Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Kamu Akan Menyesal, Mas!


__ADS_3

Hari Yara seakan tercabik-cabik mendengar satu kalimat yang lantang terucap dari bibir Afkar. Yara diam membeku begitu juga dengan Afkar.


Yara memejamkan mata merasakan kepedihan saat mendengar kalimat talak untuk dirinya. Sedangkan Afkar diam membeku tak menyangka kalimat talak jatuh untuk Yara.


'Mengapa hati ini begitu sakit saat kalimat itu terlontar dari bibir ini. Bisakah aku tarik kembali kalimat itu. Yara, maafkan aku!'


Batin Afkar penuh penyesalan Tapi di detik berikutnya keegoisan kembali datang pada pria itu


'Ah ... Tidak, aku tidak boleh lemah. Aku harus tegas pada Yara. Aku pemimpin dalam rumah tangga. Seorang istri memang seharusnya patuh pada suaminya.'


Batin Afkar bergejolak seakan tidak mau kalah dan tunduk pada wanita.


"Palingan juga dia balik lagi. Dari dulu, Yara itu hidup di bawah lindungan kamu, Kar. Ibu yakin, dia pasti menyesal dan meminta kembali lagi." Bu Nuri tiba-tiba saja datang sambil berbicara yang tidak benar di hadapan Afkar. Wanita itu masih saja berusaha membuat Afkar benci pada Yara.


Afkar melirik Bu Nuri seakan meminta kebenaran. "Apa benar seperti itu, Bu?" Tanyanya.


"Iya ... Dia tidak akan berani hidup tanpa kamu. Sebab dari dulu hidupnya tergantung padamu, Nak!" lanjut Bu Nuri.


Memang benar ucapan Bu Nuri. Dulu selama pernikahan Yara dan Afkar. Yara memang selalu berlindung pada Afkar karena pria itu adalah suaminya. Berusaha bertahan pada rumah tangga yang tidak pernah di restui oleh Bu Nuri. Selalu mendapatkan hinaan dan perlakuan kurang baik setiap mereka bertemu. Tapi Yara tetap bersabar. Namun, tidak untuk kali ini. Kesabarannya sudah habis tak tersisa. Yara lelah selalu menjadi penurut dan lemah di mata Bu Nuri.


Yara berbalik badan, kemudian berjalan pelan mendekati keduanya. "Ibu salah jika menilai ku seperti itu. Aku lemah dan penurut karena Mas Afkar memang sangat melindungi ku, dulu! Ya ... Dulu. Aku terlihat lemah karena memang suamiku sangat melindungiku, memperlakukan aku dengan lembut dan berkata manis untuk selalu menyenangkan hati ini." Yara semakin dekat dengan Afkar. "Tapi, aku akan buktikan pada ibu dan kamu, Mas. Kalau aku bukan wanita lemah yang hanya bisa hidup dibalik perlindunganmu." Yara menunjuk Afkar dengan jari telunjuk. Kemudian menekankannya di dada Afkar. Manik mata Yara terlihat sangat membenci pria itu.


Afkar menyentuh tangan Yara yang ada di dadanya. Hatinya sedih dan sakit mendapat tatapan benci dari wanita yang ada di hadapannya saat ini.


Yara dengan cepat menarik tangannya agar tidak bersentuhan dengan Afkar.


"Kamu sudah tidak pantas menyentuhku lagi, Mas. selepas kata talak yang kamu ucapkan tadi. Apa kamu lupa? Heh!" Yara tersenyum miring. Kemudian melangkah mundur menjauhi Afkar.


"Setelah ini, kita hanya sebatas mantan suami istri." Yara menekankan ucapanya pada Afkar.


Pria itu hanya bisa diam mendapati semua kebencian Yara. Hatinya bimbang, sejahat itukan dirinya.


Bu Nuri terkejut mendengar ucapan Yara. Beliau tidak tahu kalau Afkar telah menalak Yara.


"Apa ibu tidak salah dengar, kamu sudah menjatuhkan talak pada Yara?" Bu Nuri mendekati Afkar, meminta penjelasan kepada putranya.


Hanya anggukan yang Afkar berikan.


"Baguslah kalau kamu bercerai dengan Yara. Kamu jadi bisa fokus dengan kehamilan Syafa. Dia memang lebih membutuhkan kamu saat ini."


Yara tersenyum miris melihat reaksi Bu Nuri terhadap nasib pernikahannya dengan Afkar. Jelas terlihat kelegaan di wajah wanita tua itu.


"Kalau begitu aku akan membawa Dhiya pergi dari sini. Agar Ibu tidak perlu repot-repot untuk mengurus anakku," lanjut Yara.


"Bawa saja! Lagian aku juga mau dapat cucu dari menantu kesayanganku, Syafa," sahut Bu Nuri.


Yara menggelengkan kepala mendengar balasan dari ibu mertuanya itu.


"Kamu dengar sendiri, Mas. Bagaimana sikap ibumu pada Dhiya? Aku tidak yakin Dhiya tenang di sini. Apalagi kalau anakmu sudah akhir nanti. Dhiya akan sama sepertiku nantinya, tersiksa batin."


"Kamu tidak sopan, Yara. Kamu menyindir ibu?" Sentak Bu Nuri.


"Rasanya aku tidak pernah menyindir. Tapi semua sesuai kenyataan, Bu. Itu pun jika ibu ingat dengan semua yang ibu lakukan padaku," sahut Yara. Kini wanita itu mulai berani. Ia tahu kalau itu tidak sopan. Tapi Bu Nuri akan semakin merendahkan dan menginjak harga dirinya jika tidak di lawan.


"Kamu lihat Afkar, kamu tidak salah telah menjatuhkan talak kepadanya Yara semakin berani saat ini." Bu Nuri semakin memanasi Afkar.


"Bu ... Aku masih menaruh hormat padamu. Tolong jangan memperkeruh suasana. Tidak akan ada asap jika tidak ada api. Semua sikap yang aku tunjukkan saat ini, ibu pasti tahu siapa yang memulainya. Kesabaran seseorang pasti ada batasnya," ucap Yara penuh penekanan pada Bu Nuri. Kemudian beralih menatap Afkar.

__ADS_1


"Kamu akan lebih leluasa mengurus istri kesayanganmu itu jika Dhiya ku bawa," sindir Yara. Tatapan mata Yara terlihat sinis pada Afkar. Kemudian melangkah melewati Afkar untuk membawa Dhiya agar pergi bersamanya.


"Dhiya tidak akan pernah keluar dari rumah ini!" Afkar berucap dengan suara tegas.


"Kamu bisa bebas dan pergi dari sini tanpa Dhiya. Dia anakku, dia akan lebih terjamin hidup di sini dibanding bersamamu. Kamu bisa saja lupa pada Dhiya saat bersama pria lain."


Langkah Yara kembali terhenti mendengar ucapan Afkar. Lagi-lagi ucapannya itu menyakiti hati Yara.


"Aku benar-benar tidak menyangka, hatimu seburuk itu terhadapku, Mas. Lidahmu tajam sekali. Kamu masih bisa menuduhku? Ingat kamu akan sangat menyesal setelah ingatanmu kembali. Kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan hati ini lagi." Yara menunjuk dadanya yang terasa sangat nyeri.


"Aku peringatkan sekali lagi, jangan membawa Dhiya pergi. Atau kamu tidak akan pernah bertemu dengan Dhiya lagi," ancam Afkar.


Yara sungguh tidak menyangka, kekuasaan dan kedudukan yang saat ini ada dalam genggaman Afkar, membuat pria itu semakin egois.


"Bunda ...." Panggil Dhiya dari dalam rumah.


Anak perempuan yang baru saja keluar dari rumah mewah itu terlihat senang saat keluar dengan membawa mainan baru di tangannya. Melihat Dhiya berjalan mendekat ke arahnya. Yara segera menghapus air mata yang hampir saja menetes di pipi karena perlakuan buruk Afkar. Yara segera menenangkan hatinya agar Dhiya tidak curiga kalau telah terjadi perdebatan antara Yara, Afkar dan Bu Nuri.


Yara tidak mau Dhiya kembali ketakutan kalau melihat perdebatan di antara mereka. Yara berpikir tidak baik untuk kondisi psikis Dhiya.


Yara berjongkok menyambut Dhiya. "Apa, Sayang? Dhiya terlihat senang sekali?" Tanya Yara sambil terus berusaha menenangkan hatinya.


"Dhiya dapet boneka ini!" Dhiya menunjukan boneka kecil di tangannya dengan wajah cerianya. "Di dalam juga ada boneka yang sama persis dengan boneka kemarin di pasar malam. Hadiah dari permainan itu, Bun. Ukurannya juga besar sekali!" Dhiya sampai merentangan tangannya.


Yara ikut tersenyum kemudian melirik sekilas ke arah Afkar. Ia tahu siapa yang memberikan hadiah-hadiah itu untuk Dhiya.


"Wah, benarkah?" Yara menunjukkan wajah terkejutnya.


"Heueum." Dhiya terlihat senang tapi detik berikutnya, bocah kecil itu merasa ada yang aneh di sana. "Bunda ngapain di sini?" Tanya Dhiya kemudian beralih menatap Afkar dan Bu Nuri. Lalu kembali menatap Yara. "Jangan bilang kalau bunda mau ninggalin aku!" Dhiya menatap Yara penuh rasa curiga.


Yara hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu harus memberikan alasan apa kepada Dhiya. Kejadian itu terlalu cepat bagi Yara.


Bu Nuri yang ada di sana tiba-tiba menarik Dhiya dan menggendongnya. "Dhiya ikut eyang, yuk! Masih banyak mainan yang dibelikan ayah untukmu!"


"Enggak eyang, aku mau sama bunda." Dhiya terlihat memberontak.


Yara tidak terima saat Dhiya dipaksa seperti itu. Rencananya berbohong dengan beralasan Kak Ima gagal begitu saja.


"Bu, jangan paksa Dhiya!" Yara ikut menarik Dhiya. Terjadi perebutan Dhiya antara Bu Nuri dan Yara. Saat Dhiya sudah beralih dalam gendongan Yara, tanpa sengaja Yara menyenggol tubuh Bu Nuri membuat wanita tua itu tersungkur.


"Aww ...." Teriak Bu Nuri. "Kamu benar-benar tidak sopan, Ra!" hardik Bu Nuri tidak terima dirinya terjatuh.


Melihat itu, Afkar merasa kesal pada Yara. Pria itu segera menolong ibunya untuk berdiri. Pak satpam yang sedari tadi melihat perdebatan itu mendekati Afkar dan membantu Bu Nuri. Suasana semakin memanas. Ingin membela Yara tapi takut karena dirinya bekerja kepada Afkar.


"Berikan Dhiya padaku!" Bentak Afkar.


Dhiya terlihat ketakutan. Bocah kecil itu memeluk Yara begitu erat.


"Aku mau sama bunda aja!" Ucap Dhiya.


"Mas, tolong! Biarkan kami pergi, biarkan Dhiya bersamaku." Yara terlihat memohon.


Yara menoleh ke arah pak satpam yang berdiri tak jauh darinya.


"Pak, tolong aku!" pinta Yara.


Pak Satpam serba salah. Ia bingung harus berbuat apa sebab saat ini dirinya juga sedang memegangi Bu Nuri.

__ADS_1


"Bi Ami," panggil Afkar sambil berteriak. "Bi Ami ..." Afkar semakin kencang berteriak.


Tak lama pembantu rumah tangga itu datang dengan tergesa.


"Iya, Tuan. Maaf saya telat." ucapnya dengan napas tersengal-sengal.


"Bawa ibu ke dalam!" titahnya dengan suara tegas sambil berjalan mendekati Yara.


Yara merasa akan terjadi sesuatu padanya dan Dhiya. Dan benar saja, Afkar menarik Dhiya dari gendongannya. Yara berusaha mempertahankan Dhiya. Tapi tenaganya tidak sekuat Afkar. Dhiya berhasil diambil alih oleh pria itu. Afkar langsung pergi dari hadapan Yara. Pria itu berbalik badan kemudian berjalan cepat menuju rumahnya.


"Bunda ...." Dhiya menangis kencang saat Afkar menggendong bocah kecil itu masuk ke dalam rumah. Dhiya masih mengulurkan tangannya ke arah Yara. Berharap bundanya itu dapat menolong.


"Aku mau sama bunda, ayah jahat!" teriak Dhiya sambil terus memberontak.


"Mas .. tolong, jangan pisahkan aku dengan Dhiya. Aku mohon!" Pinta Yara sambil mengikuti langkah Afkar.


Sejenak Afkar menghentikan langkahnya. Kemudian menghadap Yara sambil sekuat tenaga menahan Dhiya.


"Tetap berada di sisiku. Baru kamu bisa bersama Dhiya," Ucap Afkar.


Yara tersenyum miris penuh rasa terkejut. Merasa heran dengan sikap Afkar.


"Kamu lupa, telah menalak ku, Mas. Kita bukan lagi suami istri saat ini. Segampang itu kamu menarik ucapanmu sendiri setelah mencabik-cabik perasaanku. Egois ... Ternyata sikap itu semakin membuatmu tidak berperasaan. Aku tidak akan pernah melakukan itu!" Ucap Yara tegas.


"Kalau begitu kamu sudah siap untuk tidak bertemu dengan Dhiya." Afkar kembali berbalik badan lagi. "Kamu bisa meninggalkan rumah ini sekarang juga!" Ucap Afkar kemudian masuk ke dalam rumah dan segera menutup pintu.


Yara menggedor pintu beberapa kali dengan sekuat tenaga tapi percuma, Yara tidak mendapatkan respon sedikit pun. Tubuh Yara runtuh begitu saja. "Kamu tega, Mas. Kamu jahat padaku! Aku tidak akan pernah melupakan ini." Tangis Yara pecah saat itu juga. Hatinya perih saat mendengar jeritan Dhiya dari dalam rumah itu yang terus memanggil namanya.


"Dhiya ... Bunda janji akan membawa kamu keluar dari rumah ini. Bunda akan melakukan segala cara agar hak asuh kamu bersama bunda." Yara lekas berdiri. Pak satpam yang ada di sana membantu Yara berdiri.


"Biar saya bantu, Nyonya. Sebaiknya pergi dulu dari rumah ini. Tuan Afkar tidak bisa dibantah. Tenang saja, saya bantu jika nyonya ingin bertemu Dhiya nanti. Tapi tidak untuk membawanya pergi dari rumah ini. Saya akan membantu bertemu saja. Itupun kalau orang ruang sedang pergi semua." Bisik Pak satpam yang membantu Yara.


Penampilan Yara begitu menyedihkan. Dia hanya melirik sesaat pada satpam itu. "Terima kasih, Pak!"


"Sama-sama, Nyonya. Saya tahu anda tidak bersalah. Maaf saya harus menutup pintu gerbangnya. Saya tidak mau jadi sasaran Tuan Afkar nantinya." Ucap Pak satpam saat mereka sudah berada di perbatasan gerbang.


"Sekali lagi terima kasih, Pak."


Gerbang pun di tutup oleh pak satpam. Yara berdiri memandangi rumah mewah yang memberikan kepahitan dalam hidupnya.


"Kamu akan menyesal, Mas. Aku tidak akan tinggal diam kamu perlakukan seperti ini!" Gumam Yara penuh rasa dendam di hatinya.


.


.


.


.


To be continued.


Seharusnya ini 2 bab ya ....


Aku buat satu bab. Jadi kalian puas bacanya.....


Tapi tinggalkan komentar like, gift atau vote. hadiah juga boleh. 😁😁. malak.

__ADS_1


Selamat beristirahat buat semuanya. 🥰😍😍😘


__ADS_2