
Semua orang terkejut saat mengetahui kalau Pak Rio telah mengembuskan napas terakhirnya siang itu. Kejadian yang benar-benar di luar dugaan. Pak Rio wafat usai melaksanakan solat dzuhur. Rasa penyesalan pun dirasakan oleh Yara yang saat itu mendapat amanah untuk membangunkan Pak Rio selepas azan dhuzur berkumandang. Bukannya tidak mau membangunkan tapi Yara malah terlambat. Ia melihat Pak Rio sedang melaksanakan solat seorang diri, berarti Pak Rio memang sudah bangun saat memasuki waktu solat siang itu. Tidak ada yang tahu kapan Pak Rio mengembuskan napas terakhirnya. Sebab memang tidak ada yang menemaninya saat itu. Kejadian itu pun begitu singkat terjadi.
“Andai saja aku menunggu papa selesai solat tadi, Mas. Mungkin saja aku bisa berbicara dengan papa di saat terakhir hidupnya” ucap Yara penuh penyesalan. Wanita itu masih saja terus menyesali diri. Saat Yara tidak bisa menyaksikan dan mengetahui kapan sakaratul maut itu terjadi padahal Yara meninggalkan kamar Pak Rio hanya sebentar, sebelum pergi Yara melihat papa-nya masih melaksanakan solat. Hanya berselang beberapa menit Yara meninggalkan Pak Rio untuk menyambut suami tercintanya. Ketika kembali Pak Rio sudah tak bernapas lagi.
“Sudahlah, Sayang. Jangan pernah menyesali diri sendiri. Ini sudah jalan akhir hidup papa. Sekarang yang harus kita lakukan hanya mengikhlaskan dan mendoakan papa agar tenang di sisi Allah,” sahut Erza sambil terus menenangkan istrinya. “Sekarang kita antarkan beliau ke tempat peristirahatan terakhirnya. Bukankah di sini tempat yang dia minta bersanding dengan almarhumah Mama Mira,” ucap Erza sambil terus menenangkan Yara.
Anggukan pelan Erza dapat dari istri tercintanya itu.
Sesuai keputusan keluarga. Pak Rio akan dimakamkan di samping pusara almarhumah Mama Mira. Tepatnya di Mojokerto. Erza pun segera mempersiapkan semuanya.
Kabar duka itu pun segera dikabarkan pada Afkar. Sayangnya pria itu sedang tidak ada di tempat. Ponsel milik Afkar tertinggal sat pria itu mengecek barang di tempat lain. Erza tidak mau menunda proses pemakaman, ia lantas mengirimkan pesan singkat untuk mengabari Afkar mengenai wafatnya Pak Rio.
Usai jenazah Pak rio dimandikan dan disolatkan. Mereka siap terbang ke tempat yang dituju, yaitu Mojokerto. Kota di mana makam Mama Mira berada. Menggunakan pesawat perjalanan Jakarta-Mojokerto bisa di tempuh hanya 1.5 jam saja. Dan akhirnya jenazah Pak Rio tiba di tempat pemakaman umum. Semua keluarga serta jenazah perlahan masuk ke area pemakaman. Sudah banyak yang menanti kedatangan jenazah Pak Rio. Termasuk Bu Lidia, ibu panti asuhan yang dulu tinggal bersama dengan Almarhum Mama Mira.
Kesedihan yang amat mendalam pun Syafa rasakan saat melihat jenazah diturunkan dari peti jenazah. Tubuh yang terbujur kaku itu dan terbungkus kain kafan dikeluarkan dari peti mati untuk segera dimasukkan ke liang lahat.
Syafa sangat sedih ketika melihat jasad papa-nya untuk terakhir kalinya. Anak pertama Pak Rio itu memang selalu bersama beliau. Jadi dia masih terpukul saat mengetahui papa-nya meninggal dalam keadaan tidur di atas tempat tidur sembari memeluk bunga mawar putih di tangannya.
“Maafkan Syafa, Pah. Maaf kalau selama ini Syafa belum bisa membuat papa bangga,” lirih Syafa masih dengan isak tangis sedihnya.
“Bu,” panggil Yara pada Bu Lidia. Dua wanita yang sudah lama tidak bertemu itu saling berpelukan.
“Yara, yang sabar ya, Nak?” ucap Bu Lidia di sela pelukannya.
“Aku baru saja merasakan kebahagiaan bersama papa, Bu. Tapi kenapa Sang Pencipta begitu cepat memanggilnya.” Yara kembali menumpahkan tangisnya.
__ADS_1
“Hei ... Sudah jangan menangis. Kasihan papa mu. Jangan membebani kepergiannya. Ikhlas, semua sudah jadi suratan takdir yang harus dijalani. Bersyukurlah sebelum dia pergi, kamu sudah bersama dengannya.” Bu Lidia menenangkan Yara kemudian perlahan melepas pelukannya.
Tangannya mengulur mengusap air mata yang membasahi pipi Yara. Kemudian Bu Lidia beralih pada Syafa yang ada di sisi Yara.
“Kamu juga harus ikhlas. Antarkan papa kalian ke tempat peristirahatan terakhirnya tanpa tangisan. Tunjukkan ketegaran kalian di hadapan pusara mereka.” Bu Lidia juga merangkul Syafa dalam pelukan. “Kuatkan dirimu, Nak! Sabar, ikhlas ya!” Bu Lidia mengusap lembut pundak Syafa memberikan ketenangan pada wanita itu.
Usai memberikan nasehat dan ketenangan pada Syafa dan Yara. Bu Lidia beralih pada Mama Anggi, tersenyum hangat pada wanita itu. Mama mertua dari Yara yang ikut mengantarkan pemakaman Pak Rio ke tempat peristirahatan terakhirnya itu. Beliau bersama Dhiya. Gadis kecil yang kini beranjak remaja. Bu Lidia pun menyapa singkat gadis kecil itu. Ia juga melihat raut wajah kesedihan pada Dhiya. “Yang sabar ya, Sayang!” Bu Lidia mengusap pelan pipi Dhiya. Kemudian beralih pada Mama Anggi. Hanya seulas senyum diberikan pada wanita itu karena proses pemakaman segera dilaksanakan.
Erza dan Roni terlihat membantu warga yang biasa mengurusi pemakaman. Kini tiba saatnya jenazah Pak Rio dikebumikan. Tokoh ulama yang biasa mengurusi orang meninggal langsung turun ke liang lahat. Kemudian mengumandangkan azan di sana. Para pelayat yang ikut hadir dan keluarga yang ditinggalkan begitu khusyuk mendengar lantunan adzan sampai dengan selesai.
“Siapa yang akan membantu untuk menurunkan mayitnya?” tanya tokoh ulama itu.
Erza dan Roni mengajukan diri. Proses penguburan pun segera dilakukan sebab waktu terus berlalu. Matahari pun semakin codong hendak meninggalkan tempat peraduannya.
Sedikit demi sedikit tanah gembur dimasukan ke liang lahat. Hingga tubuh yang terbungkus kain kafan itu sudah tak terlihat lagi. Yara berusaha menahan air matanya agar tidak rumah kembali. Ia tidak mau air matanya menjadi beban bagi papa-nya.
Batin Yara saat dirinya melihat liang lahat itu tertutup sempurna. Menyisakan gundukan di atasnya.
Yara, Syafa dan Dhiya menaburi gundukan tanah itu dengan bunga yang sengaja dibawa dari Jakarta. Tak terlewatkan juga menaburi pusara dari almarhum Mama Mira dengan bunga tersebut. Bunga mawar putih kesukaannya. Kini kedua pusara dari Mama Mira dan Pak Rio saling berdampingan.
Tokoh ulama membacakan doa sebelum mereka beranjak dari pemakaman itu. Suasana sedih makin terasa saat untaian bait doa dibacakan untuk almarhum. Syafa merasakan kesedihan yang menyayat hati saat itu. Tak terasa air matanya kembali mengalir di pipi. Syafa merasa di akhir hidup papa-nya, belum bisa memberikan kebahagiaan. Dan Syafa sangat ingat dengan pesan terakhir dari Pak Rio. Lebih baik dicintai daripada mencintai karena seorang wanita memang seharusnya merasakan cinta dari seorang yang begitu mencintai kita. Dan harapan Pak Rio semoga ada pria yang mencintai Syafa dengan tulus.
Setelah doa selesai, satu persatu dari para pelayat pergi dari sana. Ucapan belasungkawa pun terucap dari mereka untuk keluarga yang ditinggalkan.
“Sebaiknya kita beristirahat dulu di panti!” ajak Bu Lidia pada semuanya.
__ADS_1
Erza mengangguk menyetujui ajakan dari Bu Lidia. “Ayo, Sayang. Kamu juga harus istirahat! Kasihan bayi kita,” ucap Erza.
“Iya, Ra. Kamu sedang hamil jangan sampai kecapean,” sambung Mama Anggi.
Yara pun mengikuti ajakan suami dan mama mertuanya. Di ikuti Syafa dan Roni yang terakhir ada di sana. Sesekali Syafa dan Yara menoleh ke belakang berusaha mengikhlaskan kepergian papa mereka dengan lapang dada.
Seperginya mereka dari pemakaman. Suasana berubah menjadi sepi. Semilir angin dan wangi dari bunga mawar putih itu begitu tercium. Alam seakan menyambut kedatangan Pak Rio di sana. Pasangan suami istri itu kembali bersatu dan berdekatan setelah puluhan tahun mereka berpisah.
Langkah Dhiya terhenti saat anak kecil itu hampir saja memasuki mobil. Dhiya menoleh ke arah dua makam yang tertutup sempurna oleh kelopak mawar putih. Kemudian anak itu tersenyum saat melihat bayangan kakeknya tengah berdiri berdampingan dengan seorang wanita yang pernah ia lihat wajahnya dalam foto. foto yang terpampang jelas di kediaman Wirawan. Dua orang itu melambaikan tangan ke arah Dhiya. refleks Dhiya membalas lambaian tangan itu. Kemudian mengakhirinya setelah disuruh masuk ke dalam mobil oleh Yara.
Tingkah Dhiya membuat Yara heran. Bundanya pun mengikuti arah pandang Dhiya. Ia melihat tidak ada siapapun di sana.
"Kak, kamu melambaikan tangan sama siapa tadi?" tanya Yara saat Dhiya sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya.
"Sama kakek sama nenek juga, Bunda," jawab Dhiya.
Yara mengulas senyum bahagia di tengah kesedihannya. Ia merasa lega papa-nya sudah bersama dengan wanita yang dicintainya saat ini. Di dunia yang berbeda dengan mereka.
.
.
.
To Be Continued.
__ADS_1
.
.