
Sesampainya rumah Yara sempat dihadang oleh Bu Nuri. Ibu mertuanya itu sedang berada di teras rumah menemani Pak Setyo suaminya. Yara lekas menyalami keduanya.
“Cepat sekali, Ra. Kamu beneran dari rumah sakit atau dari mana?” Bu Nuri terlihat curiga pada Yara.
“Aku belum sempat bertemu dengan Mas Afkar dan Mba Syafa, Bu!” Balas Yara.
“Terus kamu ngapain ke rumah sakit kalau tidak menemui mereka,” omel Bu Nuri dengan ketus pada Yara.
“Aku tidak enak saat mau masuk ke ruangan Mba Syafa ada papa-nya di sana. Jadi aku hanya menitipkan bubur kacang hijau sama suster. Sepertinya Mas Afkar sedang berbicara serius sama papa-nya Mba Syafa. Aku tidak mau mengganggu,” tutur Yara.
“Ah ... Apa sih yang kamu bisa?” sindir Bu Nuri. Wanita berumur itu lekas masuk ke dalam rumah sambil mendorong kursi roda. “Kita masuk, Pa! Mataharinya sudah mulai terasa panas.” Bu Nuri berlalu begitu saja dari hadapan Yara.
Melihat sikap Bu Nuri yang tidak pernah berubah padanya semakin membuat keputusan Yara bulat. Hari ini juga, Yara akan pergi dari rumah ini. Masuk ke dalam rumah mewah milik Syafa membuat dadanya semakin sesak, ‘benalu’ itulah kata yang pernah dilontarkan oleh Bu Nuri untuk dirinya. Yara tidak akan pernah melupakan hal itu.
Yara masuk ke dalam kamarnya, ia duduk di tepi tempat tidurnya. Kamar yang belum memberikan kehangatan padanya. Yara segera bergegas memasukan pakaian ke dalam tasnya. Beruntung tak banyak pakaian yang ia bawa. Tak lama Dhiya masuk ke dalam kamar. Gadis cantik itu terlihat bingung dengan apa yang sedang dilakukan Yara.
“Bunda mau kemana?” tanya Dhiya yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar. Nada bicara gadis berumur 4 tahun itu sudah terbilang lancar saat ini. Anak gadisnya itu langsung duduk di sisi Yara. Mendengar pertanyaan Dhiya, Yara sedikit bingung untuk menjawab. Ragu, perasaan itu tiba-tiba saja muncul dalam benaknya. Jika ia pergi dari rumah ini, Dhiya akan kehilangan kamar impiannya. Di rumah ini Dhiya bisa mendapatkan apa yang dia mau. Tapi jika ikut bersama Yara, mungkin saja Dhiya kan sulit mendapatkan sesuatu yang ia inginkan.
Yara menghela napas berat. Meski sulit tapi hal ini harus segera ia putuskan. Yara tidak mau harga dirinya terus dianggap rendah jika ia terus berada di rumah ini.
“Dhiya,” panggil Yara sembari mengelus pelan rambut Dhiya yang hitam legam.
“Ya, Bunda.” Dhiya menatap lekat wajah sang bunda.
“Kamu senang tinggal di sini?” Tanya Yara.
Dhiya menganggukkan kepalanya pelan. “Senang, Bun.”
Yara memejamkan matanya. Apakah ia harus egois dengan mempertahankan perasaannya di banding kebahagiaan Dhiya. Yara kembali bimbang. Tapi pipinya terasa hangat oleh sentuhan tangan putrinya. Dhiya merangkup wajah Yara dengan kedua tanganya.
“Bunda sedih tinggal di sini?” Tanya Dhiya yang masih belum melepaskan tangannya dari pipi Yara.
Seulas senyum berat Yara berikan. Ia bingung harus menjawab apa.
“Tiap malam bunda nangis, apa ayah jahat sama bunda? Ayah juga tidak pernah tidur bareng lagi sama kita kaya dulu!” ungkap Dhiya.
Yara merasa terkejut mendengar penuturan Dhiya. “Kenapa Dhiya bilang seperti itu?”
“Dede dengel bunda nangis sebelum tidur. Dede juga dengel bunda selalu minta ayah buat kembali. Ayah ‘kan sekalang sama kita, Bun! Kenapa bunda selalu meminta Allah mengembalikan ayah?” pertanyaan Dhiya membuat Yara semakin sakit. Ia tidak tahu harus melakukan apa saat ini.
“Bunda, marah ya sama mamih, kalena ayah lebih sering sama mamih dalipada sama kita?” Lagi-lagi Dhiya mengungkapkan apa yang mengganjal di pikirannya. Gadis kecilnya itu memang selalu bertanya apa yang ada di pikirannya masih dengan suara cadelnya.
“Bunda mau pelgi?” Banyak pertanyaan yang Dhiya lontarkan belum satu pun Yara jawab. “Kalau bunda pelgi dari rumah ini. Dede mau ikut sama bunda!” ucap Dhiya dan sontak membuat mata Yara berkaca-kaca. Putri kecilnya ternyata mengerti apa yang ia rasakan saat ini. Yara lekas memeluk Dhiya.
“Dhiya yakin mau ikut sama bunda?” Yara menegaskan.
Gadis kecilnya itu mengangguk pelan. “Iya, dede ikut bunda aja!”
Perasaan yang begitu lega, satu-satunya yang mampu membuat Yara bersemangat adalah Dhiya.
Yara bergegas memasukkan pakaian Dhiya ke dalam tas ransel. Sama seperti Yara. Dhiya hanya memasukkan sedikit baju yang akan di bawa. Sebelum pergi Yara membuat selembar surat buat Afkar, suaminya. Ungkapan dari rasa kekecewaannya pada Afkar. Dan sebuah kata perpisahan untuk sang suami.
Yara meletakkan sepucuk surat itu di atas nakas tak jauh dari tempat tidurnya. Yara dan Dhiya bersiap untuk pergi dari rumah Syafa. Yara menghentikan langkahnya saat baru saja keluar dari kamar. Ia bingung akan memberikan alasan apa pada Bu Nuri. Yara mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
__ADS_1
“Dhiya tunggu sebentar di sini, ya! Bunda mau cari eyang uti dulu,” ucap Yara dan Dhiya menuruti perkataan bundanya.
“Ke mana ibu, ya? ko tidak ada di mana-mana?” gumam Yara. Wanita itu kembali ke dalam rumah. Di saat yang bersamaan Yara berpapasan dengan salah satu pelayan di rumah itu.
“Bi, lihat ibu?” Tanya Yara.
“Nyonya barusan saja pergi ke rumah sakit sama pak supir. Katanya mau nyusul Tuan Afkar, Non?” ujarnya.
“Bapak?”
“Pak Setyo ada di kamar. Tadi sebelum pergi nyonya meminta saya untuk sesekali melihat bapak di kamar.”
Yara mengangguk pelan mendengarnya.
Ada rasa syukur saat Bu Nuri tidak ada di rumah. Jadi Yara tidak perlu mendapat ucapan pedas saat pergi dari rumah itu. Yara lekas berjalan menuju kamar Pak Setyo. Dengan gerakan pelan Yara membuka pintu kamar. Pria paruh baya itu langsung menoleh ke arah pintu yang terbuka. Mulutnya berusaha memanggil Yara, tapi hanya gumaman yang terdengar. Belum ada perubahan yang berarti setelah beberapa kali menjalani pengobatan. Pak Setyo malah mengalami kesulitan untuk makan
Syukur ada Yara, ada yang telaten menyuapi pria paruh baya itu. Tapi entah jadinya jika Yara pergi.
Yara memberikan senyuman terbaiknya Pak Setyo.
“Pak, mau tidur ya?” sapa Yara dan mendapat anggukan dari Pak Setyo.
“Bapak sehat lagi, ya? Nanti kalau kita bertemu Yara berharap bisa melihat bapak sehat seperti sedia kala. Maafkan Yara ya, kalau ada salah!” ucap Yara sebagai ucapan terakhir dengan Pak Setyo tidak ada ucapan perpisahan sampai jumpa atau sebagainya sebab Yara tidak tega berucap itu.
Pak Setyo hanya membalas dengan anggukan seraya menarik sudut bibirnya. Pria paruh baya itu merasa lebih lega setelah melihat Yara.
‘Ra, kenapa bapak merasakan sesuatu padamu! Lalu apa maksud mu jika bertemu lagi. Memangnya kamu mau ke mana.’ Batin Pak Setyo dalam hatinya.
Bapak mertua dari Yara itu ingin sekali berbicara langsung pada Yara. Tapi apa daya kedipan saja tidak cukup untuk mengungkapkannya.
Pak Setyo menggelengkan kepala membalas Yara. Ia sadar dan tidak bisa dibohongi. Jika Yara, menantunya itu sedang pamit padanya tanpa berbicara sesungguhnya. Pak Setyo paham dengan sikap Yara yang tidak ingin membuat dirinya khawatir.
Tangan Pak Setyo sedikit terangkat untuk mencegah Yara.
‘Jangan pergi, Ra! Bapak tahu kalau kamu akan pergi! Bertahan demi Afkar dan Dhiya.’
Pak Setyo hanya bisa berbicara dalam hatinya sendiri saat melihat kepergian Yara yang tersenyum berat ke arahnya.
‘Maafkan Yara, Pak. Yara tidak bisa bertahan di sisi Mas Afkar.’
Yara menoleh ke belakang saat menggandeng tangan Dhiya. Saat ini mereka berada di dekat gerbang utama rumah Syafa.
“Nyonya Yara sama non Dhiya mau ke mana?” tanya salah satu pria yang tugasnya berjaga.
“Mau ke rumah teman, Pak!” sahut Yara.
“Oh ... Kenapa tidak minta antar pak supir saja, Nyah?” seru petugas jaga itu lagi.
Yara menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak perlu, saya sudah memesan ojek online, Pak!” ujar Yara.
Dan tak lama ojek pesanannya datang. Yara melihat Dhiya terdiam sambil menatap ke arah rumah mewah itu.
__ADS_1
“Dhiya, ayo!” Ajak Yara. Dhiya pun menurutinya.
“Kami pergi dulu, Pak!” pamit Yara pada petugas jaga.
“Hati-hati, Nyonya.” Balas Petugas jaga.
Ojek online yang Yara tumpangi perlahan menjauh dari rumah mewah milik Syafa.
Kedatangan Yara dan Dhiya disambut baik oleh Kak Ima.
Wanita yang sudah menganggap Yara sebagai adiknya sendiri itu begitu senang melihat kedatangan Yara.
“Alhamdulillah, kamu balik lagi ke sini, Ra! Kakak kita kamu tidak akan ke sini lagi,” sapa Kak Ima sambil memeluk tubuh Yara.
Usai melepas rindu, Kak Ima melirik ke arah Dhiya sambil tersenyum lembut pada gadis kecil itu.
“Ini pasti, Dhiya?” Tanya Kak Ima sambil sedikit berjongkok menyejajarkan tubuhnya dengan tinggi Dhiya.
Dhiya menatap Yara lebih dulu. “Salim sama Kak Ima!” Titah Yara.
“Eyy ... Bukan kakak, Tapi ibu. Panggil aku ibu. Ok” pinta Kak Ima pada Dhiya.
Gadis kecil itu mengangguk pelan kemudian menyalami Kak Ima.
“Kami akan tinggal di sini, Kak!” ujar Yara sontak membuat Kak Ima terkejut.
“Tinggal di sini? Yang benar?” Kak Ima tidak percaya dengan ucapan Yara.
Anggukan dan raut wajah Yara yang menunjukkan kesedihan membaut Kak Ima tidak banyak bertanya lagi.
“Ok ... Ok .... Aku ambil kunci kontrakannya, dulu!” balas Kak Ima. Kemudian berlalu masuk untuk mengambil kunci kontrakan milik Yara.
Saat Yara membuka pintu kontrakan. Dhiya bersorak senang.
“Wah ... Ada motor ayah di sini, Nda? Nanti kita jalan-jalan lagi bertiga ya? Aku, bunda cama ayah!” Serunya.
Yara hanya bisa mengangguk pelan. Entah Yara bisa mewujudkan keinginan anaknya atau tidak.
“Ibu ke sini sama siapa?” tanya Afkar saat melihat Bu Nuri datang ke rumah sakit.
“Diantar pak supir! Mana tahu ibu jalan ke sini kalau tidak ada yang mengantar,” balas Bu Nuri.
Wanita paruh baya itu lekas mendekati Syafa. “Selamat buat menantu kesayangan ibu, sebentar lagi ibu mau nimang cucu lagi!” ucap Bu Nuri senang pada Syafa.
“Iya Bu! Terima kasih.”
“Kenapa nasinya tidak di makan?” tanya Bu Nuri saat melihat makanan yang tak tersentuh di meja, tepatnya di samping brankar.
“Lagi gak pengen makan, Bu!”
“Tadi sebelum ibu ke sini, bukannya Yara sudah mengantarkan bubur kacang hijau buat Syafa,” ucap Bu Nuri.
Mendengar itu Afkar langsung menoleh. “Kapan, Bu?” tanya Afkar.
__ADS_1
“Tadi pagi”
Afkar dan Syafa saling menatap. Kemudian Afkar pamit sebentar keluar ruangan. Ia segera menghubungi Yara. Tapi sayang nomer ponselnya tidak bisa di hubungi. Hal itu semakin membuat Afkar khawatir.