
Malam pengantin yang seharusnya dilewati dengan indah dan romantis belum juga dimulai oleh pasangan pengantin itu. Erza harus bersabar menunggu kesiapan Yara untuk melayaninya.
Keduanya masih mengobrol di malam pertama mereka, berdua saja. Tidak bersama Dhiya. Beruntung disaat pernikahannya tadi pagi. Kak Ima dan Bang Boy datang ke sana. Tidak hanya mereka berdua tapi juga seorang bayi laki-laki yang sudah hadir diantara keduanya. Buah hati mereka berdua.
Selesai acara Dhiya memilih ikut dengan Kak Ima. Mereka sudah lama tidak bertemu. Kak Ima sudah seperti ibu bagi Dhiya. Bayi laki-laki bernama Joy itu menjadi kesenangan buat Dhiya.
Yara pun mengijinkannya.Tapi dengan syarat Kak Ima harus berhati-hati takut Afkar melihat dan merebut Dhiya kembali.
"Bagaimana perasaanmu lebih baik sekarang?" Tanya Erza saat Yara baru saja selesai membersihkan diri. Pria yang sudah menjadi suami Yara itu menunggu dengan sabar di sofa.
Selesai acara akad nikah yang hanya dihadiri oleh kerabat dekat itu. Erza dan Yara memilih berada di rumah Bu Haryani sampai esok hari. Yara meminta Erza suaminya agar menghargai Beliau yang sudah banyak membantunya selama ini. Erza pun mengikuti kemauan Yara.
Yara menoleh. "Maksud kamu?" Yara bertanya balik. Wanita itu ikut duduk di samping Yara.
"Meskipun kamu tidak mengungkapkan apa yang ada dalam hatimu, tapi aku mengerti kalau kehadiran papa-mu tadi sangat kamu harapkan," ujar Erza.
Yara hanya tersenyum kemudian tertunduk. "Kamu memang paham akan perasaanku, Za. Tapi kenapa hati ini justru takut," tutur Yara.
Erza mengerutkan dahi mendengarnya. "Takut kenapa?"
"Takut kalau keegoisanku membuat aku kehilangan mereka. Apa salah jika aku masih belum bisa berinteraksi baik dengan papa. Karena dia semuanya bermula."
"Lalu bagaimana dengan maaf mu, jujurlah pada hatimu." Erza meraih tangan Yara kemudian menggenggamnya erat.
"Jauh di lubuk hatiku, aku sudah memaafkannya, Za. Hanya saja rasa kecewa ini sangat besar. Tidak mudah untuk melupakan luka yang ia torehkan dalam hatiku. Apalagi perbedaan hidup yang aku terima selama ini. Aku yang hanya tinggal di panti asuhan dan Mba Syafa yang hidup dengan kemewahan dan kasih sayang papa. Aku tidak pernah mendapatkan itu. Tidak perlu aku ungkap kembali apa yang terjadi. Kamu sudah tahu itu, Za. Tidak secepat itu menyembuhkannya," lirih Yara.
Erza mengangguk menanggapinya. "Ya, aku mengerti! Sekarang waktunya move on." Erza memegangi kedua bahu Yara dan mengarahkan tubuh wanita itu agar menghadapnya. "Kita mulai hidup baru. Aku, kamu dan Dhiya. Kamu wanitaku saat ini, tidak boleh ada lagi kesedihan. Di bibir ini hanya ada senyuman dan tawa ceria. Tidak ada lagi air mata dan kesedihan." Satu tangan Erza beralih meraih dagu Yara agar mendongak menatapnya. "Kamu siap memulai hidup bersamaku?" Erza menatap Yara tegas dan penuh pengharapan.
Senyum mengembang di bibir Yara. Wanita itu mengangguk pelan sebagai jawaban untuk Erza.
Hal itu membuat Erza merasa bahagia. Di raihnya tubuh Yara ke dalam pelukan.
"Terima kasih sudah menerima semua kekuranganku, Za."
"Kamu hal terbaik yang aku dapatkan, Sayang!
"Kamu pahlawanku. Tanpamu aku tidak akan sekuat ini," balas Yara. Kedua tangannya membalas pelukan Erza. Keduanya saling mencurahkan rasa sayang lewat pelukan. Erza mulai meregangkan sedikit pelukannya. Keduanya saling menatap dalam diam. Manik mata keduanya memancarkan rasa cinta. Hanya saja Yara belum pernah mengungkapkannya. Selama ini hanya Erza yang berterus terang soal cinta kepada Yara.
Erza menarik Yara agar semakin dekat. Pria itu memiringkan wajahnya. Melihat Erza semakin mendekat, Yara mulai memejamkan mata. Sesuatu yang kenyal kini ia rasakan. Ezra mengulum bibirnya dengan lembut. lidahnya menerobos bibir Yara.
Perlahan tapi pasti, Erza mulai memainkan bibir itu dengan lembut. Yara mulai terhanyut dalam permainan bibir Erza.
Pagutan itu semakin menuntut lebih. Ini adalah pengalaman pertama buat Erza tapi tidak bagi Yara.
Erza melepas pagutan bibirnya saat merasakan napas Yara tersengal karena kehabisan napas.
"Apa aku menyakitimu?" Tanya Erza karena pria itu merasa permainan bibirnya terlalu bersemangat sehingga membuat bibir bawah Yara terlihat sedikit bengkak.
Yara tertunduk malu. Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan. Wajahnya merona merah dengan pertanyaan Erza.
Erza kembali meraih dagu Yara. Tatapan mata pria itu terlihat begitu mendamba. Yara adalah wanita yang berpengalaman dalam hal ini. Ia tahu kalau suaminya itu tengah menginginkan lebih dari sekedar sentuhan bibir.
Erza mencoba menahan diri saat hasratnya sudah menguasai diri. Pria itu memegang janjinya pada Yara. Erza tidak mau memaksa saat Yara belum siap melayaninya.
Erza hendak berdiri untuk meninggalkan Yara. Ia tidak mau semakin berada di sana. Pria itu semakin menginginkan lebih.
"Aku ke kamar mandi sebentar!" Ucap Erza seraya berdiri dari duduknya. Tapi dengan cepat Yara mencekal. Wanita itu menarik tangan Erza.
"Kenapa harus menghindar?" Tanya Yara yang ikut berdiri dari duduknya.
Saat ini keduanya saling berhadapan. "Aku sudah menjadi istrimu saat ini. Aku adalah milikmu. Kenapa harus menahan diri saat menginginkannya?" Ucap Yara pelan sambil mendongak. Sebab Erza lebih tinggi dibanding wanita itu.
Yara menatap Erza. Pria yang ada dihadapannya ini telah menaklukan hatinya.
__ADS_1
Yara tidak bisa memungkiri kalau perasaannya masih abu-abu kepada Erza. Tapi dirinya terus mendapatkan perlakuan dan sikap baik dari Erza yang membuktikan kalau Erza adalah pria tulus dan berhak mendapati tempat istimewa di hatinya.
"Aku tahu kamu belum sepenuhnya percaya padaku, Ra. Aku tidak akan memaksa kalau kamu memang belum siap. Aku mencintaimu bukan karena napsu tapi aku tulus.
Yara tersenyum mendengar setiap kalimat dari bibir Erza. Tanpa ragu Yara melingkarkan tangannya di pinggang kekar pria itu.
"Mana mungkin aku tidak rela. Aku berada di sini bersama kamu dan mau memakai cincin ini karena aku yakin bersama kamu, bahagia itu datang. Kamu yang membuat aku bertahan sampai detik ini, Za. Kamu yang terus menyemangati ku." Yara memberikan senyuman terbaiknya pada Erza.
Melihat dan merasakan keterbukaan Yara. Tanpa banyak bicara lagi. Erza sedikit menunduk. Pria itu kembali menyerang bibir Yara. Pagutan nikmat kembali terjadi. Kali ini semakin bergelora. Ruangan yang dingin karena suhu dari AC perlahan berubah panas karena napas keduanya semakin memburu.
Erza melepas pagutannya. Bibirnya menurun ke leher putih Yara.
"Eughh ... " Suara indah itu meluncur begitu saja dari bibir Yara.
"Ijinkan aku meminta hakku sebagai suami mu?" bisik Erza pada Yara.
Yara mengangguk pelan membalasnya. Erza kembali mereguk bibir ranum yang sedikit bengkak itu. Kemudian langsung membopong tubuh Yara tanpa melepaskan pagutan bibirnya.
Perlahan tubuh wanita itu dibaringkan di atas tempat tidur. Tangan lincah Erza berkelana melepas setiap kain yang melekat di tubuh istrinya itu.
Sentuhan demi sentuhan semakin membuat Yara terhanyut. Tidak bisa dipungkiri Yara merindukan sentuhan itu. Tapi kali ini berbeda. Sentuhan dari orang yang berbeda. Perlakuan lembut dan nikmat pun berbeda.
Erza mampu membuat Yara terus menjerit indah di setiap sentuhannya.
Malam ini mereka pun saling berbagi kenikmatan. Melaksanakan kewajiban masing-masing. Yara telah resmi menjadi istri seutuhnya bagi Erza.
"Arghh ...." Pelepasan nikmat membuat keduanya saling memeluk erat. Mereka enggan untuk memisahkan diri. Tapi hanya sesat, detik berikutnya Erza berpindah tidur di sisi Yara yang memejamkan matanya karena lelah. kedua pengantin itu pun saling memeluk menuju dalam mimpi yang indah.
...🌱🌱🌱...
Pagi harinya, Yara masih berada dalam pelukan Erza.
"Za, sudah siang, bangun!" bisik Yara menepuk pelan pipi Erza.
"Aku mau bangun, tidak enak sama Bu Haryani, Za ...."
Erza pun membuka matanya. Pria itu merasa janggal dengan penggilan Yara padanya.
"Aku boleh minta sesuatu padamu?" bisik Erza.
Yara melepaskan pelukannya. Wanita itu menatap lekat wajah Erza. "Apa?" Tanyanya.
"Aku ini sekarang suami mu, masa iya panggilan buatku tidak terdengar istimewa," protes Erza.
Yara tersenyum. "Kamu mau aku panggil apa?" Tanya Yara sambil memainkan jemarinya di dada bidang Erza yang masih polos itu.
"Bebeb."
"Ogah, lebay kedengarannya." Tolak Yara sambil menepuk pelan dadanya.
Erza terkekeh menanggapi Yara. "Bagaimana kalau ayang?" lanjutnya.
Yara mengelengkan kepala.
"Papih?"
"Kita belum punya anak, Mas!" Yara menutup mulutnya saat kata terakhir terlontar dari bibirnya.
"Coba kamu ulangi lagi, Sayang!"
"Apa?" Yara nampak malu.
"Ulangi panggilan barusan. panggilan sederhana tapi enak di dengar."
__ADS_1
"Apa sih?" Elak Yara.
"Mas Erza, Sayangku!" Ucap Erza agar Yara mengikutinya.
Yara tersenyum malu. "Gak usah pake sayang!" tolak Yara.
"Tapi aku mau!"
"Ya sudah, aku gak jadi manggil kamu dengan sebutan itu." Yara hendak bangkit dari tempat tidur itu.
"E-eh iya, Sayang. Coba ulangi. Mas Erza mau denger!" goda Erza.
"Itu kamu udah ngomong."
"Itu aku nyontohin, Sayang!" Erza merasa gemas pada Yara. Pria itu mencubit hidung mancung Yara.
"Ih ... Mas, sakit." keluh Yara.
Panggilan sederhana tapi malu membaut Erza tersenyum senang.
"Mulai saat ini panggil aku Mas Erza. masa sama suami sendiri manggilnya Za, Za, Za." oceh Erza masih bersembunyi di balik selimut dengan Yara.
Yara terkekeh mendengarnya. "Iya, Mas Erza."
"Nah, tuh adem banget dengernya," serobot Erza.
"Lebay! Lepasin ah, aku mau mandi!"
"Aku ikut!"
Yara membelalakkan mata membalasnya.
Erza menyengir. Pria itu lupa kalau saat ini dia berada di mana. "Aku lupa kita berada di rumah orang lain," Celetuk Erza.
"Nah, itu Mas tahu!" Yara turun dari tempat tidur dengan selimut yang melilit tubuhnya.
"Kamu tidak masalah pindah ke rumahku, Sayang?" Tanya Erza saat Yara melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
Langkah Yara langsung terhenti saat mendengar ucapan Erza. "Rumah Mama Anggi?" Yara balik bertanya.
Erza menggelengkan kepala. "Bukan. ini rumahku sendiri!" Ujar Erza.
Yara mengerutkan alisnya. "Rumahmu?"
Erza mengangguk pelan. "Di mana?" lanjut Yara.
Erza pun memberitahu alamat rumah milik Erza yang sudah lama tidak ia tempati.
"Ko, aku merasa tidak asing dengan alamat rumahmu itu, ya, Mas?" pikir Yara.
"Masa?"
.
.
.
To Be continued
Mohon maaf kemarin Author tidak up bab.
puasa pertama jadi banyak yang disiapkan maklum ya...
__ADS_1