
...Jangan lupa Bintang untuk karyaku ini ya 🌟🌟🌟🌟🌟...
🌱🌱🌱
Di sudut taman, Seorang anak kecil sedang menangis sendirian. Anak kecil itu tidak tahu dimana dia berada saat ini.
"Mamih ... Bunda ... Dhiya takut!" ucap anak kecil itu sambil memeluk tas sekolahnya di sudut taman tepatnya di bawah pohon besar yang ada di taman kecil di pinggir jalan pertokoan.
Seorang wanita yang umurnya sudah tidak muda lagi tapi tetap terlihat cantik sedang berjalan sambil membawa dua buket bunga indah di tangannya. Wanita itu berjalan melewati taman kecil yang ada di seberang toko.
"Acaranya belum selesai 'kan. Aku harus segera menyusul ke gedung itu. pasti acara pembukaan butik itu meriah dan ramai. Aah ... Aku tidak sabar ingin melihat dan segera memberikan buket-buket bunga ini pada mereka. Satu untuk sahabatku dan satu lagi untuk calon menantuku," gumam wanita itu sambil terus berjalan menuju mobilnya. "Kenapa papa jauh sekali, parkir mobilnya? Ah, panas lagi!" gerutu wanita itu. Ketika berjalan cepat tiba-tiba saja wanita itu memperlambat langkahnya saat mendengar sesuatu di balik pohon besar yang tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang ini.
Mama Anggi memutari pohon besar, ia penasaran dengan suara tangisan di balik pohon itu. Mama Anggi terkejut saat melihat gadis kecil sedang menangis di pojokan pohon itu sambil duduk di tanah sambil memeluk tas sekolahnya.
"Ya ampun, kamu kenapa menangis, Nak! Kenapa kamu ada di sini?" Mama Anggi ikut berjongkok di hadapan anak itu. "Nama kamu siapa?" lanjutnya.
Tapi anak kecil itu malah terlihat ketakutan saat dihampiri oleh Mama Anggi. Dhiya menggelengkan kepala tanpa mau berbicara sepatah katapun pada wanita itu.
"Jangan - jangan anak ini korban penculikan. Sebaiknya aku telepon papa, nyuruh dia kesini buat bantu anak ini!"
Saat Papa Rangga menghampiri Mama Anggi. Mereka berniat untuk membawa anak kecil itu ke kantor polisi. Akan tetapi, Dhiya menangis kencang dan menolaknya.
"Bunda ..." Dhiya terus menangis memanggil bundanya.
"Apa kita bawa dia dulu, Mah!" Ucap Papa Rangga.
"Ikut sama kami, ya, Nak! Jangan takut! kamu tidak akan menyakitimu." Mama Anggi berusaha membujuk Dhiya.
Setelah melihat tangis Dhiya mereda. Papa Rangga langsung meraih tubuh anak itu dan menggendongnya. Membawa Dhiya masuk ke dalam mobilnya.
Kedua orang tua Erza itu sama sekali belum mengenali Dhiya. Anak dari calon menantunya, Yara.
Di tempat lain. Seorang wanita cantik tersenyum lebar di atas panggung. Saat ia mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari para tamu undangan yang hadir. Rancangan gaun dan beberapa pakaian sederhana hasil dari rancangan berhasil membuat para tamu terpukau. Gaun dan pakaian sederhana tapi terlihat mewah saat digunakan oleh beberapa model yang berlenggok di atas catwalk.
Pembukaan butik sekaligus peluncuran gaun hasil rancangan Yara sukses terlaksana.
Ucapan selamat pun terucap dari semua tamu undangan kepada Bu Haryani dan Yara.
Erza yang sudah hadir di acara itu pun langsung mendekati Yara dan memberikan sebuket bunga untuk wanita pujaannya itu.
__ADS_1
"Selamat atas semua kerja kerasmu, Sayang!" Ucap Erza sambil menyodorkan buket bunga itu pada Yara.
"Terima kasih, bunganya indah sekali!" balas Yara yang memancarkan senyum kebahagiaan. Kemudian menghirup aroma wangi dari bunga yang diberikan Erza untuknya.
"Sama-sama. Bunga indah untuk wanita istimewa seperti kamu!" Erza kembali menggoda calon istrinya.
Yara tersenyum malu mendengarnya. Wajahnya merona merah saat itu. Yara hanya bisa tertunduk malu. Sebab Erza terus saja memandangi Yara yang hari ini berpenampilan cantik dan anggun tidak seperti biasanya.
Bu Haryani yang ada di samping Yara berdehem saat Erza tak henti memandang Yara. Kemudian menarik Yara agar menjauh dari pria itu.
"Jangan kelamaan dipandang! Kalau sudah halal baru boleh. Buat sekarang dilarang! Jangan main sembunyi-sembunyi kalau mau ketemu!" Sindir Bu Haryani pada Erza yang sudah datang diam-diam ke rumahnya semalam. Hal itu membuat Erza menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa malu kelakuannya semalam diketahui oleh wanita itu. Kemudian kembali bersikap biasa.
"Eh, Tante. Maaf untuk semalam, Tan. Ternyata sulit saat menahan rindu!" cetus Erza. "Oh, ya. Selamat atas pembukaan butik barunya." Erza mengulurkan tangan pada Bu Haryani. Dan disambut oleh baik oleh wanita itu.
"Terima kasih atas ucapannya. Kamu harus sabar! Sebentar lagi juga halal. Rindu itu harus tertunda sebelum indah pada waktunya." Bu Haryani menyauti.
Yara hanya bisa tersenyum dan diam saat Bu Haryani berbicara dengan Erza.
Seketika buket bunga yang dipegang Yara terjatuh bersamaan saat tubuh wanita itu yang tersenggol oleh seseorang.
"Hei ... Pelan-pelan, jalannya!" tegur Erza pada sering wanita yang menabrak Yara. Pria itu lekas berjongkok mengambil buket bunga yang terjatuh.
"Maaf, saya buru-buru sekali. Anak saya kecelakaan sepulang sekolah tadi. Jadi saya harus buru-buru pulang," ucap wanita yang hadir sebagai tamu undangan.
Melihat kepanikan dari wanita itu, seketika Yara teringat pada Dhiya. Perasaannya jadi tak karuan saat memikirkan Dhiya. Sampai Yara melamun memikirkannya.
"Sayang, kenapa melamun?" Tanya Erza.
"Ah, itu ... Aku kepikiran sama Dhiya!" jawab Yara pelan. Mimik wajahnya langsung berubah sedih. Setiap kali mengingat Dhiya.
Erza dan Bu Haryani merasa kasihan mendengarnya. Sebab Afkar sama sekali tidak memberi ijin untuk Yara bertemu dengan putrinya. Yara hanya bisa berkomunikasi dengan Dhiya itupun secara diam-diam oleh Syafa.
"Kamu tenang saja, dua hari lagi kita menikah. Setelah itu, aku akan langsung mengajukan banding soal hak asuh Dhiya. Aku akan perjuangkan itu sebelum kita pindah ke luar negeri!" Erza mengusap lengan pelan Yara.
"Terima kasih, kamu selalu memberiku yang terbaik, Za!"
"Karena aku mencintaimu!"
Yara mengangguk dan tersenyum manis membalasnya.
__ADS_1
"Nikmati hari ini. Jangan bersedih, percaya kalau Dhiya baik-baik saja!" Bu Haryani ikut menimpali.
"Iya, Bu."
Siang ini pun Yara berusaha menghilangkan rasa gelisah di hatinya. Yara mencoba berpikir positif. Meskipun perasaan gelisah dan gundah terus ia rasakan. Entah apa yang akan terjadi.
"Mama kamu, maa, Za?" Tanya Bu Haryani.
Erza mengedarkan pandangannya. "Tadi sih bilang sebentar lagi sampai. Tapi ko, belum kelihatan ya, Tan!"
"Coba, Tante telepon deh!" Bu Haryani mencoba menghubungi Mamah Anggi. "Tante keluar sebentar ya! Di sini, sinyalnya susah."
Yara dan Erza mengangguk bersamaan.
"Duduk, yuk!" Erza mengajak Yara untuk duduk di tempat yang disediakan untuknya. Yara pun mengikuti Erza. Tangannya sama sekali tidak lepas dari genggaman Erza.
"Mau es krim?" Tanya Erza sesaat setelah mereka duduk di kursi yang sudah di sediakan untuknya.
"Memangnya ada?" Tanya Yara.
"Kalau tidak ada, aku tidak akan menawarkannya padamu! Kamu tahu, es krim bisa membuat perasaan jadi lebih tenang," ujar Erza menjelaskan. "Lihat ke sana!" Erza menunjuk stand eskrim yang sedang viral saat ini "Micxue," gumam Yara.
"Ya, kamu harus coba! Mau ya?" desak Erza. Pria itu sangat berharap Yara mau mencoba es krim tersebut. Sebab ada rencana di balik itu semua.
Yara terlihat sedang berpikir. "Boleh deh! Aku mau rasa Stoberi vanilla ya, Za," pinta Yara.
'Yes, akhirnya! Dia mau juga, saatnya rencana dijalankan!' Erza bersorak senang tapi hanya di dalam hatinya.
Senyum lebar Erza berikan sambil berdiri dari duduknya. Pria itu segera berjalan menghampiri stand es krim yang sedang viral itu. Tak lupa, Erza juga mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya. Sebuah kotak berukuran kecil.
"Aku ingin hari ini menjadi hari istimewa buat kamu, Ra!" gumam Erza seraya menatap Yara yang tengah sibuk melihat penampilan beberapa artis ibu kota setelah pemeran busana rancangannya selesai.
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continued.