Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Aku Ikhlaskan Semuanya


__ADS_3

Jangan Lupa Bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 ya!


...🌱🌱🌱...


Di tempat lain, Seorang pria tengah duduk di meja kerja yang biasa ia tempati di rumah itu. Rumah yang sudah memberikan kenangan manis dan pahit dalam hidupnya.


Afkar menatap sedih foto pengantinnya bersama Syafa.


"Maafkan aku, Fa. Aku yang terlalu egois. Entah mengapa saat itu aku bisa berpikir tamak seperti itu. Mengambil semua milikmu dan menggantinya atas nama diriku. Sekarang kemana aku harus mencari kamu, Fa? Apa kamu benar-benar ingin meninggalkan aku setelah kita kehilangan buah hati kita, Fa? Apa kau sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk merubah diri. Afkar yang sekarang telah kembali pada Afkar yang dulu. Aku sungguh tidak menyangka kalau kamu adalah wanita yang selalu dirindukan oleh Yara, mantan istriku!" ucap Afkar lirih diakhir kalimatnya. "Kenapa takdir mempermainkan ku seperti ini?" Afkar menelungkupkan kepala diantara kedua tangannya di atas meja. Pria itu masih menyesali semua yang telah terjadi. Kehilangan satu persatu orang yang ia sayangi. Afkar mulai berusaha mengikhlaskan semuanya. Sebab semakin lama ia menyesali semakin larut ia dalam kesedihan. Dirinya akan semakin jauh kehilangan.


Afkar ingin memperbaiki semuanya. Pada dasarnya Afkar adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Sikapnya berubah karena hilang ingatan di tambah desakan dan beban yang ia jalani saat itu. Semua semakin membuat Afkar jauh dari jati dirinya yang sebenarnya.


"Nak," panggil Bu Nuri. Wanita itu berjalan masuk ke dalam ruang kerja Afkar.


Seketika Afkar mendongak mengangkat wajahnya. "Bagaimana? Apa semuanya sudah ibu siapkan? Jangan membawa apapun yang bukan milik kita, Bu!" Titah Afkar.


"Sudah, Nak!" Sahut Bu Nuri.


Afkar pun memasukkan semua bekas yang sudah ia siapkan.


"Apa kamu yakin akan melakukan ini semua, Nak?" Tanya Bu Nuri.


"Aku lebih baik tidak memiliki apapun dari pada harus hidup dari hasil seperti ini, Bu. Meskipun dalam harta ini masih ada jerih payah yang aku hasilkan semalam aku menjalani pekerjaan sebagai pemimpin di perusahaan tekstil itu. Anggap saja itu sebagai tanggung jawab ku sebagai suaminya," Ujar Afkar yang beranjak dari tempat duduk dengan bantuan tongkat di tangannya.


Mira, adik dari Afkar yang baru saja masuk ke dalam ruangan merasa kasihan dengan kakaknya. Tapi hatinya merasa lega. Tidak ada lagi kesombongan dan ketamakan dalam diri Afkar. Mira yakin kakaknya itu akan kembali bangkit setelah ini. Hanya waktu dan usaha yang akan membantunya.


"Lalu bagaimana dengan Syafa, Nak? Kalian tidak bisa berpisah seperti ini!" Bu Nuri kembali melanjutkan ucapannya.


"Aku akan tetap menunggunya. Kalaupun dia akan melayangkan surat gugatan cerai, aku ikhlas menerimanya, Bu. Mungkin ini sudah jalan takdirku. Balasan untuk semua sikapku selama ini."


Mendengar penuturan Afkar, Bu Nuri lekas mendekati putranya. "Maafkan ibu, Nak! Ibu tidak menyangka semua akan jadi seperti ini," ucap Bu Nuri di sela pelukannya.


"Sudah, jangan bersedih. Kita jalani hidup dari awal, Bu. Jadikan pengalaman yang sudah kita lalui sebagai pelajaran. Kita harus belajar, Tidak selamanya harta dan jabatan membuat kita bahagia. Aku hanya berharap kehidupan kita selanjutnya selalu diberkahi ketenangan dan kebahagiaan meskipun dalam kesederhanaan. Jangan memandang siapapun dari derajat dan tahta, Bu. Semua orang sama di mata Sang Pencipta." Afkar berusaha menasehati Bu Nuri. Ia ingat kalau ibunya mempunyai sifat yang kurang baik dalam hal menilai orang lain. Akbar berharap dengan kejadian ini, semuanya berubah.

__ADS_1


"Ya, kita akan menjalani kehidupan awal. Ini bukan tempat kita, kita tidak berhak berada di sini! Begitu 'kan, Mas?" Mira menoleh pada Afkar.


Pria itu mengangguk pelan. Mira membantu membawakan beberapa berkas yang ada di tangan Afkar.


"Kita akan ke perusahan dulu. Mas akan mengurus dan bertemu dengan pengacara di sana. Setelah itu kita cari tempat baru," ucap Afkar saat mereka berjalan ber-iringan keluar dari ruang kerja itu.


"Aku sudah dapat kontrakan rumah, Mas. Hanya saja tidak mewah tapi cukup untuk kita tinggal bertiga," sahut Mira.


"Kapan kamu mencarinya?" Tanya Afkar kemudian mereka melanjutkan langkah keluar dari rumah itu.


"Dokter Renaldi yang membantu aku mencari rumah kontrakan. Kebetulan tak jauh dari tempat dia praktik ada rumah yang akan di kontrakan. Setelah dari perusahan, kita bisa langsung ke sana!" Ujar Mira.


"Kamu sudah membuka hati untuk orang lain?" Tanya Afkar sambil tersenyum dan berusaha mencairkan suasana.


"Apaan sih, Mas. Kami hanya berteman," elak Mira.


Tidak ada pertanyaan lagi dari Afkar. Ia tahu saat ini adiknya itu tengah merasakan kegundahan antara trauma masa lalu dan masa depan.


Saat ini mereka bertiga tiba di teras rumah mewah milik Syafa.


Mira menepuk pundak Afkar. "Kita pergi sekarang, Mas! Mobil online sudah menunggu!" Mira menyadarkan Afkar dari lamunannya.


"Ah, iya, ayo!" sahut Afkar. Ia pun ikut melangkah pelan meninggalkan rumah mewah itu. Memasuki mobil online yang sudah menunggu mereka di depan gerbang.


'Selamat tinggal, Fa. Jika memang takdir pernikahan kita sampai di sini, aku ikhlas. Aku akan menunggu sampai kamu sendiri yang akan melayangkan gugatan cerai. Jika tidak aku akan terus memberi nafkah sebisaku agar kita masih bisa bersama. Meski dalam jarak waktu yang lama entah sampai kapan. Kau harap kamu memiliki perasaan yang sama sepertiku, Fa. Aku telah kehilangan satu wanita yang begitu berarti dalam hidupku. Tapi saat ini, tidak mungkin aku menggapainya. Aku sadar kesalahanku terlalu besar terhadap Yara. Aku tidak ingin kembali kehilangan untuk kedua kalinya. Meskipun aku tidak tahu kapan kita bertemu. Aku harap kamu masih menjadi milikku. Maaf atas semua kesalahanku, Fa.'


Batin Afkar sambil memasuki mobil online yang sedih menunggunya dari tadi.


"Pak," Panggil Afkar pada satpam yang berjaga.


"Iya, Pak." Satpam itu mendekati Afkar yang sudah berada di dalam mobil.


"Titip rumah ini! Mungkin saya tidak akan kembali ke sini lagi. Maaf jika selama ini saya ada salah."

__ADS_1


"Loh, memangnya Pak Afkar mau kemana?"


"Ke tempat saya yang sesungguhnya," Sahut Afkar.


Satpam itu bingung mendengar penuturan Afkar.


"Jalan, Pak supir!" Titah Afkar pada supir online.


"Siap, Pak!"


Pak satpam kembali dibuat diam oleh Afkar yang pergi dari hadapannya.


Perlahan mobil online itu melaju meninggalkan kompleks perumahan elite itu. Afkar terus memandangi rumah mewahnya dari kaca spion mobil online itu. Rumah yang penuh kenangan manis bersama Syafa.


"Sebenarnya apa yang terjadi ya, kenapa Nyonya Syafa juga sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah ini?" gumam Pak satpam bingung.


Mira menatap Afkar. pandangannya tidak henti memperhatikan ke arah rumah yang pernah mereka tempati beberapa bulan ini. Mira tahu berat untuk Afkar melepas semuanya tapi jika terus dipertahankan pun percuma akan membuat hati semakin sakit dan sesak.


Adik dan Kakak itu sama-sama mempunyai masa lalu yang kurang menyenangkan.


Kini, mereka saling memberi support satu sama lain. Menata hidup di tempat baru. Hanya berpasrah dan berdoa atas semua kesalahan dan dosa yang diperbuat. Hanya satu harapan Afkar yang ingin ia lakukan saat ini. sama seperti harapan Mira. Mungkin juga sama dengan harapan Bu Nuri. Mereka ingin sama-sama bertemu dengan Yara.


Agar kehidupan mereka kedepannya lebih baik tanpa beban.


Akankah harapan itu bisa terjadi?


.


.


.


To Be continued

__ADS_1


Kencangkan Like dan Komentar nya dong.


__ADS_2