
Bu Nuri tampak terperangah melihat kemewahan rumah Syafa. Dari pertama masuk ke gerbang hingga mobil yang mereka kendarai tiba di depan rumah mewah itu.
Semenjak menikah, Syafa dan Afkar memang tinggal terpisah dengan papanya.
Tak beda dengan rumah milik Papa Rio. Rumah Syafa pun terbilang cukup mewah.
Pengawal pun membukakan pintu mobil untuk Syafa dan Bu Nuri. Tak lupa mereka membantu Pak Setyo untuk duduk di kursi roda.
"Pak, ternyata mantu kita yang satu ini bukan orang biasa. Ya Allah, Gusti, doa ibu ke kabul juga. Akhirnya Afkar dapat jodoh yang terbaik," cetus Bu Nuri sambil memandangi sekeliling rumah Syafa.
Pak Setyo tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam hatinya, ia hanya bisa bersedih melihat perlakuan Bu Nuri pada Yara. Kalau saja dirinya bisa bergerak ataupun berbicara Pak Setyo pasti sudah menegur istrinya yang sudah bertindak semena-mena pada Yara.
Yara keluar dari mobil bersama dengan Afkar. Dhiya langsung berlari ke arah Yara saat melihat wanita itu berjalan mendekat ke arah mereka. Yara langsung meraih tubuh montok putrinya itu.
"Nada, tenapa halus pisah mobil cama Dhiya," tanya Dhiya yang langsung melingkarkan tangan di lehernya.
"Ada yang harus bunda bicarakan berdua dengan ayah," ujar Yara.
"Omongan olang gede, Nda?" Dhiya kembali bertanya polos.
Yara tersenyum hangat pada putrinya kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Sedangkan akar berjalan menghampiri Syafa lalu merangkul tubuh wanita itu dengan mesra lalu meninggalkan Yara.
Yara dan Dhiya yang ada di belakang mereka berdua hanya bisa menatap miris kepergian Afkar.
'Mas Afkar berubah, dia lebih mementingkan harta saat ini.' Batin Yara kemudian mengikuti langkah keduanya.
Para pelayan yang ada di rumah mewah itu menyambut kedatangan mereka.
Bu Nuri berasa jadi ratu di sana. Tatapan matanya melirik sinis ke arah Yara. Tatapan merendahkan itu yang Yara dapatkan.
"Bi, tolong antarkan Bu Nuri ke kamarnya, ya?" Titah Syafa pada salah satu pelayan.
"Iya, Nyah... Mari, Bu!" Pelayan yang di titah Syafa segera mengikuti perintahnya.
Bu Nuri dengan bangga berjalan mengikuti pelayan itu yang langsung mengambil alih untuk mendorong Pak Setyo yang duduk di kursi roda.
"Ra, kamu bisa istirahat dulu sama Dhiya kamu pasti cape. Biar pelayan yang mengantarkan kamu ke kamar.
"Terima kasih, Mba. Tidak perlu repot-repot. Maaf, aku tidak bisa tinggal di sini. Aku dan Dhiya akan ke rumah kontrakan saja!" Balas Yara tegas. Sontak membuat Afkar menoleh kepadanya.
"Maaf, Mas. Aku tidak bisa ikut tinggal di sini! Tapi aku akan sering ke sini, untuk mendekatkan Dhiya dengan kamu." Ujar Yara.
"Kalau kamu mau mendekatkan aku dengan Dhiya kenapa kamu tidak tinggal bersama dengan kami di sini.
__ADS_1
"Wanita mana yang akan siap menyaksikan pria yang amat dia cintai selalu bermesraan dengan wanita lain di hadapannya."
"Kita sudah membahas ini, sebelumnya, Ra," sanggah Afkar yang terlihat kesal.
"Ra, maaf kalau sikap kami membuat kau sakit hati. Tapi aku tidak bisa jauh dari Mas Afkar." Syafa menimpali.
Yara hanya tersenyum kecut membalasnya.
"Nda.. Nda.. Kata mamih aku mau dibuatkan kamal pelcis kaya kamal plinces elsa," celetuk Dhiya pada Yara.
"Iya 'kan, Mih?" Dhiya memastikan.
Syafa lekas berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Dhiya.
"Dhiya udah gak sabar mau punya kamar yang banyak gambar princess elsa nya, ya?" Tanya Syafa.
"Iya, mau.. Mau...!" Ucapnya girang.
"Kamu dengar 'kan? Jangan egois dengan mengorbankan Dhiya," Ucap Afkar kemudian berlalu meninggalkan Yara dan Syafa di sana.
Afkar pergi dengan rasa kesal. Syafa paham akan hal itu.
"Ra, tolong tinggal di sini dulu! Aku juga sudah menjanjikan sesuatu pada Dhiya. Dia merasa senang sekali," ucap Syafa sambil meraih tangan Dhiya kemudian tersenyum pada gadis kecil itu.
Yara menghela napas berat. "Lain kali jangan menjanjikan sesuatu pada putriku, Mba!" Pinta Yara.
"Dhiya ikut bunda." Yara lekas mengandeng Dhiya dan mengikuti pelayan yang akan mengantarkannya ke kamar.
Syafa menatap Yara yang berlalu dari hadapannya. Wanita itu merasa Yara sedikit berubah, Yara lebih berani membantah. Mungkin kah ini saatnya kedua wanita itu mulai berperang. Siapa nanti yang akan bertahan dan akan pergi dari sisi Afkar?
'Maaf, mba. Kali ini aku akan mempertahankan harga diriku, aku tidak mau terlihat lemah lagi.'
Batin Yara. Kemudian dia dan Dhiya masuk ke dalam kamar yang di tunjuk oleh pelayan di rumah itu.
Yara terdiam sambil berdiri di dekat jendela kamar. Setelah menidurkan Dhiya terlebih dulu, tentunya. Gadis kecil itu bercerita soal janji yang diberikan Syafa kepadanya. Yara merasa tidak tega mengingat betapa semangatnya keinginan Dhiya yang akan terpenuhi oleh Syafa.
Yara sadar saat ini, dirinya belum bisa memenuhi keinginan putrinya itu. Yara mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar itu. Kamar ini sangat besar menurutnya.
"Heh, di lihat dari segi apapun aku memang kalah segalanya dari Mba Syafa." Gumam Yara.
Wanita itu semakin mendekat ke arah pintu kaca yang sedikit terbuka. Yara merasakan dinginnya angin yang berhembus masuk ke dalam kamar itu dari sela jendela yang terbuka.
Yara memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya. Sambil memejamkan mata ia merasakan suasana dingin itu merasuk ke dalam kulitnya.
__ADS_1
"Kenapa bahagia begitu sulit aku dapatkan? Kenapa satu-satunya orang yang paling mengerti aku, Kau hapus ingatannya. Aku rindu kamu, Mas!" Gumam Yara sambil terus memejamkan mata.
Yara tidak sadar sedari tadi sepasang mata memperhatikannya dari jauh. Yara pun tidak menyadari saat jejak langkah seseorang berjalan mendekatinya. Orang itu menyampirkan selimut untuk menutupi tubuh Yara.
"Kenapa berdiri di depan jendela. Di luar sedang hujan dan angin kencang. Kamu bisa masuk angin kalau terus berdiri di sini," ucap Afkar sambil memasangkan selimut itu ke tubuh Yara.
Yara menoleh, wajahnya mengembangkan senyum saat melihat Afkar ada di sebelahnya.
Afkar ikut tersenyum melihat itu.
Di detik selanjutnya senyum Yara menghilang begitu cepat. Yara tersadar dan ingat dengan perkataan Afkar di dalam mobil tadi. Ucapan Afkar yang seakan tidak mengijinkan dirinya masuk ke dalam dunia barunya saat ini.
Melihat itu Afkar tahu kesalahannya. Yara kembali melihat pemandangan di luar kamar itu.
"Mau apa kamu ke sini, Mas. Tidak perlu kamu mengingatkanku lagi. Aku tahu, Mba Syafa memang menjadi andalan kalian. Kamu, ibu bahkan aku harus menjaga perasaanya agar papa dari Mba Syafa tidak memberi peringatan padamu lagi 'kan? Aku paham, Mas. Di sini aku tidak bisa membantu dalam segi materi. Makanya aku lebih memilih untuk tidak tinggal bersama kamu. Aku tidak mau menjadi beban. Aku masih bisa menghidupi diriku sendiri dan Dhiya."
"Aku tidak akan membiarkan kamu pergi dariku!" Tegas Afkar.
Yara tersenyum kecut kemudian berbalik menghadap Afkar.
"Kenapa? Bukankah kamu tidak mengingatku sama sekali, bahkan di pikiran dan hatimu saat ini hanya ada Mba Syafa, tidak ada aku!" Yara menunjuk dada bidang Afkar dengan jari telunjuknya. Heh, egois... Sikapmu ternyata masih sama, Mas!" Sindir Yara. Wania itu hendak berjalan meninggalkan Afkar tapi dengan cepat Afkar menarik Yara dalam pelukannya.
"Hatiku merasa sakit saat melihat kamu menangis, Ra. Maaf telah berbicara seperti tadi di dalam mobil. Mulai saat ini, aku akan membuka diri. Jika memang kenangan kita di masa lalu begitu indah, kamu bisa perlahan membantuku mengingatkan tentang kita. Tentang masa lalu kita, aku harap kamu bersabar terhadap sikapku. Posisiku saat ini begitu sulit. Ada perasaan Syafa yang harus ku jaga. Jangan pernah meminta aku untuk memilih diantara kalian. Aku memang belum mengingatmu, tapi hati kecil ini merasakan sesuatu yang lain untuk dirimu, Ra." Afkar berbicara tulis dari hatinya. Yara bisa merasakan itu.
Ada rasa bahagia di hati Yara saat mendengarnya. Tangan Yara menyambut pelukan Afkar. Mereka saling memeluk dengan posisi berhadapan saat ini.
Keduanya berpelukan. Jika Yara merasakan kerinduan yang sangat dalam. Sedangkan Afkar masih meraba perasaan yang ia rasakan saat memeluk Yara.
"Aku akan membantumu, Mas. Kita akan bahagia seperti dulu. Aku rindu saat itu."
Syafa meneteskan air mata saat melihat keduanya berpelukan. Sakit melihatnya. Mungkin inilah perasaan Yara saat melihat Afkar dan dirinya bermesraan.
Syafa kembali ke kamarnya dengan perasan sedih. Kemudian membaringkan tubuhnya di tempat tidur empuk yang ada di kamarnya. Tempat tidur yang memberikan kehangatan saat dia dan Afkar saling bercumbu mesra di sana.
"Sesakit ini 'kah menjadi yang kedua. Tidak ... Tidak, aku tidak mau, apa aku harus sedikit tegas untuk mempertahankan milikku. Aku tidak mau berbagi Mas Afkar dengan yang lain. Tidak mau," pikir Syafa.
"Papa pasti bisa membantuku," Syafa ingat dengan papanya. Pak Rio yang selalu bisa menuruti semua keinginan Syafa. Apapun itu, asalkan Syafa bisa bahagia.
.
.
.
__ADS_1
.
bersambung