dalam pelukannya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, sehat Bu," jawab Yara berusaha tersenyum menutupi kesedihannya. Tapi sayang, Bu Lidia tidak dapat dibohongi. Ia tahu kalau saat ini Yara sedang tidak baik-baik saja. Bu Lidia menengok ke belakang Yara. "Afkar tidak ikut, apa dia menolak untuk mengantarmu?" Tanya Bu Lidia lagi dan mendapatkan anggukan pelan dari Yara.
"Dede Dhiya ...." panggil seorang anak perempuan dari dalam aula.
Beberapa anak di dalam sana melambaikan tangan pada gadis kecil itu.
"Mama ... Nenek ... Ayo ke cana!" Dhiya menunjuk aula tempat anak-anak panti berada saat ini sambil menarik-narik baju Yara. Mereka sedang bermain di ruangan baru itu. Bangunan yang belum lama selesai masa pembangunannya.
"Ya sebentar, ya, Sayang!" balas Yara
Bu Lidia melihat Bu Weni baru saja keluar dari arah pintu dapur sambil membawa makanan di nampan yang ia bawa. Sudah dipastikan wanita tua yang umurnya berbeda lima tahun dengannya itu baru saja memasak cemilan pagi sebelum sarapan besar untuk anak-anak panti.
"Wen, sini!" panggil Bu Lidia pada wanita itu. Janda tanpa anak itu ikut tinggal bersama di panti semenjak Almarhumah Mama Mira meninggal dunia. Dia lah yang membantu Bu Lidia selama ini.
"Apa, Bu?" Tanya wanita itu pada Bu Lidia.
"Kamu mau ke aula 'kan?"
"Iya."
Bu Weni mengangguk pelan. Kemudian mengajak Dhiya untuk ikut dengannya.
"Bareng sama ibu yuk, ke sana!" Ajak Bu Weni pada Dhiya sambil meraih jemari mungil gadis kecil itu
Dhiya terlihat sangat senang sambil jalan meloncat-loncat kecil dituntun oleh Bu Weni.
Yara dan Bu Lidia tersenyum melihat keceriaan Dhiya.
"Kita duduk di sana!" Ajak Bu Lidia sambil menunjuk gazebo kecil yang ada di dekat dua pohon yang Yara cari tadi.
Keduanya melangkah menuju gazebo.
"Bagaimana keadaan Afkar?" Bu Lidia mengawali obrolannya.
"Mas Afkar sehat, Bu!" jawab Yara singkat.
"Kenapa dia tidak ikut ke sini?" Tanya Bu Lidia. Ia belum mengetahui kondisi Afkar yang mengalami hilang ingatan. Beliau hanya tau, kalau Afkar sudah kembali.
__ADS_1
Yara menarik napas pelan. Perlahan ia menceritakan semuanya kepada Bu Lidia.Tidak ada yang terlewati sedikitpun. Semua yang ia alami sebelum dan sesampainya di rumah ibu mertuanya pun diceritakannya.
"Ya Allah, Nak. Benarkah semua itu?" Tanya Bu Lidia dan mendapat anggukan pelan dari Yara.
"Kenapa mertuamu sama sekali tidak mengerti perasaanmu? Apa yang kurang darimu selama ini?" Bu Lidia menggelengkan kepalanya, merasa heran dengan sikap Bu Nuri yang dari dulu tidak pernah berubah pada Yara.
"Karena aku tidak sempurna seperti Mba Syafa, Bu! Dia berasal dari keluarga berada, dan juga cantik. Siapakah aku ini jika dibanding dengan dia." Yara merendahkan dirinya. Kemudian tertunduk. Air mata yang dari tadi ia tahan akhirnya tumpah sudah. Seperti itulah Yara, tidak berani menunjukan dirinya yang sebenarnya. Dulu sebelum Yara menikah dengan Afkar, dia adalah gadis yang penuh dengan kejutan. Tapi semenjak menikah dengan Afkar, perkembangan Yara seakan berhenti. Sebab Yara memilih menuruti semua keinginan suaminya. Menjadi seorang istri dan ibu bagi anaknya. Hanya tinggal dan menunggu suami pulang bekerja. Padahal banyak bakat terpendam yang Yara miliki saat itu. Ia harus mengorbankan semuanya demi keluarga.
Bu Lidia menarik Yara dalam pelukannya."Menangislah jika itu mempu membuat perasaanmu merasa lega. Jika kamu kembali nanti ke tempat mertuamu. Bersikaplah tegas pada wanita itu. Jangan selalu bersikap lemah, Ra." Bu Lidia mengelus pelan pundak Yara. memberikan ketenangan pada wanita muda yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
"Aku tidak sanggup, jika harus melihat kemesraan mereka setiap bersama, Bu. Mas Afkar yang sekarang sangat berbeda dengan Mas Afkar yang dulu. Aku tidak tahu, apakah aku akan kembali ke sana atau tidak," ucap Yara disela pelukannya.
Bu Lidia mengerutkan dahi mendengar penuturan Yara.
"Kamu akan menyerah? Kamu yakin?" Tanya Bu Lidia sambil meregangkan pelukannya dari Yara.
Wanita muda anak satu itu, mengangguk pelan. Ucapan Afkar tadi malam bersama Syafa masih terngiang di telinga Yara. Jika saat ini hanya ada Syafa di hati dan pikiran Afkar, tidak ada yang lain. Yara semakin merasa tidak berguna di sana.
"Pikirkan dulu, baik-baik. Kamu tidak boleh lemah dan gampang menyerah. ada hal Dhiya di sini. Jangan putus asa hanya karena Afkar tidak mengingatmu. Kenangan yang kamu miliki lebih banyak dibanding wanita itu. Batu yang segitu kerasnya saja bisa hancur jika setetes air terus jatuh menimpa batu tersebut tanpa cela. Seharusnya kamu belajar dari hal itu. Afkar memang tidak mengingatmu saat ini, tapi jika kamu terus berada di sisinya. Perlahan ingatan itu pasti kembali, asal kamu harus sabar dan kuat menjalaninya." Bu Lidia memberi saran pada Yara.
Mendengar itu, Yara terdiam. Ucapan itu benar adanya.
"Aku akan terus berjuang demi Dhiya, Bu!" celetuk Yara.
Bu Linda tersenyum mendengarnya. Ia senang semangat Yara telah kembali.
.
.
.
.
Sama kaya Yara, semalem author dibikin ngebul sama bocah.
seharusnya semalam up tapi tulisan yang siap terbit itu hilang tiba-tiba karena hape Author di otak Atik sama si bocil, mana waktu mepet, jadilah kemarin bolong.
__ADS_1