Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Kesuksesan Erza Dan Yara


__ADS_3

...Jangan lupa 🌟🌟🌟🌟🌟 bintang 5 untuk karya ini ya...


Pagi hari di kediaman Rahardian.


"Pagi, Za!" Sapa Mama Anggi yang sedang sibuk mengolesi roti panggang di tangannya. Sebelum beraktifitas wanita itu terbiasa mengganjal perut dengan makanan yang tidak terlalu berat terlebih dulu.


Berbeda dengan Erza dan Pak Rangga yang terbiasa dengan sarapan berat seperti masakan rumahan yang di masak langsung oleh Mama Anggi.


"Pagi juga, Mah!" jawab Erza yang baru saja datang langsung mencium singkat pipi wanita itu kemudian menyambar roti tersebut. Erza langsung duduk di salah satu kursi dekat Mama Anggi.


"Nggak masak, Mah?" Tanya Erza sambil menikmati roti panggang buatan Mama Anggi dengan segelas susu.


"Belum 'lah! Kamu ini seperti papa-mu saja. Sarapan harus dengan masakan berat. Lagian ini masih pagi, Za. Kamu mau kemana?"


"Ada urusan penting, Mah!"


"Sepenting apa sampai harus menyita waktu mu pagi-pagi begini! Bukannya kamu ada acara penting juga pagi ini?" Tanya Mama Anggi sambil ikut duduk menikmati roti buatannya.


"Ini soal masa depanku! Doakan saja aku bisa menyelesaikan semua demi orang yang aku cinta, Mah! Habis dari sana baru aku mau ke tempat pertemuan bersama para kolega bisnisku!" Erza mengakhiri sarapan seadanya. Kemudian berpamitan pada mama-nya. "Jangan lupa, papa harus datang ke gedung pertemuan itu, Mah! Jangan terlambat!" Erza memperingati.


"Iya, nanti mama sampaikan."


Mama Anggi hanya terpaku melihat keseriusan dari Erza. Ada kebanggaan tersendiri melihatnya.


"Mama akan selalu mendoakan kamu, Za." Mama Anggi menepuk pelan bahu Erza sebelum putranya itu pergi.


"Aku pergi ya, Mah!" Pamit Erza.


"Ya hati-hati, Nak!" Mama Anggi menatap kepergian Erza hingga putranya itu menghilang di balik tembok.


"Apa ini soal Yara? Wanita itu memang membawa perubahan untuk Erza." Mama Anggi tersenyum saat merasakan perubahan dalam diri Erza. Putranya itu lebih dewasa dan bijaksana dalam bersikap. "Mama pasti rindu kamu kalau kamu tinggal di luar negeri. Tapi mama suka dengan sikap mu yang dewasa seperti ini! Terlihat berwibawa dan bertanggung jawab." Mama Anggi berucap dengan bangganya.


🌱🌱🌱


"Sayang, kamu janji mau membeli mobil baru untukku hari ini," rengek Alecia saat Afkar bergegas memakai pakaiannya setelah ia membersihkan diri.


"Lain kali saja! Aku sedang buru-buru. Hari ini ada pertemuan penting yang harus aku datangi. Ini menyangkut jalan keberhasilanku go internasional. Aku tidak mau kehilangan kesempatan emas ini." Afkar segera meraih kunci mobilnya dan hendak pergi dari apartemen Alecia.


"Kamu tidak bisa pergi begitu saja, Sayang! Kamu pikir mudah meninggalkan tempat ini. Aku tidak akan melepaskan kamu sebelum keinginanku terpenuhi." Alecia mengadang Afkar dan menarik tubuh pria itu hingga menempel pada tembok tak jauh dari pintu.


Tangan Alecia mengulur pada pusaka milik Afkar yang sudah terbungkus rapi.


"Ingat dia tidak akan mendapatkan kepuasan lagi kalau kamu tidak menempati janji, Sayang!" Alecia memainkan dengan gemas lato-lato yang mengapit pusaka Afkar.


"Ssshh ...." Afkar mengerang nikmat. Entah mengapa pria itu tidak bisa lepas dari jeratan Alecia.


Alecia tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi Afkar atas sentuhannya.

__ADS_1


Afkar segera merogoh kantong celana untuk mengambil dompet miliknya. Lalu mengeluarkan kartu kredit platinum kepada Alecia.


"Pakai ini sesukamu!" Afkar menyerahkan kartu itu kepada Alecia.


Wanita itu mengembangkan senyum lebar saat melihat kartu kredit tanpa batas berada di tangannya.


"Terima kasih, Sayang! Aku bebas menggunakan ini 'kan?" Alecia langsung menggelayut manja di lengan Afkar.


"Terserah kamu! Tapi ingat kamu hanya milikku saat ini. Aku tidak mau sesuatu yang sudah menjadi milikku dirasakan oleh orang lain. Jangan pernah macam-macam denganku!" Macam Afkar.


"Tenang saja, Sayang! Selama kamu bisa mencukupi dan memenuhi keinginanku. Pelayanan dan servis yang aku berikan selalu yang terbaik untukmu!" Alecia dengan cepat menyambar bibir Afkar dan dengan lahapnya pria itu membalasnya.


Afkar pun kembali bermain singkat sebelum pergi. Setelah puas mendapat servis terbaik dari Alecia. Afkar bergegas menaikkan celana-nya.


Alecia pun membantu merapikan pakaian Afkar. Pria itu terlihat sangat terburu-buru saat berkendara. Afkar langsung pergi ke tempat pertemuan tanpa pulang lebih dulu. Dia tidak tahu keadaan di rumahnya sedang dalam suasana bersedih.


🌱🌱🌱


"Maaf, saya terlambat!" Afkar menunduk sopan pada beberapa orang yang sudah berkumpul di dalam satu ruangan rapat.


"Silakan langsung duduk, Pak Afkar," titah salah seorang pengusaha yang mengenalinya dan ikut hadir dalam rapat.


Afkar mengangguk sopan kemudian mengikuti perintah orang itu . Hari ini adalah penentuan dari satu perusahan ternama yang akan mengumumkan kepada beberapa pebisnis yang akan bekerja sama dengan salah satu perusahaan yang berhasil mendirikan perusahaannya di luar negeri.


Pemimpin perusahaan ternama itu akan melakukan kerjasama kepada para pebisnis yang beruntung hari ini.'


Batin Afkar dengan percaya diri.


Selama menunggu orang penting itu. Afkar pamit keluar dari ruangan itu sebentar menuju toilet.


Disaat yang bersamaan pria muda sukses yang di tunggu banyak orang dari tadi itu baru saja pulang dari taman kanak-kanak. Sebab urusan dengan seorang anak kecil yang baru saja ia temui lebih penting dari apapun menurutnya.


Erza berjalan tegap dan gagah saat memasuki gedung tempat pertemuannya dengan banyak kolega bisnis yang bekerja sama dengannya. Ia menghentikan langkahnya saat melewati toilet.


"Ko, saya ke toilet dulu, sebentar! Duluan saja!" Titah Erza pada Riko asistennya.


"Siap, Pak!" Riko menunduk sopan. Asistennya itu, berjalan lebih dulu menuju ruang pertemuan.


Saat Erza berada di balik toilet. Ia mendengar seseorang sedang menggerutu di luar balik toilet. Tepatnya di depan wastafel. Erza mendengarkannya sesaat.


"Mentang-mentang berhasil mendirikan perusahaan di luar negeri. Pemimpin perusahaan itu seenaknya datang terlambat, Seharusnya dia profesional dengan waktu yang sudah ia sebarkan. Aku penasaran seperti apa pemimpin perusahaan itu," gerutu Afkar di depan wastafel. Pria itu sedang membasuh wajahnya. Berharap air yang membasahi wajahnya bisa membuatnya segar. Masalah yang kemarin dihadapinya dan pertarungan panas semalam bersama Alecia membuat Afkar tidak bisa tidur nyenyak. Sehingga pagi ini, Afkar merasakan lelah dan tidak bersemangat.


"Apa orang di luar itu sedang merutuki ku?" gumam Erza seraya keluar dari bilik toilet.


Saat Erza keluar. Ia melihat Afkar yang sedang sibuk merapikan pakaiannya. Afkar tidak menyadari kalau Erza berjalan melewatinya.


"Keangkuhanmu akan membuat hidupmu hancur, Afkar!" Ucap Erza pelan seraya menoleh sesaat ke arah Afkar. Kemudian kembali melanjutkan langkahnya. "Yara benar, Dhiya tidak baik jika berada di bawah asuhannya. Aku harus segera mengurus semuanya."

__ADS_1


Erza segera melangkah cepat menuju ruang pertemuan.


Hampir lima belas menit Erza sudah berbicara panjang lebar di hadapan semua pebisnis yang hadir. Pandangan pria itu beralih pada Afkar yang baru saja datang dari arah pintu masuk.


"Apa Anda tidak bisa tepat waktu!" Tegur Erza pada Afkar.


Mendengar suara bariton dari arah paling depan. Afkar membelalakkan mata melihatnya. Matanya memicing menegaskan penglihatannya. Ia malah diam tidak membalas teguran dari Erza.


"Anda tidak mendengar ucapan saya, Tuan Afkar Chairi." Erza kembali menegur Afkar.


Menyadari semua orang sedang menatap ke arahnya. Afkar tersadar, kemudian beralih menatap Erza. Ia berusaha untuk menstabilkan rasa keterkejutannya pada Erza.


"Maaf, Pak! Saya sudah datang dari tadi hanya saja, saya berada di toilet tadi!" Jawab Afkar sambil tertunduk sopan. Pria itu mengepalkan tangan saat mendapati teguran dari Erza.


'Ternyata dia yang menjadi pemimpin perusahaan itu. Jangan mentang-mentang kamu berkuasa sekarang ini, Za. Aku akan membuat perhitungan padamu! Kamu sudah mempermalukan aku dan merebut Yara dariku!'


Batin Afkar. Pria itu ikut duduk sesuai tempat yang disediakan untuknya dengan perasaan dongkol dan kesal.


Hampir dua jam, pertemuan bisnis itu berlangsung semua bertepuk tangan dengan penampilan Erza yang tegas dan berwibawa saat menyampaikan setiap struktur kerja yang akan dijalankan nantinya.


"Selamat untuk kalian yang ikut bergabung dengan EZHA Grup, perusahaanku yang sudah beroperasi di Swiss. Sampai bertemu untuk pertemuan selanjutnya," ucap Erza dengan tegas pada semua anggota yang ikut dalam pertemuan bisnis itu.


Tepuk tangan yang meriah Erza dapatkan. Papa Rangga yang ikut hadir benar-benar bangga dengan kerja keras Erza selama ini.


Sambutan hangat dan ucapan selamat atas berdirinya perusahaan EZHA grup tidak hentinya mengalir dari para kolega untuk Erza.


Tatapan kebencian terpancar dari manik mata seseorang. Tangannya mengepal saat melihat kesuksesan pria yang sudah merebut mantan istrinya itu.


Afkar tidak terima Erza bisa lebih sukses darinya. Apalagi nama Perusahaan Textilindo Abadi milik Afkar tidak ada dalam daftar nama perusahaan yang berhasil masuk dalam kerjasama luar biasa itu.


Erza mengajak beberapa perusahaan yang ada di Indonesia untuk bekerja sama dengannya nanti. Hanya ada 5 perusahaan yang dipercaya oleh Erza untuk ikut dalam pengembangan perusahaannya di Swiss.


Ucapan selamat pun Erza berikan pada perusahaan yang berhasil bergabung dengannya. Usai bersapa ramah, Erza segera pamit dan pergi dari ruangan itu. Erza ingin segera pergi ke acara pembukaan butik baru milik Bu Haryani dengan perancang busana yang merupakan calon istrinya sendiri.


Kesuksesan yang berjalan beriringan oleh Erza dan Yara.


.


.


.


To be continued


Like dan Komen yang banyak ya .


2 bab malam ini...

__ADS_1


__ADS_2