
Setelah tiga hari pertemuan itu. Afkar dan Syafa kembali lagi ke rumah kontrakan Yara. Mereka sudah mengambil keputusan untuk ikut Yara ke kampung halaman Afkar.
Yara merasa senang sekali. Ia lekas memberitahukan Mira, adik Afkar.
Semua nya terdengar senang dan tak sabar menunggu kedatangan Afkar.
Sebelumnya Yara memberitahukan kondisi yang terjadi pada Afkar. Awalnya Mira dan Bu Nuri merasa terkejut tapi perlahan mereka menerima. Mereka tidak akan banyak bertanya pada Afkar.
Mira memberi semangat pada Yara agar kakak iparnya itu tetap bertahan di sisi Afkar.
"Mba Yara yang sabar ya, Aku berdoa semoga ingatan Mas Afkar cepat kembali," ucap Mira dari sebrang telepon.
Yara hanya bis melirik ke arah Afkar yang sedang duduk di depan tepatnya di samping kemudi. Yara meminta agar mereka duduk di tempat duduk terpisah. Yara lebih merasa dihargai oleh Syafa saat meminta dirinya tidak duduk berdampingan dengan Afkar. Syafa menerima dan mencoba mengerti perasaan Yara. Tapi tidak dengan Afkar. Pria itu merasa kesal pada Yara.
Ucapan dingin lebih mendominasi sikap Afkar saat ini pada Yara.
"Aku harus memanggilmu, apa? Nyonya atau ibu?" Tanya Yara pelan saat mobil yang mereka kendarai menuju kampung halaman Afkar melaju dengan kecepatan sedang.
"Umurmu, berapa?"Syafa malah balik bertanya pada Yara.
"23 tahun," balas Yara membuat Syafa terkejut.
"Hah, 23 tahun? yang benar. Kamu masih muda sekali!" Ujar Syafa. Umur berapa kamu menikah?" lanjut Syafa.
"Sekitar 18 tahun. Saat itu aku baru lulus sekolah menengah atas. Dan Mas Afkar langsung mengajakku menikah," balas Yara.
Syafa tersenyum mendengarnya kemudian pandangannya mengarah pada Afkar yang sedang duduk di depannya.
"Mbak Syafa ... Apa aku boleh memanggilmu seperti itu?" Syafa mengangguk pelan kemudian terkekeh kecil mendengar ucapan Yara.
"Kenapa tertawa?" tanya Yara yang duduk sampingan Syafa sembari melihat heran ke arah wanita itu.
"Seharusnya istri kedua yang menyebut, Mba pada Istri pertama. Kenapa malah kebalikan Istri pertama yang manggil begitu!" canda Syafa. Yara hanya bisa menarik sudut bibirnya menanggapi candaan Syafa.
Perjalanan dari Jakarta ke Mojokerto hanya selang dua jam sampai tujuan jika memakai pesawat terbang. Setelah keluar dari bandara. Yara sangat tidak sabar ingin segera sampai di rumah mertuanya.
Perjalanan menuju sana pun menjadi seru bagi Syafa. Wanita yang tidak pernah pergi ke pedesaan sebelumnya begitu takjub dengan semua pemandangan yang ada.
__ADS_1
"Apa masih jauh rumah Mas Afkar?" Tanya Syafa pada Yara.
"Sebentar lagi!" Jawab Yara singkat tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
"Kamu tidak sopan, lihat lawan bicaramu saat kamu menjawab pertanyaannya," celetuk Afkar pada Yara. Entah mengapa semua yang dilakukan Yara salah di mata Afkar.
Bagaimana tidak jengkel. Afkar seakan tidak perduli keberadaanya, tidak peduli dengan perasaannya. Meskipun Syafa selalu mengingatkan Afkar tapi pria itu seakan tidak menganggap Yara ada diantara mereka.
Yara meminta berhenti saat ada di depan komplek perumahan Segar Asih.
"Bisa berhenti di sini?" pinta Yara memuat supir menghentikan laju mobilnya.
"Apa rumahnya masuk ke perumahan sini?" Tanya Syafa.
"Rumah kontrakanku dan Mas Afkar ada di dalam sana!" Balas Yara.
"Apa tidak sebaiknya kita langsung ke rumah orang tuaku?" Afkar menimpali .
"Aku ingin kamu mengawalinya dari sini, Mas. Sebab kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama di sini," seru Yara dengan tatapan penuh harap membuat Afkar tidak bisa menyahuti.
Semenjak Yara menegur Afkar agar tidak bermesraan dengan Syafa di hadapannya. Afkar terus saja merasa kesal pada wanita itu. Afkar lebih menyukai sikap anggun dan manis dari Syafa dari pada Yara.
"Ini rumah kalian?" Tanya Syafa sambil mengedarkan padangan ke sekeliling rumah sederhana itu.
"Belum resmi menjadi rumah kami. Kami masih mengontrak di sini!" Sahut Yara.
Afkar berjalan menyusuri tiap sudut ruangan di rumah itu. Rumah minimalis tapi begitu nyaman dan rapi. Banyak foto kebersamaan Yara, Afkar dan Dhiya terpanjang di sana.
Selagi Afkar sedang asik melihat foto-foto. Yara mencoba berbicara dengan Syafa.
"Aku sebenernya ingin tahu, darimana Mba Syafa bertemu dengan Mas Afkar," celetuk Yara membaut Syafa salah tingkah dan tidak bisa menjawab ucapan Yara. Sebab kecelakaan itu tidak ada satupun yang tahu.
"Aku membantunya ke rumah sakit dan ... " Syafa tidak bisa melanjutkan ucapannya sebab pertanyaan itu begitu mendadak buatnya. Padahal Syafa merencanakan untuk jujur pada Afkar suatu saat nanti. Kalau begini, apa Afkar masih akan memaafkannya jika tahu kalau Syafa lah yang sudah menabraknya. Dan menjauhkan pria itu dari Keluarganya.
"Dia yang menolongku dan Papa Rio yang membiayai semua pengobatanku. Seharusnya kamu berterima kasih pada Syafa karena kalau bukan karena dia. Mungkin saja saat ini nyawaku sudah tidak tertolong lagi," serobot Afkar menimpali ucapan Yara.
Syafa mengangguk, membenarkan perkataan Afkar. Untuk saat ini biarkan dulu seperti ini. Suatu saat nanti Syafa akan jujur pada Afkar. Para tetangga yang melihat kedatangan Afkar langsung mendekat. Sebab yang mereka tahu, Afkar orang yang humble dan ramah. Tak ada sikap canggung yang mereka tunjukkan.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba saja semua berubah. Afkar yang biasanya menyambut baik sapaan para tetangga saat itu hanya diam dan sedikit tersenyum.
Yar memberi pengertian pada mereka. Jika Afkar sedang ada masalah dalam ingatannya.
"Oh, Afkar hilang ingatan karena kecelakaan. Tapi wanita yang ada di samping Afkar, siapa, Ra? Kenapa Afkar manggil dia sayang?" Tanya Bude Warsih. Yara tidak bisa menjawab pertanyaannya itu.
"Nanti jika ada waktu aku akan menceritakannya, Bude!" balas Yara dan mendapat anggukan dari wanita tua itu
"Sabar ya, Ra," lanjutnya.
"InsyaAllah, doakan bude. Kami pamit dulu mau ke rumah bapak."
"Ya, hati-hati. Salam sama ibu mertua mu dan Dhiya."
Hanya anggukan yang Yara berikan.
Sepanjang perjalanannya Syafa sama sekali tidak mau jauh dari Afkar.
Yara merasa jadi orang ketiga. Dari sikap yang Afkar tunjukan sama Yara. Ia sudah bisa menyimpulkan jika pria itu masih belum bisa menerima teguran darinya.
Yara harus lebih sabar dan kuat melihat kemesraan mereka. Ia memilih duduk di samping pak supir dari pada harus menyaksikan kemanjaan Syafa pada Afkar. Sikapnya langsung berubah setelah pulang dari rumah kontrakan Yara tadi.
'Maaf, Yara. Aku tahu kamu pasti sakit hati melihat kemesraan ku. Tapi aku lebih tidak mau kehilangan Mas Afkar. Aku sangat mencintainya. Aku tidak mau kehilangan dia. Aku takut kalau setelah ini Mas Afkar mengingat kembali ingatannya dia akan berpaling dariku. Maaf jika aku akan egois. Aku terima, jika aku jadi adik madumu. Kita lihat siapa yang akan jadi pemenang hati Afkar, dan saat itulah salah satu dari kita harus mundur untuk merelakannya.'
Batin Syafa sambil merangkul tangan Afkar kemudian mendekapnya lebih erat. Afkar tersenyum dan menyambut baik sikap manja Syafa.
Tak lama setelah itu mereka kembali bergegas ke rumah Bu Nuri, mertua dari Yara.
.
.
.
Apa yang akan terjadi setelah itu...
baca terus kelanjutannya. jangan bosen ya meskipun otor belang bunting up nya .😁😁😁
__ADS_1