Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Pengkhiatan


__ADS_3

"Astaghfirullahalazim," pekik Yara saat adonan terakhir yang ia buat jatuh begitu saja membuat tepung itu berhamburan mengotori lantai dapurnya.


"Ada apa, Mbak?" Tanya Riris, gadis muda yang biasa membantu Yara membuat kue. Riris lekas berjongkok membantu Yara yang sedang membersihkan tepung yang tumpah. "Biar Riris aja yang rapihin."


"Maaf, merepotkanmu, Ris!" Ucap Yara.


"Tidak repot ko, cuman beresin ini aja!" Ujar Riris.


Yara lekas duduk di bangku plastik yang ada di dekatnya sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Mba Yara, sakit?" Tanya Riris setelah semua tepung bersih dari lantai. Gadis itu memandangi wajah Yara yang terlihat gelisah.


Yara menggelengkan kepalanya pelan. "Ngga, Ris. Hanya saja perasaan mba gak enak banget, kepikiran Mas Afkar."


"Bukannya Mas Afkar sedang dalam perjalanan pulang ke sini, mba?"


Yara mengangguk pelan. "Semoga mas Afkar selamat sampai sini."


"Aamiin," jawab Riris.


Dari dalam rumah sekrang gadis kecil berlari ke arah dapur sambil berteriak.


"Bunda," panggil Dhiya dengan suara cemprengnya berlari mendekati Yara.


"Dhiya, jangan lari-lari di dalam rumah. Gak baik, Nak!" Tegur Yara.


"Nda, dede mau pake ini baju ini!" Dhiya menunjukan gaun yang ia bawa pada Yara.


"Mau pake ini, mau ke mana?" Yara membelai lembut rambut Dhiya yang dikuncir dua.


"Ke Eyang uti! Ayah 'kan mau pulang ke cana, Ya 'kan, Nda?"


Yara tersenyum mendengar celotehan Dhiya. Tadi pagi ketika Afkar memberitahunya akan pulang, Yara juga memberitahu kabar yang sama pada Dhiya. Putrinya terlihat senang bahkan sangat bersemangat. Kebetulan sudah seminggu ini mereka belum berkunjung ke rumah orang tua Afkar. Sebab Yara banyak pesanan kue kering saat itu.

__ADS_1


"Dhiya senang dengar ayah mau pulang?" Tanya Yara pada Dhiya yang saat ini ada di pangkuannya.


"Senang banget, dede udah kangen sama ayah!" cetus Dhiya sambil bermanja dalam pelukan Yara. Gadis kecil itu sudah mulai berbicara lancar dan jelas meskipun dengan nada sedikit manja.


Yara pun memeluk erat anak gadisnya. "Bunda juga kangen sama ayah, Nak!" Balas Yara pelan.


Riris hanya bisa tersenyum melihat interaksi dari Yara dan Dhiya.


Rumah sakit


Tuan Rio Wirawan-- Pria yang mempunyai perawakan gagah dan berwibawa meski usianya sudah berumur. Tuan Rio langsung menutup rapat penting di perusahaannya saat mendapat telepon dari Syafa, putrinya yang sedang berada di rumah sakit. Tuan Rio pun langsung pergi meninggalkan rekan bisnis yang masih duduk di meja rapat. Ia menyerahkan semuanya pada asistennya. Bagi Tuan Rio, Syafa lebih penting buatnya setelah sesorang yang amat ia cintai pergi meninggalkannya.


“Papa,” panggil Syafa yang langsung berdiri dari duduknya, ketika melihat kedatangan papanya. Syafa langsung menghambur dalam pelukan Tuan Rio. Tangisnya pun pecah disertai rasa takut dan kecemasan.


“Dia terluka parah, Pah! Aku sudah menabraknya! Aku gak mau dia mati! Aku gak mau di penjara! Aku gak sengaja, Pah!” Syafa berbicara dengan nada gemetar. Ia masih memeluk tubuh Tuan Rio. Syafa terus menumpahkan tangis dan takutnya dalam pelukan Tuan Rio.


“Gak akan ada yang berani memasukkanmu ke dalam penjara, Sayang!” Balas Tuan Rio menenangkan anaknya yang masih ketakutan. Terlihat jelas wajah ketakutannya setelah kejadian tabrakan itu.


Setelah merasa Syafa cukup tenang, Tuan Rio mengajaknya duduk dan meminta Syafa menceritakan apa yang terjadi padanya. Tak biasanya anaknya itu ceroboh dalam berkendara. Syafa orang yang sangat berhati-hati dalam melakukan apa pun.


Flashback On


Apartemen Permata Indah.


Awal rencana Syafa ingin memberi kejutan kepada sang kekasih karena beberapa bulan ini ia sibuk di luar negeri. Tapi ia malah balik dikejutkan oleh kekasihnya. Langkahnya terhenti saat Syafa mendengar suara ******* yang terdengar jelas di kamar Itu. Seperti biasa Syafa langsung masuk karena ia hapal betul kode apartemen itu. Apartemen itu adalah milik Syafa yang ia berikan kepada kekasihnya- Ryan. Syafa termasuk wanita yang royal kepada lelaki. Apalagi kalau sudah cinta, apapaun akan ia beri.


Sifat itulah yang menjadi bumerang utnuk nya sendiri. Ia sering dipermainkan oleh pria yang dekat dengannya.


Syafa diam memaku di depan pintu. Ia tidak berani masuk. Syafa tidak siap menghadapi kenyataan yang terjadi, bahwa orang yang ia cintai selama ini berselingkuh di belakangnya. Dan saat ini ada di dalam kamar sedang memadu kasih dengan wanita lain.


Tak lama pintu itu terbuka, sesosok pria hanya berbalut celana boxer dengan keringat yang masih melekat di badannya keluar dari dalam kamar itu sambil memegangi sebuah gelas. Sepertinya pria tersebut akan mengambil minum di dapur.


Kedua mata itu saling menatap kaget. Mereka saling diam tak berbicara dan bergerak.

__ADS_1


“Sayang!” panggil Ryan gugup dan salah tingkah.


Syafa yang masih mematung melihat pemandangan di depan mata yang cukup membuat hatinya tercabik. Apalagi saat melihat ke dalam kamar. Punggung polos dari seorang wanita terlihat jelas oleh Syafa.


Tak beda dengan Ryan. Pria itu juga tidak menyangka akan mendapat kejutan sore itu. Kedatangan Syafa ke apartemennya itu membuat dia terkejut. Ryan-- Kekasih Syafa tidak menyangka hari ini, Syafa kembali ke Indonesia. Semalam setelah berkomunikasi, Ryan tidak mendapat kabar apa pun mengenai kepulangan Syafa. Meski sudah lama tak bertemu, tapi komunikasi mereka berjalan baik sampai saat ini. Sehingga Syafa tak menduga akan seperti ini jadinya.


“Siapa, Beb? cepetan dong ambil minumnya, haus banget, nih!” Suara wanita dari dalam kamar menyadarkan lamunan mereka berdua.


Tanpa bicara, Syafa berbalik meninggalkan Ryan dengan sejuta kekecewaan dan amarah yang ia pendam. Tanpa bertanya Syafa sadar kalau dirinya sudah dikhianati.


“Shitt!” Ryan menaruh gelas yang ia pegang di atas meja tepat di samping pintu kamar miliknya. Pria itu melihat kepergian Syafa dan berusaha mengejarnya. Ia tidak sadar kalau tubuhnya dalam keadaan polos, Ryan hanya memakai boxer saja. Ryan segera kembali ke kamar dan mengambil kaus yang tergeletak di lantai.


Laura, selingkuhan Ryan heran melihat tingkah Ryan yang terburu-buru.


“Beb, mana airnya?”


“Diam... Sebaiknya cepat pakai bajumu! Lalu pergi dari sini, SEKARANG!” bentak Ryan.


“Loh, kenapa, Beb? Kita baru satu kali main, loh! Ada apa sih?” protes Laura.


Ryan tak memedulikan ucapan Laura. Ia lebihmemilih mengejar Syafa. Dengan kesal Laura menuruti Ryan. Wanita itu memunguti pakaiannya yang berserakan lalu berteriak memanggil Ryan.


"Ryan, tunggu! Kamu harus menjelaskan ini padaku!" Laura kembali berteriak dari dalam kamar itu. Wanita itu segera memakai pakaiannya. Ia akan mengejar Ryan yang pergi setelah membentak dirinya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2