
Di tempat lain. Usai keputusan ketua hakim yang menyatakan bahwa dirinya dan Yara sudah resmi bercerai. Membuat Afkar kini berada di dalam sebuah club' malam.
"Kamu tidak bisa pisah dariku, Ra! Aku masih suamimu. Aku tidak rela jika kita berpisah. Seharusnya kamu menurut padaku. Seperti Syafa yang tidak pernah melawan ku," oceh Afkar yang kembali meneguk minuman beralkohol milikinya.
Afkar sudah menghabiskan beberapa sloki minuman keras membuat pria itu mabuk berat. Hingga ia menelungkupkan wajah di atas meja bar.
Mabuknya Afkar berhasil menarik perhatian seorang wanita yang duduk tak jauh darinya.
Wanita seksi bernama Alecia itu berjalan mendekati Afkar. "Sepertinya kamu butuh teman malam ini." Alecia mengusap lembut pucuk kepala Afkar.
Pria yang saat ini sedang dalam keadaan mabuk itu, menoleh ke arah wanita itu.
"Kamu Yara apa Syafa?" Tanya Afkar dengan suara parau nya. Pandangan pria itu sudah mulai tidak jelas. Afkar mengira kalau wanita yang ada di hadapannya saat ini adalah salah satu dari wanita yang ia cintai.
"Yara, aku tidak bisa melepas kamu!" Akar menarik Alecia, kemudian Afkar menenggelamkan wajahnya di dada empuk wanita itu.
Afkar mengira dia adalah Yara. Mendapat respon dari Afkar Alecia tersenyum. Pria itu masuk ke dalam perangkapnya. Seringai licik terpancar dari wajah Alecia.
"Sepetinya malam ini keberuntungan berpihak sama gue. Gue dapet kakap malam ini." Alecia semakin menekan kepala Afkar agar tenggelam di atas buah dada yang empuk itu.
"Aku rindu kamu, Ra. Malam itu membuat aku selalu terbayang-bayang padamu. Ketua hakim pasti berbohong, kita masih menjadi suami istri 'kan?" Afkar semakin meracau tidak jelas.
Alecia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia membopong Afkar yang sedang mabuk menuju kamar yang ada di club' tersebut. Kamar bookingan yang biasa disewakan untuk para pengunjung yang sudah tidak bisa menahan hasrat mereka. Club' malam itu terbilang mewah dan hanya dikunjungi orang-orang berduit saja.
"Argh ... Berat sekali pria ini!" Keluh Alecia saat dirinya membaringkan Afkar di atas tempat tidur.
Afkar sama sekali tidak berdaya. Pria itu benar-benar mabuk dan tidak sadarkan diri.
Alecia membuka satu persatu pakaian yang dikenakan Afkar. Termasuk celana yang dikenakan pria itu. Alecia menarik sudut bibirnya saat melihat identitas Afkar dan kartu nama yang ada di dalam dompetnya.
"Ternyata benar dugaan gue. Pria ini kelas kakap!" Alecia begitu bersemangat untuk melewati malam ini bersama Afkar. "Sayang ... Bangun lah! Apa kamu tidak ingin merasakan permainan indahku!" Alecia membelai wajah Afkar yang mulai di tumbuhi bulu-bulu halus di rahangnya. Jemari lentik Alecia bermain dari atas, menelusuri dada bidang Afkar yang sama-sama di penuhi bulu.
__ADS_1
"Kamu seksi sekali, Sayang. Dirimu sungguh menggairahkan ku!" bisik Alecia. Wanita itu berharap Afkar terbangun oleh sentuhannya.
Gayung bersambut. Afkar membuka matanya. Kemudian menyipitkan mata menatap Alecia.
"Yara .... Aku mencintaimu, Sayang!" ucapnya. Afkar langsung menarik Alecia dan membalikkan posisi mereka.
Afkar mengambil kendali saat ini. Ia melihat bayangan Yara ada dalam diri Alecia. Wanita itu tidak peduli dengan gurauan Afkar. Yang terpenting untuknya, pria di hadapannya ini sudah masuk perangkapnya.
Tanpa banyak bicara lagi. Afkar menyerang Alecia yang ia anggap sebagai Yara. Malam ini Akbar melewati kenikmatan yang menggelora bersama wanita lain. Pria itu tidak menyadari kalau masih ada wanita cantik sedang menunggunya di rumah.
"Kenapa Mas Afkar belum pulang juga ya, Bu!" Syafa berulang kali mengintip dari jendela rumahnya.
"Mungkin sedang dalam perjalanan, Fa!" Ujar Bu Nuri.
Wanita tua itu masih tidak percaya dengan apa yang Syafa ceritakan. Hal yang begitu mengejutkannya buatnya. Ternyata Yara adalah adik kandung Syafa. Ada rasa bersalah muncul dalam hati Bu Nuri. Bagaimana jika Yara mengadu pada Pak Rio, besannya. Soal sikapnya selama ini pada mantan menantunya itu.
"Nomernya susah dihubungi, Bu!"
Syafa mengelengkan kepalanya pelan. "Belum, Bu!"
Bu Nuri menghela napas berat. "Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja. Kasihan bayi yang ada dalam kandungan mu!" Bu Nuri mengingatkan.
Syafa sedikit berpikir. Ia ingat pesan dokter untuk bisa menjaga kesehatan tubuhnya sebab kandungannya sedikit lemah. Syafa tidak mau terjadi sesuatu dengan bayinya.
"Baik, Bu. Kalau begitu aku tunggu Mas Afkar di kamar saja sambil beristirahat," ucap Syafa.
Bu Nuri mengelus pelan pundak Syafa.
"Ibu akan memberitahu mu kalau Afkar sudah pulang!"
Akhirnya Syafa pamit pada Bu Nuri. Sepeninggal Syafa, Bu Nuri kembali termenung. Ia teringat dengan ucapan Mira di rumah sakit. Putrinya itu sudah mulai membaik saat ini. Mira sudah bisa diajak berbicara. Bahkan sudah bisa berinteraksi dengan dokter dan suster. Kehadiran Dhiya yang selalu ikut saat Bu Nuri ke sana pun turut membantu kesembuhan Mira.
__ADS_1
Dhiya banyak berbicara dengan Mira. Dan kalimat yang selalu Bu Nuri ingat adalah sebuah perkataan pedas dari Mira yang menyebutkan semua yang terjadi adalah karma dari dirinya yang selalu bersikap tidak baik pada Yara.
'Aku kehilangan keluarga ku karena ibu. Aku harus menerima karma dari semua perbuatanmu, Bu!'
Mengingat itu lantas bayangan sikapnya di masa lalu pada Yara terlintas dalam benak Bu Nuri.
"Apa memang ini semua karma dari semua sikapku selama ini," gumam Bu Nuri sambil mengingat kembali kejadian yang telah lalu bersama mantan menantunya. Ia mengusap wajahnya saat ingat betapa kejam dan tidak baik sikapnya pada Yara.
Di tempat lain. Seorang pria berumur yang saat ini terlihat putus asa duduk di depan figura besar di hadapannya. Di dalam ruangan yang selama ini di jaga baik olehnya. Foto seorang wanita cantik tertempel sempurna pada dinding kokoh ruangan itu.
"Puspa, mengapa seberat ini hukuman yang kamu berikan untukku. Apa tidak cukup rasa bersalah dan penyesalan berpuluh tahun aku rasakan seorang diri. Aku hanya ingin memeluknya sebentar saja." Pak Rio tertunduk dan menyangga kepala dengan kedua tangannya. Tangan yang bertumpu di atas pahanya.
Sesekali ia memijit pelan keningnya sendiri. Merasa pusing dengan apa yang terjadi pada dirinya. Pak Rio bangkit berdiri, kalau melangkah mendekat ke arah figura foto itu. Ia meraba pelan wajah Puspa, wanita cantik yang selama ini masih menguasai hatinya. Meskipun sudah tidak lagi bersama, tapi nama Puspa Almira Rajak akan selalu terukir indah dalam sanubarinya.
"Semoga suatu saat nanti Yara bisa memaafkan aku. Meskipun harus menghabiskan waktu untuk mengobati luka hatinya. Bantu aku untuk meluluhkan hati Yara, aku butuh maaf darinya, Puspa. Setelah itu rasanya aku merasa tenang dan siap kapan pun saat Sang Pencipta menginginkan nyawa ini. Tapi, aku harap tidak sekarang ini. Aku ingin tubuh ini bertahan sebentar lagi. Tunggu aku, Mah. Kita akan kembali bersama selamanya." Pak Rio meneteskan air mata saat mengusap pelan figura foto milik istrinya itu. Sambil sesekali menciuminya.
Rasa penyesalan terasa begitu berat. Pak Rio ingin tubuhnya bertahan sampai Yara bisa memaafkannya. Tidak ada yang tahu sakit yang pria itu derita selama ini. Rasa sakit, rindu dan sesal yang teramat dalam ia pendam sendiri.
Semua karena kecerobohan dan kebodohannya.
'Aku pantas menerima ini semua, Puspa. Maafkan aku. Aku harap kamu menungguku di tempat indah mu saat ini.'
.
.
.
To be continued
Kalau ada typo aku perbaiki besok ya...🙏🙏😁😁🥰🥰😍😘
__ADS_1