
Afkar lebih memilih pulang ke rumah membawa perasaan kesal di hatinya.
Mencari Syafa di rumah Pak Rio, papa mertuanya tidak membuahkan hasil sama sekali. Dan paling membuatnya kesal saat mendengar berita kalau Yara sudah menikah. Pemimpin perusahaan EHZA grup itu mengumumkan berita pernikahan pada semua rekan bisnisnya.
Afkar mengetahui berita itu dari story' salah satu rekan bisnis yang datang ke pernikahan Erza dan Yara.
"Heh, orang ternama dengan banyak harta tidak bisa membuat pesta meriah untuk pernikahannya sendiri. Kasihan sekali Yara. Kalau dia bersedia kembali padaku aku akan membuatkan pesta yang sangat meriah untuknya," gerutu Afkar saat pria itu akan turun dari mobilnya.
Penampilan Afkar terlihat berantakan kepergian Syafa berhasil membuat pria itu luntang lantung tidak karuan.
"Darimana saja kamu, Nak!" tegur Bu Nuri saat Afkar baru saja menginjakkan kaki di dalam ruang mewah itu. Rumah yang pemilik sebenarnya pergi dari sana.
"Mencari ketenangan!" sahut Afkar kemudian berlalu dari hadapan Bu Nuri.
Wanita peruh baya itu menyesalkan sikap Afkar sekarang ini. Sungguh berpisah dari Yara dan ditinggalkan Syafa membuat Afkar kehilangan jati dirinya.
"Ya Allah, ini semua salahku!" Bu Nuri tertunduk sedih mengingat kesalahannya. "Yara, Maafkan keegoisan ibu!" lirih Bu Nuri yang sangat menyesali sikapnya.
Sesal yang belum berakhir sebelum kata maaf itu terucap pada orang yang ia sakiti.
"Mas," panggil Mira mencegah langkah Afkar.
Mendengar Mira memanggilnya Afkar menghentikan langkahnya. Pria itu berbalik dan berjalan mendekati adiknya.
"Ada apa?" Tanya Afkar.
Mira pun menyodorkan sepucuk surat pada kakaknya itu. "Tadi ada orang yang mengantarkan surat ini!" Afkar pun menerimanya.
"Apa ini?"
"Entahlah!"
Afkar segera membuka surat itu. Bibir pria itu tersenyum miring saat membaca tulisan yang tercetak dalam surat pengajuan banding atas hak asuh Dhiya yang diajukan untuknya.
"Ternyata benar, Dhiya anakku pasti bersama mereka saat ini! Ok aku terima tantangan ini. Kalian pikir aku takut!" geram Afkar sembari meremas kertas yang ia baca. Pria itu hendak melanjutkan langkahnya.
"Mas, tunggu!" Mira kembali mencegah langkah Afkar. "Aku semakin tidak mengenal pria yang ada di hadapanku sekarang ini. Dirimu bukan Mas Afkar, kakakku." Mira mengelengkan kepala melihat sikap Afkar yang semakin hari semaki berubah.
"Afkar kakakmu memang sudah tidak ada bukan. Aku Afkar yang baru! Afkar yang tidak bisa ditindas. Aku paling tidak suka sesuatu yang aku punya di rebut orang lain. Erza dan Yara harus tahu kalau aku tidak bisa menyerahkan Dhiya begitu saja pada mereka. Aku punya kekuasaan saat ini," ucap Afkar tegas. Manik matanya tajam dengan tangan yang mengepal.
Mira mencoba berjalan mendekati Afkar. "Aku tahu Mas Afkar sedang hilang ingatan saat ini. Tapi bukan berati mas menjadi ayah yang tega pada anaknya sendiri. Dhiya masih kecil, dia masih butuh kasih sayang Mba Yara, Mas!" Mira mencoba mengingatkan Afkar.
"Kamu tidak akan tahu perasaan, Mas! Karena kamu belum mempunyai anak, Mira!" Sentak Afkar.
__ADS_1
Bu Nuri yang mendengar Afkar bersuara dengan nada tinggi merasa terkejut. Selama ini anak laki-laki nya itu tidak pernah membentak Mira. Dia begitu menyayangi adiknya. Bu Nuri takut kalau Mira yang baru saja sembuh dari depresinya kembali kambuh.
Afkar benar-benar sudah berubah.
Mira menggelengkan kepala mendapat tanggapan kasar dari Afkar.
"Aku sungguh tidak menyangka, Mas jadi seperti ini! Aku tidak bisa tinggal dengan pria yang tidak punya perasaan seperti kamu, Mas!"
"Kenapa kamu tidak terima dengan sikap Mas yang sekarang ini. Kalau kamu bisa hidup sendiri tanpa Mas. silakan pergi dari sini!" Geram Afkar. Pria itu mengusir Mira dengan menunjuk ke arah pintu dengan tangannya. Mempersilakan agar Mira segera pergi dari rumah itu.
Mira tersenyum kecut. Ia merasa sudah tidak dianggap lagi oleh Afkar sebagai adiknya. Wanita itu berbalik badan menuju kamarnya untuk mengemas barang-barangnya.
"Afkar ... Sadar, Nak! Dia adikmu!" Bu Nuri berusaha mencegahnya. "Hentikan perdebatan ini. Bapakmu belum lama meninggal, kenapa harus berselisih seperti ini. Tidak bisakah kalian berdamai. Kalian itu saudara sekandung," Ucap Bu Nuri dengan air mata yang mulai berlinang di pipinya.
Wanita paruh baya itu tidak menyangka kehidupan keluarganya jadi berantakan seperti ini.
"Cegah Mira, Kar! Ibu mohon!" Bu Nuri memegang tangan kekar Afkar.
"Biarkan dia pergi! Aku ingin lihat sampai dimana kesanggupannya hidup di kota ini tanpa bermodal apapun. Dia pikir mudah hidup di kota besar ini!" Sindir Afkar saat Mira datang dengan satu koper di tangannya.
"Ibu tidak usah khawatir, banyak orang baik dan rendah hati di luar sana. Aku tidak mau hidupku tertular hati kebencian dan egois seperti Mas Afkar. Ibu bisa mencariku di tempat aku di rawat kemarin. Aku akan bekerja di sana!"
Bu Nuri mengelengkan kepala. "Jangan tinggalkan ibu, Nak! setidaknya sampai 7 hari kematian bapakmu. Bertahanlah di sini!" cegah Bu Nuri.
"Jangan mencari Mas kalau kamu kesusahan di sana! Dengar itu, Mira!" teriak Afkar.
Mira menatap Afkar sedih. Dia sungguh tidak menyangka hilang ingatan itu merubah semua sikap kakaknya. "Kamu akan menyesal setelah kehilangan semuanya, Mas. Apalagi saat ingatanmu kembali!" Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu Daan Mba Syafa.
Mira pun melangkah meninggalkan rumah mewah itu.
...🌱🌱🌱...
Di tempat lain, pasangan pengantin baru itu merasa lega dengan kabar yang diberikan Riko. Roko asisten Erza memberikan kabar kalau
surat persidangan banding pertama sudah dikirimkan kepada tergugat yaitu Afkar Chairi selaku ayah dari Dhiya Almeera. Semua persiapan dalam surat gugatan berisi identitas Penggugat, meliputi nama, umur, pekerjaan dan tempat tinggal penggugat. Serta posita yaitu fakta kejadian dan fakta hukum, dan petitum yaitu hal-hal yang dituntut penggugat berdasarkan posita sudah lengkap berada di tangan Riko.
Yara melirik ke arah Dhiya yang saat ini sudah berada di tengah-tengah mereka.
Erza mengajak Yara dan gadis kecil itu menuju rumah lamanya.
"Mas, berapa lama proses naik banding hak asuh anak ini! Aku tidak mau terlalu lama dan menggantung nantinya. Kasihan Dhiya?" Tanya Yara yang merasa cemas dengan perjalanan sidang yang akan berlangsung esok hari.
Dhiya yang berada di kursi belakang sedang tertidur lelap. Anak kecil itu terlihat kelelahan setelah seharian bersama dengan bayi lucu dan menggemaskan anak dari Kak Ima.
__ADS_1
Erza kembali fokus dengan kemudinya. Setelah berhenti sesaat karena telepon dari Riko. Asistennya yang mengabarkan soal persidangan naik banding untuk esok hari.
"Biasanya akan berjalan lama, sekitar 9 sampai 12 kali persidangan. Tapi kamu tidak perlu khawatir aku sudah menyewa pengacara handal dan terkenal untuk mendampingi dan mewakili kita dalam kepentingan perkara perselisihan hak asuh Dhiya. Beberapa berkas soal kelalaian pun sudah siap jadi bukti," ujar Erza seraya meraih tangan Yara. Raut wajahnya terlihat ragu. "Aku yakinkan persidangan ini tidak selama itu. Setelah semuanya selesai. Kita langsung persiapan untuk pindah ke tempat baru." Erza menarik tangan Yara ke arah bibirnya. mengecup punggung tangan itu lama. Tanpa mengalihkan fokusnya saat mengemudi.
"Aku percaya kamu, Mas!" Akhirnya Yara memberikan senyum terbaiknya untuk Erza.
Pengajuan gugatan hak asuh anak yang cukup menguras waktu, uang, dan tenaga itu dengan gampang terselesaikan oleh Erza. Apalagi kalau bukan tentang perkara uang.
Meskipun Yara tidak bisa hadir dalam persidangan dengan alasan yang masuk akal setidaknya ada seseorang yang datang mewakilinya. Semuanya pun sudah dipersiapkan oleh Erza dengan matang.
Perjalanan yang tidak memakan waktu. Akhirnya Erza sampai di rumah lamanya.
Tin ... Tin ...
Erza membunyikan klakson mobil agar satpam yang berjaga membuka pintu gerbangnya.
Yara diam terpaku saat berada di depan rumah mewah itu. Ia merasa tidak asing dengan rumah ini.
Erza melajukan kembali mobilnya masuk ke dalam rumah itu.
"Mas, sepertinya aku pernah ke rumah ini?" ucap Yara. Ia merasa yakin kalau dirinya pernah ke rumah Erza.
"Masa sih? Kapan? Lagian ngapain kamu ke sini?" Tanya Erza sambil menggelengkan kepala pada Yara. Pria itu hendak keluar dari dalam mobilnya.
"Aku tidak pernah mengijinkan siapapun masuk sembarangan ke rumah ini, Sayang! Kecuali Bu Ninis, wanita yang dulu bekerja di sini!" Pintu mobil pun terbuka. Baru saja Erza menurunkan satu kakinya. Yara sudah berbicara dengan nada tinggi dan membuat Erza sedikit tersentak.
"Hah ... Berarti benar ini rumah bos nya Bi Ninis?" Ucap Yara nampak tak percaya.
"Kamu kenapa sih, Sayang? Kamu kenal sama Bi Ninis?"
Yara menganggukkan kepalanya pelan. "Kenapa, Mas! Karena aku pernah menggantikan dia selama satu minggu memasak di rumah ini!" ujar Yara.
Erza menyatukan alis saat mendengar penuturan Yara. Detik selanjutnya pria itu tersenyum bahagia.
"Ternyata aku dan kamu memang sudah berjodoh sejak lama, Sayang! Mungkin saja dari masakan yang kamu buat itu membuat hati ini jatuh cinta padamu. Istilah nya dari mulut turun ke hati!" Erza tak percaya kalau wanita yang dulu memasak di rumahnya adalah Yara.
Wanita yang sudah membuat Erza jatuh hati pada masakannya meskipun belum bertemu dengan Yara sebelumnya. Tapi lewat makanan perasaan itu membawa Erza kembali bertemu dengan Yara. Hingga sampai saat ini mereka sudah menjadi suami istri.
.
.
.
__ADS_1
To be continued