
Di Apartemen mewah inilah Afkar berada saat ini. Apartemen yang ia berikan pada wanita yang beberapa minggu lalu mengabiskan malam dengannya.
"Jangan terlalu banyak minum, Sayang!" Alecia mencegah Afkar menegak gelas kecil beralkohol untuk yang kesekian kalinya.
"Aku ingin masalah ini segera selesai, Le! Aku tidak ingin kehilangan keduanya. Aku tidak ingin kehilangan keduanya!" Afkar berbicara sambil menyentuh pipi Alecia. "Aku juga tidak ingin kehilangan kamu!" bisiknya lembut tubuh Alecia meremang.
Afkar itu langsung menarik Alecia menuju tempat tidur yang berada tepat di belakang mereka.
Tubuh keduanya terjauh di atas tempat tidur empuk itu.
"Minggir, Sayang! Tubuhmu menimpaku, berat tau," keluh Alecia.
Afkar terkekeh melihat wajah Alecia yang cemberut. Kemudian mendekatkan wajahnya pada Alecia. "Puaskan aku seperti malam-malam sebelumnya," bisik Afkar.
Alecia tersenyum penuh kemenangan saat mendengar bisikan Afkar. "Pasti! Aku akan selalu memuaskan mu, Kenapa apa ada masalah?" Tanya Alecia sembari menyentuh rahang pipi yang di penuhi bulu-bulu halus yang selalu memberikan kenikmatan pada setiap sentuhannya.
"Jangan tanyakan apapun sekarang. Aku berada di sini ingin melupakan sejenak masalahku."
Alecia mengangguk pelan. Wanita itu segera bergerak cepat. Berpindah posisi dengan Afkar. Berada di atas tubuh pria itu. Perlahan Alecia mulai beraksi. Tubuhnya meliuk-liuk di atas tubu Afkar. Membuat pusaka keramat milik Afkar ingin segera masuk ke dalam sarangnya.
Alecia ingin Afkar merasakan kenikmatan dunia buatannya terlebih dulu. Salah satu cara jitu Alecia agar bisa menjerat Afkar lebih jauh.
"Argghhhh ... Ssshh ... Kamu memang selalu memberikan kenikmatan, Le!" Afkar menghentikan gerakan Alecia di atas tubuhnya. Pria itu sudah tidak sabar ingin sentuhan yang lebih dari itu.
"Jangan lupa janji kamu besok, Sayang!" Alecia menahan sesuatu yang keras di bawah tubuhnya. Menahan pusaka Afkar yang ingin segera memasuki sarangnya.
"Jangan takut, kamu bisa memilih sendiri type mobil yang kamu inginkan. Sekarang lakukan tugasmu!" balas Afkar dengan napas yang memburu.
Alecia merasa senang mendengarnya. Sarangnya telah siap menyambut kedatangan pusaka keras yang sudah tidak sabar ingin dimanja.
Alecia bermain cantik dan lincah di atas tubuh Afkar. Sepintar mungkin ia akan memuaskan pria yang sedang menikmati goyangan tubuhnya itu.
Tak hanya itu Alecia memegang kendali semuanya. Wanita itu memberikan servis terbaiknya. Hal itulah yang membuat Afkar memilih dia disaat pikirannya sedang rumit seperti ini. Alecia mampu membuat Afkar tebang melayang ke langit ke tujuh dalam kenikmatannya.
Keduanya mengerang nikmat saat Alecia berhasil membawa Afkar ke puncak nirwana kenikmatan.
Mereka berdua langsung tertidur lemas sambil berpelukan setelah aktivitas panasnya.
...🌱🌱🌱...
Di tempat lain. Seseorang kembali melaporkan kabar pada Pak Rio. Pria itu langsung pamit sambil membungkukkan tubuhnya setelah kabar yang ia bawa tersampaikan.
"Kurang ajar! Berani dia mempermainkan putriku." Pak Rio terlihat begit emosi sambil mengepalkan tangannya.
"Ron, ikuti terus kemanapun Afkar pergi," titah Pak Rio pada asisten pribadinya.
"Siap, Tuan!" sahut Roni. Asistennya itu keluar dari ruangan Pak Rio. Ia kembali menghubungi orang suruhannya untuk terus mengikuti Afkar.
"Pria itu tidak tahu diri! Saya salah sudah percaya padanya. Dia memang pintar mengelola perusahaan yang saya wariskan untuk Syafa. Tapi dia juga pria yang tidak bisa menahan diri," geram Pak Rio. Pria tua itu sangat kesal dengan sikap Afkar yang berani mengkhianati Syafa di belakangnya.
Belum lama keluar dari ruangan bos nya. Roni kembali masuk ke dalam ruangan itu.
"Permisi, Pak! Maaf ada seseorang ingin bertemu dengan Anda."
Pak Rio mengerutkan alis mendengarnya.
"Siapa?"
__ADS_1
Roni membisikkan sesuatu pada Pak Rio. Pria tua itupun tersenyum miring mendengarnya.
"Dia berani datang ke sini!" Ucapnya. "Suruh dia masuk!" Titah Pak Rio.
"Baik, Pak!"
Tak lama seorang pemuda datang dengan langkah tegap. Pemuda itu masuk ke dalam ruangan Pak Rio dengan begitu gagah berani.
"Selamat malam, Pak rio," sapa Erza sopan sambil menundukkan kepalanya sopan kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Selamat malam juga anak muda." Pak Rio berdiri dan menyambut uluran tangan dari Erza. "Silahkan duduk!"
"Terima kasih, Pak!"
Erza tidak mau basa basi lebih lama. Pemuda itu langsung berbicara pada intinya.
"Saya tidak ingin banyak basa basi di sini, Pak! Kedatangan saya ke sini sengaja ada maksud dan tujuannya," ucap Erza membuat Pak Rio mengerutkan alisnya.
"Saya sudah mengira itu. Tidak mungkin seorang putra dari Rangga Rahardian rela menghabiskan waktunya ke sini jika tidak ada maksud dan tujuannya."
Erza menarik sudut bibirnya mendengar ucapan Pak Rio. "Anda benar sekali, Pak. Kedatangan saya ke sini mempunyai tujuan baik dan sangat penting untuk hidup saya." Erza begitu serius berbicara dengan Pak Rio.
"Anda adalah ayah dari wanita yang sangat saya cintai. Hanya Anda satu-satunya orang tua yang dimilikinya. Meskipun hubungan Anda dengan Yara saat ini sedang tidak baik. Tetapi saya tetap harus meminta restu Anda. Saya Erza Rahadian meminta restu kepada Anda Pak Rio Wirawan yang terhormat untuk menikahi putri kedua Anda yang bernama Ayara Faeqa Wirawan," lanjutnya.
Mendengar penuturan Erza yang meminta restu kepadanya Pak Rio tersenyum lebar. Ia tidak menyangka kalau Erza berani datang langsung kepadanya hanya untuk meminta restu untuk meminang Yara. Meski pada kenyataannya sekarang ini hubungan Pak Rio dan Yara belum mempunyai titik temu untuk berdamai.
"Kamu serius dengan putriku?" Tanya Pak Rio dengan penuh selidik pada Erza. Ia tidak mau Yara kembali memilih pria yang salah seperti Afkar. Pak Rio juga sangat menyayangkan dengan Syafa. Beliau masih harus membenahi satu masalah yang menyangkut sikap dari menantunya itu. Pak Rio tidak akan membiarkan pengkhianatan Afkar terus berlanjut.
"Sangat serius! Saya datang ke sini meminta Anda untuk menjadi wali nikah Yara di acara pernikahan kami," sahut Erza tegas.
Pak Rio tersenyum miris mendapati kenyataan yang terjadi. Harusnya Yara yang saat ini memintanya untuk menjadi wali. Tapi malah Erza calon menantunya yang datang kepadanya. Itu artinya Yara masih belum memaafkannya.
"Jalan takdir Anda sudah seperti ini, Pak Rio. Berharap lah ada kebahagiaan di balik ini semua. Yakinlah! Di hati Yara ada rasa rindu yang begitu dalam pada Anda, Pak. Saat ini rasa kecewa sedang menyelimuti kerinduannya. Kalau Anda masih menginginkan maaf dari Yara. Datanglah besok! Saya dan putri Anda akan hadir bersama di acara peresmian butik milik Bu Haryani, seorang wanita yang sudah berjasa dalam hidup putri Anda selama ini. Sekaligus peluncuran beberapa gaun rancangan buatan Yara," ucap Erza.
Pak Rio tersenyum bahagia mendengarnya. "Saya bangga dengan kesuksesan yang diraihnya sekarang ini. Dia bisa berhasil sukses dengan caranya sendiri. Saya bersyukur Yara bersama dengan pria yang tepat sepertimu. Kamu tahu, saya gagal menjadi di seorang ayah. Saya berharap Yara bisa bahagia denganmu kali ini. Satu harapan saya sekarang ini. Hubunganku dan Yara bisa membaik. Termasuk dengan kakak kandungnya."
Pak Rio melanjutkan obrolannya dengan Erza. Pria tua itu merasa nyaman mengungkapkan semuanya pada Erza. Pada saat itulah Erza melihat sisi yang berbeda dalam diri Pak Rio. Sosok pria diam dan terlihat kejam itu menyimpan banyak luka di hatinya sama seperti Yara, putrinya.
Di saat itu pula Erza membocorkan rencana pernikahan dan rencana kehidupan nya setelah menikah pada Pak Rio. Beliau begitu terkejut mendengarnya. Tetapi pria itu tidak bisa mencegah. Semua sudah keputusan Erza dan Yara. Harapan Erza pun dibicarakannya saat itu. Erza ingin Yara tenang menjalani hidupnya dengan memaafkan semua orang yang bersalah padanya.
Pak Rio semakin bangga dengan pemuda itu. "Kamu adalah malaikat penolongku. Aku harap dengan bantuan darimu, hubungan kami bisa membaik." Pak Rio menepuk pundak Erza dengan bangganya.
Hampir tiga jam berlalu. Erza pun pamit pada pria tua itu. Pak Rio mengantarkan Erza sampai di luar ruangan. Beliau pun melepas kepergian Erza dengan kelegaan. Ia merasa lega, salah satu putrinya bersama orang yang tepat. Saat perjalanan pulang, Erza mencoba menghubungi Yara. Beruntung baginya sambungan teleponnya langsung terhubung. Pria itu juga segera mengganti mode video call pada ponselnya. Kemudian menyimpan ponselnya pada alat penyangga ponsel di depan setir kemudinya. Sehingga Erza leluasa berkomunikasi dengan Yara meskipun sedang berkendara.
"Hai, sedang apa?" Tanya Erza pada wanita yang ada dibalik layar ponselnya.
"Tiduran aja!" jawab Yara singkat sambil rebahan singkat di atas tempat tidurnya.
"Kenapa? Masih sedih dengan kejadian tadi siang?" Tanya Erza. Pria itu kembali membahas kejadian tadi siang yang dialami Yara. Erza mengetahui semuanya dari wanita itu. Yara mulai terbiasa dengan sikap terbuka pada Erza.
"Jangan bahas itu!" sungut Yara kesal sambil mengerutkan bibirnya.
Erza terkekeh melihat reaksi Yara yang cemberut.
"Oke ... Oke," sahut Erza yang kembali fokus dengan kemudinya.
"Za," panggil Yara memicingkan mata mengarah pada layar kamera.
__ADS_1
"Hmmm ...," jawab Erza tanpa memandang lawan bicaranya. Pria itu masih fokus ke jalan. Sebab Erza sedang melewati jalan berbelok.
"Kamu sedang mengemudikan mobil?" Tanya Yara. Wanita itu langsung bangun dari tidurnya. Sambil menatap tajam pada Erza.
"Iya," Erza kembali menjawabnya dengan santai.
"Berhenti!" Sentak Yara tiba-tiba dengan mimik wajah yang langsung berubah khawatir. "Berhenti, Za. Aku mohon!" pinta Yara dengan suara lirih. Tiba-tiba saja ada rasa takut saat mengetahui Erza yang sedang berkemudi memainkan ponsel.
Erza lekas balik menatap Yara. Pria itu heran dengan sikap Yara yang berubah seketika. Erza segera mengikuti kemauan Yara. Saat Erza memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Erza kembali memandang Yara dengan serius.
"Kamu, kenapa? Apa ada sesuatu?" Erza ikut cemas pada Yara.
"Jangan pernah menelepon sambil berkendara, Za. Bagaimana kalau terjadi sesuatu saat kamu kamu? Bagaimana kalau kamu kecelakaan atau tertabrak mobil? Atau bisa saja kamu menabrak orang lain." Yara langsung mencecar Erza dengan segala kekhawatirannya. Bukannya merasa bersalah, Erza malah senyum-senyum sendiri.
"Za, kamu dengar aku? Kenapa malah senyum begitu?" Hardik Yara kesal melihat tanggapan dari Erza.
"Cie ... Cie .... Khawatir ya sama calon suami?" goda Erza sambil menaikkan kedua alisnya. " Sudah ada rasa nih!" lanjut Erza yang terus saja menggoda Yara.
Yara melotot dengan reaksi Erza yang malah menggodanya. "Pasti khawatir aku tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya. Aku tidak mau terjadi sesuatu sama kamu. Bagaimana kamu menjaga aku dan Yara kalau kamu tidak bisa menjaga diri kamu sendiri." Yara mengomel tanpa rem. Wanita itu tidak menyadari rasa itu telah tumbuh dalam hatinya.
Yara takut kecelakaan menimpa Erza seperti kecelakaan yang menimpa Afkar dulu. Yara menjadi trauma, ia sangat takut kalau Erza kenapa-napa.
Erza langsung diam seketika mendengar penuturan Yara.
"Maaf, aku menghubungi mu karena aku rindu!" Celetuk Erza yang merasa bersalah.
"Ya sudah lebih baik jangan menghubungiku kalau kamu sedang berkendara. Jangan membuatku khawatir, lagi!" sahut Yara dengan suara pelan. "Aku tutup teleponnya, kalau sudah sampai rumah hubungi aku!" Tutur Yara.
"Iya, Maaf sudah membuat kamu khawatir."
"Hati-hati di jalan!" Ucap Yara sebelum wanita itu menutup teleponnya.
"Terima kasih, Sayang!" cetus Erza dengan panggilan baru untuk Yara.
Yara langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Erza. Sekarang gantian Yara yang senyum -senyum sendiri mendengar ucapan Erza. Panggilan Sayang untuknya dari sang calon suami berhasil membuat hati Yara berbunga.
'Apa benar kata Erza? Benarkah rasa cinta ini sudah tumbuh di hatiku untuknya? Aku berharap kali ini tidak salah memilih.'
Batin Yara. Wanita itu langsung menoleh ke tempat tidurnya. Di sana ada gaun pengantin cantik kiriman dari calon mama mertua yang sengaja dikirim untuknya.
Keputusan Yara yang menginginkan pernikahan sederhana disambut baik oleh Mama Anggi dan Papa Rangga.
Pernikahan Erza dan Yara yang hanya tinggal menghitung hari itu sangat dinantikan oleh keluarga Rahardian.
Yara mengembangkan senyum saat mengingat begitu. Perlahan sakit hati dan kesedihan yang ia rasakan berganti dengan kebahagiaan.
Yara tidak sabar ingin mengajak Dhiya bersamanya.
.
.
.
To Be Continued
Nyok yang belum follow akun Author. follow ya. Agar tidak ketinggalan saat author ada karya baru nantinya....
__ADS_1
like dan komen jangan lupa ya...