
Pagi harinya.
Di sebuah rumah sederhana. Seorang pria tengah bersiap untuk pergi bekerja pagi itu. Padahal ia sudah mengambil ijin bekerja untuk beberapa hari ke depan. Tapi tidak berguna sama sekali. Niat hati ingin menjaga Syafa tidak terealisasikan. Wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu bersikeras untuk berpisah dengannya.
Afkar tidak menyalahkan Syafa. Tapi memang ini sudah takdir yang harus dijalaninya.
“Kar, apa kamu tidak bisa berbicara baik-baik lagi pada Syafa,” ucap Bu Nuri saat Afkar bersiap untuk pergi bekerja.
Afkar mendesah pelan. Mendengar ucapan ibunya. “Bu tolong, ini sudah keputusan aku dan Syafa. Meskipun berat tapi kami harus menerimanya.”
“Bukankah Yara sudah bahagia dengan suami barunya. Lalu apa yang menjadi penghalang bagi kalian berdua,” desak Bu Nuri.
Afkar kembali menggelengkan kepalanya. Pria itu merasa Bu Nuri kembali egois, menginginkan dirinya untuk kembali bersama Syafa padahal semua sudah dijelaskan semalam oleh Afkar.
“Bu kita sudah bahas ini semalam. Afkar mohon untuk menerima semua keputusan ini. Kalau memang kamu masih dipertemukan dalam jodoh. Allah akan kembali menyatukan kami. Kalau tidak, mungkin Allah sudah mempersiapkan yang lebih baik lagi,” tutur Afkar. “Sekarang lebih baik kita menjalani hari dengan perubahan yang lebih baik, Bu. Banyak pelajaran penting yang harus kita terapkan untuk masa depan kita. Do’akan saja anakmu ini, kembali bangkit.”
“Benar apa kata Mas Afkar, Bu. Kita harus berusaha mengerti posisi Mba Syafa saat ini. Seperti yang Mas Afkar bialng semalam. Andai kembali bersama tapi ada luka yang terus terungkit akan menjadi boomerang sendiri nantinya. Sebaiknya ibu doakan saja, Mas Afkar dapat jodoh yang lebih baik lagi. Dan doakan aku juga meskipun sangat sulit untuk terwujud tapi aku ingin merasakan hamil seperti wanita lainnya. Aku ingin memberikan keturunan untuk Mas Renal,” lirih Mira.
Mendengar anak perempuannya mengeluh, Bu Nuri merasa iba.
“Aamin, ibu doakan yang terbaik untuk kalian berdua. Saat ini hanya kalian yang ibu miliki. Maafkan, jika ibu terlalu egois selama ini,” sesal Bu Nuri sambil tertunduk sedih mengingat semua kejadian yang menimpa keluarganya selama ini.
“Sudah, sudah. Ini sudah kita bahas semalam. Hari ini aku akan memulai hariku, aku minta doa dari kalian agar semuanya lancar,” pamit Afkar, ia lekas meraih tangan Bu Nuri lalu menciumnya.
Pria itu juga bergegas menaiki kendaraan roda duanya. Perlahan pergi meninggalkan halaman rumah sederhana itu. Berlalu cepat menuju ke toko bahan terbesar di Tanah Abang tempatnya bekerja.
Bu Nuri dan Mira menatap kepergian Afkar. “Ibu tidak tega melihat keadaan Mas mau yang cacat sekarang ini. Andai saja, ibu punya uang lebih. Kakakmu bisa kembali normal jika menjalani operasi,” ucap Bu Nuri menatap kepergian Afkar dengan perasaan sedih.
“Aku sudah pernah menawarkan hal itu pada Mas Afkar, Bu. Tapi dia menolak. Ibu tidak tahu saja sifat Mas Afkar seperti apa.”
“Ya, kamu benar. Semoga kerja kerasnya membuahkan hasil. Ibu ingin melihat putra ibu normal kembali. Ibu hanya tidak tega saja melihat Mas mu dalam keadaan cacat seperti itu. Banyak yang merendahkan dia karena kondisinya saat ini.”
“Kita do’akan saja Mas Afkar mampu melewati semuanya dengan sabar dan baik, Bu.”
“Aamin.”
“Sekarang ibu istirahat! Aku mau merapikan pakaian ganti ibu yang akan dibawa. Ibu lebih baik tinggal bersamaku. Ini titah Mas Afkar, ibu tidak boleh menolak!” ucap Mira tegas.
Afkar memberi perintah pada Mira agar mengajak Ibu mereka untuk tinggal bersama anak perempuannya itu. Sebab Afkar tidak yakin bisa menemani wanita tua itu setiap saat. Afkar bertekad untuk bekerja keras untuk masa depannya. Tentunya untuk Dhiya, putri tercintanya yang ia punya saat ini. Meskipun Erza dan Yara pastinya memberikan apapun yang Dhiya minta tapi Afkar juga ingin memberikan yang terbaik untuk putrinya.
Satu jam perjalanan Afkar tiba di area pusat perbelanjaan bahan di Pasar Tanah Abang. Pria itu langsung berjalan masuk setelah menitipkan kendaraan roda dua miliknya di parkiran.
“Assalamualaikum,” sapa Afkar saat pria itu masih ke dalam toko tempatnya bekerja.
Beberapa karyawan terlihat heran melihat kedatangan Afkar.
__ADS_1
“Loh, bukannya Mas Afkar ijin tidak masuk kerja ya? Ko, sudah masuk aja,” ucap salah satu pekerja di sana.
“Urusannya cepat selesai, jadi lebih baik saya masuk kerja daripada di rumah,” jawab Afkar. Pandangannya mengitari sekeliling toko mencari seseorang. “Uda Malik mana?” tanya Afkar.
“Belum datang, Mas. Mungkin sebentar lagi,” sahut pegawai yang lain.
Afkar menganggukkan kepalanya pelan. Ia langsung menuju tempat yang biasa di tempati ya selama bekerja di toko itu. Afkar begitu serius melihat laporan barang masuk dan keluar dari toko itu. Tak lama keseriusannya terusik saat melihat kedatangan Uda Malik yang datang dengan wajah yang di tekuk.
“Assalamualaikum,” ucap Uda Malik saat pria tua itu baru saja masuk ke dalam toko miliknya. Uda Malik juga belum menyadari kalau Afkar sudah masuk kerja hari ini.
Salah seorang pegawai langsung mendekati pria itu kemudian menyerahkan kunci toko pada Uda Malik. Dan memberitahukan kalau Afkar sudah masuk kerja.
“Yang benar, bukannya dia ijin seminggu ini,” sahut Uda Malik saat mendengar penuturan pegawainya.
“Benar, Uda. Itu Mas Afkar lagi serius memeriksa laporan,” pegawai itu menunjuk ke tempat Afkar bekerja.
“Oh, ya sudah kamu kembali merapikan barang yang ada di gudang.”
“Baik, Uda.” Pegawai itu pun berlalu dari hadapan Uda Malik. Begitu juga dengan Uda Malik. Pria berumur itu memilih mendekati Afkar.
“Kenapa sudah masuk kerja?” tanya Uda Malik tiba-tiba sehingga membuat Afkar terkejut dibuatnya.
“Astaghfirullahaladzim.” Afkar sedikit terperanjat karena merasa terkejut dengan sapaan Uda Malik padanya.
“Maaf saya mengagetkanmu.” Uda Malik menepuk pelan bahu Afkar. “Kenapa sudah masuk kerja, bukannya mau menemani istri di rumah sakit?” tanya Uda Malik.
Atasan Afkar mengerutkan alis mendengarnya. “Cerai? Kenapa? Saya kira kalian akan bersatu kembali.” Uda Malik merasa penasaran dengan kisah kehidupan Afkar.
“Ada hal yang tidak saya ceritakan. Yang pasti aku sudah menjatuhkan talak pada Syafa. Ini adalah keputusan terbaik untuk kami berdua.”
Uda malik sedikit berpikir mendengar pengakuan Afkar.
Pria berumur itu langsung duduk di hadapan Afkar. “Berarti kamu sudah menduda sekarang ini?”
Afkar menganggukkan kepalanya. “Ya, tapi belum resmi karena kami baru cerai secara agama saja. Sedangkan secara hukum, perceraian kami masih dalam proses pengadilan agama.” Afkar menjelaskan. Ia melihat raut wajah Uda Malik yang terlihat seperti ada masalah. “Ada apa, Uda? Sepertinya sedang ada masalah,” tanya Afkar pada atasannya itu.
“Purtriku, Zana. Semalam dia pulang ke rumah bersama seorang laki-laki,” jawab Uda Malik.
“Bukannya itu bagus. Berarti putri Anda sudah siap untuk menikah,” timpal Afkar.
Uda Malik menggelengkan kepalanya. “Tapi aku tidak suka dengan laki-laki itu, Kar. Aku merasa Tony hanya mempermainkan putriku saja.”
“Itu hanya perasaan Uda saja. Berpikirlah positif.”
“Perasaan orang tua bisanya tepat. Mendengar kamu sudah bercerai, aku sangat berharap kamu menjadi menantuku, Kar,” ucap Uda Malik membuat Afkar tersenyum miring.
__ADS_1
“Apa Anda tidak salah bicara. Aku hanya pria cacat yang tidak punya apa-apa. Apa Anda tidak takut putri Anda terseret dalam bahaya seperti yang dialami oleh Syafa.” Afkar mengingatkan Uda Malik.
“Sama sekali tidak, karena aku tahu kamu pria yang bertanggung jawab dan pasti akan melindungi Zana, nantinya.”
“Itu sangat tidak mungkin. Sebaiknya restui saja hubungan mereka berdua.”
Baru saja Afkar selesai bicara. Seorang wanita cantik dengan pakaian ala wanita karier memasuki area toko.
“Mana papa saya?” tanya Zana pada salah seorang pegawai toko yang berjaga di depan toko. Pegawai yang bertugas menyambut pembeli yang datang. “Hei, ditanya malah bengong,” tegur Zana.
“Ah, Maaf. Saya tidak tahu siapa yang Anda maksud,” sahut Pegawai itu.
Zana memutar bola mata malas dengan tanggapan pegawai toko itu. “Papa ku adalah pemilik toko ini. Malik Mahendra, kalian biasa menyebutnya Uda Malik,” tutur Zana.
“Oh ... Uda Malik. Beliau ada di sana, Nona.” Pegawai itu menunjuk ke tempat di mana Uda Malik berada.
“Kenapa tidak bilang dari tadi!” gerutu Zana. Wanita cantik dengan gayanya yang anggun itu lekas berlenggok mendekati arah yang ditunjuk tadi oleh pegawai toko.
“Pah,” panggil Zana saat wanita itu tiba di hadapan papa-nya dan Afkar. “Aku ingin bicara penting sama papa. Ini soal hubunganku dengan Tony. Papa harus merestui kami berdua, tidak boleh enggak. Pokoknya harus.” Zana langsung berbicara tanpa basa basi. Wanita itu to the point pada intinya.
Tanpa diberitahu siapa wanita yang tiba-tiba datang itu adalah Zana, wanita yang sedang dibicarakan olehnya dan Uda Malik, Afkar lekas berdiri. Pria itu hendak pergi dari hadapan papa dan anak itu. Afkar tidak mau mengganggu dan mencampuri urusan mereka berdua.
Tatapan mata Zana tertuju pada Afkar melihat kondisi Afkar yang mengalami cacat pada kakinya. Zana sedikit merasa jijik.
‘Sayang ya, cacat coba kalau normal. Wajah dan tubuhnya sih lumayan.’
Batin Zana dengan senyum mengejek.
“Loh, kamu mau ke mana, Kar?” tanya Uda Malik saat melihat Afkar pergi dari hadapannya.
“Saya lebih baik pergi sebentar. Barangkali Zana ingin berbicara penting dengan Anda,” ucap Afkar memberikan kesempatan untuk Zana dan Uda Malik berbicara. Afkar pun berlalu dari hadapan papa dan anak itu.
“Papa 'kan sudah bilang semalam. Papa kurang setuju kamu bersama pria itu. Hati papa ragu pada Tony. Papa lebih setuju kamu bersama Afkar,” ucap Uda Malik seketika membuat Zana Saverina Mahendra menoleh pada pria berumur itu.
“Papa jangan ngaco. Apa kata atasan dan bawahanku kalau aku mempunyai suami cacat seperti itu. Jangan gila deh, Pah. Aku harus segera menikah dengan Tony, Pah. Papa harus merestui kami!” desak Zana membuat Uda Malik mental curiga pada putrinya itu.
“Kenapa kamu bersikeras sekali ingin menikah dengan pria itu? Hah!” Uda Malik balik mendesak Zana.
Obrolan anak dan papa itu semakin panas. Cerita ini akan berlanjut di judul yang berbeda. Tunggu ya kisah serunya.
Bagaimana kehidupan Afkar selanjutnya.
.
.
__ADS_1
.
To Be Continued