
"Yara ...," panggil seseorang.
Yara langsung menghentikan langkahnya saat akan menyeberang jalan. Dirinya tertinggal oleh Dhiya dan Syafa. Saat Yara menoleh ke sumber suara. Ia begitu terkejut melihat sosok wanita tua sedang duduk di kursi roda. Didampingi seorang wanita muda yang juga sangat ia kenal.
"Ibu," lirih Yara saat ia melihat sesosok mantan ibu mertuanya. Ia berjalan mendekat ke arah Bu Nuri. Yara sungguh tidak menyangka bisa bertemu juga dengan wanita tua itu di sini.
Keduanya saling menatap dalam. Bu Nuri berkaca-kaca saat melihat wajah Yara. Pertemuan ini sungguh sangat ia nantikan.
Bu Nuri menoleh ke belakang di mana Mira, adik dari Afkar menemani wanita tua itu. Bu Nuri meminta Mira untuk mendorong kursi roda agar mendekat ke arah Yara.
Di ujung jalan dia orang yang tadi bersiap hendak melajukan motornya tiba-tiba saja menghentikan rencananya.
"Nunggu apa lagi, Jon?" tanya pria yang ada di belakang Jono.
Jono menyunggingkan senyum melihat ibu dari Afkar berada di sana.
"Ternyata ibunya juga ada di sini. Sekalian saja kita habisi dia," ucap Jono dengn senyum liciknya.
"Gila, loh. Kalau udah dendam gak nanggung. Semua mau lu gibas!" oceh pria itu. "Terus sekarang batal nih, buat mereka celaka?" tanya pria itu.
Jono menggelengkan kepala. "Jadi, tunggu sebentar lagi!" Jono kembali mematikan mesin motornya. Pria itu kembali menunggu saat yang tepat untuk melancarkan aksinya.
"Mamih, bunda ketinggalan," ucap Dhiya seraya menarik tangan Syafa setelah anak kecil itu melirik ke arah bundanya berada. Dhiya pun menghentikan langkahnya saat Manik mata anak itu mengarah pada wanita yang duduk di kursi roda di seberang jalan. "Eyang uti," teriak Dhiya.
Bu Nuri yang ada di seberang jalan masih dapat mendengar dengan jelas pangilan dari Dhiya. Wanita tua itu hanya melambaikan tangan membalas panggilan Dhiya. "Cucuku," ucapnya.
"Mamih, kita balik lagi ke sana!" rengek Dhiya sambil terus menarik tangan Syafa. Anak itu menunjuk ke arah bundanya.
"Iya, iya, tunggu sebentar!" Syafa melirik ke kanan dan kiri memperhatikan kendaraan yang lalu lalang di sana. Keduanya hendak menyeberang balik menghampiri Yara.
Di dalam restoran, Erza langsung berdiri dari duduknya saat melihat Yara tidak ikut menyeberang jalan. Ditambah lagi Syafa dan Dhiya yang balik kembali ke arah rumah sakit. Dahi Erza mengerut saat itu juga. Perasannya jadi tidak tenang. Erza pun pamit pada Afkar yang saat itu memang bersamanya.
Mendengar alasan Erza pamit padanya membuat Afkar ikut berdiri dari duduknya. Manik mata Afkar malah melihat sosok gadis kecil yang sangat ia rindukan selama ini.
Erza segera berjalan keluar restoran tanpa menunggu Afkar. Tanpa Erza sadari Afkar mengikuti langkahnya dari belakang.
"Jon, lihat!" Pria yang ada di belakang Jono menunjuk ke arah Dhiya. Anak kecil yang ditunjuk oleh Jono tadi. "Lebih baik lu tabrak tuh cewek yang sama itu bocah, terus lu culik bocah itu. Mayan 'kan kita dapet duit buat nambah isi dompet secara lu jadi buron sekarang. Dari mana lu dapet duit coba." Hasut pria itu.
Jono diam sejenak, pria itu kemudian menyalakan mesin kendaraannya. "Pegangan yang kenceng, pas deket tuh anak. Lu tarik dia, setelah itu kita langsung tancap gas," Ucap Jono.
"Oke, siap!"
Brum ... brum ....
Jono menyalakan mesin kendaraannya. Pria yang saat ini menjadi buronan itu langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
"Kak,” panggil Erza pada Dhiya, saat pria itu melihat Dhiya dan Syafa akan menyeberang jalan. Anak kecil itu menoleh tapi yang dilihatnya malah Afkar, pria yang berjalan sedikit pincang di belakang Erza. Begitu juga dengan Syafa.
"Mas Afkar," gumam Syafa pelan. Tanpa sadar Syafa melepas genggaman tangannya pada Dhiya.
__ADS_1
“Ayah,” teriak Dhiya. Erza hanya melirik ke belakang.
Pria yang ditatap dua wanita itu tersenyum membalas tatapan mereka. “Dhiya, putri ayah!” ucap Afkar, ia begitu bersemangat dengan berusaha jalan cepat menghampiri Dhiya.
Hal yang tidak di duga, tiba-tiba saja datang sebuah motor dan berhenti di dekat Dhiya. Dengan cepat pria yang membonceng di belakang turun dan menarik tubuh Dhiya. Kemudian mengangkat tubuh anak kecil itu ke atas motor. "Ayah, tolong aku!"
Manik mata Afkar membulat melihatnya. Begitu juga dengan Erza.
“Hei, lepaskan Dhiya!” teriak Syafa. Ia sangat terkejut dengan yang dilakukan dua pria itu. Syafa berusaha menarik Dhiya lagi dari pria itu. Tapi sayang tenaganya kalah kuat dari pria itu. Kejadian itu begitu cepat. Tidak mau tertangkap, ditendangnya Syafa sampai wanita itu tersungkur di trotoar jalan.
Bugh ...
Tubuh Syafa terjatuh kepalanya membentur beton yang ada dipinggir jalan itu. Darah segar langsung mengalir di kepala wanita itu.
Dua orang pria itu berhasil membawa Dhiya pergi.
Dari seberang jalan, Yara melihat kejadian itu.
"Dhiya ...," teriak Yara dengan kencang, Yara juga hendak berlari ke arah Dhiya. Tapi dengan cepat, Mira mencegahnya.
“Mbak, kamu sedang hamil,” cegah Mira.
“Tapi Dhiya sama Mbak Syafa, Mir.” Yara terlihat sangat khawatir.
"Ada suamimu dan Mas Afkar."
Yara sudah berlinang air mata melihat kejadian itu.
Erza segera berlari kencang menyusul kedua pria yang membawa Dhiya. Masih terdengar oleh Erza teriakan Dhiya yang meminta tolong kepadanya. Sedangkan Afkar berusaha berlari cepat mendekati Syafa yang sudah terbaring di pinggir jalan. Meskipun dengan langkah yang sulit tapi Afkar terus berusaha. Sayangnya semua terlambat. Syafa sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang mengalir di kepalanya.
Erza tidak tinggal diam. Pria itu segera menghubungi seseorang.
"Tolong gue!" ucap Erza pada seseorang di balik telepon. Erza pun menceritakan secara singkat kejadian yang terjadi begitu cepat itu.
"Lakukan secepat mungkin, gue nggak mau terjadi sesuatu sama anak gue!" lanjut Erza. Setelah itu Erza berlari kembali ke arah Syafa. "Sebaiknya kita langsung bawa Syafa ke rumah sakit." Erza mengambil alih Syafa yang ada di pangkuan Afkar. "Biar aku yang menggendongnya." Erza langsung mengangkat tubuh Syafa, orang-orang yang ada di sekitar turut membantu. menghentikan kendaraan saat Erza menyebrang jalan.
"Mas," Yara mendekati Erza. "Ya Allah, Mba Syafa!" Yara menutup mulutnya sendiri saat melihat keadaan Syafa yang berlumuran darah.
"Syafa harus segera memberi tindakan cepat, Sayang."
Yara mengangguk membalasnya. "Tapi Dhiya, Mas." tanya Yara sembari mengekori Erza di belakangnya.
"Aku sudah menyuruh seseorang untuk segera mencari dua orang tadi. Kamu tenang saja, dia selalu bekerja dengan cepat. Erza sampai terengah-engah saat berbicara. "Suster, tolong!" panggil Erza pada petugas kesehatan saat dirinya tiba di depan lobi rumah sakit.
suster dan security yang bekerja dengan sigap membawa brankar. Kemudian Erza meletakkan tubuh Syafa di sana.
Yara langsung memeluk suaminya. "Mas," panggil Yara. Erza menoleh ke sisi kirinya dimana Yara berada. dirangkulnya tubuh istrinya itu.
Tak lama Afkar menyusul bersama Bu Nuri dan Mira.
__ADS_1
Mereka pun mengikuti langkah suster dan security yang mendorong tubuh Syafa menuju ruangan Unit Gawat Darurat di ruang sakit itu.
Afkar memukul tembok sesampainya mereka tiba di depan ruang unit gawat darurat itu. Afkar sangat menyesali kejadian barusan. Andai saja ia bisa berlari dengan cepat. Kejadian itu bisa saja ia cegah.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Nak! ini sudah takdir. Kita doakan Syafa baik-baik saja. Dan Dhiya segera di temukan." Bu Nuri mengusap pelan bahu putranya. Kemudian beralih pada Yara yang sedang duduk tak jauh darinya. Bu Nuri menggerakkan kursi rodanya sendiri agar lebih dekat dengan Yara.
"Yara," panggil Bu Nuri pada Yara yang sedang menangis dalam pelukan Erza.
Yara menoleh kemudian duduk tegap usai terlepas dari pelukan suaminya.
"Ibu tahu saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk ibu meminta maaf, tapi sebelum semuanya terlambat lagi. Ibu ingin meminta maaf sama kamu dari semua kesalahan yang ibu lakukan, Nak." Bu Nuri menundukkan kepalanya diiringi air mata yang mengalir di pipinya. "Ibu sadar semua kejadian buruk yang menimpa ibu dan keluarga adalah balasan yang setimpal karena ibu selalu bersikap jahat dan buruk sama kamu, Nak." Bu Nuri menyesali semua perbuatan masa lalunya.
Yara mengelengkan kepala membalasnya.
Bu Nuri hendak turun dari kursi rodanya untuk bersimpuh di kaki Yara. Tapi dengan cepat Yara mencegah.
"Apa yang ibu lakukan? Jangan seperti ini! Ibu adalah orang tuaku, tidak pantas melakukan itu," ujar Yara seraya memegang bahu Bu Nuri kemudian menuntunnya untuk duduk tegap.
"Ibu ingin bersimpuh agar mendapat maaf darimu, Nak," lirih Bu Nuri.
"Ibu lihat aku!" titah Yara, Bu Nuri pun mengikuti ucapan Yara dengan menatap wajah mantan menantunya itu.
Yara tersenyum menatap Bu Nuri. Meskipun senyum yang terpaksa karena saat ini perasaanya sedang tidak baik-baik saja lantaran memikirkan Dhiya.
"Aku sudah memaafkan ibu dari dulu," ucap Yara membuat Bu Nuri kembali menangis sedih. Mira berjalan mendekati ibunya dan Yara.
"Mba, maaf juga kalau aku memberikan ini di waktu yang salah. Aku baru bisa memberikan surat ini!" Mira menyodorkan sepucuk surat buat Yara. Surat yang diamanahkan kepadanya dari almarhum Pak Setyo. "Seharusnya aku memberikan ini sesudah lama. Tapi Mba Yara sudah pergi ke Swiss waktu itu. Maaf, Mba."
"Terima kasih, Mir. Tapi maaf, aku tidak bisa membacanya sekarang," balas Yara.
"Tidak apa, Mba. Aku mengerti kondisinya saat ini. Aku doakan semoga Mba Syafa baik- baik saja. Dhiya juga cepat ketemu."
"Aamiin," jawab semuanya kompak.
Suara ponsel berdering dari saku celana Afkar. Membuatnya menjadi bahan tatapan dari semuanya.
Afkar segera meraih ponselnya. Pria itu mengerut alis saat melihat nomer yang tidak ia kenal menelponnya. Tak ingin menganggu, Afkar segara menggeser tombol hijau. Matanya membulat saat mendengar suara Dhiya dari sebrang telepon.
"Ayah, tolongin Dhiya," teriak Dhiya dari seberang telepon.
"Dhiya, kamu di mana, Nak," ucap Afkar terkejut. Hal itu juga membuat semua yang mendengar ikut terkejut dan panik.
Tapi di detik berikutnya suara Dhiya menghilang berganti dengan suara kekehan dari seorang pria. Afkar pun sangat mengenali suara itu.
"Jono! Kurang ajar kamu!" geram Afkar sambil mengepalkan tangannya saat mendengar kekehan pria itu.
.
.
__ADS_1
.
To Be continued.