
Selesai sarapan, Erza tak langsung bangkit. Pria itu merasakan perutnya kekenyangan karena tidak sadar sudah makan sampai 2 kali nambah.
"Gue yakin bukan Bi Ninis yang masak ini, gue paham banget masakan dia. Ini lebih enak aja." Erza memegangi perutnya yang terasa begah.
Nada alarm dari ponsel miliknya memaksa Erza untuk segera bersiap. Pria itu segera bangkit dengan malas. Tapi saat melihat bekal makanan yang sudah siap tersaji untuknya membuat Erza mengembangkan senyum. Ternyata pengganti Bi Ninis itu paham tugas yang harus dikerjakannya.
Waktu terus berjalan. Erza harus segera bersiap pergi ke kantor. Padahal ia bekerja di perusahaan milik papa-nya. Tapi itu tidak membuat Erza lalai dalam waktu. Dengan gerakan cepat Erza mandi kemudian berganti pakaian. Pria itu sampai harus berkali-kali melakukan kesalahan saat mencari pakaian yang cocok untuknya.
"Ah .. Sial di saat seperti ini kenapa ingat sama omongan mama. Ternyata hidup sendiri memang tidak asik, harus menyiapkan semuanya sendiri," gerutu Erza sambil memakai dasi di depan cermin. Tak lupa menyemprotkan minyak wangi andalannya. Parfum yang para wanita tak lepas untuk memandangnya.
Bip ... Bip ....
Mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya telah siap untuk mengantarkannya ke kantor. Erza tidak membutuhkan seorang supir, pria itu lebih suka sendiri. Dirinya hanya memakai supir di saat mendesak saja.
Wush ... Sstzzzzz....
Mobil hitam mewah itu langsung melesat cepat saat satpam membukakan pintu gerbang rumahnya.
Erza begitu bersemangat menjalani harinya. Pria itu melirik ke sisi kirinya. Bekal makanan yang sudah tersedia untuknya tak lupa ia bawa. Erza sama sekali tidak risih saat menjinjing bekal makanan saat menuju ke ruangannya.
Beberapa karyawan wanita banyak yang berbisik soal itu. Mereka penasaran siapa yang sudah menyiapkan bekal untuknya. Apakah sering istri atau mama nya karena yang mereka tahu status Erza masih sendiri.
Erza masih berkutat di jalan ibu kota menuju kantornya. Kemacetan sudah jadi makannya sehari-hari di sana.
"Ah ... Sial, lagi. kesiangan dikit aja kena macet, gue," gerutunya kesal. Sudah dipastikan hari ini ia akan terlambat. Tapi Erza tidak mau itu terjadi. Sebab hari ini adalah hari penting untuknya.
Erza memainkan jemarinya pada stir mobil yang saat ini ia pegang. Ia merasa tidak sabar dan cemas karena sudah hampir setengah jam, mobil yang dikendarai tidak menunjukkan pergerakan, stay di tempat saja. Erza semakin dibuat geram saat para pengendara motor semakin membuat jalanan semakin sempit.
"Salah ambil jalur gue, seharusnya gue ambil lewat barat." Erza masih saja menggerutu. Pria itu tidak mau hari ini telat ke kantor. Sebab hari ini, dirinya akan memimpin presentasi dengan rekan bisnis yang cukup berperan dalam perusahaan. Erza ingin menunjukkan pada papa-nya kalau dia mampu mengemban amanah yang di percayakan oleh orang tuanya itu.
Pak Rangga Rahardian adalah pemilik perusahaan tempat Erza bekerja saat ini. Padahal Pak Rangga meminta Erza untuk langsung menempati posisi pemimpin di perusahaannya tapi Erza menolak. Sebab jika para petinggi perusahaan melihat penerimaan jabatan secara instan, Erza akan dianggap hanya mengandalkan orang tua, dan diremehkan dalam bekerja. Pemuda itu tidak mau menempati posisi pemimpin begitu saja. Erza ingin ada sebuah perjuangan untuk mendapatkan posisi itu. Kerja keras yang bisa dilihat oleh semuanya. Agar para petinggi perusahaan tidak memandangnya sebelah mata. Barulah ia mau menerima jabatan sebagai pemimpin perusahaan yang akan di serahkan oleh papa-nya.
__ADS_1
Nada dering dari ponsel miliknya nyaring terdengar. Jelas terpampang tulisan 'Bokap gue' dalam layar ponselnya.
"Mampus deh gue, telat nih!" gumam Erza. Pemuda itu segera menggeser tombol hijau diponselnya.
"Ya, Pah! Erza masih di jalan . kejebak macet!" sapa Erza kepada papa nya di seberang telepon.
Terdengar helaan napas di sebrang sana. Siapa lagi kalau bukan reaksi dari Pak Rangga.
"Papa tidak mau kamu terlambat hari ini. Ini yang kamu mau selama ini. Jangan sampai perjuanganmu selama ini hancur seketika karena kamu terlambat hari ini," sahut Pak Rangga. Tidak banyak basa basi. telepon pun langsung di tutup kembali lelah pria tua itu.
Erza menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Widih, barusan peringatan apa ancaman?" menarik ponsel dari telinganya. Kemudian melihat jam di tangannya.
Erza tidak bisa menyepelekannya kali ini. Benar kata papa-nya, ia tidak mau perjuangannya selama ini sia-sia.
Melihat ke sekeliling, masih banyak pengendara mobil yang terjebak kemacetan.
"Lebih baik gue naik ojek daripada terlambat, akan lebih cepat sampai kantor daripada harus naik taxi." Sebuah ide tiba-tiba muncul dalam benaknya.
Masa bodo jika nanti ada pihak yang akan menariknya mobilnya. Yang penting Ia harus segera sampai ke kantor.
Dan tepat saat Erza baru saja beberapa langkah keluar dari mobil, Pria itu hampir tertabrak oleh ruang ojek yang kosong penumpang.
"Hei, Mas! lihat-lihat dong kalau jalan." teriak tukang ojek online itu.
Erza mengerutkan alis saat mendengar suaranya.
"Cewek? Tukang ojek itu cewek?" Erza lekas mendekatinya. Tidak peduli mau laki-laki apa perempuan yang penting ia akan meminta tolong pada tukang ojek berlogo hijau itu. Setelah berada tidak jauh dari tukang ojek yang ternyata seorang wanita, Erza teringat sesuatu.
"Sepertinya gue kenal dia!" gumam Erza sambil memperhatikan si pengemudi dan mengamatinya dengan teliti.
__ADS_1
"Ngapain lihat-lihat?" protes Yara dengan nada ketus dan galak.
Berkat ajaran Kak Ima , Yara berubah menjadi wanita yang tegas. Tidak lembek dan perasa lagi. Sebab ia berada di kota besar banyak orang yang bertampang manis tapi keras sikapnya.
"Lu cewek yang di depan mall tempo hari 'kan?" Tanya Erza.
Yara merasa tidak mengerti, ia membuka helm yang dipakainya. Dan benar saja. Erza lekas membenarkannya.
"Tuh kan bener, lu cewek yang ada di depan mall waktu itu! Sekarang bantu gue. Antar gue ke suatu tempat, penting." Tanpa banyak berdebat. Erza langsung meminta helm penumpang dan menyuruh Yara agar turun. Kali ini Erza yang akan mengemudikan motor maticnya.
Erza terus fokus dengan kendaraan Yara.
"Aku minta bayaran double, soalnya kamu sudah menyerobot tumpangan orang lain," ucap Yara sambil mendekat ke sisi helm Erza agar pria itu mendengar ucapannya.
"Gue bayar 3 kali lipat dari bayaran yang lu dapet dari ngojek sehari!" teriak Erza.
Mendengar itu Yara merasa senang. "Benar ya, jangan bohong!"
"Beneran, elah," risih mendengar ocehan Yara yang meminta bayaran lebih. Erza kembali menarik gas di tangannya. Agar laju motor matic itu semakin cepat.
"Ah ..." teriak Yara saat motor miliknya melaju kencang. Yara sampai harus menubruk punggung Erza. Saking cepatnya motor itu, Yara tidak sadar tangannya sudah melingkar di pinggang Erza. Ia takut dengan laju motornya yang begitu cepat.
"Pegangan yang erat, gue mau bawa lu nerobos jalanan ibu kota."
"Kamu gila, jangan ngebut. Banyak polisi, kendaraanku bisa kena masalah nantinya gara-gara kamu!" oceh Yara tapi suaranya bagai angin lalu buat Erza.
Motor matic milik Yara yang di kendarai Erza melaju dengan cepat. Yara lebih memilih memejamkan matanya sambil memeluk erat tubuh pria yang baru dia kali berjumpa dengannya itu.
Erza bisa merasakan pelukan hangat Yara. Ia menarik sudut bibirnya karena bisa bertemu kembali dengan ojek cantik yang pernah ditemuinya. Kali ini Erza tidak mau melewatkan kesempatan untuk berkenalan dengan wanita itu.
.
__ADS_1
.
.