
Yara menghela napas berat saat mendengar nada suara Erza yang sedikit tinggi padanya. “Dia satu negara dengan kita dan tujuannya juga sama, namanya Andrew. Aku tidak sengaja menabraknya saat membawakan kopi yang aku beli untuk Mas. Dan aku ke sana hanya ingin memesan ini!” Yara menunjukkan dua botol air mineral di tangannya. juga menjelaskan apa yang terjadi padanya dengan pria yang bersamanya tadi. Setelah menjelaskan dengan jelas pada Erza, Yara langsung membangunkan Dhiya dan mengajak anak itu untuk kembali ke bandara. Tentunya dengan sikap Yara yang berubah diam karena menahan kesal pada Erza yang sudah berburuk sangka padanya.
Erza sempat terdiam sesaat mendapat reaksi tegas dan penjelasan panjang lebar dari Yara. Pria itu belum sadar sikap yang tadi ditunjukkan pada Yara. Dan saat menyadarinya, Yara dan Dhiya sudah keluar dari cafe tersebut. Dengan cepat Erza menyusul Yara.
“Sayang, tunggu!” teriak Erza.
Sayangnya Yara tidak peduli, wanita itu terus melangkahkan kakinya meninggalkan Erza yang jauh di belakangnya.
“Bunda, tungguin papa!” pinta Dhiya. Anak kecil itu menghentikan langkahnya.
Erza tiba di hadapan Yara sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal karena berlari saat mengejar Yara dan Dhiya.
“Minum dulu, Pah!” Dhiya menyodorkn air minum botol yang diberikan Yara padanya tadi. “Kenapa harus lari?” tanya Dhiya. Erza menerima air minum itu dan langsung meneguknya.
Tenggorokannya terasa lega saat itu juga. “Terima kasih, Sayang.”
Yara yang masih kesal dengan sikap Erza yang mengacuhkannya. Bahkan sibuk dengan ponselnya itu kembali melanjutkan langkahnya menuju bandara yang jaraknya tinggal beberapa meter lagi.
Dhiya menatap heran sikap bundanya yang pergi tanpa kata itu. “Bunda kenapa, Pah?” tanya Dhiya bingung.
“Sepertinya bunda marah sama papah,” ucap Erza.
“Dih, lagian papa cari masalah saja sama bunda. Papa ‘kan tahu kalau bunda marah pasti lama,”ungkap Dhiya.
Erza menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. “Iya, papa lupa, Kak. Kamu bantuin papa bujuk bunda ya?” pinta Erza.
“Lihat nanti ya! itu juga kalau bisa. Kalau bunda masih marah itu urusan papa.” Dhiya kembali melanjutkan langkahnya. “Ayo, Pah!” desak Dhiya.
“Ah, iya.” Kemudian Erza ikut menyusul Yara bersama Dhiya.
__ADS_1
Sesampainya di Bandara, ternyata para penumpang yang tujuannya sama ke Zurich sudah banyak yang kembali dari istirahatnya. Mereka tiba di bandara lebih awal. Erza terus mendekati Yara, meminta maaf akan sikapnya yang baru ia sadari telah melukai hati Yara.
“Sayang, aku minta maaf akan sikap ku. Sungguh aku tidak bermaksud membentak tadi,” ucap Erza sembari terus merayu Yara. Wanita hamil yang terlihat semakin cantik dan mempesona karena kehamilannya itu tak banyak bicara. Ia lebih fokus dengan ponselnya. Yara mengikuti gerakan yang sama seperti yang Erza lakukan padanya tadi. Yara mengangkat tangan pertanda menyuruh Erza untuk diam. Bahkan dengan mata yang mendelik pada suaminya itu. Karena Yara sedang berbicara dengan seseorang di seberang telepon.
“Iya, Mah. Aku masih di bandara. Ada sedikit kendala,” ucap Yara pada Mama Anggi di seberang telepon. Yara terdengar begitu asik mengobrol mengacuhkan Erza yang ada di sisinya.
Bibir Erza langsung bungkam saat mendapat tanggapan dari Yara. Melihat suaminya yang langsung terdiam, Yara sedikit menarik sudut bibirnya. Ia memberi pelajaran pada Erza agar dia merasakan apa yang dirasakan Yara tadi. Diacuhkan oleh Erza yang sibuk sendiri dengan ponselnya.
Hingga terdengar informasi, pengumuman boarding yang dikumandangkan untuk memberitahu kalau penumpang segera bersiap memasuki pesawat. Dengan kata lain ponsel pun harus segera dinonaktifkan.
“Mah, aku tutup teleponnya ya. Nanti kalau sudah sampai rumah, Yara kabari lagi,” ucap Yara.
“Hati-hati, Sayang. Jangan lupa segera kabari mama,” sahut Mama Anggi dari seberang telepon.
“Iya, Mah.”
Sambungan telepon pun terputus.
Erza menghela napas berat. Sudah dipastikan ibu hamil itu tengah marah padanya. Hal itu semakin menambah pusing kepalanya.
Dhiya duduk di bangku dekat jendela. Anak Sedangkan Yara dan Erza duduk saling berdampingan. Pesawat pun akan segera take off dan salah satu pramugari pun mengumumkan beberapa aturan yang harus ditaati saat pesawat lepas landas.
Yara memperhatikan dengan saksama. Padahal apa yang diucapkan pramugari itu sudah ada di luar kepalanya.
Yara merasakan sedikit kram pada perutnya. Sehingga membuat Yara harus merubah posisi duduknya jadi tegak. Erza yang melihat itu langsung sigap bertanya. “Kaki kenapa, Sayang? Pegal ya?” tanya Erza. Hanya anggukan yang Yara berikan pada suaminya itu.
“Sebentar aku ubah posisi tempat duduknya.” Erza segera merubahnya posisi tempat duduk Yara. Istrinya itu lekas duduk kembali dengan posisi tubuh yang sedikit berbaring, posisi yang lebih nyaman dari yang pertama kali. Sehingga Erza bisa berhadapan dengan perut buncit istrinya itu. Perlahan Erza mengulurkan tangan hendak menyentuhnya tapi Erza kembali menarik tenaganya karena berpikir kalau Yara masih marah padanya. Jika dalam mode marah seperti sekarang ini, Erza biasanya memilih diam. Dan benar saja, Yara memanggil namanya.
“Mas,” panggil Yara.
__ADS_1
“Apa, Sayang,” sahut Erza.
“Aku cape, tolong usap-usap perut ku!” pinta Yara.
Erza mengembangkan senyumnya. Tak sia-sia Erza menahan diam. Dengan sendirinya Yara pasti membutuhkan sentuhannya karena Yara memang tidak bisa tidur tanpa sentuhan tangan Erza pada perut buncitnya. Sudah jadi kebiasaan semenjak awal hamil. Sentuhan Erza seperti pengantar tidur untuknya.
Meskipun penerbangan dari bandara Milan ke Swiss hanya memerlukan waktu sebentar tapi Erza ingin membuat Yara nyaman selama penerbangan. Sebab sudah tiga kali mereka transit.
“Maafkan sikap papa ya, Sayang.” Erza menghentikan usapannya kemudian mencium perut buncit itu. Seakan sedang berbicara dengan bayi yang ada dalam kandungan Yara. “Bilang bunda kalau papa nyesel. Jangan diemin papa lagi! Bilangin ya!” oceh Erza.
Yara hanya bisa tersenyum mendengar ocehan suaminya itu.
“Papa,” panggil Dhiya membuat Erza menghentikan gerakannya.
“Apa, Sayang.”
“Bunda tidur ya?” tanya anak itu.
“Ya, Bunda kayaknya kecapean. Kasihan adik kamu. Perut bunda kram jadi minta diusap-usap,” ujar Erza.
“Oh, bukannya emang udah kebiasaan bunda. Pastinya butuh papa sebelum dia tidur. Dih, sama-sama butuh tapi gengsi. Pake ngediemin segala, ” sindir Dhiya kemudian berbalik badan memunggungi papa dan bundanya itu. Dhiya memilih memejamkan matanya. Beristirahat meski hanya sebentar.
Yara kembali tersenyum mendengar penuturan Dhiya. “Mas, lanjutin!” ucap Yara sambil menarik tangan Erza untuk kembali mengusap-ngusap perutnya.
“Butuh tapi gengsi,” ledek Erza. Ia tahu kalau Yara sudah tidak marah lagi padanya. “Maafkan aku ya, Sayang!” bisik Erza dan mendapat anggukan pelan dari Yara. Melihat itu Erza langsung mengecup pucuk kepala Yara. “Istirahatlah,” bisiknya lagi kemudian melanjutkan usapan lembutnya pada perut buncit Yara. Dan benar seketika Yara terlelap karena sentuhan Erza.
.
.
__ADS_1
.
To be continued