Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Perpisahan


__ADS_3

Erza memutuskan setelah tujuh hari meninggalnya Pak Rio. Dia dan Yara serta Dhiya akan kembali ke Swiss. Dan hari ke delapan ini, sesuai dengan rencana. Yara pun bersiap mengepak barang yang akan dibawa untuk kembali ke negara yang terkenal dengan sebutan negara terbersih dan terindah di dunia itu.


Kabar akan kembalinya Erza dan Yara itu ke Swiss juga sampai ke telinga Mama Anggi. Wanita yang melahirkan Erza langsung bergegas menuju kediaman Wirawan. Kedatangan mertua idaman itu disambut baik oleh Yara.


“Kamu yakin ingin melahirkan di sana?” tanya Mama Anggi pada Yara saat mereka berdua duduk santai di depan taman tepatnya di samping rumah mewah itu. Taman bunga mawar putih yang masih menyisakan beberapa bunga di sana.


Yara mengangguk pelan menjawabnya. “Yakin, Mah. Memang awalnya aku ingin lebih lama di sini. Tapi aku berubah pikiran, Mas Erza lebih membutuhkanku di sana,” ujar Yara sembari menuangkan teh hangat dari teko kecil yang disediakan oleh Bi Tum untuknya dan Mama Anggi. “Mau pakai gula nggak, Mah?” tanya Yara saat ia akan menyajikan secangkir teh untuk Mama Anggi.


“Pakai sedikit saja, Nak,” balas Mama Anggi. Yara pun mengikuti keinginan mama mertuanya itu.


“Teh-nya, Mah!” Yara meletakkan secangkir teh hangat manis di hadapan Mama Anggi.


“Terima kasih, Sayang.” Mama Anggi pun segera mencicipinya.


“Cukup manisnya, Mah?” tanya Yara.


“Cukup. Terima kasih.” Mama Anggi tersenyum manis pada Yara.


“Sama-sama, Mah," sahut Yara yang masih dalam posisi berdiri tak jauh dari Mama Anggi. Wanita muda yang tengah hamil itu melanjutkannya dengan memotong kue yang di bawa oleh ibu mertuanya sebagai buah tangan.


Mama Anggi meletakkan minuman yang dibuatkan Yara ke atas meja. Lalu melanjutkan obrolan pertamanya tadi. “Kalau kamu yakin dengan keputusan yang diambil. Mama hanya bisa mendukung. Mama cuma bisa mendoakan kamu dan kandunganmu ini sehat terus sampai melahirkan nanti,” ujar Mama Anggi sambil mengulurkan tangan ke arah perut Yara yang sudah terlihat buncit. Kemudian mengusapnya pelan. “Sehat-sehat ya dede utun. Kamu pasti kuat seperti ibumu, ini. Oma sudah tidak sabar ingin melihat kamu lahir ke dunia ini,” ujar Mama Anggi yang kembali mengusap-ngusap perut Yara.


“Terima kasih doa terbaiknya, Mah.”


Wanita berumur yang terlihat masih cantik itu tersenyum hangat pada Yara. Ia mengerti dengan kondisinya. Erza yang belum lama merintis perusahaan di luar negeri itu tidak bisa begitu saja melimpahkan pekerjaannya pada orang lain. Hal itu akan berpengaruh pada perusahaannya.


“Kapan jadwal berangkatnya?” Mama Anggi kembali bertanya.


“Nanti sore, Mah.”


Tidak terasa brolan pun terus berlanjut sampai menunggu kehadiran Erza. Mama Anggi sempat tidur siang dan menemani Yara merapikan kembali barang bawaannya. Hingga tiba waktunya. Yara, Erza dan Dhiya untuk bersiap pergi mengikuti jadwal keberangkatan pesawat.


“Sayang, hanya ini saja ‘kan yang akan kita bawa?” tanya Erza saat suaminya itu hendak membawa barang bawaan mereka.


“Iya, Mas. Hanya itu saja, Kok!” jawab Yara.


“Punya Kakak, hanya segini?” Erza kembali bertanya.


“Iya, Pah.”


“Memang pakaian yang kita bawa tidak banyak, Mas,” seru Yara.

__ADS_1


“Pakaian kalian juga masih ada di rumah mama. Apa mau di bawa sekalian? Biar Agus yang ambil di rumah,” sambung Mama Anggi.


“Tidak usah, Mah. Biarkan saja!”


Dari ambang pintu seorang wanita terlihat memandang ke dalam kamar Yara. Jelas terlihat raut wajah sedih pada wanita itu.


“Mamih, kenapa berdiri di sana? Sini masuk!” tegur Dhiya saat melihat Syafa yang tidak langsung masuk saat Erza dan Mama Anggi tengah berbicara soal jam keberangkatannya ke Swiss.


Syafa terperanjat kaget akan teguran Dhiya padanya. Hal itu juga membuat Yara menoleh ke ambang pintu. “Masuk Mba!” titah Yara sembari melambaikan tangan pada kakaknya itu.


Syafa pun perlahan melangkahkan kaki ke dalam kamar Yara. Wanita itu duduk di tepi tempat tidur tepatnya di dekat Yara. Ibu hamil yang sedang merapikan barang bawaannya yang tertinggal.


“Kamu benar akan kembali, Ra?” tanya Syafa dengan nada sedih. Pasalnya Syafa belum lama berkumpulnya dengan adiknya itu. Dan saat ini harus berpisah kembali.


Mendengar ucapan Syafa. Mama Anggi mengajak Dhiya untuk keluar dari kamar itu. Memberi waktu pada dua Kaka beradik itu berbicara berdua.


“Ikut Oma dulu, yuk!” ajak Mama Anggi pelan.


Dhiya mengangguk pelan menjawabnya. Dhiya paham dengan maksud dari Oma cantiknya itu.


Begitu juga dengan Erza. Suami dari Yara langsung pamit membawa barang-barang ke mobil yang sudah siap menunggu mereka.


Yara tersenyum melihat sikap mertua dan suaminya yang begitu pengertian padanya. Kemudian Yara mendekat pada Syafa.


Syafa meraih kedua tangan Yara. “Aku minta maaf, Ra. Maaf jika kamu malah mengingat kembali kejadian itu.”


Yara menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak apa, Mba.”


“Kalau begitu aku yang akan berkunjung ke tempatmu, nanti. Sekarang aku harus menyelesaikan satu persatu masalahku di sini!” sambung Syafa.


“Mba, yakin dengan keputusan bercerai dengan Afkar?” Yara kembali menegaskan.


“Yakin, bahkan sangat yakin.”


Yara dan Syafa saling menatap dalam. Mereka saling menggenggam erat tangan yang saling bertautan itu.


“Aku harap keputusan yang Mba Syafa itu benar-benar yang terbaik. Terima kasih sudah memikirkan perasaanku. Meskipun kita berpisah tapi kita akan tetap berkomunikasi dengan baik,” ucap Yara dan langsung mendapat anggukan dari Syafa.


Dua bersaudara itu saling berpelukan. Ada rasa berat di hati mereka berdua ketika perpisahan datang begitu cepat. Kebersamaan yang begitu singkat dirasakan oleh keduanya. Bahkan mereka juga kehilangan orang terkasih saat berkumpul kembali.


Lambaian tangan menjadi salam perpisahan antara Syafa dan Yara. Saudara kandung yang belum lama berkumpul kembali itu berpisah di area check-in. Kali ini mereka harus benar-benar berpisah untuk menjalani kehidupan masing-masing. Tak hanya dua bersaudara itu. Seorang anak laki-laki yang baru kali ini bertemu kembali dengan Dhiya juga ikut mengantarkan gadis kecil itu ke Bandara.

__ADS_1


Azzam menyusul ke bandara bersama Papa Rangga. anak angkat Mama Anggi dari panti asuhan tempat Yara dibesarkan dulu ikut mengantarkan Dhiya di waktu terakhirnya.


“Maaf baru bisa menemui mu, baru bertemu satu jam yang lalu aku harus kembali berpisah denganmu, Dhiy,” ucap Azzam saat dua anak itu berjalan menuju ruang check-in.


“Kak Azzam sok sibuk!” ketus Dhiya. Anak perempuan itu berjalan cepat menyusul bundanya. Padahal selama berada di Jakarta. Dhiya sangat berharap bisa menghabiskan waktu dengan Azzam.


Seulas senyum terukir di bibir Azzam. “Bukan sibuk. Tapi, aku harus belajar dengan baik dan menjadi pria sukses saat besar nanti. Agar aku tidak malu untuk meminangmu pada ayah dan papa-mu nanti,” bisik Azzam sembari menyeimbangkan langkahnya dengan Dhiya. Seketika langkah Dhiya terhenti usai mendengar ucapan dari Azzam.


Dhiya menggelengkan kepala membalasnya. “Kak Azzam ngadi-ngadi.” Dhiya kembali melanjutkan langkahnya dan kali ini anak itu sudah dirangkul oleh Erza untuk memasuki pintu keberangkatan pesawat.


Azzam terus tersenyum menatap Dhiya. Anak laki-laki itu begitu senang menggoda Dhiya. Tapi dalam hati Azzam, godaan itu bukan sekedar candaan. Ada keseriusan dalam hatinya ketika Azzam dewasa nanti.


Usai berpisah, Syafa keluar bandara bersama dengan kedua mertua Yara dan Azzam.


“Aku langsung pamit pulang, Tante,” pamit Syafa pada Mama Anggi lebih dulu karena mereka melangkah bersama keluar dari bandara itu.


“Berkunjunglah ke rumah Tante kalau kamu kesepian, Fa. Tante sudah menganggap kamu seperti anak Tante sendiri sama seperti Yara,” ucap Mama Anggi seraya mengusap pelan lengan Syafa.


“InsyaAllah, Tan.”


“Jangan sungkan kepada kami. Anggap kami sebagai orang tuamu juga,” sambung Papa Rangga.


Anggukan dan senyuman kecil Syafa berikan. “Terima kasih untuk kebaikannya Om, Tante. InsyaAllah aku akan berkunjung ke rumah kalian nanti.” Segera Syafa mengulurkan tangan untuk menyalami kedua pasutri yang begitu baik itu. Tak lupa juga pada Azzam, anak laki-laki yang tatapan matanya tak lepas menatap keponakan cantiknya, Dhiya.


Syafa melambaikan tangan sebelum ia memasuki mobil yang sudah menunggunya.


“Hati-hati, Fa,” ucap Mama Anggi seraya membalas lambaian tangan Syafa.


Mobil yang membawa Syafa pun perlahan melaju meninggalkan area bandara.


“Kasihan sekali, Syafa. Semoga anak itu kuat menjalani hidupnya. Aku yakin dia wanita kuat sama seperti adiknya, Yara.”


“Kita doakan saja, Mah,” sahut Papa Rangga.


“Doakan aku juga, Pah. Agar rasa yang ku punya hati ini terhadap Dhiya tetap terjaga sampai kami dewasa nanti,” ucap Azzam. Tapi sayangnya anak laki-laki itu hanya berani mengungkapkannya dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


to be continued


__ADS_2