Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Aku Talak Kamu


__ADS_3

“Kemana keluarga Bu Syafa,” ucap suster yang baru saja keluar dari ruang UGD. Pandangannya mencari suami dari Syafa dan anggota keluarganya yang lain.


“Apa yang Anda maksud Syafa Aileen Wirawan, Suster?” tanya pria yang berdiri tak jauh dari suster tersebut.


“Benar sekali, Pak! Anda siapanya pasien?” Suster itu bertanya balik.


“Saya masih keluarganya, saya mendapat kabar kalau Syafa masuk rumah sakit. Saya bisa masuk ke dalam?” Roni meminta ijin.


Suster yang ditanya sedikit ragu untuk mengijinkan pria itu masuk. Pria itu paham keraguan yang dirasakan suster itu.


“Saya Roni, Roni Khairil isham. Saya orang terdekat dari Syafa. Hubungi saja suaminya segera, sebelum dia kembali saya akan menemani Syafa,” ucap Roni tegas. Dan tanpa ijin lagi, pria itu langsung masuk ke dalam ruangan.


Suster jaga sampai terdiam dengan ketegasan Roni. Seketika lamunannya buyar saat ingat kalau dirinya harus segera menghubungi suami dari pasien yang bernama Syafa sesegera mungkin.


Afkar berjalan terseok-seok dengan keadaan kakinya yang masih sakit karena kecelakaan yang dialaminya. Hal itu tidak membuat semangat Afkae kendor. Pria itu bersemangat terus melangkah menuju ruang UGD. Seseorang yang menghubunginya adalah suster yang menjaga Syafa di ruangan UGD. Suster tersebut ingin mengabari kalau Syafa telah sadar dari masa kritisnya.


“Akhirnya kamu sadar, Fa,” ucap Afkar dalam hatinya. Pria itu sungguh tidak sabar ingin bertemu kembali dengan istrinya. Ia sangat khawatir pada wanita itu, sampai Afkar rela mengajukan cuti beberapa hari dari pekerjaannya. Demi niatnya yang ingin menemani Syafa setiap hari di rumah sakit. Afkar mempercepat langkahnya menuju ruangan di mana Syafa berada.


Lain dengan Afkar yang tergesa-gesa kembali ke ruangan UGD. Yara harus ke ruang perawatan Dhiya lebih dulu untuk menemui suaminya, Erza.


“Mas,” panggil Yara saat pintu ruangan terbuka. Manik mata Yara berbinar saat melihat putri kecilnya sudah bangun.


“Dhiya, kamu sudah bangun, Sayang?” Yara berjalan sedikit cepat mendekati brankar di mana Dhiya tengah duduk bersandar beralaskan bantal.


“Bunda,” lirih Dhiya. Pandangan anak kecil itu mengarah ke belakang Yara, mencari seseorang di sana. “Ayah mana? Kata papa, bunda lagi sama ayah?” tanya Dhiya.


Yara bingung harus menjawab apa. Sebab Dhiya belum tahu soal kondisi Syafa saat ini. Yara menoleh pada Erza. Pria itu terlihat sangat tenang dalam bersikap.


“Kakak, mau ketemu ayah?” tanya Erza pada Dhiya.


Anak kecil itu mengangguk membalasnya. “Iya Pah? Ayah baik-baik saja ‘kan? Mamih Syafa gimana?” Dhiya lanjut bertanya.


Yara semakin bingung mendengar pertanyaan dari Dhiya. Kondisi Dhiya baru saja pulih, Yara tidak mau terjadi apa-apa pada putrinya.

__ADS_1


“Ayah Afkar baik-baik saja! Mungkin saat ini ayah Afkar sedang bersama Mamih Syafa. Kakak yakin mau ketemu sama Mamih?” Erza balik bertanya.


Dhiya menganggukkan kepalanya “Memangnya mamih kenapa, Pah?” Dhiya semakin penasaran.


“Papa akan ajak kamu ketemu ayah Afkar dan Mamih Syafa sekarang. Tapi ijin sama dokter jaga dulu, Ok.” Erza mampu bersikap tenang di hadapan Dhiya. Beda dengan Yara yang sedikit ketakutan. Yara takut Dhiya merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa Syafa karena anak itu sempat menangis menyesali semuanya. Kalau saja Dhiya tidak bersikukuh ingin kembali menyeberang jalan tidak mungkin kecelakaan itu terjadi pada Syafa.


Di ruang UGD.


Dari semenjak sadar dari masa kritisnya. Orang yang pertama kali dilihat Syafa adalah Roni. Pria itu masih menunjukkan sikap hangatnya pada Syafa. Tidak bisa dipungkiri wanita yang saat ini ada di hadapannya memang selalu mempunyai tempat di hati Roni. Meskipun sempat terisi oleh wanita lain. Wanita yang hanya dua bulan menyandang sebagai istrinya. Sayangnya, Melani pergi begitu cepat. Roni kembali sendiri. Dan saat itu Syafa menghubungi Roni kembali karena wanita itu memang menganggap Roni sebagai kakaknya sendiri. Kepada Roni, Syafa mengutarakan keinginannya. Ada beberapa hal penting yang mereka bicarakan. Roni sesekali menyudahi pembicaraan karena pria itu tahu Syafa baru sadar dari masa kritisnya. Tapi Syafa tetap memaksa. Syafa takut tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mengungkapkan semuanya. Hingga obrolan Syafa dan Roni mengarah ke perceraian Syafa.


Tepat di depan ruangan UGD, Afkar berada saat ini. Keinginannya untuk bertemu dengan Syafa semakin besar. Suster jaga memberitahu ada orang lain di dalam sana yang sedang menemani pasien yang baru sadar tadi.


Afkar mengerutkan alis mendengarnya. Ia penasaran siapa yang bersama istrinya saat ini. Beruntung Afkar masih bisa masuk ke dalam karena batas pengunjung yang melihat pasien di ruangan UGD maksimal dua orang tidak lebih. Jadi pria itu bisa tahu istrinya di dalam sana bersama siapa.


Afkar segera masuk ke dalam ruangan. Berganti pakaian khusus yang ada di sana. Ia melihat seorang laki-laki tengah duduk menghadap Syafa. Afkar kenal betul dengan suara laki-laki itu.


‘Roni, untuk apa dia kesini?’


Batin Afkar, ia menghentikan langkahnya dan memilih berdiri tak jauh dari tempat Roni dan Syafa saat ini. Keduanya sama sekali tidak menyadari keberadaan Afkar. Sejenak Afkar terdiam. Awalnya ingin keluar dari ruangan itu karena tidak mau mengganggu kebersamaan Roni dan Syafa. Keduanya memang dekat dari dulu. Tapi saat mendengar kata cerai membuat Afkar enggan pergi dari sana. Ia menajamkan pendengarannya saat Syafa berkata serius pada Roni.


“Kita bicarakan ini nanti, Fa. Kamu masih belum pulih. Kalau kondisimu sudah membaik, InsyaAllah Mas akan urus tapi tidak untuk sekarang ini,” balas Roni. “Sekarang lebih baik kamu istirahat!” Roni mengusap pelan pucuk kepala Syafa yang tertutup perban.


Syafa mengangguk lemah. “Kalau Mas Roni bertemu dengan Yara di depan tolong sampaikan aku ingin berbicara dengannya,” pinta Syafa.


“Nanti aku sampaikan.”


Roni hendak beranjak dari duduknya. Tapi Syafa mencegah. “Tunggu di sini sebentar lagi, Mas. Sampai aku terpejam,” pinta Syafa manja. Sikap wanita itu terlihat manja pada pria yang ada di hadapannya ini. Mereka memang seperti kakak adik dari dulu.


Afkar yang mendengar penuturan Syafa merasa lemas. Tubuhnya bersandar pada tembok di balik dinding penyekat dalam ruangan itu.


‘Sekeras itu keinginanmu untuk bercerai denganku, Fa.” Afkar memejamkan matanya. Merasakan sesak yang menghimpit dadanya. Meskipun belu ikhlas tapi Afkar harus mengambil keputusan. Percuma jika terus menginginkan bersama kalau harus berjuang satu pihak. Memang dari awal pernikahannya dengan Syafa sudah salah. Afkar tidak bisa meneruskannya lagi. Akhirnya Afkar menerima semua keinginan Syafa. Lumayan lama pria itu berdiri di sana. Hingga suara Roni membuyarkan lamunannya.


“Masuklah! Kamu ingin melihat keadaan Syafa ‘kan?” ucap Roni.

__ADS_1


“Bisa saja Syafa tidak ingin bertemu denganku,” sahut Afkar.


“Dia sudah tidur. Kamu bisa melihatnya tanpa bicara apapun.”


Afkar menegakkan tubuhnya. Pandangannya beralih menatap Syafa. Ternyata benar, Syafa tengah beristirahat.


“Aku hanya ingin melihatnya sebentar saja,” ucap Afkar.


“Silakan! Aku tidak akan mengganggu kalian.” Roni pun berlalu dari hadapan Afkar.


Perlahan Afkar berjalan mendekati Syafa. Hati Afkae begitu teriris melihat keadaan Syafa sekarang ini. Tangannya terulur hendak menyentuh pipi Syafa. Tapi ia tarik kembali, takut sentuhannya membuat Syafa terganggu.


Afkar memilih duduk di bangku yang tadi diduduki oleh Roni. Cukup lama Afkar terdiam sambil terus memperhatikan Syafa. Hingga akhirnya Afkar angkat bicara.


“Kamu tahu, Sayang. Aku berniat menunggumu di rumah sakit ini selama kamu dalam masa pemulihan. Tapi ternyata kehadiranku sama sekali tidak di harapkan.” Afkar tersenyum miris. “Sampai kamu ingin segera mengakhiri pernikahan kita.” Afkar berbicara dengan suara pelan. Meskipun Syafa memejamkan mata, Tapi Afkar harap apa yang ia ucapkan bisa didengar oleh wanita itu. “Ngomong -ngomong, masih boleh ‘kan aku memanggilmu sayang?” canda Afkar dengan kekehan kecilnya. Afkar kembali berucap, “Aku paham dan sangat mengerti kondisi kita saat ini. Situasi dan keadaan yang memang salah mengharuskan kamu mengambil keputusan ini. Memang berat untuk memutuskan, aku pun sama, Sayang. Aku sayang kamu dan juga Yara. Kalian dua wanita yang pernah mengisi kehidupanku. Dan kamu benar mencintai bukan berarti harus memiliki. Semoga nanti kamu mendapat pendamping yang lebih bbaik Sayang.” Afkar memejamkan matanya sesaat. Kemudian membuka kelopak matanya lagi. Helaan napas terdengar dari bibir Afkar. “Syafa Aileen Wirawan, mulai hari ini aku talak kamu, kita bukan suami istri lagi,” lirih Afkar. Pria itu menundukkan kepala usai berbicara. “Ini ‘kan yang kamu inginkan? Kamu dan aku sudah bukan suami istri lagi. Aku tunggu gugatan cerai darimu, Fa.” Pria itu berdiri duduknya. Kemudian sedikit membungkukkan badan untuk mencium kening Syafa untuk terakhir kalinya. Bibir itu lama berada di dahi Yara. Setelah puas, Afkar langsung berbalik badan meninggalkan Syafa.


‘Aku tahu kamu tidak benar-benar tertidur, Fa. Kamu pasti dengar apa yang aku bicarakan. Aku kabulkan Keinginan mu secara agama. Saat ini kita bukan lagi suami istri.’


Afkar melangkah pergi meninggalkan Syafa.


Di atas brankar, Syafa meneteskan air matanya. Benar kata Afkar, ia tidak benar-benar tertidur saat itu. Syafa mendengarkan semua ucapan yang lolos dari bibir Afkar.


Syafa menutup mulutnya sendiri. Tangisnya pecah saat itu. “Maafkan aku, Mas. Di saat terakhir kamu mengucapakan talak pun aku tak mampu melihat wajahmu. Karena hal itu semakin membuatku berat untuk melepasmu. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku selama ini. Aku juga sayang kamu dan Yara. Maaf kalau aku lebih memilih Yara, adikku dibanding mempertahankan rumah tangga kita. Aku juga berharap kamu mendapat wanita yang lebih baik dariku,” lirih Syafa sesegukan dengan isak tangisnya.


.


.


.


To be continued


Saat seseorang bersikeras untuk mempertahankan, jalan menuju kebersamaan semakin jauh. Semua itu tetaplah takdir yang menentukan.

__ADS_1


Mencintai seseorang bukan berarti harus memilikinya. Tapi merelakan dan berharap orang yang kita cintai bisa bahagia dengan orang lain adalah cara terbaik dalam mencintai orang itu.


__ADS_2