
"Tapi, Pak. Bukannya Mas Afkar sudah membayar sewa kontrakan untuk 1 tahun ini?" Tanya Yara.
"Iya, Nak Yara. Suamimu memang sudah membayar untuk satu tahun ke depan. Tapi Bapak lagi ada keperluan mendadak. Bapak tidak bisa menunggu kalian untuk mendapat bayaran rumah itu. Kalau ada yang mampu membeli ya, bapak akan menjualnya. Kamu tenang saja sisa uang yang sudah masuk akan bapak kembalikan," ujar Pak Mulyo.
"Memangnya berapa harga yang kita sepakati dulu, Pak?" Tanya Afkar. Pria itu ikut berbicara karena ini menyangkut janji masa lalunya. Meskipun Afkar benar-benar tidak mengingatnya sama sekali.
"Harga yang disetujui waktu itu 700 juta. Tapi karena bapak sedang terdesak biaya pengobatan Wahyu. Putra bungsu bapak. Dia mengalami kecelakaan dan harus menjalani pengobatan dengan biaya besar. Kami harus pindah ke rumah sakit besar di Kota. Pasti butuh uang banyak untuk itu," ujar Pak Mulyo.
"Ya Allah, Gusti... kasihan sekali Wahyu. maaf saya belum bisa menjenguk ke sana Pak Mulyo. saya repot jika harus meninggalkan suami di rumah sendiri," seru Bu Nuri .
Syafa yang duduk di sebelah Afkar terlihat sedang berbisik pada suaminya itu.
"Kamu yakin, Sayang?" Tanya Afkar pada Syafa.
"Iya, Mas. Itu juga 'kan uang kamu, setelah kembali ke Jakarta beberapa perusahaan papa akan kamu kelola," Ujar Syafa.
"Bagaimana menantuku? Tadi kamu menanyakan harga rumah itu," Tanya Bu Nuri pada Syafa.
"Kami akan membayarnya, Bu. Rumah itu adalah rumah kenangan Yara dengan Mas Afkar 'kan? Jadi sayang jika berpindah pada orang lain." Syafa menoleh ke arah Yara dan Afkar.
Yara mengangguk kemudian kemudian tertunduk membenarkan ucapan Syafa.
"Benar sekali, Syafa. Kamu memang pantas sekali mendampingi Afkar. seorang Istri harus berani mengambil keputusan untuk membantu suaminya. Tidak hanya menuruti suami saja, Menjadikan seorang suami jadi tulang punggung dan bergantung hidup padanya saja. seharusnya seorang Istri harus bisa mengimbangi suami. Seperti yang kamu lakukan saat ini pada Afkar," ucap Bu Nuri membuat Yara semakin tersudut.
"Semua aku lakukan karena aku sangat mencintai Mas Afkar, Bu!"
"Ibu senang sekali, perasaan ibu lega Afkar mendapat istri yang begitu memahaminya."
"Sudahlah, Bu. Jangan terlalu memuji satu pihak saja. Dari tadi aku perhatikan sikap ibu berbeda sekali dengan Yara. Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Afkar membuat Bu Nuri tidak bisa berkutik.
"Ah ... Itu hanya perasaan kamu saja, Afkar! Apa ibu harus mengandung gaungkan Yara dan mengorek kembali kebaikan istri pertamamu di hadapan orang lain. Tidak mungkin 'kan?" celetuk Bu Nuri.
Yara tersenyum miris. Padahal pada kenyataannya Bu Nuri memang tidak pernah menanggap kebaikan dan apa yang dilakukan Yara itu baik menurut mertuanya itu.
Sesuai kesepakatan Afkar membayar secara transfer uang senilai yang di minta oleh Pak Mulyo. Pak Mulyo merasa bersyukur kala itu. Sebab menurut pria tua itu, menjual rumah tidak semudah menjual emas. Perlu banyak waktu untuk itu. Pak Mulyo sangat berterima kasih kepada Afkar dan Syafa karena telah melunasinya.
Setelah itu Pak Mulyo menghubungi anak tertuanya. Kebetulan sekali dia sedang ada di rumahnya. Pak Mulyo memerintahkan anaknya itu untuk mengantarkan sertifikat rumah di perumahan asri berseri yang di tempati Afkar dan Yara.
Selagi menunggu anak tertua Pak Mulyo datang. Mereka kembali berbincang. Tapi tidak dengan Yara, bisa dibayangkan perasan wanita itu. Merasa tidak berarti jika Yara terus ikut bergabung bersama mereka di ruang tamu.
Yara lebih memilih pergi ke dapur dan menyibukkan diri di sana. Mengupas bawang merah dan mencuci piring kotor di sana. Sedangkan Dhiya sedang bermain di samping rumah bersama anaknya Paman Yono.
Bibir tak mampu berbicara tapi hati begitu kecewa. Tangis yang dari tadi ia tahan tak mampu bertahan lama. Tapi rasa sedih tak mampu ia tahan. Air mata perlahan menetes. Bahunya naik turun seiring air mata yang terus keluar dari sudut mata.
__ADS_1
Dan di saat bersamaan seseorang memasuk dapur. Orang itu melihat Yara sedang menangis.
"Ra," panggil Syafa. Yara menoleh sekilas kemudian mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya.
"Kenapa, Mba?" Tanya Yara tanpa memandang lawan bicaranya.
"Kamu menangis?" Syafa berdiri di samping Yara sambil memperhatikan wajah Yara yang sembab.
"Tidak, Mba! Mungkin ini akibat tadi mengupas bawang saja. Jadi masih terasa pedih," elak Yara.
"Oh, Aku kira kamu sedang menangis. Apa yang bisa aku bantu di sini?" Tanya Syafa.
"Semuanya sudah beres. Mba ke depan saja menemani Mas Afkar," jawab Yara.
"Ya, benar sekali, Syafa. Lebih baik kamu di depan. Sebentar lagi juga semuanya beres sama Yara. Dia itu pintar di dapur karena sudah terbiasa. Kamu 'kan biasa dilayani oleh pembantu pastinya di rumahmu. Jadi sayang sekali kalau tangan mulus kamu nantinya kotor," ucap Bu Nuri kemudian langsung menarik Syafa agar ikut dengannya kembali ke ruang tamu.
Ucapan wanita tua itu seakan menyindir Yara. Jelas sekali dari perkataannya itu Bu Nuri membedakan kedua menantunya.
"Ra ... Nggak pa-pa, aku ke depan?" Tanya Syafa.
Yara hanya mengangguk pelan menanggapinya.
'Sampai kapan aku bisa bertahan dengan semua ini ya Allah, mampukah aku untuk terus berada di sisi suamiku. Karena batas kesabaranku pun ada batasnya.'
----
Tapi pria itu tetap menolak. Ternyata Afkar masih punya perasaan untuk tidak menyakiti hati Yara. Setelah seharian tadi Afkar melihat kesedihan di mata Yara. Afkar terus memperhatikan sikap istri pertamanya itu. Yara menjadi lebih pendiam.
Syafa dan Yara tidak masalah dengan keputusan Afkar.
Yara pun lebih dulu masuk ke kamar karena Dhiya meminta ditemani tidur. Anak gadis itu rindu dengan shalawat yang biasa dibacakan oleh Yara sebelum tidur.
Saat semuanya tertidur lelap. Terdengar suara Syafa yang mengigau memanggil-manggil seseorang. Afkar lekas terbangun, dan langsung masuk ke dalam kamar Syafa.
"Sayang, bangun!" Afkar menepuk pelan pipi Syafa. Tak lama wanita itu terbangun kemudian langsung memeluk Afkar.
"Mas ... Aku takut," ucap Syafa sambil memeluk Afkar.
"Kamu mimpi buruk lagi?"
Syafa mengangguk disela pelukannya.
"Sudah, tenanglah! Aku akan tidur sama kamu, di sini!" Ucap Afkar dan Syafa sedikit melonggarkan pelukannya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Yara? Kamu sudah memilih untuk tidak bersama diantara kami, Mas!" Syafa menatap Afkar ragu.
"Dia sudah tidur. Lagian kedepannya Yara harus terbiasa melihat kebersamaan kita. Kamu juga istri aku, Sayang!" Afkar mengusap kening Syafa yang dipenuhi keringat.
"Apa kamu akan adil nantinya sama kami, Mas." Syafa menatap wajah Afkar yang masih terlihat bingung.
"Entahlah, aku merasa asing dengan Yara. Mungkin karena selama ini aku sering bersama kamu, aku harus beradaptasi dengan masa laluku. termasuk dengan Yara."
Syafa menunduk sedih dan Afkar melihat itu.
"Kenapa kamu sedih?"
"Kalau boleh jujur, aku belum bisa berbagi dirimu dengan orang lain, Mas. Termasuk Yara. Maaf...!" Syafa semakin tertunduk sedih.
Afkar lekas menarik Syafa dalam pelukannya.
"Aku pun belum tentu bisa berbuat adil. Aku masih bingung dengan semuanya. Aku berusaha keras mengingat semuanya. Tapi begitu sulit, bayangan Yara sama sekali tidak ada dalam benakku. Semua isi pikiran ini hanya terisi oleh kenangan manis kita saja, Sayang. Aku harap kamu tidak marah jika aku berusaha dekat dengan Yara karena aku mencoba mengingat semuanya."
"Itu yang aku takutkan jika kamu mengingat semuanya, Mas. Aku takut kamu malah lupa sama aku!" Syafa makin memeluk erat tubuh kekar suaminya itu.
"Tidak akan, aku jamin itu! Di sini aku hanya berusaha menjadi seorang suami yang bertanggung jawab saja. Aku tidak mau lepas begitu saja dari Yara dan Dhiya. Meskipun belum ada ingatan sedikitpun tentang mereka." Afkar melempar senyum pada Syafa kemudian mendekatkan wajahnya pada wanita yang begitu cantik di hadapannya itu.
"Kita bisa melakukan itu di sini 'kan?" Tanya Afkar sambil menatap Syafa dengan tatapan penuh damba.
Syafa mengangguk pelan. Wanita itu mengerti arti tatapan dari suaminya itu.
Tanpa mereka sadari seseorang mendengarkan semua ucapan keduanya. Yara memegangi dadanya sendiri mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Afkar, suaminya.
Sakit benar-benar sakit, Yara mendengarnya.
Yara menarik napas dalam kemudian membuangnya kasar. Dirinya tahu akan seperti ini. Kedepannya Yara harus menguatkan hati, ya.. Yara harus bisa kuat sering melihat bahkan mendengar ucapan mesra yang dulu sering ia dengar dari Afkar, harus ditujukan pada orang lain.
Dan pergumulan bergelora terjadi di kamar yang tanpa kedap suara itu. Syafa lupa dia berada di mana, sekarang. Berbeda dengan rumah mewahnya yang di setiap kamar terdapat alat kedap suara.
Suara lengkingan indah dari mulut Syafa bisa terdengar oleh Yara. Bagaimana tidak, kamar tamu dengan kamar yang sedang dihuni oleh Afkar dan Syafa bermain panas itu hanya bersekat tembok.
Yara menutup telinganya sendiri mendengar rintihan nikmat yang diberikan suaminya untuk wanita lain.
.
.
.
__ADS_1
Nyelekit banget.... nulis ini.....
Sabar ya readers kita buat sakit hati Yara kumpul dulu ...