Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Melepas Rindu Dengan Keluarga


__ADS_3

Bahagia, bersyukur, haru disertai Isak tangis jelas terdengar saat kedatangan Afkar di rumah Bu Nuri. Tak hanya keluarga inti yang berkumpul, tapi juga para pekerja yang sedang membantu Paman Yono di penggilingan padi yang letaknya di samping rumah Bu Nuri ikut terharu dengan kembalinya Afkar ke desa itu.


"Ya Allah, terima kasih sudah mengembalikan Afkar pada kami," ucap Bu Nuri ketika memeluk Afkar di-iringi dengan tangis haru. Rasa rindu dari ibu yang melahirkannya itu membuat semua orang yang melihatnya ikut menangis.


Mira, Paman Yono dan Bi Darmi, istri dari Paman Yono juga ikut merasakan haru bahagia yang saat ini sedang dirasakan keluarga Afkar.


"Mas, ini Dhiya... Putri kita!" Yara yang sedang menggendong Dhiya menghampiri Afkar.


Ketika mereka baru saja sampai di depan gerbang rumah Bu Nuri. Dhiya, anak kecil itu langsung berlari mendekati Yara kemudian memeluk wanita itu dengan erat. Beberapa bulan tidak bertemu membuat Dhiya begitu merindukan Yara.


Pandangan Dhiya mengarah pada Afkar. Ada yang berbeda dari ayahnya itu. Dhiya terlihat diam dan takut melihat Afkar. Sebab pria yang itu tak bereaksi apapun saat melihat gadis itu. Tak seperti biasanya, jika bertemu Dhiya. Pasti Afkar langsung memeluk dan mengangkat gadis kecil itu tinggi-tinggi sampai Dhiya tertawa kencang. Kemudian menciumi Dhiya dengan jenggot tipisnya. Tapi saat ini bulu tipis itu hilang. Afkar terlihat lebih muda tanpa bulu halus di rahang pipinya.


Afkar pun sama saat Yara membawa Dhiya mendekatinya tak ada tanggapan apapun. Pria itu masih terlihat bingung.


Syafa lekas mendekati Afkar. Hanya ucapan Syafa yang akan didengar oleh pria itu.


"Sayang, kenapa diam? Ini keluargamu? Lihatlah wajah-wajah mereka yang begitu senang dan bahagia melihat kedatanganmu." Syafa menepuk pelan bahu Afkar yang masih diam.


"Sini, gadis cantik mamih!" Ucap Syafa sambil mengulurkan kedua tangannya pada Dhiya.


Gadis itu menggelengkan kepala pelan kemudian menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Yara.


"Maaf, Ra. boleh kah aku menyebut diriku seperti itu pada Dhiya?" Syafa meminta ijin pada Yara.


Yara hanya mengangguk pelan membalasnya. Yara hanya bisa pasrah saat ini. Ia rela berkorban perasaan demi suaminya.


"Sama Mamih dulu, ya," ucap Yara pada Dhiya.


"Mamih capa, Bun?" Dhiya balik bertanya dan terlihat ragu.


"Mamih Syafa, dia orang baik. Mamih Syafa yang sudah menolong ayah." Yara mengangguk pelan, meyakinkan anak gadisnya agar mau beralih dalam gendongan Syafa.


Dhiya mengangguk pelan kemudian anak kecil itu baru mau menerima uluran tangan Syafa.

__ADS_1


"Anak pintar, kamu cantik sekali, Sayang!" Syafa mengusap pipi Dhiya. Ternyata Syafa sangat menyukai anak kecil, Dhiya jadi gampang dekat dengan wanita itu.


Melihat Dhiya yang cepat dekat dengan Syafa, Bu Nuri lekas mendekati wanita itu. Wanita yang diketahui sebagai ibu dari Afkar itu penasaran dengan wanita yang datang bersama Afkar dan Yara. Apalagi dengan interaksinya yang lembut dan sopan. Apalagi saat memangil anaknya dengan sebutan Sayang. Beliau makin penasaran dengan apa yang terjadi. Sebab sebelumnya Yara memberitahukan soal kondisi Afkar saja yang mengalami hilang ingatan tapi tidak menceritakan soal wanita yang saat ini berdiri di hadapannya dengan sopan, cantik dan anggun. Bu Nuri bisa menebak jika Syafa adalah wanita yang berasal dari keluarga berada.


Di sudut ruangan, Bi Darmi terlihat bingung dengan situasi yang ada. Wanita itu sedikit berbisik pada suaminya, Paman Yono.


"Mas, siapa wanita itu. kenapa memanggil Afkar dengan sebutan sayang. Afkar juga kelihatan kayak orang bingung?" Tanya Bi Darmi.


"Syutt ... Jangan banyak bertanya dulu. Kita diam saja, nanti juga Yara menjelaskan semuanya," Balas Paman Yono.


Tak hanya Bi Darmin, beberapa orang yang bekerja di sana juga heran melihat kedatangan Afkar bersama wanita lain. penampilan Afkar pun sangat berbeda dari biasanya.


Afkar yang sekarang tampil dengan gaya modis. Sedangkan Afkar yang dulu terlihat santun dan sederhana.


Panggilan dari suara seorang pria paruh baya yang duduk di kursi roda membuat Afkar berpaling padanya. Mira lah yang mendorong kursi roda dari kamar ke ruang tamu. Agar Pak Setyo juga bisa melihat Afkar, anak kebanggaannya yang telah kembali.


"Afffkkkaaarrr," panggil Pak Setyo dengan suara gemetar dan sedikit tidak jelas.


"Bapak," lirih Yara dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Yara mendekati Pak Setyo kemudian menyalami pria itu.


Tubuh Yara berada diposisi bertumpu pada kedua lutut. Tinggi tubuhnya setara dengan Pak Setyo yang duduk di kursi roda.


Pak Setyo tersenyum kepada Yara. "Ya ... La ...," ucap Pak Setyo dengan suara terbata dan gemetar. Tangannya bergetar berusaha menggapai pipi Yara.


Melihat itu, Yara lekas meraih tangan tersebut kemudian menempelkan di pipinya.


"Iya, Pak. Ini Yara! Aku kembali, kembali bersama putra bapak. Keyakinan Yara bisa membawaku bertemu dengan suamiku, Pak. Meski dengan keadaan yang berbeda saat ini. Tapi Yara bersyukur, Mas Afkar dalam keadaan baik-baik saja. Doakan Yara agar bisa melewati semuanya dengan baik dan ikhlas, Pak." Yara menundukkan kepalanya di atas lutut Pak Setyo. Tumpah sudah tangis yang dari tadi ia tahan. Di hadapan Pak Setyo Yara tidak bisa berbohong. Bapak mertuanya itu sangat mengerti perasaan Yara, meskipun dalam keadaan stroke seperti itu.


"Sa ... bar ...." balas Pria paruh baya itu sambil menepuk pipi Yara. Kemudian Yara mengangkat kembali kepalanya ia tidak mau terlalu lama bersedih. Di usapnya air mata di pipinya sendiri.


"Bunda, kenapa nangis?" celetuk Dhiya yang melihat bundanya menangis.


"Bunda sedang bahagia, Dhiya! Karena sekarang kalian bisa bersama lagi. Dhiya senang 'kan?" Bu Nuri mencoba menenangkan Dhiya. Anak kecil itupun mengangguk pelan.

__ADS_1


"Sebaiknya aku bawa Dhiya keluar, Bu. Kalian silahkan melepas rindu dulu. aku tidak mau menganggu. Nanti aku dan Yara akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi," ucap Syafa dengan sopan dan santun pada Bu Nuri.


"Apa benar kamu sudah menikah dengan Afkar?" Bu Nuri langsung bertanya karena penasaran.


Syafa tersenyum malu. "Iya, Bu. maaf jika Mas Afkar tidak meminta restu padamu. Pernikahan kami berlangsung di luar negeri. Aku juga tidak tahu keluarga Mas Afkar. Papa ingin kami segera menikah karena kau sering bersama dia untuk merawat Mas Afkar yang baru sembuh dari komanya selama satu bulan," ujar Syafa.


Bu Nuri tersenyum senang mendengarnya."Ibu merestui kamu, Nak. Selamat datang menantuku. Ibu senang kamu hadir dalam keluarga ini." Bu Nuri merangkul Syafa dengan hangat.


Di dalam rumah. Pak Setyo terus menunjukkan perkembangannya pada Yara. Setelah itu, tangannya sedikit terangkat seperti meminta Afkar mendekat padanya. Dengan bibir yang bergerak memanggil nama Afkar.


"Affkkkkaarrr." Suara Pak Setyo terdengar bergetar saat memanggil Afkar.


Tanpa disadari Afkar berjalan mendekat ke arah Pak Setyo kemudian mengikuti posisi Yara. Melihat itu Yara bangkit berdiri. Ia akan memberikan ruang bagi Afkar dan Pak Setyo untuk melepas rindu.


Naluri seorang anak pada orang tuanya saat ini di rasakan oleh Afkar. Pria itu langsung memeluk Pak Setyo dengan erat. Keduanya melepas rindu meskipun Afkar tidak ingat kenangan indah bersama pria paruh baya itu. Tapi perasaanya tersentuh dengan keadaan yang dialami Pak Setyo.


"Bapak," ucap Afkar disela pelukannya pada Pak Setyo.


Suasana semakin haru melihat bapak dan anak itu berpelukan melepas rindu yang selama ini dirasakan Pak Setyo. Sebab Afkar begitu dekat dengan pria paruh baya itu.


.


.


.


.


Hai... Readers apa kabar kalian? Sehat?


maafkan otor beberapa hari tidak up di sini.


Meski begitu, jangan lupa like, komentar, dan tinggalkan bintang 5 ya ..

__ADS_1


__ADS_2