Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Pertemuan


__ADS_3

Semalaman Syafa tidak bisa memejamkan mata karena berpikir soal permintaan sang papa. Akhirnya, pagi ini Syafa memutuskan untuk menghubungi Afkar kembali. Ia merencanakan pertemuan mereka. Meskipun ragu tapi mau tidak mau Syafa harus mengambil keputusan ini. Semakin lama berlarut, semakin menggantung pula kejelasan rumah tangganya.


Syafa ingin segera memperjelas semuanya. Hatinya pada Afkar masih tetap sama tidak pernah berubah, rasa cinta itu tidak pernah hilang. Tapi keputusan Syafa juga sama. Wanita itu akan meminta cerai dari Afkar.


Sore ini tepatnya, tepatnya di kediaman Syafa yang baru, rumah yang selama ini ia tempati bersama papa-nya. Tempat yang dijadikan tempat pertemuan untuk Syafa dan Afkar. Awalnya berpikir ingin mencari tempat lain, tapi kondisi Pak Rio tidak memungkinkan untuk pergi jauh. Jadi, Syafa memutuskan untuk mengirimkan alamat rumahnya pada Afkar.


Di depan cermin berulang kali Syafa melihat penampilan diri. Sesekali ia tersenyum karena ingat akan bertemu dengan suaminya. Tapi di detik berikutnya Syafa menghela napas berat.


"Aku harus bisa! Aku pasti bisa. Perasaan ini pasti akan terganti seiring berjalannya waktu. Mas Afkar bisa mencari wanita lain, begitu juga denganku. Keputusanku sudah bulat, aku akan bercerai dengannya," gumam Syafa memandangi wajahnya sendiri di depan cermin.


Syafa berbalik badan meninggalkan kamarnya. Sebelum mencapai pintu, wanita itu menggapai file yang ada di atas meja rias. Pertemuannya dengan Afkar sekalian ingin meminta persetujuan penjualan rumah yang pernah mereka tempati. Syafa sudah memberitahu Roni sebelumnya. Dan sayangnya pria itu baru bisa datang ke Jakarta esok hari.


Tok ... Tok ... Tok ...


Syafa menoleh saat pintu kamarnya terketuk. Seorang asisten rumah tangga yang baru berdiri di sana, Lita namanya.


"Bu, ada yang mencari di luar?" ucap Lita, asisten rumah tangga baru yang yang bekerja belum lama dengan Syafa di rumah itu.


"Siapa?" Tanya Syafa.


"Saya tidak tahu, Bu. Dia bilang sudah ada janji dengan ibu!" Jawab Lita. Ia tidak mengenal siapa yang datang. juga belum mengenal sosok Afkar. Wanita itu hanya tahu nama Afkar saja sebagai suami Syafa.


Syafa diam sesaat. "Apa itu Mas Afkar?" gumam Syafa pelan. Kemudian beralih kembali menatap Lita. "Bilang saja sebentar lagi saya akan menemuinya! Tapi, bagaimana dengan papa? Apa dia sudah bangun?" Syafa kembali bertanya pada Lita.


"Tuan Rio sedang solat Bu, tadi dibantu wudhu sama pak supir. Ibu tenang saja, Pak Supir menunggu di depan kamar tuan," ucap Lita.


"Syukurlah! Apa Tante Gita datang hari ini?" Lanjut Syafa.


"Sepertinya belum, Bu."


Syafa mengangguk pelan sambil berpikir. "Mungkin dia sibuk," pikirnya. "Ya sudah kalau begitu tolong sampaikan pada pria yang ada di depan sana. Tunggu sebentar saya siap-siap dulu!" Titah Syafa.


"Baik, Bu!" Lita pun berlalu dari hadapan Syafa.


Syafa menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Seakan menetralkan hatinya yang semakin tidak karuan saat akan dihadapkan dengan Afkar.


"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Syafa kemudian meletakkan file yang ia pegang di depan dada. "Aku harus mengakhiri semua ini!" Syafa menyemangati dirinya sendiri. Wanita itu siap melangkah mengahadapi Afkar.


***


Jauh di tempat lain berbeda negara dengan negara Syafa saat ini. Erza dan Yara beserta keluarga besarnya sedang menempuh perjalanan dari Swiss ke Jakarta. Diperkirakan mereka akan sampai di Indonesia sekitar pukul 18.30 waktu Indonesia.


Erza memilih mengunakan layanan maskapai penerbangan first class.


Kursi yang ada di first class terbuat dari bahan kulit dan mempunyai sandaran tangan lebih besar, membuat Yara serta orang tua Erza merasa lebih nyaman. Selain itu, Dhiya yang notabene gadis kecil yang penasaran dengan segala hal mempunyai space untuk berjalan-jalan di dalam pesawat. Bukan hanya itu, tempat tidur yang ada di pesawat first class Marwah Airways juga akan membuat Yara merasa nyaman selama perjalanan karena kondisinya yang sedang hamil.


Dhiya begitu senang selama penerbangan sampai anak itu kelelahan karena bisa berjalan-jalan di dalam kabin pesawat yang menampilkan kemewahan di setiap ruangan.


Pandangan Azzam anak laki-laki yang berada dalam ruangan yang sama dengan Dhiya tak lepas dari gadis kecil yang saat ini sudah memejamkan mata di sisi bundanya. Keceriaan Dhiya tadi sampai menular kepadanya.

__ADS_1


"Mama lihat dari tadi kamu senyum-senyum sendiri. Liatin apa sih?" Tanya Mama Anggi saat dirinya menangkap senyuman dari wajah Azzam. Sebab jarang sekali Azzam tersenyum seperti itu.


"Ah, itu, Mah. Tingkah Dhiya lucu sekali. Kadang gampang diajak bercanda, tapi kadang jutek sekali padaku," jawab Azzam jujur!" Balas Azzam mengalihkan pandangannya dari Dhiya.


"Dhiya memang seperti itu. Tapi sebenarnya anaknya baik dan tulus. Bagaimana perasaan kamu ikut bersama mama ke Swiss?" Mama Anggi kembali bertanya.


"Senang sekali, Mah. Aku tidak pernah mengalami ini sebelumnya," balas Azzam.


"Syukurlah kalau kamu merasa senang, mama juga senang melihatnya. Tidurlah! Perjalanan masih jauh, Nak." Mama Anggi menurunkan sandaran kursi agar Azzam bisa berbaring dengan nyaman.


"Terima kasih, Mah. Aku sungguh sangat beruntung bisa menjadi anakmu!" Azzam menatap Mama Anggi dengan senyuman. Kemudian memberikan kecupan singkat di pipi wanita itu sebelum anak laki-laki itu membaringkan tubuhnya di kursi yang bisa menjadi tempat tidur. "Aku sayang Mama dan Papa yang sudah begitu tulus padaku," ucap Azzam dari lubuk hatinya.


"Sama-sama, Nak! Jadilah anak lelaki yang sukses di masa depan." Mama Anggi membalas dengan mengusap pelan pipi Azzam.


Anak lelaki itupun tidur dengan perasaan nyaman. Kehidupannya berubah dengan cepet semenjak Mama Anggi mengangkatnya sebagai anak. Hal yang paling Mama Anggi suka dari Azzam yaitu sikap rendah hati dan ramahnya tidak pernah hilang meskipun kehidupan dirinya sudah berbeda sekarang.


Mereka semua beristirahat sejenak, menunggu sampai pesawat melakukan landing di tempat tujuan. Tapi tidak dengan Erza. Pria itu masih asik dengan mengusap-usap punggung Yara.


"Mas, tidurlah! Sudah cukup, punggungku sudah tidak pegal, kok," ujar Yara saat ia masih merasakan gerakan halus dari tangan kekar suaminya.


"Kamu sendiri tidak tidur," sahut Erza.


Yara merubah posisinya menjadi duduk.


Erza dengan sigap menurunkan posisi tempat tidur yang Yara tempati menjadi tempat duduk agar istrinya kembali merasa nyaman. Tempat tidur yang multifungsi, bisa dibuat tempat tidur saat penumpang ingin tidur dan bisa diubah menjadi tempat duduk juga.


"Terima kasih, Mas." Yara tersenyum manis pada Erza.


"Kamu tenang saja mereka sudah terlelap." Erza memberitahu Yara setelah mengadakan pandangnya melihat keadaan sekitar.


"Lain kali jangan seperti itu, Mas," protes Yara.


"Hanya cuman singkat, Sayang. Itu tandanya sayang dan cinta. Berbeda kalau ciuman seperti ini!" Erza langsung menyambar bibir Yara tanpa basa basi. menarik bibir bawah istrinya yang selalu membuatnya candu.


Yara kembali membelalakan mata mendapati serangan tiba-tiba dari Erza. Permainan bibir yang berlangsung singkat. Sebab Yara terus memukul dada bidang Erza.


Erza melepaskan pagutannya. Yara hanya bisa memanyunkan bibir membalas tingkah Erza.


Kekehan kecil Erza berikan pada Yara.


"Ih, kamu itu jahil banget sih, Mas. Bagaimana kalau anak-anak tiba-tiba bangun."


"Nyatanya mereka tidak bangun," sanggah Erza.


"Mas ...." rengek Yara.


"Hahaha ... Maaf, Sayang!" Erza menarik Yara dalam pelukannya. "Habisnya kamu itu selalu menggemaskan. Aku jadi tidak sabar ingin memakan mu."


"Dih, memangnya aku makanan," sahut Yara sebal.

__ADS_1


Erza kembali terkekeh menanggapinya. Sesaat keduanya berpelukan. Meskipun sebal dengan tingkah Erza. Tapi Yara hapal dengan sikap suaminya. Perlahan Erza melepas pelukannya.


"Bagaimana kamu siap?" Tanya Erza.


"Siap apa, Mas?" Yara kembali bertanya.


"Kamu lupa maksud dari kepulangan kita ke Indonesia? Hem!" Erza mencubit pelan hidung mancung Yara.


"Bertemu, papa?" seru Yara.


"Itu salah satunya." sahut Erza.


Yara terdiam sejenak. "Bertemu dengan Mas Afkar agar keinginan Dhiya bisa terwujud. Serta bertemu dengan Mba Syafa dan mengikhlaskan dia bersama Mas Afkar," Yara menjelaskan.


Erza menganggukkan kepala dengan ucapan Yara.


"Yakin kamu ikhlas?" goda Erza.


Yara mengangguk pelan. "Yakin, semua karena kamu, Mas. Allah telah mengirimkan kamu untukku. Kamu yang dengan sabar menemani dan membimbingku. Kamu yang selalu meredakan amarah dan membantu ku menghilangkan rasa benci dalam hati ini. Kamu yang selalu mengingatkan aku kalau kebencian itu tidak baik untuk hidupku. Kamu, kamulah penolong hidupku, Mas. Aku sangat mencintai kamu, Mas." Yara lekas memeluk Erza. "Aku sangat bersyukur memiliki kamu, Mas Erza," ucap Yara di sela pelukannya.


"Aku senang dengan sikapnya yang sudah merelakan semuanya, Sayang. Memang tidak baik kebencian tertanam dsl hatimu. Kamu wanita cantik dengan hati yang mulia. Tidak sepantasnya rasa benci singgah di hati. Memaafkan lebih baik dari pada menyimpan dendam." Erza membalas pelukan Yara.


Keduanya kembali menikmati Perjalanan di dalam pesawat itu. dengan tempat duduk yang nyaman yang bisa diubah posisi sesuai dengan kebutuhan. Betul- betul memuaskan selama perjalanan. Ditambah menu yg menarik dan cukup enak rasanya dan juga tentu pelayanan yg sangat baik dari awak pesawat selama perjalanan. Hingga perjalanan mereka tidak terasa sudah mendekati tempat tujuan. Hal itu terdengar dari informasi yang terdengar dari pengeras suara di sudut kabin pesawat.


***


Di tempat lain.


Perasaan Syafa semakin berdebar saat ia menapaki satu persatu anak tangga menuju lantai satu rumahnya.


Perlahan Syafa berjalan mendekati sosok pria yang selama ini Syafa rindukan berdiri tepat di hadapannya dengan posisi membelakanginya. Akbar tengah menatap ke luar ruangan. Pria itu sedang memandangi kolam kecil di teras rumah itu.


"Mas Afkar," ucap Syafa pelan.


Namun suara Syafa terdengar jelas di telinga Afkar. Pria itu langsung berbalik badan menghadap sumber suara.


"Syafa," lirih Afkar saat melihat Syafa berdiri mematung tak jauh darinya.


Manik mata mereka saling bertemu. Keduanya memancarkan rasa rindu yang mendalam. Afkar tersenyum lebar melihat Syafa. Perlahan Afkar berjalan mendekati Syafa. Alis Syafa mengerut saat melihat gaya berjalan Afkar yang menyeret satu kakinya. Pria itu sedikit pincang saat melangkah. Syafa membungkam mulutnya sendiri tidak menyangka keadaan suaminya sampai separah itu.


"Mas ...," lirih Syafa seraya menggelengkan kepala menatapnya.


.


.


.


To be continued.

__ADS_1


Hayo tebak apakah Syafa luluh setelah melihat Afkar atau tetap teguh sama pendiriannya bercerai dari pria itu. Tunggu kelanjutan ceritanya pasti lebih seru.


__ADS_2