Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Mengikhlaskan Dan Merelakan Memang Tidak Mudah


__ADS_3

"Anda yakin akan melakukan ini semua, Pak Afkar?" Tanya seorang pengacara.


Akbar menghela napas berat kemudian menganggukkan kepalanya pelan. "Saya yakin, Pak! Tolong serahkan semua pada Pak Roni, asisten Pak Rio. Saya yakin dia lebih paham soal ini."


Pengacara itu menganguk paham. "Baiklah kalau memang ini sudah keputusan Anda. Saya akan menyampaikannya ada beliau."


Usai pertemuan itu. Afkar pun berlalu dari perusahaan itu. Perusahaan yang ia kembangkan. Berkat campur tangan dari Afkar perusahan tekstil itu berkembang pesat. Sulit memang untuk melepaskannya. Tapi kembali lagi pada takdir.


Afkar sadar semua bukanlah miliknya. Afkar hanya mengambil sedikit uang untuk modal hidup sederhananya bersama ibu dan adiknya. Uang sebesar 30 juta yang biasa ia habiskan dalam sekejap harus jadi pedoman modal hidup mereka kedepannya.


"Sabar, Mas! Yakin kita pasti bisa melewati semuanya. Mengikhlaskan dan merelakan memang tidak mudah. Tapi kita harus berusaha." Mira menepuk pundak Afkar yang masih menatap bagian tinggi menjulang di hadapannya.


Afkar menoleh pada Mira. "Ya, Mas yakin. Mas mampu melewati semuanya. Ayo! kita lanjutkan perjalanan ke rumah kontrakan!" Ajak Afkar yang perlahan jalan tertatih masuk ke dalam mobil online yang sudah siap mengantarkan kepergian mereka.


Selamat tinggal kenangan. Selamat datang kehidupan baru.


...🌱🌱🌱...


Di tempat lain.


"Bunda dari mana saja?" Dhiya langsung berlari menghampiri Yara saat melihat wanita itu baru saja sampai di panti asuhan.


"Maaf, Sayang. Bunda dari suatu tempat semalam. Bunda sama papa tidak bisa pulang karena sebuah kendala. Kamu mencari bunda ya, semalam?" Tanya Yara. Dhiya menganguk pelan sebagai jawaban.


Yara tersenyum kecil menanggapinya. "Katanya sudah besar, bisa tidur sendiri. Ini tidur bareng-bareng, loh!" ledek Yara.


Dhiya segera menyembunyikan wajahnya di teruk leher Yara. Seakan malu dengan ucapannya sendiri.


Yara pun merangkul Dhiya dan berjalan ber-iringan menuju ruang tamu.


"Dhiya," panggil Nita. Salah satu anak panti yang tidak bersekolah. Dia adalah anak panti yang selama ini dibawa Bu Lidia bolak balik ke rumah sakit untuk pengobatan.


"Kak Nita," sahut Dhiya sambil melambaikan tangan pada Nita. Dhiya beralih pada Yara. "Bunda aku mau ke sana dulu!" Ucap Dhiya pada Yara.


"Iya, Sayang," sahut Yara.


Usai diberi ijin, Dhiya langsung berjalan sedikit berlari ke arah Nita. Gadis manis yang menderita sakit kelainan jantung. Tapi beruntung kesehatannya mulai stabil setelah pemasangan alat bantu


"Lama kelamaan juga terbiasa. Dhiya masih belajar." Mama Anggi membela Dhiya. "Ada masalah apa sampai kalian tidak bisa pulang ke panti?" lanjutnya.


"Motor Pak Barjo kehabisan bahan bakar! Saat berangkat, aku lupa tidak mengeceknya dulu," sahut Erza.


"Musibah membawa berkah ya, Den. Kalau tidak begitu mana mungkin bisa berdua di tempat yang mendukung itu," ujar Pak Barjo yang baru saja datang dari arah luar.


Erza tersenyum kikuk menanggapinya. "Sepetinya begitu, Pak!" sahutnya.


Begitu juga dengan Yara. Wanita itu merasa malu dengan jawaban Erza.

__ADS_1


Bu Lidia dan Mama Anggi pun memakluminya. Sebab jika Erza dan Yara di panti pastinya mereka akan terganggu.


"Kalian sudah makan?" Tanya Bu Lidia.


"Sudah, Bu," jawab Yara.


"Ya sudah kalau begitu, ibu mau ke belakang dulu. Masih ada pekerjaan yang belum terselesaikan," ungkap Bu Lidia.


"Pekerjaan apa, Bu?" Tanya Yara. "Biar Yara bantu!"


"Tidak usah. Sudah banyak yang membantu ibu di belakang. Oleh-oleh darimu dan ibu mertuamu masih ada yang belum dibereskan. Sepertinya satu toko dibawa ke sini." Bu Lidia melirik Mama Anggi di sisinya.


Wanita yang sedang dilirik hanya memberikan seulas senyumnya.


"Dariku hanya sebagian, Bu Lidia. Yang lebih banyak itu dari Yara. Selebihnya itu sumbangan dari teman-teman arisanku!" Sanggah Mama Anggi.


"Tetap saja, Anda yang membawanya ke sini, Bu Anggi. Meskipun begitu saya bersyukur masih ada orang seperti kalian yang ingat untuk berbagi. Terima kasih banyak, Ra, Bu Anggi," sambung Bu Lidia.


"Aku pernah merasakan ada di posisi mereka, Bu. Saat ini, apa salahnya jika aku balik berbagi dan membantu ibu juga anak panti di sini."


Bu Lidia mendekati Yara. "Terima kasih, Ra!"


"Sama-sama, Bu."


"Ya sudah, saya permisi ke belakang dulu! Biar cepat selesai. Mumpung anak-anak pergi sekolah semua. Kalau ada mereka pasti sudah berebut duluan. Kalau sepi begini 'kan bisa diatur sesuai umur dan ukuran tubuh mereka," sambung Bu Linda.


Bu Lidia mengangguk membalasnya.


Sepetinya Bu Lidia. Mama Anggi menyampaikan niatnya mengangkat seorang anak dari panti asuhan itu.


Yara menyambut baik niatan Mama Anggi. Begitu juga dengan Erza.


"Bagaimana dengan papa?" Tanya Erza.


"Papa minta kamu menghubunginya, bantu mama untuk mengurus semuanya di sini!"


"Mama benar-benar yakin mau mengadopsi Azzam?" Erza kembali menegaskan pertanyaannya.


"Mama yakin, Za. Perasaan mama begitu kuat pada anak itu. Apalagi dia anak yatim piatu. Menurut Bu Lidia, Azzam baru beberapa bulan berada di sini. Azzam pernah bercerita pada Bu Lidia dia kehilangan adiknya. Ada seseorang yang membawa adiknya saat keluarganya tertimpa musibah. Anak itu seperti mengalami trauma. Mama ingin membawa dia ke Jakarta. Saat kamu, Yara dan Dhiya pergi pasti mama sendiri. Mama ingin ada yang menemani, Za." Tutur Mama Anggi.


Erza bisa memahami perasaan mama-nya.


"Ya sudah, Kalau emang keputusan mama sudah bulat. Erza akan mengurus semuanya. Tapi anak itu mau diadopsi sama mama?" Erza kembali bertanya.


Mama Anggi mengangkat bahunya pelan. Erza menggelengkan kepala membalasnya.


"Seharusnya utarakan dulu niat mama sama anak itu. Kalau dia setuju, Erza akan cepat mengurus semuanya," tutur Erza.

__ADS_1


Mama Anggi pun mengangguk mendengar ucapan anaknya. "Mama akan menanyakan soal ini pada anak itu."


"Sebaiknya begitu!"


"Alangkah beruntungnya anak itu jika dia mau ikut dengan wanita sebaik mama," ujar Yara.


Mama Anggi menoleh pada Yara. Kedua wanita itu saling merangkul dan berpelukan singkat.


Sesuai dengan obrolannya tadi siang dengan Erza. Sore itu sepulangnya anak-anak panti dari kegiatan belajarnya di sekolah. Mama Anggi langsung mengungkapkan niatnya pada anak lelaki itu. Azzam sempat terdiam saat Mama Anggi selesai mengutarakan niatnya.


"Saya tidak punya sesuatu yang bisa Anda banggakan nantinya, Bu!" Ucap Azzam sambil tertunduk malu.


"Tapi aku bisa melihat ketulusan dan kebaikan dalam diri kamu, Nak! Hidupmu akan lebih terjamin. Bukankah kamu ingin menemukan adikmu yang hilang?" Mama Anggi berusaha membujuk Azzam.


"Ibu bisa membantuku mencari adikmu?" Azzam langsung mendongak menatap Mama Anggi.


Senyuman dan anggukan diberikan Mama Anggi pada Azzam. Balasan yang sama pun Azzam berikan pada Mama Anggi.


"Alhamdulillah," ucap Mama Anggi yang mengerti arti dari balasan dari Azzam.


Dan saat itu juga Erza dan Yara menambah waktu berliburnya di panti asuhan itu. Erza turun tangan sendiri mengurusi berkas-berkas pengadopsi Azzam. Agar hari itu juga bisa selesai.


Masalah serumit dan sesulit apapun jika berurusan dengan uang pastinya cepat dan lancar.


Begitu juga dengan Erza. Suami dari Yara itu tidak serta merta mengurusi semuanya sendiri. Pria itu juga dibantu oleh orang lain. Erza hanya mengeluarkan sejumlah uang pada calo yang mengurus semua berkas pengadopsian. Tidak sulit dan berbelit, semuanya lancar dengan bantuan uang pelicin.


"Ah ... Uang memang bisa bertindak di situasi apapun." Erza merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di panti itu.


"Sudah selesai, Za?" Tanya Mama Anggi pada Erza saat anaknya itu baru saja sampai di panti.


"Sudah tinggal tanda tangan dari Bu Lidia saja!" Sahut Erza.


Yara yang memang mengetahui kedatangan Erza langsung mengambil air putih untuk suaminya.


"Minum dulu, Mas. Pasti cape!" Yara menyodorkan segelas air minum pada Erza.


"Terima kasih, Sayang!" Erza segera meminum air putih untuk melegakan tenggorokannya.


Tanpa ragu Bu Lidia segera menandatangani berkas yang telah disiapkan. Beliau yakin tanpa ragu untuk menyerahkan hak asuh Azzam pada Mama Anggi.


Wanita itu menyuruh Bu Weni untuk memanggil Azzam. Tak lama Azzam pun datang. Tak banyak nasehat yang diberikan Bu Lidia pada anak laki-laki itu. Sebab Bu Lidia yakin Azzam sudah paham apa yang akan dibicarakan oleh mereka saat ini.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2