
Satu minggu telah berlalu. Setiap pagi Yara masih rutin memasak masakan untuk majikannya Bi Ninis. Wanita itu meminta maaf pada Yara jika harus memperpanjang pekerjaannya. Bi Ninis di rawat di rumah sakit karena kondisinya yang semakin mengkhawatirkan.
Seperti pagi ini. Yara masih belum memulai kegiatan memasaknya. Wanita itu bingung harus memasak apa. Di lemari pendingin yang ada di dapur hanya ada telur dan bumbu masak saja tidak ada sayuran ataupun lauk lainnya.
"Masak apa hari ini? Mana tidak ada uang yang di tinggalkan majikannya Bi Ninis," gerutu Yara kemudian ia duduk termenung di meja makan yang ada di dapur itu.
"Apa mungkin dia tidak pulang hari ini, jadi aku tidak perlu masak. Lagian ini 'kan hari libur, mana mungkin dia pergi ke kantor. Orang kaya pasti nya habis bersenang-senang secara malam minggu, pasti lupa pulang." Yara bangkit dari duduknya. Wanita itu hendak pergi dari rumah dari sana sanya percuma masak, jika pemilik rumah itu tidak pulang nantinya. Mubazir jika masakannya tidak dimasak.
Saat Yara akan pergi dari dapur. Pak Gogon yang biasa berjaga di rumah itu tiba-tiba masuk lewat pintu samping.
"Ada apa, Pak?" Tanya Yara karena satpam itu terlihat mengedarkan pandangan ke sekeliling dapur.
"Kamu gak masak, Neng?" Pak Gogon balik bertanya.
Yara menggelengkan kepala menjawabnya.
"Yah, bapak kira masak!" seru Pak Gogon lesu.
"Bapak lapar?" Selidik Yara.
Anggukan dari Pak Gogon sedikit membuat Yara tersenyum geli. Sebab Pak Gogon menjawab sambil memegangi perutnya yang terlihat buncit.
Yara ingat kalau di lemari pendingin hanya ada telur saja. Merasa kasihan pada Pak Gogon, Yara berpikir untuk memasakkan telur ceplok sambal iris untuknya.
"Nasi putihnya mah ada, Pak! Mau Yara masakin telur?" Yara menawarkan.
"Boleh banget, Neng kalau tidak merepotkan. Tapi bapak tunggu di depan saja ya, takut ada orang masuk gak ketahuan 'kan bisa bahaya. Lagian bapak lagi nungguin tukang servis AC. Kamar si bos, AC nya kurang dingin," ujar Pak Gogon.
"Iya, Pak. Nanti kalau sudah matang Yara, panggil deh!" seru Yara.
Masak pun dimulai. Meskipun hanya memasak telur sambal iris tapi lumayan memakan waktu juga. Telur ceplok dengan irisan cabai keriting ditambah cabai hijau sudah matang. Yara sengaja membuat dua porsi.
Barangkali saja bos pemilik rumah itu pulang dan dalam keadaan lapar jadi bisa langsung makan telur buatannya.
Yara merasa penasaran dengan pemilik rumah itu. Sebab selama ia berkerja di sana menggantikan Bi Ninis tidak pernah Yara bertemu dengannya, sekalipun. Padahal Yara bisa melihat wajahnya di dalam ruang tamu. Tapi Yara tidak pernah berkeliling di dalam rumah itu.
__ADS_1
Selesai masak. Yara langsung bersih - bersih dan bergegas mencari penumpang untuk ojeknya.
"Pak, aku pulang dulu, ya?" Yara pamit pada Pak Gogon yang sedang serius makan dengan nikmatnya.
Padahal menu makannya hanya nasi putih hangat ditambah telur ceplok pakai bumbu cabai iris. Tidak membuat, Pak Gogon terusik oleh Yara yang pamit padanya. Pria yang sibuk dengan makanan di hadapannya itu hanya mengangguk pelan membalas ucapan Yara.
"Mending cari cuan untuk masa depan. Yara telat begitu bersemangat. Saat akan melajukan kendaraannya, Ia teringat dengan Bu Haryani. Segera Yara mencari kartu nama yang ia simpan di belakang pelindung handphone miliknya.
"Apa dia masih ingat aku ya?" gumam Yara. "Ah, kita coba saja, semoga ada keberuntungan ku di sana. Eh, hubungi Kak Ima dulu deh, pamit sama dia kalau aku langsung narik gak pulang dulu." Yara menarik napas panjang. Mengingat senyum Dhiya membuat Yara semakin bersemangat untuk mencari rejeki. Ia segera melajukan motornya menuju ke butik Bu Haryani.
Baru beberapa meter berjalan. Yara mendapat notif dari aplikasi ojek nya.
Nomernya mendapat pelanggan pertama kali ini.
"Ini di mana ya? Aku belum pernah narik ke sana!" Oceh Yara sembari meneliti tempat tujuan yang diminta pelanggannya. "Ah, pasti yang pesan akan ngasih tahu jalannya. Biasanya juga begitu." Yara lekas menjemput pelanggan pertamanya. Wanita itu kembali melajukan motor matic nya.
Dengan pelan dan hati-hati, Yara mengendarai motor sesuai petunjuk arah yang ada di ponsel miliknya. saking seriusnya Yara hampir saja menabrak mobil yang ada di depannya.
"Woii ... Hati-hati dong kau bawa motor. Ku lagi narik jangan liatin hape terus. Fokus ke jalan!" teriak pengendara yang ada di hadapan Yara.
"Maaf, ya, Pak! Aku gak sengaja," ucap Yara sambil menunduk sopan saat menghampiri pengemudi itu. Padahal mobilnya sama sekali tidak ada yang lecet. Yara membanting stir- nya agar tidak mengenai mobil tersebut.
Melihat Yara yang begitu manis dan cantik. Pengemudi itu langsung memaafkan, bahkan mengajak Yara berkenalan. Tapi merasa ada yang tidak beres karena pengemudi itu terlihat jelalatan pada Yara. Ia segera berbalik ke arah motornya lagi. Beruntung pengemudi mobil itu tidak meminta ganti rugi.
Di dalam mobil lain satu pasang mata meneliti ke arah Yara. Ia menegaskan penglihatannya, sebab jarak dia dengan Yara cukup jauh. Sehingga belum jelas benar tidaknya orang yang tertangkap oleh penglihatannya akan jalan
"Bener, itu dia!" ucap Erza membaut Beni mengikuti arah pandang temannya itu.
"Siapa Bro?" Tanya Beno.
"Ojek cantik yang udah nyuri sesuatu dari gue" balas Reno tanpa mengalihkan pandangannya.
"Wah, gak bener. Lu harus ambil barang lu lagi tuh? harganya berapa kalau murah gue males nih ngejarnya. kalau mahal. Gue kerjain tuh motor! Secara lu pasti tau kan cara gue mengendarai mobil kalau di jalur trax," ujar Beno membanggakan dirinya sendiri.
"Jangan banyak ngomong, Lu! Buktikan kalau lu bisa ngejar dia!" Tantang Erza pada Beno.
__ADS_1
"Ok, siap!" Beno pun mulai ancang-ancang saat mobil itu melaju. Ternyata ucapan tidak sesuai ekspektasi. Mobil yang dikendarai Beno masih saja tertinggal oleh motor matic milik Yara.
"Payah, lu! kehilangan jejak dia 'kan?" ejek Yara.
"Dia pake motor Li. Sedangkan kit Anik mobil pasti kalah jauh lah " Beno mencoba membela diri.
"Tapi gue yakin dia ke arah sana! Ayo kita ke sana!" ajak Erza.
Dan benar dugaannya. Erza melihat Yara lagi. Tapi kali ini, Yara tidak sendiri. Melainkan dengan orang lain yang pengguna aplikasinya. Erza tetap mengikuti kemana Yara pergi. Sebab Erza merasa curiga dengan arah yang di tempuh oleh Yara.
"Mas ini benar tempatnya?" Tanya Yara meyakinkan pelanggannya karena tempat tujuan itu terlihat sepi. Hanya bangunan kosong yang ada di sana. Semakin masuk ke dalam tempat itu semakin sepi.
"Benar, Mba. Ini cuma jalannya aja yang sepi. Di ujung sana ada gang, anti aku berhenti di situ," balas pelanggannya itu.
"Sebelah sana?" Yara melihat gang di ujung jalan itu kemudian menunjuknya.
"Ya, sebelah sana."
Tepat di depan gang itu, Yara mengehentikan motornya.
"Sampai, Mas!" ucap Yara.
Bukannya mendapat jawaban Yara lamah mendapat pukulan keras di belakang kepalanya.
Bugh ....
Pukulan keras itu mengenai tepat di belakang kepala Yara, membuat Yara kehilangan kesadarannya.
.
.
.
.
__ADS_1
Maafkan Author baru up......