Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Perlakuan Istimewa


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Yara dan Dhiya sudah siap dan rapi. Hanya saja kedua orang itu masih menunggu seseorang sebelum mereka berangkat. Yara bersyukur, putri kecilnya tidak sulit untuk bangun di pagi hari.


Ceklek...


pintu kamar Syafa terbuka, Afkar baru saja keluar dari sana. Dan di saat yang bersamaan manik mata Yara menangkap pandangan Afkar yang mengarah padanya.


Yara lekas menundukkan kepala. Afkar pun mendekati mereka. Pria itu penasaran melihat keduanya sudah terlihat rapi subuh hari begini.


"Kalian mau ke mana?" Tanya Afkar.


Yara tersenyum miris mendengar panggilan Afkar untuknya. Dulu biasanya pria yang ada di hadapannya ini memanggil dirinya dengan panggilan Ayang atau Ay, kini semua benar-benar berubah. Hanya kepada Syafa, Afkar memanggil sayang.


"Aku dan Dhiya mau ke panti!" Jawab Yara tanpa mau memandang Afkar. Ia tidak mau Afkar melihat matanya yang sedikit sembab karena semalaman menangis. Kehancuran hati yang Yara rasakan ia rasa cukup sampai di sini. Yara tahu, Afkar melakukan itu semua diluar ingatannya. Jika ingatannya tidak hilang, Syafa tidak akan berada di sini. Sebab, Afkar adalah tipe lelaki setia pada satu wanita. Tapi tidak kali ini. Yara memaafkan meski Afkar tidak memintanya.


"Panti?" Tanya Afkar, keningnya mengerut mendengar penuturan Yara.


"Ya, panti asuhan. Rumahku, tempat aku dibesarkan. Asal usulku dari sana. Dan aku bukanlah wanita yang berasal dari keluarga berada. Sehingga posisiku kadang tersisihkan di sini. Oh, ya, bukan kadang tapi selalu." Yara tersenyum miris kemudian membuang pandangannya ke sisi kiri.


Dhiya, putri mereka tengah asik bermain gadget mainan berisi permainan anak-anak, bukan ponsel pastinya. Hadiah yang Yara bawa untuk putrinya. Mainan yang sedang viral saat itu.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" Afkar tidak mengerti dengan ucapan Yara.


"Aku hanya memberi tahu asal usulku padamu, Mas. Kamu tidak mengingat apapun tentangku. Jadi aku hanya ingin memperjelas saja, aku takut kamu menyesal nantinya jika ingat kalau aku tidak sebanding dengan Syafa."


"Maksudmu?" Afkar semakin tidak mengerti.


"Sudahlah, Mas. Jangan dipikirkan nanti malah kepalamu pusing lagi kalau terlalu banyak berpikir." Yara membuang napas kasar kemudian mendongak menatap Afkar.

__ADS_1


"Aku dan Dhiya hanya menunggu untuk ijin padamu, karena aku tak biasa jika pergi tanpa ijin dari suamiku."


"Biar aku antar."


"Tidak usah, lebih baik kamu membersihkan diri dulu. Waktu subuh sebentar lagi usai. Aku dan Dhiya biasa pergi berdua."


Afkar langsung menatap Yara penuh tanya.


'Apa dia tahu semalam aku habis berhubungan dengan Syafa. Ah, aku lupa ini rumah kampung. Tidak mungkin ada penyadap suara. Apa karena hal itu dia berbicara ketus seperti ini, ya pasti karena itu. Aku ingat ucapan dia waktu itu, kalau lelaki yang baik adalah lelaki yang bisa menepati ucapannya. Aku melanggarnya, semalam aku mengambil keputusan untuk tidak bersama diantara kedua istriku. Tapi aku tidak tega melihat Syafa ketakutan. Tapi kenapa perasaan ini sedih melihat Yara seperti ini. Rasanya ingin menarik dia dalam pelukanku'


Batin Afkar sambil menatap dalam manik mata Yara.


Yara lekas menunduk karena terus diamati seperti itu oleh Afkar. Ia lekas meraih tangan suaminya dan menyalaminya.


"Aku pamit, Mas!" Ucap Yara kemudian berbalik badan melangkah mendekati Dhiya.


"Dhiya, pamit dulu sama ayah!" Titah Yara.


"Ndak mau, ayah beda, dede takut," ucap Dhiya.


"Jangan seperti itu, bunda tidak suka!" Yara memperingatkan Dhiya hanya dengan tatapan saja Yara menyampaikan kalau sikapnya itu tidak baik.


"Iya bunda." Dhiya langsung turun dari sofa kemudian menyerahkan mainan kepada bundanya. Kemudian menghampiri Afkar lalu menyalaminya.


Afkar berjongkok mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Dhiya.


"Kamu tidak mau aku antar?" Tanya Afkar pada Dhiya.

__ADS_1


Gadis kecil itu langsung menoleh pada Yara. Kemudian ikut menggelengkan kepala setelah melihat bundanya.


"Kami takut padaku?" Afkar kembali bertanya.


Tak ada jawaban dari Dhiya.


"Maafkan aku jika sikapku membuatmu takut! Sungguh aku tidak tahu bagaiman sikapku dulu terhadapmu, Dhiya. Maafkan jika ayah salah bersikap." Afkar berbicara dengan lembut pada Dhiya dan menyebut dirinya sendiri ayah pada gadis itu.


Dhiya diam sambil menatap Afkar. Tiba-tiba gadis kecil itu menghambur dalam pelukan ayahnya.


"Dede kangen ayah. "Bisik Dhiya sambil menangis ketika memeluk afkar.


Yara tidak kuasa melihat itu. Ia ikut menangis. Dari kemarin sepertinya Dhiya ingin memeluk dan dekat dengan ayahnya. Hanya saja, sikap Afkar yang dingin seakan memberi benteng dan jarak terhadap Dhiya hingga gadis itu takut kepadanya.


Suara Isak tangis dari Dhiya membuat Mira dan Bu Nuri terbangun.


"Ada apa ini? Dhiya kenapa menangis? Aku apakah dia, Yara?" Tanpa banyak basa basi Bu Nuri langsung bertanya ada Yara.


"Yara sedang kangen sama ayahnya, Bu!"


"Pagi-pagi bikin rusuh saja. Apa Syafa sudah bangun, Kar?" Tanya Bu Nuri pada Afkar.


"Belum, Bu. Dia masih tidur. semalam dia tidak bisa tidur," ujar Afkar.


"Dia pasti tidak terbiasa dengan kamar di sini, tidak ada AC nya. Nanti ibu pasang di kamar itu agar setiap pulang ke rumah ini dia merasa betah." Ucapan Bu Nuri membuat perasan Yara makin merasa terbedakan. Baru sehari di rumah ni saja perlakuan istimewa sudah terlihat dari Bu Nuri. Apalagi nanti, Yara sudah menebak bagaimana sikap Bu Nuri selanjutnya karena mendapatkan menantu idaman seperti Syafa. Dari kalangan berada, banyak uang dan bisa dibanggakan saat ia cerita kepada para tetangga.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2