Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Tidak Bisa Diselamatkan


__ADS_3

Dua pemuda yang menghampiri Syafa. Kemudian berhasil mengambil ponsel dan tas milik wanita itu. Kejadian perampokan itu begitu cepat. Dan terjadi bukan di tempat sepi.


"Woi, rampok lu ya!" Teriak seseorang yang melihat kejadian itu.


"Cabut, Bro. kita udah dapet banyak, nih!" ucap salah seorang pria yang ada di atas motor.


Satu pria yang berhadapan dengan Syafa hendak menaiki motor. Tapi Syafa sedikit melakukan perlawanan. Saat pria itu hendak merebut kalung yang melingkar di lehernya.


"Kalian sudah membawa semua barang berhargaku, tapi jangan kalung ini!" Syafa berusaha menahan perampok itu. Syafa pun sekuat tenaga menahannya.


Brughh....


"Aww ...." Jerit Syafa saat tubuh wanita itu ditendang dan membentur body mobil dengan keras. Yang lebih menyakitkan lagi. Bagian tubuh yang ditendang adalah perut. Sehingga Syafa langsung jauh pingsan tak sadarkan diri. Darah segar mengalir di kaki Syafa.


Dua perampok itu berhasil kabur. Ada beberapa yang mengejar ada juga yang mendekati Syafa.


"Ya ampun ibu hamil korbannya," ucap salah seorang wanita mendekat dan melihat kondisi Syafa. "Dia mengeluarkan banyak darah!" lanjut wanita itu.


"Cepat bawa ke rumah sakit!" Seru yang lain.


"Biar saya yang bawa mobil."


"Saya bantu dia dibelakang," ucap yang lain.


Syafa pun dibawa masuk ke dalam mobilnya sendiri oleh orang yang membantunya. Beruntung mobil yang mengalami kendala itu berfungsi kembali. Jarak dari tempat kejadian ke rumah sakit tidak terlalu jauh. Jadi mereka tidak lama diperjalanan. Sedangkan di rumah sakit Bu Nuri menunggu Syafa dengan perasaan gelisah. Sebab beliau mencoba menelepon menantunya tapi nomernya sudah tidak aktif.


"Kemana Syafa? Kasihan sekali menantuku sedang hamil mengendarai mobil sendiri. Lebih baik aku menunggunya di lobi," gumam Bu Nuri. Sebelumnya wanita berumur itu mendekat ke ruangan UGD, ia ingin melihat keadaan Afkar sebentar. Kebetulan seorang suster keluar dari ruangan itu.


"Suster, permisi! Bagaiman keadaan anak saya Afkar?" Tanya Bu Nuri.


"Oh, pasien yang kecelakaan tadi ya, Bu?"


"Iya suster."


"Sepertinya tadi saya liat sedang tidur. Mungkin efek dari obat yang tadi diberikan usai mendapat tindakan. Ibu bisa ke dalam untuk melihatnya," seru suster itu. "Kalau sudah sadar nanti akan dipindahkan ke ruang perawatan, sekarang dokter masih memantau perkembangannya takutnya terjadi sesuatu karena benturan di kepalanya cukup keras.


"Ah, biarkan saja, Sus. Saya mau keluar sebentar. Nanti saya balik lagi."


"Silakan, Bu!"


Bu Nuri berlalu dari ruangan UGD. Wanita itu melangkah menuju lobi rumah sakit menungggu Syafa datang.


Hampir setengah jam berlalu tapi Syafa tidak kunjung datang. Bu Nuri beberapa kali duduk dan berdiri menunggu kehadiran menantunya. Tetap saja tidak melihat kedatangan Syafa.


Manik mata Bu Nuri menangkap keramaian di depan rumah sakit. Satpam dan beberapa suster membantu menurunkan seseorang dari mobil yang dikenalinya.


"Itu 'kan mobil Syafa, kenapa dikerubungi seperti itu? Apa yang terjadi?" Bu Nuri terlihat panik saat itu. Beliau langsung berdiri dan melangkah cepat menghampiri mereka.


Seorang wanita dengan kaki yang penuh darah dibaringkan di atas brankar oleh petugas kesehatan yang membantu.


"Permisi saya mau lihat!" Bu Nuri menggeser satu orang yang berdiri menghalangi.


Bola mata Bu Nuri membulat saat melihat siapa yang berbaring di atas brankar.


"Ya Allah, Syafa!" Bu Nuri teriak histeris saat melihat sosok yang ia tunggu kedatangannya dari tadi.


"Ibu kenal dengan korban perampokan ini?"


"Dia menantuku! Kami memang sengaja bertemu di sini! Ya Allah, kenapa terakhir pada menantuku." Bu Nuri kembali menangis melihatnya.

__ADS_1


Petugas kesehatan pun segera membawanya ke rumah UGD. Dan kebetulan sekali Syafa di bawa ke ruangan UGD yang sama dengan Afkar. di dalam ruangan, Afkar terlihat sudah siuman. Afkar melihat kedatangan ibunya kemudian melirik ke arah pasien yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.


Bu Nuri yang melihat Afkar sudah sadar segera mendekati putranya lebih dulu.


"Afkar, syukurlah kamu sudah sadar!" Ucap Bu Nuri kemudian membelai pucuk rambut Afkar.


"Apa yang terjadi? Kenapa ibu menangis?" Tanya Afkar.


Bu Nuri membuang napas berat. Keadaan yang tersedak mau tidak mau. Wanita itu berkata jujur.


"Syafa, pasien yang baru saja masuk ke ruangan ini adalah dia!" ucap Bu Nuri dengan hati-hati.


"Syafa? Apa yang terjadi dengan dia, Bu?" Afkar langsung bangun dan duduk dari tidurnya. Pria itu sungguh terkejut mendengar ucapan ibunya.


"Syafa dirampok saat perjalanan ke sini. Dan kejadian itu tidak jauh dari rumah sakit. Sebab kami sempat berkomunikasi sebelum kejadian itu," Ungkap Bu Nuri.


Afkar segera turun dari brankar nya. Pria itu hendak mendekati Syafa.


"Kamu mau kemana, Nak?" tanya Bu Nuri sambil membantu Afkar turun dari brankar.


"Aku mau melihat Syafa."


"Tapi keadaan kamu juga belum sembuh benar, Nak!" Bu Nuri berusaha mencegah Afkar.


Pria itu berjalan tertatih karena kaki kirinya mengalami luka parah. Afkar berusaha menahan rasa sakitnya.


"Minggir saya mau melihat Syafa." Afkar menggeser tubuh salah seorang perawat yang sedang membersihkan darah di kaki Syafa. Afkar langsung berdiri di dekat istrinya. "Apa yang terjadi padamu, Sayang. Mengapa kita mengalami musibah di hari yang sama." Afkar membelai wajah istrinya yang sudah pucat pasi.


"Maaf, istri Anda harus segera melakukan operasi. Kami harus segera mengangkat bayi yang ada dalam kandungan istri Anda. Bayi itu tidak bisa diselamatkan. karena kami tidak menemukan detak jantungnya," ujar dokter yang menangani Syafa.


"Lakukan yang terbaik untuk istriku," titah Afkar dengan suara yang tercekat. Rasanya tak kuasa ia menahan sakit melihat sang istri yang dalam keadaan hamil seperti itu. Syafa pun segera dipindahkan ke ruang operasi.


"Lebih baik kamu istirahat dulu, aku mau pulang sebentar. Tidak perlu khawatir, aku yakin Syafa akan baik-baik saja," ujar wanita itu. Dia baru saja pulang dari luar negeri. Setelah menyelesaikan kembali kepindahannya ke negara tempat dia dilahirkan itu.


"Terima kasih, Ta. Kamu memang sahabatku yang selalu ada untukku," ucap Pak Rio. Tubuh gagah dan kekar itu kini berbaring lemah di atas tempat tidur.


Gita tersenyum miring mendengarnya. Sampai kapanpun dia hanyalah seorang sahabat bagi Rio tidak lebih.


"Ya sudah, aku pulang dulu!" ucapnya pada Pak Rio. Kemudian beralih pada Roni. "Kabari aku kalau terjadi sesuatu padanya."


Roni menganggukkan kepalanya pelan.


"Siap, Bu!"


Gita pun berlalu dari sana. Wanita itu hendak pulang kerumahnya dulu. Roni mengantarkan Gita sampai ke depan rumah. Setelah melihat wanita itu pergi dari halaman rumah mewah Pak rio. Roni pun berbalik badan. Ia hendak kembali ke dalam rumah.


Disaat yang bersamaan. Beno, anak buah Roni datang dengan tergesa. Dia membisikan sesuatu pada Roni.


"Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Roni dengan wajah khawatir usai mendengar berita kecelakaan yang terjadi pada Syafa.


Saat ini Roni harus menyembunyikan berita ini dari Pak Rio. Pria itu tidak mau orang yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri itu kenapa-napa.


"Dia sudah ditangani dokter. Ada ibu mertuanya juga di sana, Pak! Ternyata Mereka memang ada janin temu. Saya tidak bisa mengikuti ke dalam ruangan. sebab saya tidak diperbolehkan masuk karena bukan siapa-siapa korban.


Roni menganggukkan kepala mendengarnya. "Jangan bicara apapun pada Pak Rio. Biar saya urus Nona Syafa dulu." Roni memperingatkan Beno.


"Siap, Pak Roni!" Sahut Beno sambil menundukkan kepalanya.


Setelah mendengar kecelakaan yang dialami oleh Syafa, Roni langsung bergegas menuju rumah sakit. Di mana Syafa dirawat.

__ADS_1


...🌱🌱🌱🌱...


Di dalam kamar yang beberapa jam lalu terasa panas akibat pergulatan yang terjadi. Seorang wanita tengah diam termenung usai membersihkan diri.


'Kenapa perasaan ini gelisah sekali? Ada apa ya?'


Batin Yara seraya terus berpikir. Wanita itu segera menghubungi Mama Anggi. Ia takut terjadi sesuatu pada Dhiya.


"Dhiya baik-baik saja, Nai! Nih, lagi sama mama, kenapa? Mau berbicara dengannya?" Ucap Mama Anggi dari seberang telepon.


"Syukurlah kalau Dhiya baik-baik saja, Mah! Aku hanya takut," lirih Yara.


"Kamu tenang saja. Dhiya tidak akan kemana-mana. dia aman sama mama." Mama Anggi berusaha menenangkan Yara. Mertuanya itu paham dengan kondisi Yara.


Yara mengembuskan napas berat. Tak lama Yara mengakhiri sambungan teleponnya saat melihat Erza karena Erza baru saja selesai membersihkan diri.


"Mah, aku tutup teleponnya ya. Mas Erza sudah selesai mandi. Aku juga mau siap-siap ke rumah mama. Sekalian berangkat ke Mojokerto dari sana."


"Ya sudah, mama tunggu!"


Sambungan telepon pun berakhir.


"Telepon dari siapa?" Tanya Erza sembari berjalan mendekati Yara. Tangannya menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


Yara yang sedang duduk di kursi di depan meja rias segera berdiri dan mengambil alih handuk di tangan suaminya.


"Duduk, Mas! Biar aku yang bantu keringkan rambutmu!"


Erza pun mengikuti. Pria itu duduk menggantikan Yara. Dengan pelan Yara membantu mengeringkan rambut suaminya dengan cara sedikit menekan handuk dan sedikit memberikan pijatan pada kepala Erza. Membuat pria itu merasakan kenikmatan pijatan istrinya.


Setelah itu Yara menyisir rambut Erza.


Kini penampilan Erza sudah rapi tampan dan wangi.


Erza tersenyum sambil menatap kaca didepannya. "Ternyata begini rasanya dirawat dan diperhatikan seorang istri," ucap Erza. Yara menghentikan gerakannya saat memijat sedikit tengkuk leher Erza.


"Kenapa?" Tanya Yara.


"Nyesel banget aku!"


Yara langsung menatap tajam pada Erza dari kaca rias di depannya.


"Kamu nyesek nikah sama aku, Mas?"


Erza mengangguk pelan.


wajah Yara langsung berubah sedih.


Erza menarik sedikit sudut bibirnya. Pria itu berbalik badan menghadap Yara. Lalu sedikit menarik tubuh Yara jadi lebih dekat dengannya.


"Aku nyesel banget kenapa tidak menikahimu dari dulu. Kalau tahu begini rasanya dimanjakan wanita cantik, baik, dan menggigit sepertimu," Ucap Erza sembari melingkarkan tangan di pinggang Yara. Erza memeluk tubuh itu erat dan menenggelamkan kepalanya di dada Yara. Tempat favorit nya sebelum bertempur nikmat.


.


.


.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2