Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Saling Memaafkan dan Menerima Takdir Yang Ada


__ADS_3

Dhiya sudah berada di rumah sakit saat ini. Rumah sakit yang sama dengan Syafa dan Pak Rio. Mereka berbagi tugas untuk menjaga Pak Rio dan Syafa begitu juga dengan Dhiya.


Afkar melihat dari celah pintu yang sedikit terbuka di luar ruang perawatan Dhiya. Perasaan Afkar sedikit lega saat melihat keadaan Dhiya yang tenang dengan mata terpejam. Berdiri Yara dan Erza di sampingnya. Beruntung peluru yang tembus di lengan kiri Dhiya tidak bersarang terlalu dalam. Sehingga dokter dengan mudah mengambilnya. Kini anak kecil berusia lima tahun lebih itu tinggal menjalani masa pemulihan saja. Tetapi tidak hanya pemulihan fisik saja yang harus di jalani, pemulihan mental pun harus ia lakukan. Sebab penculikan singkat yang dialami secara tidak langsung membuat trauma mendalam pada Dhiya. Bahkan usai penanganan medis yang Dhiya dapatkan. Anak kecil itu sering mengigau dan berteriak meminta tolong karena itulah Yara sama sekali tidak bisa beranjak jauh dari putri kecilnya itu.


Melihat itu Afkar kembali duduk di depan ruangan. Setelah beberapa menit yang lalu ia baru saja dari ruang UGD untuk melihat kondisi Syafa. Keadaan yang belum ada perubahan sama sekali semenjak terakhir kali wanita itu mendapatkan tindakan medis dan donor darah.


Erza menyadari kedatangan Afkar di luar kamar perawatan. Kemudian beralih pada Yara istrinya. Erza mengerti kalau Yara dan Afkar belum sempat bertemu dan berbicara tadi pagi. Kejadian kecelakaan Syafa dan penculikan Dhiya terjadi begitu cepat. Sehingga mantan suami istri itu belum sempat bertegur sapa.


“Sayang,” panggil Erza sembari merangkul tubuh Yara.


Yara yang memang berada di sisi Erza lekas menoleh pada suaminya itu. “Apa, Mas?” sahutnya.


“Di luar ada Afkar. Temui dia, Sayang!” titah Erza.


“Tapi Dhiya? Aku takut dia mengigau lalu mencariku, Mas.”


Erza menggelengkan kepalanya. “Ada aku, kamu tidak perlu khawatir. Barangkali ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan dengan Afkar. Begitu juga dengan dia, Afkar ingin bicara denganmu, Sayang!” ujar Erza.


“Aku dan Mas Afkar memang harus berbicara, Mas. Bolehkah aku berbicara berdua dengannya?” tanya Yara ragu sebab ia merasa tidak enak hati pada suaminya.


“Tentu saja boleh, Sayang. Untuk apa aku melarangnya. Kalian harus saling berdua memang harus sering berkomunikasi. Ada Dhiya yang harus diperhatikan. Meskipun suda ada aku yang jadi papa nya saat ini. Tapi peran dari kalian orang tua kandung dari Dhiya tetap harus terjaga dengan baik.”


Yara tersenyum senang mendengar penuturan suaminya. Kemudian memeluk pria itu. “Terima kasih sudah mengerti keadaanku, Mas. I love u,” ucap Yara di sela pelukannya.


“I love you to, Sayang. Kamu, Dhiya dan anak kita ini adalah bagian penting dalam hidupku. Karena itulah aku ingin kamu melepas bebanmu. Jika ada yang mengganjal di hatimu soal Afkar ataupun masa lalu. Aku ingin kamu melepasnya dengan ikhlas. Kita akan menjalani hidup bahagia kedepannya tanpa ada beban dari masa lalu. Kamu paham, Sayang?” Erza merangkup wajah Yara kemudian mengecup keningnya.


Yara mengangguk paham dengan penuturan yang Erza lontarkan.


“Sekarang, temui dia! Biar aku di sini bersama Dhiya.”


Yara tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kemudian melepaskan tangannya yang masih melingkar di pinggang Erza.


“Hubungi kau kalau dia bangun, Mas.”


Kali ini gantian Erza yang menganggukkan kepala. “Hati-hati! Jaga bunda ya, Sayang.” Erza mengusap perut Yara yang terlihat buncit karena usia kandungannya sudah memasuki 6 bulan jalan. Lalu sedikit membungkukkan badannya untuk mencium perut buncit itu. “Kalau bunda nakal, kamu tendang dari dalam ya,” bisik Erza. Membuat Yara tersenyum mendengarnya.


“Jangan jauh-jauh, di ujung ruangan ini ada cafetaria kecil. Aku tidak mau ada Jono lain yang berkeliaran dan menganggu mu.”

__ADS_1


Yara tersenyum kecil. “Iya, Mas. Aku keluar ya!” pamit Yara. Ia pun berlalu dari hadapan Erza. Langkahnya terasa ringan karena kepercayaan yang diberikan Erza padanya. Yara semakin yakin kalau dihatinya hanya ada nama Erza. Tidak ada lagi yang lain. Tempat yang pernah dihuni oleh Afkar kini hanya milik Erza seorang. Semua sikap Erza ‘lah yang mampu meluluhkan hati Yara.


Sekali lagi Yara menoleh ke belakang di mana dirinya melihat Erza duduk di sisi Dhiya. ‘Ya Allah, terima kasih sudah menghadirkan dia dalam hidupku.’


Batin Yara penuh syukur. Kemudian Yara kembali melanjutkan langkahnya keluar dari kamar rawat itu.


“Kenapa tidak masuk!” tegur Yara pada pria yang sedang duduk sendiri di depan ruang perawatan Dhiya.


Mendengar suara yang Afkar kenal seketika membuat pria itu mendongak. “Yara.” Afkar mengeser tubuhnya untuk memberikan tempat buat Yara duduk. “Duduk, Ra!” Afkar menawarkan tempat duduk untuk Yara.


“Terima kasih, tapi sepetinya ada yang harus kita bicarakan, Mas,” ujar Yara.


Afkar menganggukkan kepala. “Ya, ada hal yang ingin aku bicarakan juga denganmu,” seru Afkar.


“Kita bisa ke cafetaria di ujung ruangan ini, Mas. Akan lebih nyaman untuk kita mengobrol,” ajak Yara.


“Apa Erza tidak keberatan kamu pergi denganku?” tanya Afkar ragu. Ia merasa tidak enak kalau Erza tidak tahu kebersamaannya dengan Yara.


“Dia yang menyuruhku. Mas Erza tidak pernah melarang asalkan kepercayaannya bisa dipegang dengan baik.”


Yara tersenyum mendengar ucapan mantan suaminya itu.


Di cafetaria kecil, Yara dan Afkar berada saat ini.


Keduanya terlihat canggung setelah lama tidak bertemu. Bingung itulah yang keduanya rasakan saat itu. Bingung harus memulai dari mana obrolannya.


“Aku senang ingatan Mas Afkar telah kembali,” ucap Yara memecah kecanggungan yang terjadi.


Afkar tersenyum miris. “Kembalinya ingatanku tidak bisa mengembalikan kamu dan Dhiya. Keserakahanku dan kebodohanku membuat aku kehilangan kalian,” balas Afkar sambil tertunduk lesu.


“Semua sudah terjadi, Mas. Kita harus menerima dan menjalani takdir yang kita dapat saat ini,” timpal Yara.


“Maafkan aku, Ra. Maaf atas semua sikap dan tingkahku selama ini. Aku tahu kamu pasti sakit hati padaku.” Afkar mendongak menatap Yara.


Yara dapat melihat jelas raut penyesalan dari wajah mantan suaminya itu. “Aku sudah memaafkan kamu, Mas. Aku tahu kamu melakukan itu saat hilang ingatan. Aku yakin, jika dalam keadaan sadar mana mungkin kamu melakukan hal itu padaku. Jujur, rasa marah dan kecewa memang aku rasakan. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mampu menerimanya dengan ikhlas. Aku harap Mas Afkar juga begitu.”


“Ya, sama seperti kamu, Ra. Aku sudah mengikhlaskan jalan takdirku yang seperti ini. Kedepannya pun bukan hanya harus merelakan untuk melepaskan mu. Tapi juga aku harus belajar mengikhlaskan Syafa.”

__ADS_1


“Kenapa begitu, Mas?” tanya Yara.


“Syafa ingin bercerai dariku!” Jawab Afkar.


“Apa aku jadi alasan kalian berpisah? Kalau memang benar, aku sarankan untuk memperjuangkan pernikahan kalian, Mas.”


Afkar menggelengkan kepalanya. “Keputusan ini tidak bisa diubah lagi. Aku sudah menyetujui keinginan Syafa, Ra.”


“Tidak, Mas. Kamu harus memperjuangkan Mba Syafa. Aku ikhlas kalian bersama,” timpal Yara cepat. “Kamu adalah pria baik yang pernah mengisi hidupku. Aku yakin Mba Syafa pasti bahagia bersamamu, Mas.”


Seketika Afkar menatap Yara intens. “Apa aku benar-benar sudah tidak ada di hatiku, Ra?” tanya Afkar.


“Tolong jangan bahas yang lain, Mas. Aku sedang membicarakan kamu dan Mba Syafa,” elak Yara.


“Jawab aku!” desak Afkar.


“Sepertinya tanpa menjawab kamu sudah tahu jawabannya, Mas. Aku yakin kamu tahu siapa yang menyembuhkan luka hati ini. Yang sudah membantuku bangkit dari keterpurukan dan yang sudah berbesar hati mengijinkan aku berhadapan serta berdua denganmu saat ini. Aku tidak menampik semua kebaikan dan ketulusan Mas Afkar dulu. Kamu memang pernah ada di hatiku, Mas. Tapi kali ini tempat mu sudah terisi dengan Mas Erza. Maaf aku harus mengatakan hal ini,” ucap Yara tegas.


“Aku mengerti, Ra. Aku hanya ingin bertanya saja tanpa berharap lebih. Aku lega dan senang kamu berada bersama orang yang tepat. Terlebih semua keluarga Erza terlihat sangat menyayangimu dan Dhiya.”


“Meskipun kita sudah berpisah tapi kamu masih mempunyai tanggung jawab untuk memberikan kasih sayangmu kepada Dhiya, Mas. Aku tidak akan pernah melarang dan membatasi kalian berdua.”


“Terima kasih, Ra. Itu pasti, aku tidak akan pernah melupakan tanggung jawabku sebagai seorang ayah pada Dhiya.”


Obrolan terus berlanjut beban yang ada di hati Yara sudah bisa dibicarakan. Begitu juga dengan Afkar. Rasanya hati keduanya merasa lega setelah saling memaafkan dan saling menerima takdir yang ada. Obrolan yang berlalu sekitar hampir satu jam lebih itu harus segera berakhir saat Afkar baru menyadari ada panggilan dari seseorang pada ponselnya. Afkar melihat ada lima panggilan tak terjawab di layar ponselnya. Pikirannya langsung tertuju pada Syafa.


****


Derap langkah begitu nyaring terdengar di lorong rumah sakit menuju ruangan UGD. Dan di saat bersamaan seorang suster yang keluar dengan tergesa-gesa dari ruangan itu. Suster tersebut ingin memberitahu pada keluarga Syafa soal kondisi terkini Syafa saat ini.


.


.


.


to be continued

__ADS_1


__ADS_2