Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Ikhlas Ku Melepasmu, Untuk Selamanya


__ADS_3

Syafa meletakkan surat yang sudah usang itu di dadanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Menyesali semua yang pernah ia lakukan kepada Yara. Sempat meminta Afkar untuk menjauhi wanita itu. Saat Yara masih berstatus sebagai istrinya.


Setelah merasa lebih baik, Syafa segera bergegas menyusul Afkar suaminya. Ia ingin tahu perkembangan soal persidangan Afkar dan Yara.


Syafa jalan dengan tergesa menuju kamarnya. Wanita itu mengambil tas dan meraih kunci mobil pribadinya di atas nakas. Ia berniat menyetir kendaraan sendiri. Padahal selama kehamilannya Syafa tidak pernah melakukannya seorang diri. Sebab Afkar tidak mengijinkannya.


"Nyonya mau kemana?" Tanya salah seorang pembantu rumah tangganya.


"Bi, tolong jaga, bapak! Saya ada perlu sebentar!" Sahut Syafa sambil berjalan pelan menuju pintu keluar.


"Tapi, Nyonya. Tuan Afkar tidak mengijinkan Anda pergi sendiri!" pembantu rumah tangga itu berusaha mencegah Syafa pergi.


Tapi sayang Syafa tidak peduli. Baginya ini adalah masalah penting.


Syafa pun pergi sendiri mengendarai mobil dalam keadaan hamil.


Di pengadilan agama. Dua orang masih berdebat dalam satu ruangan. Yara menjadi wanita yang berbeda. Dia berulang kali melawan Afkar. Sedikitpun ia tidak takut saat Afkar berkata kasar dengan suara tinggi kepadanya.


"Aku tidak akan pernah melepaskan kamu, Ra!" Afkar bersikeras dengan pendiriannya.


Yara tersenyum kecut mendengarnya.


"Tapi kenyataannya sekarang kita sudah bukan suami istri lagi, Mas. Dalam agama kita sudah bercerai hanya dalam negara kita belum mempunyai status yang jelas,' sahut Yara dengan berani.


"Kamu berbicara seperti itu karena saat ini ingin sekali berpisah denganku, bukan? Agar kamu bisa leluasa bersama lelaki itu!" Afkar berdiri dari duduknya dan mendekati Yara.


"Kamu selalu berpikir buruk tentang aku, Mas."


"Memang kenyataanya seperti itu?" Afkar meletakkan kedua tangan di atas meja tepat di hadapan Yara sambil membentak dan menatap tajam wanita itu.


Yara balas menatap Afkar, tatapannya tak kalah tajam dari pria itu. "Terserah apa katamu, Mas. Penilaian dirimu kepadaku selalu buruk sama seperti ibumu!" Yara berbicara seakan menantang Afkar.


"Jangan pernah membawa ibuku! Heh ... Aku heran, kenapa kalian selalu berbeda ucapan? Jangan mentang-mentang aku hilang ingatan kalian bisa mempermainkan aku!" Sentak Afkar.


Suasana ruang mediasi semakin panas. Afkar masih keras kepala. Ia menginginkan perdamaian tapi ucapan yang pria itu lontarkan kepada Yara selalu menyakitinya.


Yara berdiri dari duduknya. Wanita itu berdiri mendekati Afkar. Yara memasang badan menghadapi pria itu.


"Kamu tanyakan pada hatimu sendiri, Mas. Siapakah diantara ibu dan aku yang pandai berbohong. Aku tidak mau mengungkapkan semua prilaku jelek dari ibu terhadapku selama ini. Kamu yang dulu paham akan hal ini. Tapi aku rasa, Mas Afkar yang sekarang sulit untuk meraba kebenaran yang terjadi. Di matamu, aku selalu salah. Dan rasanya saat ini percuma kita melakukan mediasi. Keputusanku sudah bulat. Kamu yang memulai kamu juga yang harus mengakhirinya, Mas. Jangan mempersulit keadaan." Yara dengan berani berbicara dengan tenang sambil menatap wajah Afkar. Tidak ada rasa takut sama sekali.


Benar kata Bu Haryani, Yara yang sekarang bukanlah Yara yang lemah seperti dulu. Nyali dan keberaniannya telah di uji oleh wanita itu. Bu Haryani yakin kalau Yara bisa sukses di masa mendatang.


Afkar terdiam mendengar semua ucapan Yara. Manik mata mereka saling bertemu. Yara melihat ada keraguan di sorot mata Afkar. Pria itu terlihat belum yakin dengan keputusannya. Pria itu masih bimbang. Tapi sikap egois, tidak mau mengalah dan tidak mau dikalahkan menguasai diri pria itu. Afkar menarik tubuh Yara, sampai tubuh mereka berdua tidak berjarak. Yara pun memberontak tapi tenaga Afkar lebih kuat daripada dirinya.


"Kamu yakin akan berpisah dariku? Kamu ingat, hak asuh Dhiya akan ada di tanganku. Kamu masih bisa bersama dengan putri kita kalau kamu mau kembali lagi padaku!" Afkar menegaskan.


"Jangan bawa-bawa Dhiya untuk mengancam ku, Mas!" Yara tersentak dengan bola mata yang membulat saat mendengar nama putrinya disebut. Wanita itu juga semakin menantang Afkar.


Afkar menarik satu sudut bibirnya melihat Yara terbawa emosi. Pria itu semakin mendekat. Melihat itu, Yara sedikit memundurkan wajahnya.


"Makanya, lebih baik kita berdamai dan kembalilah padaku! Aku janji akan selalu bersikap adil pada kedua istriku nanti, Aku yakin kamu masih mencintaiku, Ra," bisik Afkar membuat tubuh Yara meremang karena hembusan napas Afkar terasa begitu dekat.


Yara dengan cepat mendorong tubuh Afkar yang hampir retak berjarak itu. Membuat tubuh Afkar sedikit terhuyung. Pria itu malah tersenyum mendapat penolakan dari Yara. Afkar malah semakin tidak rela jika berpisah dari Yara.


"Kamu egois, Mas! Dan satu hal lagi, Aku akan maju dan memperjuangkan hak asuh Dhiya. Kamu ingat itu, Mas!" Ucap Yara tegas.

__ADS_1


Afkar menyeringai mendapat ancaman dari Yara.


"Aku rasa mediasi ini selesai sampai di sini. Hakim ketua tidak perlu memperpanjang persidangan ini." Yara berusaha bersikap tenang di hadapan Afkar. Kemudian melangkah meninggalkan Afkar yang sendiri di sana.


Afkar sudah menduga keputusan apa yang akan diambil wanita itu. Setelah Yara pergi, tubuh gagah dan kekar itu tiba-tiba saja runtuh di atas bangku.


"Aku tidak bisa melepas mu, Ra! Hati ini rasanya sakit. Tapi kenapa aku enggan untuk bersikap lemah di depanmu! Aku ingin kamu menurut padaku, seperti dulu saat kita masih bersama." Afkar tidak sadar dengan ucapannya sendiri. Secara alami ruang bawah sadarnya perlahan kembali. Pria itu memejamkan mata. Sekelebat bayangan senyum dan keceriaan dari wanita yang saat ini membenci dirinya hadir tiba-tiba.


Afkar memegang keningnya sendiri sambil memejamkan mata menikmati bayangan yang singgah tak begitu lama itu.


"Permisi, Tuan! Anda sudah di tunggu oleh ketua hakim di ruang persidangan," ucap seorang pria menyadarkan Afkar dari lamunannya.


"Ah, Ya. Saya aka segera ke sana," Balas Afkar.


Dengan langkah gontai Afkar kembali ke ruang persidangan. Melihat Afkar kembali, Yara sama sekali tidak menoleh ke arah pria itu. Wanita itu fokus mendengarkan keputusan ketua hakim atas permintaannya.


Saat ini keduanya duduk bersisian di bangku yang berbeda. Keduanya mendengarkan keputusan yang di bacakan.


Dalam tuntutannya, Yara sama sekali tidak meminta apapun selain hak asuh Dhiya. Tapi sayangnya ketua hakim menunda keinginan Yara. Hak asuh sementara masih berada di tangan Afkar karena keadaan Yara yang masih sendiri di banding dengan Afkar. Hak asuh bisa di gugat kembali saat Yara sudah berumah tangga. Atau dengan musyawarah secara kekeluargaan antara kedua belah pihak.


Ketukan palu akhirnya terdengar. Ketua hakim memutuskan Yara dan Afkar sudah resmi bercerai.


Mendengar itu, Yara langsung tertunduk sambil memejamkan mata. Wanita itu tidak menyangka semua ini akan terjadi dalam biduk rumah tangganya. Bohong jika saat ini Yara tidak sedih. Bagaimanapun kata cerai begitu menyakitkan baginya. Tapi rasa kecewa terlampau besar ia rasakan.


Berbeda dengan Yara. Afkar langsung beranjak dari ruang persidangan. setelah memberi salam dan berterima kasih kepada ketua hakim, pria itu melangkah keluar ruangan. Tanpa sepatah kata ataupun salam perpisahan kepada Yara.


Wanita itu menyadari kepergian Afkar tapi Yara lebih memilih tidak peduli. Sekelebat bayangan kebersamaan dan ucapan manis Afkar kembali muncul saat itu.


'Kenapa semua jadi seperti ini, Mas? Entah mengapa rasa cinta yang begitu besar aku rasakan padamu, berubah menjadi rasa kecewa dan benci seketika. Kamu benar-benar menjadi orang lain. Keegoisan dan ambisimu terlalu besar saat ini. Sampai merubah semua sikap baikmu.'


"Ra ...." Panggil Bu Haryani sambil memegangi pundak Yara yang masih tertunduk sedih. "Kamu baik-baik saja?" Tanyanya kemudian.


Yara menghela napas berat lalu mendongak menatap Bu Haryani.


"Aku baik-baik saja, Bu!" balas Yara sambil beranjak dari duduknya. Wanita itu berusaha menutupi kesedihannya.


Bu Haryani tersenyum lembut. "Ikhlaskan semuanya, yakinlah ini adalah keputusan terbaik yang kamu ambil," ucap Bu Haryani meyakinkan Yara.


Yara mengangguk pelan. Tapi tidak bisa dipungkiri hatinya terasa tersayat, menerima kenyataan yang terjadi dalam kehidupannya saat ini. Perih, sakit, kecewa, semua ia rasakan. Tak kuasa menahan sedih. Yara menghamburkan tubuhnya pada Bu Haryani. Wanita berumur itu menyambutnya dengan hangat. Tumpah sudah tangis Yara saat itu.


Kuat, tegar, sedari tadi Yara menunjukkan sikap itu dan menahan tangisnya di depan Afkar. Tapi tidak bisa dipungkiri dia adalah seorang wanita dan seorang ibu yang lemah dan gampang menangis saat hatinya tersakiti.


"Menangislah, jika itu membuat hatimu merasa lega," ucap Bu Haryani.


Dan di saat bersamaan semua orang yang hadir di ruang persidangan perlahan keluar dari sana. Mereka hanya pamit pada Bu Haryani tanpa bersuara termasuk ketua hakim yang sudah memberikan keputusan mutlak 'Cerai' dalam persidangan Yara dan Afkar.


Yara kembali mengangguk pelan disela pelukannya.


'Aku ikhlas ... Aku ikhlas melepasmu, Mas, *u*ntuk selamanya.'


Batin Yara.


...🌱🌱🌱...


Sebuah mobil keluar dari area parkir gedung Pengadilan Agama dengan kecepatan penuh. pengemudi mobil tersebut sama sekali tidak memikirkan keselamatan dirinya.

__ADS_1


Keegoisan dan ambisi telah membuat pria itu kehilangan seseorang. Meskipun belum terlihat jelas semua kenangan yang hilang dalam ingatannya. Tapi perasaan perih dan sakit ia rasakan.


Wussshhh ....


Mobil mewahnya melesat cepat dan hampir saja menyerempet pedangan asongan yang sedang memanggul dagangannya.


Brukkk....


Meskipun tidak kena, barang dagangan itu tetap saja jatuh karena si pedagang asongan terkejut dengan mobil yang melesat cepat di sisinya.


"Woyy ... Bawa mobil jangan ngebut! Kayak jalanan milik sendiri aja loh!" Maki seorang pemuda yang langsung membantu pria paruh baya yang berada tepat di sisinya. Sebab barang dagangan pria paruh baya itu sebagian jatuh berserakan saking terkejutnya hampir terserempet.


"Yah ... Barang dagangan saya jadi rusak!" sesal pedagang asongan yang umurnya sudah terbilang sepuh sambil menatap sedih dagangan miliknya.


"Pak, maaf. Saya tidak bisa membantu, saya sedang buru-buru."


"Iya, tidak apa. Terima kasih sudah membantu bapak!"


"Iya, Pak." Pemuda itu segera berlalu dari sana.


Di saat bersamaan mobil mewah lain memasuki area parkir gedung Pengadilan Agama tersebut. Seorang wanita cantik dalam keadaan hamil turun dari mobil itu. Ia merasa kasihan melihat kondisi pedagang asongan itu.


"Apa yang terjadi, Pak?" Tanya Syafa sambil ikut berjongkok menantu pedagang asongan itu memunguti dagangannya.


"Itu ada orang bawa mobil ngebut banget, Neng. mana pas belokan gini. Ck ... Nggak mikir kalau apa yang ia lakukan itu berbahaya." Pedagang asongan itu menggelengkan kepalanya.


Barang dagangan yang hanya jatuh separuh itu selesai dirapihkan. Syafa lekas berdiri dan memberi sedikit uang pada orang itu.


"Loh, Neng. Kenapa jadi si Neng yang ngasih uang? Saya yang seharusnya berterima kasih sudah di bantu merapikan barang dagangan ini!" Ucap Pedagang asongan itu seraya menolak uang yang di sodorkan kepadanya.


"Tolong terima, Pak! Anggap saja saya yang menyerempet bapak tadi! Tapi doakan saya agar semua permasalah yang saya hadapi saat ini bisa terselesaikan dengan baik," balas Syafa sambil kembali memberikan uang itu pada pedagang asongan yang umurnya sudah sepuh itu.


Ya, wanita itu adalah Syafa. Ia seorang diri datang ke tempat itu. Syafa ingin memberitahukan kebenaran yang ia ketahui hari ini.


Sebelum pergi ke Pengadilan Agama. Syafa juga sudah menghubungi Papa Rio sebelumnya. Syafa mengungkapkan apa yang ia ketahui hari ini pada Beliau. Papa Rio merasa sangat terkejut. Padahal pria tua itu berencana untuk mengungkap semuanya esok hari. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Semuanya harus terungkap saat ini juga.


.


.


.


.


To Be continued.


Maafkan kemari author tidak up.


Hari ini aku ganti dengan bab yang panjang. Seharusnya ini 2 bab tapi aku satukan jadi 2 bab sekalian.


Oh, ya mampir ke karya temanku yuk. kisahnya seru loh.



.

__ADS_1


.


__ADS_2