
Satu jam lebih waktu yang di tempuh dari Bandara Milan menuju bandara Zurich pun telah terlewati. Di tambah satu jam perjalanan menuju tempat tinggalnya di negara itu.
Erza, Yara serta Dhiya tiba di rumah sekitar pukul satu siang. Di depan rumahnya, Mereka sudah disambut oleh Windi dan kedua orang tuanya. Teman bermain Dhiya itu terlihat tidak sabar menunggu Dhiya sampai di rumah. Mau tidak mau Yara harus menyapa kedua orang tua Dinda dan berbincang meski hanya sesaat. Jangan ditanya soal Dhiya dan Windi. Dua anak gadis itu langsung beraliran menuju kamarnya. Sebab Dhiya membawakan sesuatu untuk sahabat nya itu. Sedangkan Erza setelah bersapa dengan kedua orang tua Windi. Pria itu bergegas masuk ke dalam rumah. Diikuti Yara yang juga pamit pada mereka. Dan sesampainya di kamar, Erza bergerak cepat untuk membersihkan diri kemudian bersiap untuk pergi lagi.
“Kamu mau langsung ke kantor, Mas?” tanya Yara heran saat melihat sang suami sudah rapi dengan kemeja kerjanya. Padahal Yara saja masih merebahkan tubuhnya karena pegal.
“Aku hanya sebentar, Sayang. Mau mengatur ulang apa yang di kerjakan Leon,” ujar Erza. Pria itu bersiap seorang diri bahkan memakai dasinya pun sendiri meskipun sedikit kesulitan.
“Apa tidak bisa ditunda besok, Mas?” tanya Yara. Melihat suaminya kesulitan saat memakai dasi. Yara lekas berdiri dan segera membantu Erza memakai dasinya karena selama ini apapun dilakukan dari tangan Yara. Bahkan saat memakai kemeja pun Yara membantu Erza. Bukan tidak bisa tapi itu sudah menjadi kebiasaan Yara.
Setelah tapi, Erza langsung mencium pucuk kepala istrinya. “Aku berangkat dulu,” ucap Erza.
Yara menganggukkan kepalanya pelan. “Mau aku antarkan makanan?” tanya Yara.
“Tidak perlu, kamu harus istirahat.” Erza sedikit menunduk untuk mencium perut buncit Yara. “Papa pergi dulu, Ya. Jaga bunda!” ucap Erza seakan berbicara dengan bayi yang ada dalam kandungan Yara.
“Hati-hati, Mas. Kabari aku kalau kamu sudah sampai kantor.”
Erza kembali berdiri kemudian memberikan anggukan pelan. “Aku temui Dhiya dulu!” ujar Erza.
“Aku antar, Mas.”
Erza mengangguk lalu merangkul pundak Yara. Mereka berdua berjalan menuju kamar Dhiya.
Tawa renyah terdengar dari kamar anak itu. Yara tersenyum melihatnya. Begitu juga dengan Erza, pria itu tidak tega mengganggu keasyikan anaknya itu. Saat Yara hendak masuk ke dalam kamar Dhiya, Erza menahannya kemudian menggelengkan kepala. “Tidak usah diganggu, Sayang. Mereka sedang asyik bermain. Aku langsung berangkat saja,” ujar Erza. Yara pun menyetujuinya sebab wanita itu pun tidak tega mengganggu Dhiya.
Lambaian tangan dari Yara menandakan kalau Erza telah beranjak dari rumah itu.
Di tempat lain.
Seorang wanita tersenyum senang saat mendapati kabar dari Erza. Pria yang sudah lama ditunggu-tunggu itu akhirnya memberi kabar padanya.
“Akhirnya kita akan bertemu lagi, Pak Erza,” seringai licik terpancar dari wajah Andrea. Wanita itu langsung bersiap mengambil tas mewahnya dan bergegas menuju tempat pertemuan mereka.
Alis Erza mengerti saat melihat hasil kerja Leon. Tidak ada yang salah sama sekali. Menurut Erza hanya ada beberapa yang salah. Gelengan kepala pun Erza berikan.
__ADS_1
“Dia main-main denganku,” Erza menutup file yang Leon tunjukkan padanya kemudian merubah beberapa lampiran yang salah itu.
“Apa kamu sudah membuat janji dengan wanita itu?” tanya Erza.
“Sudah, Pak,” jawab Leon.
“Bagus, aku ingin pekerjaan ini cepat selesai. Jika dia masih mempersulit dan enggan menerima apa yang aku rancang. Batalkan saja kerja sama dengan wanita itu. Kemudian hubungi Pak Dimar,” titah Erza tegas pada Leon. Pria itu tidak mau ambil pusing soal pekerjaannya yang satu ini.
“Siap, Pak.”
Usai mengambil kembali file yang sudah diperbaiki, Leon berlalu dari hadapan Erza.
“Gila, dia kira gue nggak tahu apa maksud dari wanita itu.” Erza menggelengkan kepalanya kemudian meraih ponsel yang ada di depan hadapannya. Pria itu berniat menghubungi Yara. Istri tercintanya. Mengabari kalau Erza akan pulang terlambat hari ini.
Di Indonesia.
Rumah yang beberapa hari hangat karena adanya Yara dan keponakan tercintanya terasa sepi hari ini. Syafa terdiam seorang diri di ruang keluarga. Kesunyian dan kesendirian semakin ia rasakan malam itu. Kenangan kebersamaan yang bahagia bersama papa dan adik kandungnya serta keponakannya terlintas dalam bayangan Syafa saat dirinya duduk seorang diri.
“Baru dua hari berpisah aku sudah rindu kamu, Ra.” Syafa memandang foto keluarga yang dicetak dadakan itu. Bahkan dalam foto Dhiya dan Syafa masih menggunakan perban ditubuh yang terdapat luka. “Di sini sepi, mana besok sidang cerai pertamaku dengan Mas Afkar,” keluh Syafa. Hatinya semakin sedih kala harus menghadapi sidang perceraiannya esok hari.
“Assalamualaikum,” ucap Bi Tum yang baru saja kembali dari pengajian rutin bersama ibu-ibu kompleks.
“Bibi dari mana?” tanya Syafa.
“Dari pengajian rutin di majlis ta’lim, Non. Maaf tadi pas bibi berangkat Non Syafa sedang tidur jadi bibi langsung pergi. Tapi makan malam sudah bibi siapkan di ruang makan,” ucap Bu Tum sambil menundukkan kepala. Merasa takut kalau Syafa marah kepadanya karena keluar tanpa ijin dari tuan rumah.
Syafa tersenyum melihatnya. “Tidak apa, Bik. Tidak perlu sungkan seperti itu. Bibi sudah bekerja dengan baik di sini. Eum, pengajian yang bibi ikuti apa ada wanita seumuran denganku?” tanya Syafa ragu. Sebab ia pernah berkeinginan untuk ikut pengajian dengan Bi Tum hanya saja Syafa malu karena ilmu agamanya yang masih kurang.
“Banyak, Non. Anaknya Bu Saidah yang rumahnya di ujung jalan sana juga ikut pengajian. Karena bibi sudah tua, bibi ingin lebih dekat sama Sang Pencipta. Jadi ikut pengajian ini membuat hati merasa tenang. Kita tidak tahu kapan nyawa ini masih bernapas atau bisa saja esok bibi sudah tidak bernyawa lagi,” ujar Bi Tum membuat Syafa menggelengkan kepala.
“Jangan, bibi pasti sehat panjang umur. Biar bisa nemenin aku di sini!” ucap Syafa sedih sembari memeluk tubuh wanita tua itu.
Bi Tum membalas dengan mengusap lengan Syafa. “InsyaAllah, bibi akan selalu menemani Non Syafa di sini,” balas Bi Tum yang berusaha menenangkan Syafa.
‘Kasihan sekali Non Syafa. Padahal Kebahagiaan berkumpul dengan keluarganya baru dirasakan sesaat. Tuan Rio harus meninggal dunia, Non Yara juga tidak bisa menemaninya di sini. Dia mempunyai kewajibannya sendiri sebagai seorang istri. Bibi doakan kamu bahagia dengan pria yang tepat, Non.’
__ADS_1
Batin Bi Tum.
Pagi harinya, Syafa telah bersiap untuk pergi ke persidangan yang sudah dijadwalkan. Pengacara yang mendampingi Syafa telah menunggu wanita itu di depan kantor urusan agama.
“Anda sudah siap, Nyonya?” tanya pengacara yang mendampingi Syafa pagi itu.
Syafa menghela napas panjang. “Siap, Pak,” jawab Syafa.
Di saat bersamaan sosok pria yang masih sah menjadi suaminya terkuat berjalan terseok-seok ke arah Syafa.
Tak berani untuk berhadapan dengan Afkar akhirnya Syafa memasuki ruang persidangan lebih dulu.
Afkar tersenyum miris melihat reaksi Syafa saat melihatnya.
‘Aku janji tidak akan mempersulit perceraian kita, Fa. Aku menghargai keputusanmu.’
Batin Afkar saat melihat Syafa jelas-jelas menghindarinya.
“Mas,” panggil Mira. Afkar menoleh pada adik kandungnya itu.
Pagi ini, Afkar ditemani oleh Mira dan Renaldi adik iparnya. Ada jga pengacara yang mendampinginya saat itu. Tidak terlihat kehadiran Bu Nuri di sana. Karena keadaan wanita tua itu dalam kondisi kurang baik.
“Mas yakin mau mengabulkan gugatan cerai dari Mba Syafa. Kalian bisa melakukan mediasi lebih dulu, Mba Yara juga tidak mempermasalahkan jika kalian rujuk lagi ‘kan?” tanya Mira sebelum mereka masuk ke ruang sidang.
“Luka di hati Yara akan terus terkorek jika aku dan Syafa bersikeras untuk kembali. Kamu akan merasakan hal itu jika berada di posisi Yara,” balas Afkar.
Mira langsung diam tak menjawab. Memang benar apa yang diucapkan kakaknya itu. Hanya saja Mira menyayangkan sepasang suami istri itu harus berpisah karena sebuah kesalahan.
Afkar kembali melangkahkan kakinya tapi seketika langkahnya terhenti kembali. Ingatan saat bercerai dengan Yara muncul dalam benaknya. Rasa nyeri di hati kembali terasa. Dua kali harus merasakan berada di ruang persidangan.
“Bismillahirrahmanirrahim, semoga keputusan ku ini benar ya Allah. Ampuni aku yang belum bisa menjadi suami yang baik untuk istriku,” gumam Afkar pelan.
.
.
__ADS_1
.
to be continued