
Meskipun malas tapi Erza tetap menjalankan perintah dari mama-nya. Dengan Menjinjing paper bag yang di tangannya Erza turun dari mobil mewah miliknya.
"Kenapa rumahnya sepi sekali? Apa ada orang di rumah ini?" Erza celingak-celinguk sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah Bu Haryani. "Benar, sepertinya nggak ada orang di rumah ini! Apa lebih baik aku simpan saja oleh-oleh ini di depan pintu?" Pikir Erza. Ia melangkah mendekati pintu rumah itu.
Erza melihat jendela rumah yang terbuka. Pria itu mengintip dari luar.
Di saat yang bersamaan, Bu Haryani dan Yara tiba. Mereka berdua sengaja menggunakan mobil online. Sebab, di jalan tadi mobil Bu Haryani mengalami sedikit kerusakan. Jadi pak supir yang menunggu mobil itu di bengkel mobil. Yara dan Bu Haryani memilih pulang dengan memesan mobil online.
"Ini mobil siapa ya, Bu?" Yara heran melihat mobil mewah berhenti di depan gerbang rumah Bu Haryani. pandangan Yara mengarah ke arah gerbang. "Ko, gerbangnya terbuka, Bu? Apa ada tamu?" Tanya Yara pada Bu Haryani wanita berumur yang masih terlihat cantik itu mengangkat bahunya pelan.
"Sepertinya bukan tamu ibu, deh!" elak Bu Haryani.
"Lalu tamu siapa, Bu? Apa jangan-jangan---,” Yara segera masuk ke dalam rumah diikuti oleh Bu Haryani di belakangnya. "Bu, itu siapa ya, ko mencurigakan banget?" Ucap Yara pelan sambil memperhatikan pria yang ada di depan rumah Bu Haryani.
Yara menghadang Bu Haryani dan meminta wanita itu agar diam di tempat.
"Bu, aku akan memberi pelajaran pada pria itu. Bisa jadi dia mau mencuri di rumah ibu," pikir Yara. Kemudian mencari sesuatu untuk dipergunakan agar bisa melawan pria aneh itu.
Penampilan Erza kali ini memang membuat penasaran. Dia memakai topi dan masker saat datang ke rumah Bu Haryani. Apalagi tingkah Erza sangat mencurigakan. Dia mengintip keadaan di dalam rumah dari luar jendela bahkan sesekali berusaha membuka pintu rumah.
"Bu Nana kemana? Kenapa bisa ada orang masuk ke sini." Bu Haryani memantau Yara takut jika dia kenapa-napa. "Ra, hati-hati!" ucap Bu Haryani pelan.
Yara berhasil menemukan tongkat baseball di dekat pagar. Ia memegang erat tongkat tersebut dan berjalan mengendap-endap agar pria yang masih mengintip dari jendela itu tidak mendengar langkahnya.
Dan saat berada di dekat pria itu, Yara langsung memukulinya.
Bugh ....
Bugh ....
Bugh ....
"Rasain! Kena kamu ya, ngapain ngintip-ngintip rumah ini? Mau mencuri, ya? Ayo, ngaku!" Yara tidak sekali memukul tubuh pria yang belum ia lihat wajahnya itu.
"Aww .... Sakit ... Gue bukan mau mencuri, gue cuman mau nganterin barang," elak pria itu.
Sayang sekali Yara tidak percaya ucapan pria itu. Ia terus memukuli tanpa ampun.
Bu Haryani mendekati Yara. "Ra, cukup! Hentikan!" Titah Bu Haryani. Ia merasa tidak tega melihat pria itu dipukuli.
"Apa kita panggil pak RT saja, Bu?" Ucap Yara saat menghentikan gerakannya.
Dirinya juga tidak tega melihat pria berpenampilan tertutup itu terkapar karena mendapat pukulan darinya.
"Bu ... Bagaimana ini? Kok dia nggak gerak-gerak! Padahal pukulannya pelan," Yara terlihat begitu khawatir dia takut pria itu kenapa-napa.
Perlahan Yara mendekatinya. "Hei, bangun!" Yara menyentuh tubuh pria itu pelan. Tidak ada respon sama sekali dari Erza.
Sebenarnya Erza masih bisa sadar. Hanya tubuhnya terasa sakit menerima pukulan dari yang ia terima secara tiba-tiba. Erza memilih diam. Pria itu tidak mengenali suara Yara karena saat kebetulan sekali Yara sedang mengalami flu dan sesekali batik. Jadi suara Yara terdengar sedikit berbeda.
Nada dering dari ponsel Bu Haryani terdengar begitu nyaring. Nama Anggi tertera di layar ponselnya. Bu Haryani segera mengangkat telepon itu dengan menjauh dari Yara dan pria yang tidak dikenalnya.
__ADS_1
Yara melihat pergerakan dari Erza yang perlahan mulai bangkit.
"Sshhhh ... Awww," jerit pria itu sambil memegangi pipinya sendiri.
Yara bingung harus berbuat apa. Apa dia harus meminta maaf atau kembali mengintrogasi pria itu.
"Aku bantu, kamu duduk!" Yara membantu Erza untuk duduk di kursi yang tak jauh dari sana.
Padahal sudah sedekat itu tapi mereka masih belum menyadarinya.
Erza meraih paper bag yang ia letakkan di meja tadi.
"Ini dari nyokap gue! Tadi dia lupa ngasih sama kalian," ujar Erza sambil menyodorkan paper bag itu pada Yara.
Yara merasa ada yang aneh saat ia menerimanya.
'Sepetinya aku tidak asing dengan suara itu'
Batin Yara. Tapi dia tidak berpikir kalau dia mengenal pria itu.
"Maaf, aku sudah salah paham sama kamu! Apa ada yang sakit." Tanya Yara sambil sedikit membungkukkan tubuhnya hendak melihat seberapa parah luka yang ia berikan pada pria itu. "Biar aku bantu untuk mengobatinya!"
Yara tanpa ijin membuka topi yang Erza pakai. Sontak membuat manik mata mereka saling bertemu.
Yara langsung berdiri tegak begitu juga dengan Erza.
Pria itu sungguh tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya sekarang ini.
"Yara ...."
Ucap mereka bersamaan.
Yara menjatuhkan topi di tangannya. Wanita itu merasa terkejut melihat sosok pria di hadapannya ini.
"Akhirnya aku bisa bertemu dengan kamu lagi!" Ucap Erza sambil membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya. Jelas terlihat beberapa luka lebam di rahang pipi pira itu. Sepertinya tongkat baseball tadi yang mengenai nya.
"Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Yara masih dengan rasa terkejutnya.
"Aku sudah bilang. Aku mengantarkan barang dari dari mama untuk Bu Haryani dan putrinya. Beliau lupa memberikannya tadi. Jadi aku disuruh mengantarkannya ke sini. Tapi apes banget. Sampai sini malah dapet pukulan, mana sakit banget. Aww ...." Erza meringis merasakan perih di tukang pipinya.
"Maaf, aku tidak sengaja."
...🌱🌱🌱🌱...
Saat ini Erza berada di dalam ruang Bu Haryani. Yara membantu mengompres luka lebam di pipi Erza.
"Tahan, ya!" Ucap Yara sambil menempelkan kain yang sudah ia celupkan pada air hangat dan memerasnya.
Erza hanya mengangguk pelan. manik matanya tidak berhenti memperhatikan Yara. Hal itu membuat Yara menjadi gugup.
'Aku senang sekali bisa bertemu kamu, Ra.'
__ADS_1
Batin Erza.
"Selesai," Yara hendak beranjak dari hadapan Erza tapi pria itu lebih cepat menarik tangan Yara dan menahannya.
"Aku senang bisa melihat mu lagi, Ra," ucap Erza.
"Lepaskan, Za!" Yara menepis pegangan tangannya dari Erza.
Tak lama Bu Haryani datang.
"Kamu itu anaknya Anggi, toh!"
Erza dengan cepat menarik tangannya. "Iya, Bu!"
"Kalian sudah kenal 'kan?"
Yara dan Erza saling menatap dan mengangguk pelan secara bersamaan.
"Za, Yara ini adalah putri angkat ku. wanita yang akan dijodohkan dengan kamu. Apa kamu sudah tahu itu?"
Erza mengangguk ragu. Ia tahu kalau dirinya akan dijodohkan tapi pria itu sungguh tidak menyangka kalau wanita yang akan dijodohkan dengannya adalah Yara.
"Bagaimana, kamu setuju?" tanya Bu Haryani.
"Setuju sekali Tante, Kali bisa lebih cepat menikah lebih baik!" sahut Erza dan mendapatkan tatapan tajam dari Yara.
"Wah sepertinya ada Yangs udah tidak tahan ingin segera naik ke pelaminan," ledek Bu Haryani. "Ya sudah kalau begitu. Silahkan kalian obrolan bagaimana keputusannya. Aku dan Anggi setuju saja. Kalau kalian sudah kenal pastinya akan lebih mudah berinteraksi." Setelah berucap Bu Haryani sedikit menjauh dari hadapan mereka berdua. Wanita itu hendak menghubungi temannya, Mama Anggi. memberi kabar bahwa perjodohan ini sepertinya akan berjalan dengan baik dan cepat.
"Maaf, Za. Aku terpaksa menerima perjodohan ini aku butuh bantuanmu!" ucap Yara.
"Tapi aku tidak terpaksa menerima perjodohan ini. Apalagi setelah tahu kalau wanita itu adalah kamu. Aku senang sekaki, Ra!"
"Tolong bantu aku! dengan menikah aku bisa mengambil hak asuh Dhiya dari Mas Afkar," ucap Yara.
Banyak yang Yara ceritakan setelah itu. Obrolan itu semakin berlanjut. Erza dengan sabar mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir Yara.
"Aku akan membantumu! Kita bisa menikah besok atau lusa. Setelah itu percepat pengaduan pada pengadilan untuk hak asuh Dhiya." Erza berkata tegas.
Seulas senyum terpancar dari wajah Yara. Hal itu membuat Erza merasa senang.
"Bagaimana kamu setuju?" Tanya Erza.
Yara mengangguk pelan, meskipun ada perasaan ragu harus menikah dengan Erza karena hanya ingin meminta bantuan agar bisa mengambil hak asuh Dhiya. Tapi Yara berusaha menepisnya.
Sama hal dengan Yara. Erza pun mengambil kesempatan dengan cepat menikahi Yara. Tidak apa dirinya hanya dijadikan penolong sesaat. Tapi Erza berharap perlahan di hati Yara tumbuh perasaan untuknya. Dia akan berusaha agar cinta hadir di dalam rumah tangga mereka nanti. Erza akan pastikan itu.
Dalam hati Erza, pria itu merasa senang. Menurutnya pukulan keras itu membawa berkah. Berkah bisa bertemu Yara kembali dan bonus bisa menikahi Yara dengan cepat.
.
.
__ADS_1
.
.