
Yara sangat terkejut saat menyalakan ponsel sesampainya wanita itu sampai di rumah Bu Haryani. Beberapa notif panggilan dari Syafa membaut kening Yara mengekrut. Yara memang sengaja tidak membawa ponsel. Lagian siapa yang akan menghubunginya, pikir Yara.
Tidak ada yang sering bertukar kabar dengannya selain Bu Lidia.
"Banyak sekali Mba Syafa telepon. Ah, mungkin dia mau mengabarkan Dhiya hilang." Yara membuang napas berat. "Alhamdulillah sekarang Dhiya ada bersamaku," ucapnya dalam hati. Tapi Yara merasa penasaran dengan beberapa pesan yang belum terbuka.
Syafa mengabarkan kalau Pak Setyo meninggal dunia. Dan Afkar menanyakan keberadaan Dhiya pada dirinya. Syafa memberitahu, kalau memang Dhiya ada bersama Yara. Mantan suaminya itu minta dikembalikan secara baik-baik atau secara hukum.
Yara termenung setelah membaca pesan tersebut. Erza yang melihat itu berjalan mendekati Yara.
"Kenapa, Yang?" tanya Erza.
"Pak Setyo meninggal! Dan Mas Afkar akan menuduhku membawa Dhiya. Dia akan mengambil jalur hukum kalau benar aku yang sudah mengambil Dhiya," Ucap Yara sedih.
Bu Haryani yang baru saja datang dari arah dapur juga menghentikan langkah mendengar ucapan Yara. "Kamu mau ke sana?" Tanya Bu Haryani. Wanita yang datang dengan membawa minuman untuk Erza segera meletakkan minuman itu di atas meja.
"Terima kasih, Bu," ucap Erza saat Bu Haryani menyodorkan minuman padanya.
"Sama-sama, Nak," balas Bu Haryani.
Yara terlihat diam dan bingung saat akan menjawab pertanyaan Bu Haryani.
"Sebaiknya jangan!" Sela Erza. "Akan ada perdebatan nantinya. Apalagi kamu disebut membawa pergi Dhiya dan kebetulan saat ini Dhiya ada di sini. Afkar pasti menduga memang kamu 'lah yang telah membawa Dhiya," ujar Erza. Pria itu tidak mengijinkan Yara pergi melayat ke rumah duka.
Bu Haryani menganggukkan kepala pelan dan membenarkan ucapan Erza. "Benar kata Erza."
"Lalu aku harus bagaimana?" Yara terlihat bingung.
"Tetap 'lah di sini! Biar aku yang akan mewakili mu ke sana! Jangan terlalu dipikirkan masalah ini. Lusa kita menikah, aku tidak mau kamu lelah dan banyak pikiran, Sayang!" Ucap Erza penuh perhatian dan meraih tangan Yara. Kemudian mengusapnya dengan lembut.
Yara mengangguk pelan. Meksipun dirinya ingin sekali pergi ke sana tapi Yara lebih mengikuti perintah Erza, calon suaminya. Tapi Yara sedikit bingung, bagaimana dia memberitahu Dhiya soal wafatnya Pak Setyo. Sebab anak itu begitu dekat dengan almarhum.
"Lalu bagaimana dengan Dhiya, Za?"
Erza sangat paham kegundahan yang dirasakan oleh wanita nya itu. "Kita bicarakan pelan-pelan adanya nanti."
"Ya, ikuti apa kata suamimu, Ra!" Bu Haryani kembali menimpali.
"Masih calon, Bu!"
"Lusa jadi suamimu, Ra!"
Yara menghela napas pelan. "Iya, Bu!"
Sore itu pun menjadi hari terakhir Yara dan Erza bertemu. Sebab hari ini adalah hari terakhir Yara menyelesaikannya semua kegiatannya. Erza tidak mengijinkan Yara untuk beraktivitas berat lagi. Karena tidak mau melihat calon istrinya itu kelelahan di saat hari pernikahan mereka.
Erza tahu kalau Yara merasa kehilangan sosok papa mertua yang baik padanya selama ini. Tapi Erza tidak mau kedatangan Yara jadi perdebatan diantara mereka. Erza berjanji pada Yara, bahwa mereka akan mendatangi makan Pak Setyo setelah mereka nikah nanti.
Yara merasa tenang dengan keputusan yang diberikan oleh Erza. Saat ini hanya Erza tempatnya berlindung.
...🌱🌱🌱🌱...
Satu hari setelah wafatnya Pak Setyo. Suasana rumah itu semakin sepi. Di tambah ketidakhadiran Dhiya di sana. Afkar sudah melapor pada polisi tapi polisi tidak bisa melakukan tindakan karena hilangnya Dhiya belum genap 2x24 jam. Keesokan harinya baru polisi akan bergerak jika anak itu belum di ketemukan. Wanita yang sedang hamil itu merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Dhiya dengan baik.
Afkar mendiamkannya selama beberapa hari setelah memberi penekanan pada wanita itu agar bisa membawa Dhiya kembali kalau perlu mempertemukannya dengan Yara.
Hal itu membuat Syafa merasa tertekan. Pasalnya nomer telpon Yara sudah tidak aktif. Erza pun menutup dan menjaga ketat keberadaan Yara di rumah Bu Haryani. Calon suaminya itu tidak mau terjadi sesuatu pada Yara.
__ADS_1
"Aku tidak mau tahu , Kamu harus membawa Dhiya kemari. Kamu yang sudah teledor pada anakku!" Bentak Afkar.
Syafa menggelengkan kepalanya pelan. "Aku sudah minta maaf, Mas. Hari itu aku bingung, kamu susah dihubungi. Dan bapak sedang kritis di rumah sakit. Kamu tidak bisa menyalahkan aku terus seperti ini!" Syafa menyahuti.
Terjadi perdebatan antara suami istri itu. Afkar selalu membawa-bawa nama Yara. Jelas terlihat penyesalan dari pria itu. Syafa juga dapat melihat tatapan rindu yang dirasakan Afkar. Ternyata perasaan suaminya tehadap Yara, adik kandungnya itu begitu besar. Syafa benar -benar merasa telah menjadi perusak hubungan mereka.
Syafa meminta dikembalikan ke rumah papa-nya jika Afkar terus bersikap seperti itu. Tapi keegoisan Afkar kembali muncul. Suaminya itu tidak mau melepaskan Syafa. Bahkan Afkar menekan istrinya yang sedang hamil.
"Arghhh ... Kamu membuat aku pusing!" Sentak Afkar. "Kamu tahu, semua karena ulah papa-mu. Andai dia tidak memintaku menikahimu waktu itu, semua tidak akan seperti ini!" Lanjut Afkar masih dengan suara bernada tinggi.
"Berarti kamu menyesal sudah menikah denganku, Mas!" Syafa bertanya dengan tatapan tidak percaya pada Afkar. Pria itu keluar dari kamarnya dengan menutup pintu begitu kencang. Membuat Syafa terkejut dibuatnya.
Syafa pun menangis sesegukan dengan sikap Afkar yang semakin berubah. Kehangatan dan sikap memanjakan dirinya sudah tidak lagi Afkar berikan. Semua sudah berubah.
"Afkar kamu mau kemana?" Tegur Bu Nuri yang tidak sengaja mendengar pertengkaran mereka.
"Ke kantor polisi sekalian ke kantor! Banyak pekerjaanku yang tertunda!" balas Afkar sambil berlalu dari sana.
"Kita masih berkabung, Nak! Apa kamu tidak bisa menunda pekerjaan sampai 7 hari kematian bapakmu?" Tanya Bu Nuri tapi tak dihiraukan oleh Afkar. Wanita paruh baya itu menggelengkan kepala melihat sikap Afkar yang semakin berubah. Wanita itu merasakan perubahan sikap anak laki-laki nya itu.
"Apa ini karma juga untukku? Afkar egois dan tidak mau di nasehati. Dia semaunya sendiri. Maafkan aku ya Allah, dulu aku yang meminta agar lebih baik Afkar dengan ingatan barunya agar bisa terus bersama Syafa. Tapi nyatanya harta dan tahta membuat putraku lupa diri." Bu Nuri menunduk sedih. Wanita paruh baya itu menyesali ucapannya. Ia ingin melihat Afkar yang dulu. Afkar yang menurut padanya dengan sikap hangatnya. Meskipun saat itu sikap Bu Nuri kurang baik pada mantan istrinya. Tapi Afkar sabar dan sering menenangkannya.
Melihat kepergian Afkar yang acuh padanya. Bu Nuri lekas berjalan ke kamar Syafa. Perlahan ia membuka pintu kamar yang tertutup.
Syafa tengah menangis sesegukan di kamar itu.
Bu Nuri melangkah kakinya mendekati wanita itu.
"Fa," panggil Bu Nuri sembari mengusap pelan menantunya. "Maafkan sikap Afkar!"
Tak ada respon dari wanita itu. "Aku mau pulang ke rumah papa, Bu! Aku tidak bisa di sini! Mas Afkar semakin berubah. Aku merasa tidak ada diriku dalam hatinya, Bu!"
"Tapi aku yang merasakannya, Bu!"
Tak lama seriang asisten tangga mengetuk pintu kamar Syafa.
"Permisi, Nyonya!" Ucap asisten itu.
"Ada apa, Bik?" Tanya Syafa.
"Ada Tuan Roni di depan. Katanya mau bertemu dengan Anda, Nyonya."
"Suruh dia tunggu sebentar! Saya akan segera ke sana." Setelah berbicara Syafa segera mengusap sisa air mata di pipinya. Kemudian segera berdiri, wanita itu mengambil tas barang berukuran tidak begitu besar agar bisa menampung beberapa barang milik Syafa.
Bu Nuri terlihat heran melihat menantunya itu meraih beberapa barang dan dimasukan ke dalam tas tersebut. "Kamu mau kemana, Fa?" Tanya Bu Nuri sembari melangkah mendekati Syafa.
Syafa menghentikan gerakannya sesaat. "Aku mau ke rumah papa. Aku ingin menenangkan diri di sana!" Sahutnya lalu melanjutkan kembali mengemasi barang-barang miliknya ke dalam tas yang sudah ia siapkan.
Saat dirasa sudah cukup dengan barang bawaannya, Syafa memanggil Roni yang memang jarang ruang tamu dan kamarnya tidak begitu jauh.
"Mas Roni!" Panggil Syafa. Dengan sigap pria yang setia dengan Pak Rio itu langsung berjalan cepat menemui Syafa.
"Ya, Nona!" Roni dengan tubuh tegap dan tampan dengan jas yang selalu ia kenakan berdiri di depan pintu kamar Syafa.
"Tolong bawakan tasku! Aku mau ke rumah papa!" pinta Syafa.
"Baik, Nona." Roni pun segera melakukan perintah Nona mudanya.
__ADS_1
"Fa ... Afkar melarang kamu pergi dari rumah ini! Lagian ini rumah kamu, seharusnya kamu tetap tinggal di sini!" Bu Nuri mencoba mencegah kepergian Syafa.
wanita yang tengah hamil itu menggelengkan kepala. "Tidak, Bu. Maaf, tanpa ijin Mas Afkar aku akan pergi. Aku ingin menenangkan pikiranku. Ini aku lakukan untuk bayi kami. Beberapa hari ini begitu banyak desakan beban pikiran yang aku dapat. Tolong sampaikan pada Mas Afkar, Bu! Aku pergi ke rumah papa! Aku tidak akan pergi kemana-mana!" Ungkap Syafa. Kemudian sedikit menunduk pamit pada Bu Nuri.
"Kamu akan meninggalkan ibu sendiri, Fa!" Ucap Bu Nuri.
"Ada Mira yang akan menemani Ibu." Tanpa banyak berkata lagi. Syafa berjalan keluar rumah menuju mobil yang sudah siap membawanya pergi.
Roni yang mendengar ucapan Syafa sontak menoleh kepada wanita itu.
'Maaf, nona. Saya akan membawa Anda jauh dari kota ini sesuai perintah Pak Rio. Ini untuk kebaikan Anda sendiri.'
Batin Roni. Pria itu bergegas memasukan tas bawaan Syafa ke dalam mobil. Lalu dengan cepat memutar langkah guna membuka pintu mobil untuk Syafa. Setelah itu Roni bergegas masuk ke dalam mobil.
Pria itu siap melajukan kendaraannya meninggalkan rumah mewah itu.
Bu Nuri hanya bisa menatap sedih kepergian Syafa. Ia menyesali semua yang terjadi. Kenapa kehidupan anak-anaknya jadi seperti ini. Mira yang hampir gila karena diperlakukan tidak baik oleh keluarga suaminya karena tak kunjung hamil. Afkar yang hilang ingatan, bahkan kehidupan rumah tangganya tidak baik-baik saja saat ini. Bahkan bercerai dengan istri pertamanya. Kesedihan semakin bertambah dengan kehilangan sosok suami.
"Apa ini karma yang harus aku terima karena telah menzolimi Yara selama ini," sesal Bu Nuri yang baru menyadari kesalahannya selama ini. "Maafkan ibu, Ra! Maafkan ibu! Ibu ingin bertemu dengan kamu dan meminta maaf atas sikap ibu selama ini kepadamu!" Bu Nuri terisak saat ingat dosa yang ia lakukan pada Yara.
Di tempat lain. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Erza terlihat begitu tampan dengan baju pengantin yang ia kenakan saat ini.
Mobil mewah yang membawa pengantin pria itu telah sampai di depan kediaman mempelai wanita.
Erza turun dengan gagah disertai jantung yang berdebar diikuti oleh para sanak saudara yang mengantarkan pengantin pengantin itu.
Acara penyambutan dan serah terima langsung dilaksanakan.
Pihak pengantin wanita mempersilakan pihak pengantin laki-laki mengisi tempat yang sudah di sediakan.
Erza pun duduk dan siap di meja pernikahan yang akan menjadi tempat berlangsungnya ijab kabul tersebut.
Penghulu dan saksi dari pihak pengantin wanita dan pihak laki-laki sudah hadir di sana. Hanya saja satu orang yang di tunggu kehadirannya belum menampakkan diri.
Sosok ayah dari pengantin pria yang disebut akan menjadi wali nikah dari Yara belum nampak kehadirannya di sana. Hal itu membuat Keadaan sedikit tegang.
Berita belum hadirnya Pak Rio pun terdengar oleh pengantin wanita yang berada di kamar pengantin. Hati Yara bergemuruh sedih, benci jadi saat satu saat mendapati kabar tersebut.
Akankah pernikahan ini akan hancur karena ulah pria yang sama. Pria yang sudah menghancurkan rumah tangga pertamanya dulu.
"Sabar, Ra. Kita tunggu lima belas menit lagi!" Bu Haryani mencoba menenangkan perasaan Yara.
"Tidak perlu menunggunya, Bu! Aku akan minta di nikahkan wali hakim. Mulai saat ini aku telah menganggap pria itu mati!" Ucap Yara dengan perasaan kecewa.
Wanita yang sudah cantik dengan riasan pengantin itu mendongak ke atas seakan mencegah air mata menetes di sudut matanya. Yara lekas berdiri tegak dan meminta Bu Haryani mengantarkannya ke tempat ijab kabul akan berlangsung.
'Jangan salahkan aku jika diri ini benar-benar membencimu hingga akhir hidupku, papa! Aku akan menganggapmu mati setelah ini.'
Batin Yara dengan segala kebenciannya.
.
.
.
To be continued.
__ADS_1
Selamat malam...
selamat beristirahat buat semua pembacaku