
Keduanya saling diam usai mendengar suara masing-masing. Mereka tenggelam dalam pemikirannya sendiri.
'Apa aku salah menghubungi Mas Afkar lebih dulu. Aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak berhubungan lagi dengannya. Tapi aku harus melakukannya. Kami harus mengakhiri hubungan ini. Hampir tiga bulan lebih aku dan Mas Afkar tidak bertemu. Aku juga membutuhkan persetujuannya untuk penjualan rumahku. Karena semua atas telah aku limpahkan atas namanya waktu itu.'
Batin Syafa dalam lamunannya.
Sedangkan Afkar tersenyum mendengar siapa pemilik nomer yang menghubunginya dari tadi.
"Akhirnya kamu menghubungiku, Fa! Apa kabar, Fa?" Tanya Afkar dari sebrang telepon.
Tidak ada jawaban dari Syafa.
"Fa," panggil Afkar untuk kedua kalinya.
"Ah, ya, apa?" sahut Syafa gugup.
"Apa kabar?" Afkar kembali bertanya.
"Eum, kabarku baik, Mas!" Jawab Syafa gugup.
"Fa, aku rindu sekali padamu, Fa! Apa kita bisa bertemu? Sudah lama aku menunggu saat ini. Saat di mana kamu menghubungiku. Maaf bukannya aku tidak mencari mu. Tapi dengan kondisi ku seperti ini, sangat tidak mungkin untukku. Aku ingin kita membicarakan kelanjutan pernikahan kita, Fa," ucap Afkar langsung pada intinya sebelum Syafa berbicara.
"Aku juga mau bertemu sama kamu, Mas. Tapi untuk membahas soal rumahku. Aku ingin menjualnya, aku butuh persetujuan dan tanda tangan kamu untuk pengalihan sertifikat. Sebab rumah itu sudah beralih atas namamu," sahut Syafa.
Afkar mengerutkan alis mendengarnya. "Aku sudah mengalihkan semua harta yang aku ubah atas namaku. Aku merasa tidak pernah mengalihkan nama rumah itu, Fa," ucap Afkar heran. Sebab ia tidak merasa mengubah sertifikat rumah atas namanya.
"Aku yang mengalihkannya, Mas. Aku ingin menjualnya," sambung Syafa cepat. "Untuk pernikahan kita, bukankah sudah berakhir secara agama. Hanya secara hukum yang belum."
Afkar kembali mengerutkan alis mendengar penuturan Syafa. "Berakhir secara agama? Apa maksud mu, Fa?" Afkar tidak mengerti maksud dari Syafa.
"Tiga bulan lebih kita berpisah. Tanpa ada nafkah lahir dan batin. Bukankah secara agama kita sudah berpisah? Dan aku akan menyelesaikannya saat kita bertemu nanti."
__ADS_1
Afkar menggelengkan kepala mendengarnya. "Kamu masih sah sebagai istriku, Fa. Mungkin kamu tidak pernah mengetahui kalau selama tiga bulan ini aku terus mengirimkan nafkah untukmu. Aku ingin memberitahumu tapi tidak tahu kemana harus menghubungi. Aku sungguh menanti saat ini. Dimana kamu yang lebih dulu menghubungiku, Fa!"
Syafa terkejut dengan ucapan Afkar. Ia sungguh tidak menyangka kalau dirinya dan Afkar masih sah menjadi suami isteri. Ada perasaan senang di hati wanita itu. Tapi secepat mungkin Syafa menepisnya.
'Tidak ... Tidak, aku sudah janji untuk mengakhiri semuanya. Aku tidak mau menyakiti hati adikku.'
Batin Syafa. Hatinya menginginkan kembali pada Afkar tapi akal sehatnya menolak. Syafa berpikir kalaupun Yara mengijinkannya pasti luka yang tertoreh di hati adiknya akan kembali terangkat kalau Syafa bersama Afkar.
"Aku minta maaf, Mas," lirih Syafa.
"Minta maaf untuk apa?" Tanya Afkar. "Seharusnya aku yang meminta maaf. Apa kamu tidak menginginkan kita kembali bersama, Fa?" Afkar kembali bertanya.
"Mas, apa Mas Afkar tidak merasa bersalah pada Yara? Kita sudah menyakiti hatinya, seumpama kita kembali bersama. Yara pasti terluka, aku tidak mau itu terjadi. Aku lebih memilih menutup perasaan ini dari pada harus menyakitinya lagi. Aku sudah egois pernah menginginkan kamu seutuhnya seorang diri. Tapi kali ini tidak, Mas. Maafkan aku. Aku lebih menyayangi adikku," seru Syafa.
Afkar terdiam mendengarnya. Pria itu menghela napas berat.
"Kamu tau, Aku tidak berani bicara soal rasa bersalah ini. Terlalu besar untuk diungkapkan. Rasanya tidak cukup hanya dengan kata maaf, tapi harus diapakan lagi. Semua sudah terjadi, Hubungan ku dengan Yara tidak bisa kembali utuh. Aku merasa lega karena Yara sudah bersama pria yang tepat saat ini. Kamu tahu, Fa. Yara dan kamu mempunyai tempat istimewa di hatiku. Mungkin untuk saat ini namanya masih ada di hatiku. Tapi perlahan aku akan menghapus perasaan ini untuk Yara. Aku kenal betul sifat dia, Kalau kami bertemu nanti, aku yakin Yara adalah wanita yang mempunyai hati lembut dan pemaaf. Aku juga menanti saat itu tiba. Saat bertemu dengan Yara. Aku sungguh ingin meminta maaf padanya." Afkar berbicara panjang lebar. "Fa, kamu masih di sana?" Afkar menarik ponselnya dan melihat apa sambungan teleponnya masih terhubung.
"Ya," Jawab Syafa singkat.
"Sebaiknya kita bertemu. Ada banyak yang harus aku bicarakan. Kita tidak bisa menggantung pernikahan ini. Apa kamu yakin ingin benar-benar berpisah dariku? Apa benar tidak ada kesempatan untukku? Kamu pasti tahu 'kan semua ini juga bukan seluruhnya salah dariku? Kita terjebak oleh keadaan. Karena Papa Rio kita terjebak dalam kondisi rumit ini. Banyak perandaian yang terpikir olehku. Tapi kalau begitu aku dan kamu tidak akan bersama, Fa."
Syafa membenarkan ucapan Afkar. Wanita itu diam. Ia tidak mampu untuk membalasnya.
"Hubungi aku kapan kita akan bertemu. Yang pasti kamu jangan berpikir kita sudah berpisah. Secara agama dan hukum kamu masih sah menjadi istriku. Kabari aku untuk waktu dan dimana kita bisa bertemu. Maaf aku masih bekerja, jadi tidak bisa berbincang lebih lama. Aku tunggu kabar darimu, Fa! Ku tutup teleponnya ya, Assalamualaikum," Ucap Afkar. Pria itu tidak langsung menutup ponselnya. Ia menunggu Syafa menjawab salam darinya.
"Waalaikumussalam," sahut Syafa.
Afkar pun menutup sambungan telepon itu. Kemudian hendak kembali ke tempatnya bekerja.Tapi sayang, langkahnya kembali terhenti saat ponselnya kembali berdering.
Afkar melihat nomer baru kembali muncul di layar ponselnya.
__ADS_1
"Siapa lagi ini?" Gumam Afkar heran. Hari ini banyak kejutan untuk dirinya. Pagi tadi berhasil membekuk orang yang sudah memfitnahnya dan sudah membuat dirinya harus mengganti uang toko. Barusan mendapat kejutan bisa berbicara lagi dengan Syafa. Wanita yang beberapa bulan berpisah dengannya.
Kali ini Afkar tidak tahu akan mendapat kejutan apa lagi setelah ini. Kening Afkar mengerut saat melihat nomer asing 'lah yang tertera dilayar ponselnya. Merasa penasaran, Afkar segera menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Assalamualaikum," Ucap Afkar saat sambungan telepon tersambung.
"Waalaikumussalam," sahut seseorang di sebrang telepon. Dia merupakan asisten dari pria yang cukup terkenal dikalangan pebisnis. "Apa benar saya berbicara dengan Afkar? Afkar Chairi?" Tanya asisten itu yang kembali bertanya pada Afkar. Hal itu semakin membuat Afkar penasaran dibuatnya.
"Ya, ini saya! Afkar Chairi," Sahut Afkar. ""Ada apa ya?" Lanjut Afkar.
"Kalau emang benar Anda Afkar Chairi. Bisa tolong untuk menunggu sebentar! Bos kami ingin berbicara pada Anda?"
"Tolong jangan basa basi. Siapa bos Anda dan apa yang ingin dia bicarakan denganku!" Desak Afkar, ia tidak mau kalau hanya dipermainkan saja.
Seorang pria tampan dan berwibawa berdiri di sebelah asistennya. Beliau menggelengkan kepala mendengar berapa juteknya ucapan Afkar. Pria itu lekas mengambil alih ponsel yang masih terhubung dengan Afkar.
"Selamat sore, Afkar Chairi!" Sapa pria itu.
Afkar kembali mengerutkan alisnya. Ia merasa tidak asing mendengar suara itu. "Erza! Erza Rahardian!" balas Afkar.
.
.
.
.
To Be continued
Selamat malam.
__ADS_1
aku double up ya. mana like comment Kalian.....