Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Rencana Besar


__ADS_3

Tangis haru tercipta di ruang perawatan pagi itu. Kata maaf tak hentinya terucap dari bibir Pak Rio. Pria tua itu pun melepaskan alat bantu napas yang ia gunakan saat memeluk Yara.


"Papa sangat berdosa padamu, Nak. Maafkan papa!" ucap Pak Rio di sela pelukannya.


Yara mengusap pelan bahu pria tua yang ada di hadapannya itu. "Cukup, pah. Aku sudah memaafkan papa dan Mba syafa, kita mulai hidup yang baru. lupakan semua yang sudah berlalu." Usapan terus yara berikan agar Pak Rio merasa tenang. Pak Rio perlahan melepaskan pelukannya.


"Hatimu seperti mama-mu, Nak. Rasanya penyesalan ini tidak akan pernah ku lupakan. Papa benar-benar melihat diri Mama Mira dalam dirimu."


Pak Rio kembali terisak dengan kepala yang tertunduk. Penyesalan yang pria tua itu rasakan semakin dalam. Yara kembali memeluknya seakan melampiaskan rasa rindu yang ia rasakan. Yara juga dapat melihat penyesalan berat yang dirasakan oleh papa-nya.


"Papa bersyukur masih bisa bertemu dengan kamu, Nak. Kalau tidak, penyesalan ini akan sama seperti rasa sesal untuk Mira. Penyesalan yang akan terbawa sampai mati," ucap Pak Rio dalam tangisnya.


"Papa jangan berbicara seperti itu. Aku yakin mama sudah memaafkan papa sebelum kepergiannya. Mama selalu bilang padaku kalau papa adalah pria baik yang hadir dalam hidupnya."


Mendengar ucapan Yara, Pak Rio semakin terisak dalam. Yara kembali menenangkannya dengan usapan lembut di bahu Pak Rio.


"Kakek," panggil Dhiya.


Yara melepaskan pelukannya pada tubuh Pak Rio. Seketika Pak Rio menoleh ke arah sumber suara. "Cucuku," lirih Pak Rio, kedua sudut bibirnya tertarik melihat gadis kecil itu. Kemudian merentangkan tangannya seakan meminta anak Dhiya untuk mendekat padanya.


Dhiya tak lantas menghampiri, anak kecil itu lebih dulu menatap bundanya, wanita cantik yang saat ini berada di sisi Pak Rio itu melambaikan tangan membalasnya. Meminta Dhiya untuk mendekat padanya.


Dhiya menganguk sebagai jawaban. Lekas ia menoleh pada Syafa yang sedang merangkul tubuhnya. Dhiya juga meminta ijin pada wanita itu. Syafa tersenyum lalu melepaskan rangkulannya.


Perlahan Dhiya menghampiri Pak Rio. Sesampainya di sisi tempat tidur Dhiya berdiri di dekat Yara.


"Kak, salim dulu sama kakek!" titah Yara.


Dhiya lekas mengulurkan tangan pada pria tua yang sedang menatapnya penuh bahagia.


"Anak pintar," ucap Pak Rio usai Dhiya mengecup punggung tangannya.


"Kakek cepat sembuh biar bisa main sama aku," ucap Dhiya.


Pak Rio menganggukkan kepalanya pelan. Lalu mengulas senyum pada anak kecil di hadapannya itu.


"Cucuku yang pintar, doakan kakek agar bisa mengajaknya bermain, ya,x sahut Pak Rio sembari mengacak pelan rambut Dhiya. Ingin rasanya memeluk dan menggendong cucunya itu tapi apa daya keadaan Pak Rio tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Napas Pak Rio kembali sesak usai dirinya banyak bicara dengan Yara dan Dhiya. Erza yang menyadari hal itu langsung mendekati mertuanya. Erza hendak memakaikan alat bantu napas itu. Tapi Pak Rio menolak.


"Papa tidak mau pakai itu," ucap Pak Rio masih dengan napas tersengal tapi perlahan pria tua itu mampu menyeimbangkannya.


"Tapi Papa butuh ini," sahut Erza yang hendak memasangkan alat bantu napas pada papa mertuanya.

__ADS_1


Pak Rio kembali mengelengkan kepala. Pria tua itu malah meraih tangan Erza.


"Yang papa butuhkan bukan itu, tapi Yara. Terima kasih sudah membawa putriku kembali," ucap Pak Rio.


Yara tersenyum mendengarnya. Wanita cantik itu kembali merangkul sang ayah. lalu beralih menatap Syafa.


"Mba Syafa, sini!" Yara melambaikan tangan pada Syafa.


Syafa tersenyum membalasnya. Ia menoleh ke arah Gita. Wanita yang selalu ada buat Syafa itu juga tersenyum membalasnya.


"Sudah waktunya kalian berkumpul," ucap Gita lalu mengelus pundak Syafa. "Hampiri mereka!" titah Gita.


Syafa mengangguk, kemudian wanita itu berjalan menghampiri Yara dan Pak Rio.


Syafa ikut memeluk Pak Rio dan juga Yara. Mereka bertiga saling berpeluk hangat. Tangis Pak Rio kembali pecah dalam pelukan kedua anaknya.


"Papa sangat bahagia hari ini. Papa senang, kalian sudah berada dalam pelukanku," ujar Pak Rio. Pria tua itu kemudian menoleh pada Dhiya yang berdiri terpaku melihat ke arahnya "Sini, cucuku!" panggil Pak Rio pada Dhiya.


Bocah perempuan itu semakin mendekatkan diri pada Pak Rio.


Mereka berempat saling melempar senyum, melepas rasa bahagia yang masing-masing dirasakan.


'Mereka sudah berkumpul kembali, Mir. Aku harap kamu bisa melihatnya dari surga.'


Batin Gita. Tidak mau menganggu kebersamaan papa dan anak itu, Gita memilih keluar dari sana.


Gita menganggukkan kepalanya saat melewati Erza yang tengah berdiri tak jauh darinya. Tak ada kata yang disampaikannya pada Erza. Hanya senyuman sopan yang Gita berikan karena wanita itu merasa asing di sana. Hal yang sama Erza balas pada Gita. Keluar adalah pilihan terbaik. Sebab Gita sadar siapa dirinya, wanita yang tidak memiliki hubungan apapun dengan Pak Rio, Yara dan Syafa. Melihat mereka sudah bersama Gita ikut merasa bahagia. Tidak ingin berlama-lama lagi, Gita meninggalkan ruangan itu. Bahkan tanpa pamit pada Rio. Pria yang selalu ada di hatinya. Gita pun pergi dalam diam.


'Terima kasih selalu ada buat aku dan Syafa, Git. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kamu. Maafkan aku yang tidak bisa membalas perasaan kamu dari dulu. Sayangku padamu lebih besar sebagai sahabat. Dan kita akan tetap seperti itu, Sebab cinta ini hanya milik Mira seorang. Meskipun dia sudah tidak ada lagi di dunia ini. Terima kasih, sahabat ku!'


Batin Pak Rio yang diam-diam memperhatikan kepergian Gita. Pria itu bukannya tidak mau mencegah kepergian Gita. Di waktu lain dirinya akan berbicara berdua dengan wanita itu. Saat ini Pak Rio tak ingin melewatkan kebersamaannya dengan Yara dan Syafa.


🌱🌱🌱🌱


Di luar ruangan, seseorang melihat kebersamaan keluarga yang sedang berkumpul itu. Semangat yang ia kumpulkan dari rumah untuk bertemu dengan putri dan wanita yang ia tunggu itu terhenti.


Afkar, pria itu sesaat terdiam. Ia tersadar saat melihat bersatunya Yara, Syafa dan Pak Rio langsung di depan matanya. Kebahagiaan yang begitu jelas terlihat dari wajah Yara. Wanita yang pernah mengisi hatinya bahkan sampai hari ini. Serapat mungkin ia berusaha menutupi perasaannya. Tetap saja tidak bisa dipungkiri, nama Yara masih melekat di hatinya.


"Ay, akhirnya keinginan terbesarmu bisa terwujud saat ini. Bisa berkumpul dengan kakak dan papa-mu. Aku ikut bahagia melihatnya." Afkar menundukkan kepalanya. Ia teringat dengan keinginannya yang ingin bersatu kembali bersama Syafa. "Ternyata Syafa benar. Tidak seharusnya aku berpikir ingin kembali pada Syafa. Betapa bodohnya diri ini." Afkar menyesali dirinya.


Rasa penyesalan yang besar Afkar rasakan saat itu. Merasa tidak ada artinya di sana, Afkar berbalik badan. Sama seperti Gita, Afkar memilih meninggalkan tempat itu meskipun belum bertemu dengan Yara dan Dhiya.

__ADS_1


Tapi Erza telah lebih dulu menyadari keberadaannya. Erza pun keluar menyusul Afkar. Tapi sebelumnya pamit lebih dulu pada Yara dan yang lainnya.


"Afkar," panggil Erza saat Afkar berada di lobi rumah sakit.


Afkar menoleh dan berbalik badan. Pria itu tidak menyangka kalau Erza mengikutinya. Seulas senyum Afkar berikan saat melihat sosok Erza yang ada di hadapannya.


"Apa kabar, Za?" sapa Afkar yang berjalan pincang ke arah Erza kemudian mengulurkan tangannya.


"Kabar, baik. Bisa kita bicara sebentar?" Tanpa basa basi Erza langsung mengajak Afkar untuk berbicara dan duduk bersama.


Afkar membalas dengan anggukan pelan. "Bisa," jawab Afkar.


"Bagaimana kalau kita bicara di restoran di sana!" Erza menunjuk restoran yang ada di seberang rumah sakit. "Agar lebih nyaman saat mengobrol," lanjutnya.


"Boleh."


Kedua pria yang pernah menjadi rival itu berjalan menuju restoran. Dua pasang mata sedang memperhatikan Erza dan Afkar dari kejauhan.


"Lu yakin mau ngelakuin ini?" tanya seorang pria pada teman pria nya.


"Sangat yakin. Kita tunggu sampai waktunya tiba. Gue yakin anak kecil yang tadi kita lihat itu adalah anaknya. Gue pernah lihat jelas dari foto di dompet Afkar. Gue harus buat Afkar merasakan akibat dari perbuatannya sama gue. Hidup gue susah semenjak jadi buronan seperti ini," ucap Jono. Pria itu terus membuntuti Afkar demi sebuah rencana besar yang telah direncanakan.


.


.


.


To be continued


Hai... Semua pembaca setiaku.


Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena hampir satu Minggu tidak update bab baru.


Author masih berduka. Adik dari ibu meninggal dunia. Dan kami satu atap. Aku dan dia juga cukup dekat.


besok hari ke 7 kepergian beliau.


dan mohon maaf di bab ini kalau alurnya kurang srek. masih belum full buat halu 😔🙏🙏


Terima kasih yang sudah membaca.

__ADS_1


__ADS_2