Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Bawa Aku Pergi Dari Sini


__ADS_3

Yara tersenyum saat melihat Erza berjalan mendekat ke arahnya dengan membawa dua tas di tangan kiri dan kanan dengan lesu. Yara membuka pintu kamar agar Erza bisa leluasa memasukkan tas ke dalam kamar.


"Mau aku buatkan minum apa, Mas!" Tanya Yara saat Erza masuk ke dalam kamar. Kamar yang akan mereka tempati untuk bermalam di panti asuhan ini.


"Aku mau yang segar-segar," jawab Erza dengan wajah lelahnya. Kemudian menurunkan tas di kedua tangannya.


Yara kembali tersenyum sembari menepuk pelan pipi suaminya.


"Tunggu sebentar ya, aku buatkan." Saat Yara akan melewati Erza, langkahnya kembali terhenti. Yara menoleh ke samping di mana Erza masih berdiri.


"Suamiku ternyata berguna, kuat dan perkasa," bisik Yara sembari mencium pipi suaminya.


Mendapat perlakuan manis dari Yara, Erza menarik satu sudut bibirnya. Dan dengan cepat mencekal langkah wanita itu.


Erza menarik Yara dalam rangkulannya. Pergerakan yang begitu cepat. Erza pun menyambar bibir yang baru saja menempel di pipinya. Kini, Erza mengulum bibir itu. Memberikan tarikan kecil pada bibir wanita itu.


Yara membulatkan mata saat mendapat perlakuan yang mendadak. Tapi detik berikutnya Yara menikmati permainan bibir Erza.


Cukup lama keduanya asik dalam permainan bibir. Erza tiba-tiba saja menghentikan ciumannya saat mendengar derap langkah mendekat ke arah kamar mereka.


Yara diam mematung padahal ia begitu menikmati permainan yang Erza berikan untuknya.


Erza menarik kedua sudut bibirnya. "Kita lanjutkan nanti malam," bisik Erza.


Yara begitu malu, wajahnya sudah semerah tomat saat itu.


"Kamu harus mendapatkan hukuman karena telah mengerjai aku!" Lanjut Erza


Yara mendongak dan membungkam mulutnya sendiri.


"Aku tidak mengerjai mu, Mas!" Sanggah Yara.


Erza mendekatkan wajahnya pada Yara. Manik mata tajam milik suaminya menatap lekat bola mata cokelat istrinya. "Kamu tidak bisa berbohong, Sayang!" bisik Erza sembari mengacak rambut Yara dengan gemas. Kemudian berjalan keluar melihat siapa yang berjalan menuju kamarnya.


'Aduh, bisa bergadang sampai pagi kalau sudah begini!'


Batin Yara.


Dhiya berjalan saling bergandeng dengan Erza saat masuk ke dalam kamar.


"Bunda, nanti malam aku mau ikut tidur sama yang lain di kamar besar," ucap Dhiya meminta ijin pada Yara.


"Hah, Jangan! Bunda gak ada teman," jawab Yara cepat. Ia ingat kalau nanti malam akan mendapat hukuman dari Erza.


Dhiya langsung melipat tangan di depan dada sambil menatap tajam pada Yara.

__ADS_1


"Bunda 'kan sama papa! Masa gak ada teman! Pokoknya aku mau sama teman-teman. Titik!" Ucap Dhiya sambil menunjukan wajah cemberutnya.


Erza mensejajarkan tingginya dengan Dhiya.


"Papa yang ijinkan. Tapi ingat, kalau sudah tengah malam tidak boleh cari bunda. Kamu harus belajar mandiri mulai saat ini," ujar Erza memberi Agun seger pada Dhiya.


"Papa memang yang terbaik!" Dhiya terlihat girang. Ciuman sayang di pipi Erza Dhiya berikan. Anak kecil itu hendak keluar dari kamar.


"Dhiya, bunda tidak dicium?" Protes Yara. Wanita itu diacuhkan oleh Dhiya.


"Gak, bunda gak asik!" Celetuk Dhiya.


Yara hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anak itu. Mendapat ijin dari Erza membuat Dhiya begitu girang. Anak perempuan itu memang senang setiap kali berada di panti asuhan ini.


Meskipun terlihat diam dan cuek, Dhiya mudah berbaur dengan orang lain.


Erza terkekeh melihat sikap dua wanita yang berbeda usia itu. Erza kembali melangkah mendekati Yara.


"Siap-siap, nanti malam, Sayang!" goda Erza sambil berbisik di telinga Yara. Kemudian berjalan menuju tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya di sana.


"Ah ... Kira-kira tempat tidur ini kuat tidak ya?" Erza terus saja menggoda Yara dengan merentangkan tangannya ke sekeliling tempat tidur yang sedang ia tiduri itu.


"Apa sih, Mas!" sungut Yara. Ia memilih menghindari godaan suaminya. Yara sudah membayangkan bagaimana lembutnya perlakuan Erza saat mereka berbagi kehangatan. Meskipun hal itu bukan yang pertama bagi Yara tapi bersama Erza, Yara mendapat


pengalaman baru.


Syafa sudah sadar dari masa kritis. Wanita itu terus diam saat merasakan ada perbedaan pada tubuhnya. Saat menyadari itu Syafa terus menangis tanpa suara. Syafa merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa mendengar ucapan papa-nya.


Andai saja dirinya mendengarkan ucapan Pak Rio janin yang ada dalam kandungannya masih berasa dengannya saat ini.


Syafa masih diam. Kini giliran Syafa yang diam merenungi semua yang terjadi padanya. Dirinya terlalu egois untuk sebuah keinginan. karena keegoisannya. Syafa kehilangan semuanya.


"Sayang, ini aku!" Ucap Afkar yang berada di sisi Syafa. Pria yang masih belum pulih itu tidak ingin beranjak sedetikpun dari sisi Syafa.


Tidak ada balasan sedikitpun dari Syafa.


"Aku sama sepertimu, kita sama-sama kehilangan dia. Anak yang ada dalam kandunganmu, Fa." Afkar terus berusaha mengajak Syafa berbicara. "Aku minta maaf, semuanya jadi seperti ini karena aku." Afkar tertunduk setelah berucap.


"Kenapa kamu berkhianat, Mas. Kamu tahu, hal itu sangat tidak disukai papa. Begitu juga aku, mungkin setelah ini aku akan pertimbangkan hubungan kita ke depannya," Ucap Syafa. Wanita itu membuang pandangannya dari tatapan Afkar.


"Apa maksudmu, Sayang? Kamu mau meninggalkanku?" Tanya Afkar penasaran dengan ucapan Syafa.


"Aku ikut dengan perintah papa, Mas!Aku ingin kita berpisah. Tidak ada yang harus dipertanggung jawabkan lagi 'kan? Satu-satunya pengikat kita adalah buah hati yang sudah pergi untuk selamanya. Kamu bisa bebas bersama wanita lain. Setelah perceraian kita berakhir.


"Fa, tolong pikirkan lagi baik-baik. Aku khilaf melakukan itu. Aku sudah kehilangan orang yang sangat aku cintai, juga putriku. Aku tidak mau kembali kehilangan wanita yang berarti bagiku."

__ADS_1


"Apa ... Apa arti diriku dalam hidupmu, Mas? Seberapa besar cintamu untukku? Sama besarkah seperti pada Yara?" Tanya Syafa menatap lekat wajah Afkar. Ia ingin melihat seberapa berartinya dirinya di mata Afkar.


Afkar diam tak menjawab. Membuat Syafa tersenyum miring menanggapinya.


"Cintamu pada Yara lebih besar 'kan?" Syafa menegaskan. "Andaikan tidak ada aku pasti kalian bisa bersama. andaikan Papa tidak egois ingin melihat aku bahagia pasti Yara juga bahagia bersama kamu, Mas."


"Tapi dia bukan milikku lagi, Fa. Kami sudah berbeda, Yang aku punya hanya kamu saat ini." Afkar berusaha merah tangan istrinya tapi Syafa menepisnya.


"Apakah aku hanya jadi pengganti setelah Yara pergi. Seperti ini 'kah sakitnya Perasaan Yara waktu itu."


"Sayang, tolong. Aku salah, aku mengaku ini kesalahanku. Tolong jangan seperti ini. Kita seharusnya saling menguatkan," sahut Afkar. "Jangan tinggalkan aku, Fa."


"Tinggalkan aku sendiri, Mas! Kembalilah ke ruangan mu! Kamu juga masih belum pulih!" Ucap Syafa tanpa memandang Afkar.


Pria yang ada di sisi Syafa tertunduk sedih. Ia tidak mau memaksa.


"Saat aku sadar ingatan ini telah seluruhnya kembali. Penyesalan besar aku rasakan. Apalagi saat mengingat sikapku padanya. Terlebih kalian adalah saudara sekandung. Aku sangat paham bagaimana Yara begitu mendambakan pertemuannya dengan kamu dan juga papa selama ini. Aku sudah kehilangan dia. Saat ini aku tidak mau kehilangan kamu, Fa."


"Kita sama-sama bersalah dalam hal ini Mas. Kita sama-sama telah menyakiti perasaan orang yang sama. Karena itu, jika kita masih memaksakan untuk kembali. Penyesalan kita pasti akan terus kita rasakan." Syafa menarik napas panjang. "Aku ingin istirahat, tolong tinggalkan aku, Mas!"


Akhirnya Afkar menyerah. Semua sikap Afkar sebelum pasca hilang ingatan pun kembali. Pria itu keras kepala dalam menjalani satu keputusan. Tapi bisa lemah dan mengalah saat melihat orang yang di sayang memohon.


"Baiklah, istirahat 'lah! Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, Aku juga ingin bertemu dengan Yara. Aku ingin meminta maaf padanya."


Tidak ada jawaban dari Syafa. Wanita itu kembali membuang pandangannya. Satu hal yang Syafa pikirkan saat ini. Ia ingin lari kenyataan yang ada. Rasa bersalahnya terlalu besar untuk adik kandungnya sendiri.


Afkar keluar dari ruangan Syafa dengan wajah yang sedih. Banyak pemikiran yang membebaninya saat ini. Syafa juga menolak saat Bu Nuri ingin menyatukan ruangan mereka. Afkar kembali ke ruangannya dengan perasaan gelisah tak karuan. Entah mengapa perasaannya semakin tidak tenang. Afkar mengira perasaan itu karena rasa bersalahnya pada Yara. Tapi ia tidak pernah menduga apa yang akan terjadi di hidupnya yang akan datang.


Tak lama setalah Afkar keluar ruangan itu. Seorang pria datang dengan langkah tergesa-gesa.


"Maaf saya terlambat, Non!" Ucap Roni sambil menundukkan kepalanya.


Syafa menoleh dan menatap Roni. "Mas Roni," panggil Syafa lirih. "Bawa aku dari sini!" ucap Syafa dengan linangan air mata di pipinya.


.


.


.


To be Continued


Selamat malam...


Sehat sehat selalu buat pembacaku.

__ADS_1


like + komentarnya plus hadiah atau bintang 5 ya 🥰😍😘😘


__ADS_2