
"Aku tidak mungkin kembali dengan Mas Afkar, Mba! Rasa sakit di hati ini masih terasa." Tolak Yara seraya tersenyum miris tanpa menatap Syafa.
'Masih terasa saat ia menyetubuhi ku dengan kasar tanpa kelembutan sedikitpun'
"Aku minta maaf, Ra. Aku minta maaf telah masuk dalam kehidupan kalian. Aku juga minta maaf karena egois telah meminta Maaf Afkar menjauhi mu. Awalnya aku takut ... Takut jika suatu saat ingatannya kembali. Aku dilupakan dan ditinggalkan nya. Apalagi saat ini, aku sedang mengandung anak Mas Afkar," lirih Syafa sambil memegangi perutnya yang masih rata.
Yara tersenyum malas. Awalnya Yara masih merasa kesal pada Syafa. Tapi setelah beberapa saat berbincang dengannya. Yara bisa merasakan ketulusan dari wanita yang pernah jadi madunya itu. Sekarang hanya dia satu-satunya istri dari Afkar saat ini. Syafa juga terkejut saat mengetahui kalau Afkar telah menjatuhkan talak kepada Yara.
"Mba tidak perlu khawatir. Meskipun saat ini aku membenci suamimu. Tapi aku yakin Mas Afkar orang yang bertanggung jawab. Tidak mungkin dia melupakan dan meninggalkan Mba Syafa. Hanya saja, aku akan mempertahankan Dhiya. Aku akan meminta hak asuh terhadap putriku," tutur Yara.
"Rasanya akan sulit, Ra."
"Kenapa?" Tanya Yara penasaran.
"Mas Afkar pasti akan menang sebab mempunyai keluarga utuh. Pengadilan pun akan memberikan hak asuh pada kami. Kamu pasti kalah meskipun melakukan banding."
Mendengar penuturan dari Syafa membuat Yara pesimis.
Banyak yang dibicarakan Yara dan Syafa saat itu. Entah mengapa bersama Syafa, Yara merasakan sesuatu yang berbeda. Rasa marah dan kecewa pada wanita itu perlahan terhapus begitu saja. Meskipun sedari tadi yang dibicarakannya hanya Afkar tapi Yara sudah menerima takdirnya itu
Satu jam berlalu tanpa terasa. Syafa pamit kepada Yara. Dan meminta maaf jika dirinya harus kembali membawa Dhiya untuk pulang. Syafa tidak ingin Afkar kecewa padanya.
"Maaf aku harus membawa Dhiya pulang," ucap Syafa setelah memberi pengertian pada Yara. Syafa harus rela berbohong pada Afkar agar dapat membawa Dhiya keluar dari rumah.
"Ya, terima kasih sudah mengijinkan Dhiya bertemu denganku, Mba."
Yara mencoba memahaminya karena ia hapal betul dengan sikap Afkar yang tidak mau dibantah.
Syafa mengangguk pelan.
Sebelum berpisah Syafa memeluk Yara. "Sekali lagi aku minta maaf, Ra! Apapun itu aku minta maaf padamu," ucap Syafa disela pelukannya. Rasa bersalah pun ia rasakan.
Yara berjongkok di depan Dhiya. bocah kecil itu terlihat sedih saat harus kembali berpisah dengan Yara.
"Kenapa sih, aku tidak boleh ikut sama bunda?" Tanya Dhiya dengan wajah cemberut.
Hati Yara terasa teriris mendengarnya.
"Sayang ... Dhiya, anak yang kuat. Saat ini kakak dan bunda harus berpisah. Bunda tidak bisa bilang karena apa. Tapi bunda harap Dhiya sabar ya. Kita pasti bisa sama-sama lagi. Dhiya percaya 'kan sama bunda?"
Dhiya mengangguk pelan mendengarnya.
Perpisahan pun akhirnya terjadi juga. Meskipun berat hati tapi Yara harus merelakannya berpisah kembali dengan Dhiya.
"Ini nomer rumah Bu Haryani. Tolong kabari aku kalau terjadi sesuatu pada Dhiya." Yara memberikan nomer telepon rumah Bu Haryani.
"Pasti, aku pasti menghubungi mu. Aku dan Dhiya pamit pulang.
Yara kembali memeluk Dhiya. Gadis kecil itu juga membalas pelukan Yara. Setelah itu Dhiya menyalami Kak Ima. Lambaian tangan menjadi perpisahan Yara dan Dhiya.
"Sabar ya, Ra!" Kak Ima mengusap pelan pundak Yara untuk menguatkannya.
"Terima kasih, Kak!"
Kak Ima mengajak Yara masuk ke dalam rumah kontrakannya. Mumpung sedang bersama Kak Ima, Yara juga akan pamit untuk pindah dari kontrakan yang ia tempati saat ini.
"Kenapa pindah dari sini, Ra." Tanya Kak Ima sambil berjalan ber-iringan dengan Yara.
"Aku akan tinggal bersama Bu Haryani, Kak. Beliau memintaku untuk menemaninya! Nanti Kak Ima bisa berkunjung ke tempatku yang baru. Beliau begitu baik padaku," tukas Yara.
"Syukurlah, kamu tinggal bersama orang baik, Ra!"
__ADS_1
Yara pun tersenyum dan bersyukur soal itu."Iya, Kak."
Tak lama Yara pamit pulang pada Kak Ima. Wanita itu kan kembali nanti. Untuk mengambil beberapa barang miliknya di kontrakan itu. Yara sudah mengambil keputusan untuk tinggal bersama dengan Bu Haryani.
...🌱🌱🌱...
Satu minggu telah berlalu. Sesuai dengan janji, Papa Rio dan Gita pergi menemui Bu Lidia. Mereka penasaran dengan wajah dari putri Pak Rio yang belum diketahui.
Papa Rio dan Gita akhirnya bisa bertemu dengan Bu Lidia di sebuah Cafe yang jaraknya tidak jauh dari rumah sakit di mana anak asuhnya sedang dalam perawatan.
"Senang berjumpa dengan Anda, Bu Lidia," Sapa Papa Rio sambil mengulurkan tangannya pada wanita itu.
"Terima kasih, Pak Rio. Bagaimana keadaanmu saat ini, sehat?" Tanya Bu Lidia."
"Alhamdulillah sehat. Silahkan duduk!" Titah Pak Rio dan Bu Lidia pun mengikutinya.
Begitu juga dengan Gita. Wanita itu juga menyalami Bu Lidia.
Mereka bertiga duduk bersama.
"Sebelumnya saya mau berterima kasih pada Pak Rio. Berkat bantuan dana dari Anda. Reni, anak asuh kami bisa mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit itu. Sekali lagi, terima kasih banyak," ucap Bu Lidia sambil menunduk sopan.
Bu Lidia dan Gita pun berbincang santai sesaat. Tak lama, usai bersapa sopan dan berbincang sebentar soal anak panti yang mendapatkan perawatan. Pak Rio membuka suara untuk bertanya.
"Bu Lidia ... Maaf saya langsung bertanya saja pada intinya. Siapa putriku dan dimana keberadaannya sekarang ini?" Pak Rio langsung bertanya pada inti pertemuannya saat ini.
Bu Lidia paham dengan keinginan Pak Rio. Kemudian wanita itu tersenyum kecil menanggapinya. "Sebenarnya saya sedikit kecewa dengan Anda, Pak Rio. Mengapa baru sekarang Anda baru ingin mengetahui siapa putri kedua Anda!" Bu Lidia sedikit berbicara ketus. "Jujur, sampai sekarang saya belum bisa menghubungi dia. Saat ini, dia sedang bersama dengan suami dan keluarga dari suaminya. Anda tahu yang paling membuat saya sedih selama ini kepada putri Anda?" Tanya Bu Lidia.
Pak Rio menggelengkan kepala pelan. "Batinnya menderita mendapat perlakuan tidak baik dari mertua perempuannya. Ditambah lagi saat ini, kesabarannya kembali diuji karena suaminya mengalami amnesia dan tidak mengingat dia sama sekali. Dan paling menyakitkan ...." Bu Lidia menjeda ucapannya sambil menghela napas berat. "Suaminya telah memiliki wanita lain. Pak Rio bisa bayangkan, bagaimana penderitaan dia selama ini. Hidup tanpa kasih sayang seorang ayah dari kecil. Harus berjuang sendiri, saya sebagai ibu panti memang memberikan kasih sayang padanya secara utuh. Tapi saya yakin kalau dia juga menginginkan kasih sayang dari ayahnya secara langsung. Dan paling menyedihkan, dia selalu berharap di jemput oleh Anda, Pak Rio. Setiap tahun selalu menanti kedatangan Anda dan kakaknya. Tapi semua sia-sia sampai akhirnya Dia menerima lamaran dari seorang pria yang mampu melindungi dan memberikan kenyamanan padanya waktu itu." Bu Lidia kembali menghela napas usai berbicara.
Mendengar semua penuturan dari Bu Lidia. Rongga dada Pak Rio terasa sesak. Penyesalan kembali ia rasakan.
"Puspa juga sangat bodoh, sampai akhir hidupnya ia tetap menganggap Anda adalah pria terbaiknya," sindir Bu Lidia.
"Lalu di mana putriku dan siapa dia?" Pak Rio semakin penasaran. Ada ras curiga dalam hatinya saat mendengar ucapan Bu Lidia tadi.
"Putri kedua Anda bernama Ayara Faeqa Wirawan. Seorang wanita yang saat ini entah berada di mana. Terakhir bertemu saat dia pulang dari Kota. Ketika suaminya telah diketemukan.
Tangan Pak Rio bergetar usai Bu Lidia Berbicara.
"Apa nama suami putriku, Afkar Chairi?" Tanya Pak Rio dengan suara bergetar. Ia ingin memperjelas rasa curiganya tadi.
"Anda kenal dengan suami Yara?" Bu Lidia malah balik bertanya.
Tubuh Pak Rio berasa tak bertenaga. Ternyata benar kecurigaannya barusan. Tubuh pria berumur itu langsung bersandar di sandaran sofa. "Dia adalah menantuku, suami dari Syafa. Kakak dari Yara. Kenapa Tuhan mempertemukan kami dengan cara seperti ini? Ini tidak diperbolehkan dalam agama! Bagaimana aku menjelaskannya pada Yara dan Syafa?" lirih Pak Rio sedih sambil memejamkan mata. Pria itu sungguh tidak menyangka dengan semua yang terjadi.
Kedua putrinya bersuami kan pria yang sama tanpa mereka sadari. Semua itu terjadi begitu saja.
"Apa? Tidak mungkin! Salah satu diantara mereka harus ada yang mengalah," ujar Bu Lidia tidak percaya sambil menggelengkan kepalanya.
Pak Rio belum tahu kalau Afkar telah berpisah dengan Yara. Ia masih mengira kalau Yara dan Afkar masih berstatus suami istri. Sebab Syafa belum bercerita padanya. Putri pertamanya itu tidak ingin menambah beban pikiran Pak Rio.
Pria berumur itu benar-benar kalut. Ia tidak ingin menyakiti hati kedua putrinya. Tapi yang paling sulit sekarang ini adalah bertemu dengan Yara. Bagaimana reaksi Yara jika tahu kalau Papa dari Syafa adalah papa yang selama ini di tunggu olehnya.
Hak yang akan sangat sulit bagi Pak Rio untuk mendekati Yara.
...🌱🌱🌱...
Tiga bulan telah berlalu. Tanpa terasa Yara berhasil melewati kehidupannya dengan baik. Yara memilih menyibukkan diri dengan bekerja. sesekali dia bertemu Dhiya atas bantuan dari Syafa. Afkar juga disibukkan dengan pekerjaannya. Semakin maju perusahaan yang dikembangkannya semakin sibuk pula Afkar. Sepertinya Afkar mulai lupa tau memang sedang menyibukkan diri, untuk menghindari kepenatan dalam dirinya, tidak ada yang tahu itu.
Yara berhasil sampai di detik ini tak lain atas bantuan Bu Haryani yang mengarahkannya. Sayang menurut wanita itu. Jika Yara tidak mengembangkan bakat terpendamnya.
__ADS_1
Betul dugaan Bu Haryani. Desain pakaian sehari-hari dan beberapa gaun buatannya laku dijual di butik baru
Mama Anggi.
Rekan kerja sekaligus teman dari Bu Haryani itu menyetujui kerjasama dengan Yara. Meskipun tidak jadi bertemu merasa puas dengan hasil rancangan Yara. Menurut Mama Anggi terget yang dituju oleh Yara tepat sasaran. Berbagai baju dengan model yang simpel tapi terkesan mewah mampu memasuki dunia perdagangan dengan baik.
Sama dengan Yara. Erza juga lebih memilih fokus pada pekerjaannya saat ini. Pria itu berubah menjadi diam dan dingin selama ia bekerja sebagai penerus perusahaan. Erza lebih banyak bergelut menekuni dunia bisnis dibanding dulu. Sering keluar dan bebas mengekspresikan diri dengan dunia luar.
Menerima keputusan dari Mama Anggi untuk perjodohannya salah satu pemicu berubahnya sikap Erza. Meskipun pada kenyataannya sampai saat ini, Mama Anggi belum mengenalkan Erza dengan wanita yang akan dijodohkan dengannya. Semua itu terhalang karena wanita yang telah melahirkan Erza itu harus melakukan pengobatan terlebih dulu selama dua bulan ini.
"Pah, apa keputusan mama salah dengan meminta Erza menerima perjodohan yang akan mama lakukan?" Tanya Mama Anggi bimbang pada suaminya.
"Mama juga salah, padahal biarkan saja Erza memilih jodohnya sendiri!" elak Papa Rangga.
"Tapi sampai saat ini masih belum ada wanita yang dikenalkan pada Mama. Padahal mama pernah memberi kesempatan padanya. Mama hanya sedih, sikap Erza jadi berubah seperti itu." Mama Anggi terlihat sendu.
"Ya sudahlah! Jangan terlalu dipikirkan. Jangan menjadi beban juga buat kamu Biarkan Erza fokus dulu dengan pekerjaannya. Jodoh tidak akan kemana, Mah." Papa Rangga menenangkan Mama Anggi. Ia tidak mau istrinya yang baru menyelesaikan pengobatan di luar negeri harus berpikir berat dulu.
Nada dering dari ponsel Mama Anggi begitu nyaring terdengar. Nama Bu Haryani pun terpampang jelas di layar ponselnya.
Mama Anggi tersenyum melihatnya. Wanita itu segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Kenapa tidak keluar kamar? Aku datang jauh-jauh untuk menjenguk mu!" Ucap Bu Haryani dari seberang telepon.
Mama Anggi sedikit terkejut mendengarnya.
"Kamu berkunjung ke rumahku?" Tanya Mama Anggi seraya bangkit dari duduknya.
"Iya, aku bersama desainer yang sudah membuat butikmu terkenal dengan rancangannya. Apa kamu tidak mau bertemu dengan dia?" Tanya Bu Haryani.
"Mau dong! Tunggu aku! Sebentar lagi aku turun." Mama Anggi langsung menutup sambungan teleponnya.
Mama Anggi tidak sabar ingin bertemu dengan wanita muda yang berhasil membuat butiknya ramai selama ia dalam perawatan di luar negeri.
Mama Anggi mempercayakan butiknya pada Bu Haryani dibantu Yara.
"Akhirnya aku bisa bertemu dengan wanita itu. Rasanya tidak sabar ingin mengenalkannya pada Erza." Mama Anggi sangat tidak sabar ingin mengenalkan Erza pada Yara. Meskipun belum pernah bertemu tapi semua kisah tentang Yara sudah didapat Bu Haryani karena itulah Mama Anggi begitu tidak sabar ingin bertemu dengan Yara. Sebuah rencana pun sudah terpikir olehnya.
Di tempat lain. Erza bersiap untuk pulang setelah mendengar berita kalau Mama Anggi sudah tiba di rumah. Pria itu benar-benar ingin melihat mama-nya bahagia kali ini. Dan apapun yang diinginkan akan Erza penuhi. Meskipun harus menikah dengan orang yang tidak ia kenal.
.
.
.
TBC
Hai readers....
Apa kabar kalian?
Maafkan ya kemarin author nggak sempet up.
Dan hari ini author up 2 bab jadi 1 ya.....
sehat sehat buat kalian semua....
Tinggalkan komentar, like, dan Hadian bunga sekembang buat ku..
😘😘😘
__ADS_1