Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Tawaran Kerja Sama


__ADS_3

Yara meneliti design yang terkena tumpahan saus. Terlihat rusak dan berminyak. Beruntung dia bisa menyelamatkan kertas yang lainnya.


Melihat ada tisu di sisi meja. Yara segera membersihkan tumpahan saus itu.


Yara juga melihat ada beberapa kertas kosong di sana. Ia berpikir akan mengganti gambar yang sudah ia rusak tanpa disengaja itu.


“Aku harus menggantinya,” gumam Yara.


Perlahan Yara duduk bersila di meja lesehan itu. Sebelumnya Yara memerhatikan gambar design yang rusak setelah itu ia akan mulai menggambar sesuai contoh.


Pelan tapi pasti dengan keahlian yang Yara miliki, pensil yang dipegangnya saat ini bergerak lincah meninggalkan goresan demi goresan yang tercetak indah di atas kertas putih itu, membentuk gambar gaun yang begitu indah.


Yara kembali memperhatikan contoh sebelumnya. Untuk bagian atas memang tidak terlihat jelas. Yara memulai berpikir untuk sedikit mengubah gambar di bagian lengan. Yara membuat gaun dengan model lengan panjang tapi model tangan itu terbelah dari pundak sampai pergelangan tangan. Yara juga memberikan sedikit bentuk bulat kecil sebagai mutiara di beberapa bagian. Dalam pikiran Yara, gaun itu akan terlihat sangat elegan ketika pemakainya menggerakkan tangannya. Belahan itu akan memperlihatkan bagian lengan yang tertutup. Sopan, mewah dan elegan. Mungkin itu yang akan dibuat dalam design ini, itu pikir Yara.


“Semoga pemilik gambar ini tidak buru-buru kembali,” ucapnya kemudian meneruskan coretannya di kertas putih itu.


Di dalam kamar mandi seorang wanita yang usianya sekitar hampir setengah abad, tepatnya 40 tahun umur yang dimiliki wanita itu, Haryani Wangsadinata, wanita itu terlihat masih sangat cantik karena perawatan yang ia lakukan. Beliau bangun dari perendaman tubuhnya di dalam bathtub. Haryani enggan beranjak dari tempat ternyamannya saat ini karena aroma terapi yang menyejukkan dan membuat tubuhnya menjadi rileks dan tenang.


“Ah ... Nyaman sekali bisa seperti ini. Tidak ada yang menggangu dan aku lebih menikmati hidup,” ucapnya. Padahal dalam hati kecilnya ia rindu sentuhan kasih sayang seorang pria. Janda tanpa anak itu masih memiliki rasa trauma. Rasa sakit hati karena pengkhianatan sang suami membuat Haryani enggan menjalin kembali biduk rumah tangga dengan pria manapun.


Merasa sudah terlalu lama berendam. Haryani segera keluar dari dalam bathtub. Ia teringat dengan pekerjaannya yang tertunda, pelanggan setianya meminta dibuatkan gaun untuk pesta. Haryani segera berpakaian dan menyisir rambutnya yang masih basah. Ia sengaja tidak menggunakan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya. Sebab menurutnya akan membuat rambut indahnya cepat rusak dan pecah-pecah.


“Hem ... segar sekali habis keramas wangi lagi. Tubuh dan rambutku wangi sekali. Setelah otak ini diperas untuk berpikir. Kini saatnya kita kembali bekerja,” ucapnya sambil menyemangati diri sendiri.


Krucuk ... krucuk ...


Suara dari cacing di dalam perutnya kembali mengingatkan wanita itu kalau perutnya minta di isi. Seharian menghabiskan waktu menggambar beberapa gaun pesanan membuat Haryani lupa jika tubuhnya butuh asupan gizi.


Haryani tidak tahu kalau pesanan makanannya sudah sampai dan menunggu untuk dibayar.


“Mungkin setelah berendam akan ada ide bagus yang muncul,” celetuknya. “Ya ampun ... Perutku lapar sekali, apa pesanan makananku sudah sampai?” Haryani melihat jam di dinding kamarnya. Ia pikir ojek online yang membawa makanan pesanannya pasti sudah datang dan sedang menunggunya di depan.” Haryani segera turun dari lantai dua rumahnya. Tidak terasa hampir satu jam dia memanjakan diri di kamar mandi.


Dengan langkah tergesa Haryani berjalan menuju ruangan di mana ia meninggalkan beberapa gambar design yang dibuatnya tadi. Ketika sampai di lantai dasar, Haryani menghentikan langkahnya. Matanya memicing melihat ke arah wanita yang sedang duduk lesehan di sana. Ia pun segera mendekatinya.


“Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di mejaku?” tegur Haryani dengan suara sedikit tinggi pada Yara kemudian mengedarkan matanya melihat apa yang terjadi. Haryani membulatkan matanya saat melihat design dibuat olenya rusak terkena tumpahan saus.


Yara tersentak kaget, ia langsung berdiri dari duduknya ambil memegangi satu kertas di tangannya.


“Apa yang terjadi? Kenapa gambar milikku jadi rusak seperti ini?” Haryani terlihat marah, sambil mengambil gambar buatannya yang susah payah ia buat dari dua jam yang lalu, kotor dan berminyak.


“Maaf, Bu. Aku tidak sengaja menumpahkan makanan yang ibu pesan, sungguh!” ujar Yara dengan memasang wajah bersalahnya sambil menunduk takut.


“Oh .. My God! Gambarnya jadi rusak begini.” Haryani langsung memperlihatkan wajah tak bersemangatnya saat melihat design gambarnya rusak.

__ADS_1


“Sekali lagi saya minta maaf! Tapi saya mencoba untuk bertanggung jawab menggantinya.” Yara menyerahkan kertas putih di tangannya pada Haryani.


Wanita yang ada di hadapan Yara itu mengernyitkan alisnya. Ia menerima kertas dari tangan Yara. Alangkah terkejutnya Haryani saat melihat goresan pensil hasil karya dari tuang ojek online yang membawa pesanan makanan untuknya itu.


"Tadi kata ibu yang ada di rumah ini ,saya disuruh masuk ke dalam sini, saja. Saya sudah meletakkan pesanan ibu di meja sini. Karena merasa tertarik melihat design yang berserakan saya melihat sebentar dan tidak sengaja menyenggol makanan yang ibu pesan. Saya mohon maaf, Bu. Maka dari itu saya hanya bisa mengganti rugi dengan menggantikan gambar yang saya buat meskipun gambar itu tidak mirip dengan gambar buatan ibu!" Yara mencoba menjelaskan apa yang terjadi.


“Siapa yang membuat ini?” tanyanya pada Yara. Wanita itu masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Saya, Bu!” jawab Yara.


Haryani lantas menatap Yara. “Benar, kamu yang membuatnya?” Haryani menegaskan.


Yara mengangguk pelan. “Iya, Bu!”


Haryani terdiam sesaat. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. memang tidak ada siapapun di sana. lalu Haryani kembali meneliti hasil karya Yara dengan baik.


‘Wanita ini kenapa bisa sedetail ini mendesign gaun malam ini. Gaun yang ia buat bahkan lebih elegan daripada milikku tadi’


Batin Haryani. Matanya sampai menyipit memperhatikan hasil karya Yara.


Merasa sangat bersalah atas kecerobohannya. Yara hanya tertunduk dan diam, ia takut harus mengganti rugi dalam jumlah besar atas apa yang sudah ia buat.


“Saya rasa hasil karyamu ini sangat cocok dengan apa yang sedang saya pikirkan. Perpaduan yang sangat elegan,” ujar Haryani sontak membuat Yara mendongak menatap Haryani.


Yara mengusap dadanya sendiri merasa lega mendengar ucapan wanita yang ada di hadapannya itu.


Tak lama, ponsel Haryani berdering. Wanita itu segera meraih ponsel miliknya, ia pun segera menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.


“Bagaimana? Apa sudah jadi gaun yang aku minta pada Anda, Nyonya? Setidaknya Anda bisa mengirimkan design-nya lebih dulu untuk aku serahkan pada model-ku!” Ucap seseorang di sebrang telepon.


“Sudah, sebentar saya kirim gambarnya sekarang!” balas Haryani dengan wajah leganya.


“Baiklah aku tunggu, kalau Rihana menyetujuinya segera percepat proses pembuatan gaunnya!” Lanjutnya.


“Ok, baiklah.”


Saat sambungan telepon itu terputus. Haryani segera meletakkan kartas bergambar design itu di atas meja kemudian memotretnya. Haryani segera mengirimkannya kepada orang yang baru saja meneleponnya tadi.


Senyum senang terukir di wajah Haryani. Wanita itu kemudian mendekati Yara. Ia merasa penasaran, kenapa Yara bisa menggambar sebagus itu.


“Kemari lah!” Haryani melambaikan tangan pada Yara agar ikut duduk di sisinya.


Yara pun mengikutinya.

__ADS_1


Saat ini kedua wanita berbeda usia itu saling duduk berhadapan.


“Kamu pandai sekali menggambar desain gaun ini? Goresan tangan ini adalah hasil karya dari seseorang yang berpengalaman. Apa kamu seorang desainer?” Tanya Haryani.


Yara lekas menggelengkan kepala, menjawabnya.


“Bukan, Bu! Itu hanya hobi saya. Dulu sebelum menikah, saya sangat suka menggambar. Tapi baru kali ini saya bisa melanjutkannya,” Ujar Yara sambil tertunduk.


Haryani mengamati raut wajah Yara.


“Kamu sudah menikah?” tanyanya tak percaya. Melihat penampilan dan wajah Yara yang terlihat masih sangat muda.


“Sudah, Bu!”


“Kalau kamu sudah menikah kenapa kamu bekerja jadi ojek online seperti ini?” Haryani semakin penasaran dengan wanita muda di hadapannya ini.


“Itu ... Itu .. karena---,” Yara diam tak meneruskan ucapannya. Tidak mungkin Yara mengumbar kepada orang lain kalau suaminya telah mendua. Masalah hidupnya terlalu rumit untuk diceritakan. Yara masih bisa menahan kekecewaan hatinya karena Yara sadar, apa yang suaminya lakukan bukan atas dasar sehat. Afkar melakukan itu saat ingatannya hilang.


”Sudahlah, kalau kamu ragu untuk menjawabnya tidak perlu kamu beritahu, Aku ada tawaran menarik untukmu. Itupun jika kamu bersedia,” ucap Haryani.


Wanita yang berprofesi sebagai desainer ternama itu berniat menjalin kerja sama dengan Yara. Melihat kemampuan yang dimiliki wanita muda itu, Haryani sudah bisa membayangkan akan kesuksesan yang akan diraih oleh Yara.


“Aku mau mengajak kamu bekerja sama denganku! Kenalkan aku Haryani Wangsadinata,” Wanita berumur yang penampilannya masih sangat cantik itu mengulurkan tangannya pada Yara.


Mendengar itu, bola mata Yara membulat. Ia sangat hapal dengan nama itu. Nama yang ia tahu sebagai salah satu desainer yang patut diacungi jempol karena karya-karya buatannya banyak dipuji dan dipakai oleh banyak kalangan. Sebuah karya yang selalu terdengar sopan, elegan dan mewah. Sangat cocok untuk kalangan orang berderajat tinggi.


“Bagaimana dengan penawaran ku?” Haryani menegaskan tawarannya pada Yara.


Yara masih terdiam mencerna setiap ucapan yang dilontarkan oleh Haryani.


.


.


.


Bersambung...


Maafkan kemarin libur up. ada keperluan dadakan.


Author usahakan hari ini double up..


Terima kasih untuk kalian yang masih setia membaca cerita author.

__ADS_1


Jangan lupa like, tinggalkan komentar juga. Hari ini Senin vote. buat readers yang mempunyai vote nganggur bisa kirim ke ceritaku ini ya. sekalian bunga juga 😁😁


__ADS_2