Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Keputusan Yara


__ADS_3

"Terima kasih sudah mengantarkan aku, Bu!" Ucap Yara sopan saat mereka berdua tiba di depan sebuah kamar.


"Sama-sama. Panggil saya Bu Titin aja, Non! Bibi sudah siapkan pakaian ganti buat Non Yara, mudah-mudahan cukup."


"Maaf jadi merepotkan bibi!" Yara tertunduk sopan kemudian tersenyum hangat pada wanita itu. Setelah mengucapkan terima kasih untuk kedua kalinya, Yara pamit masuk ke dalam kamar.


Pandangan mengedar ke seluruh ruangan saat berada di dalam ruangan itu. Seperti ucapan Bi Titin tadi, ada beberapa baju yang sudah siap di atas tempat tidur.


Yara memilih membersihkan tubuhnya terlebih dulu. Berada di bawah guyuran air shower, Yara duduk sambil menekuk kedua kakinya. Ia kembali mengingat kejadian yang tadi di Pengadilan Agama. Kenyataan baru yang begitu menyakitkan untuknya. Bersama dengan air yang mengguyur tubuh. Yara menumpahkan tangisnya. Kenyataan yang begitu menyakitkan itu kembali teringat. Apalagi saat mendengar bahwa papa nya sendiri yang telah menyembunyikan kebenaran jika Mas Afkar sudah berumah tangga dengan Yara. Agar pria itu bisa menikah dengan Syafa, kakak kandungnya. semua tidak dibenarkan meskipun beliau belum tahu kalau Yara adalah putri keduanya.


Madu nya selama ini ternyata kakak kandungnya sendiri.


Seharusnya, Yara merasa senang saat mengetahui siapa papa dan kakaknya yang selama ini ia rindukan. Tapi rasa kecewanya terlalu besar sehingga Yara memilih tidak mau bertemu dengan mereka.


Cukup lama Yara berdiam diri. Ia membiarkan tubuhnya dingin akibat air yang terus mengguyur tubuh. Apalagi suhu air di tempat itu sangat berbeda dengan di Kota. Lebih dingin dari biasanya. Semua Yara lakukan hanya untuk menenangkan diri.


Wanita itu kembali memikirkan semua yang ia ucapkan pada dua orang yang berhubungan darah dengannya. Ada rasa penyesalan saat itu. Tapi dengan cara seperti itulah dirinya mengungkapkan rasa marah dan kecewa pada Syafa dan Pak Rio.


Setelah dirasa cukup tenang. Yara segera bergegas beranjak dari kamar mandi. Dingin yang menusuk tulang ia rasakan saat ini.


Yara tersenyum saat melihat penampilannya di depan cermin. Pakaian yang di sediakan oleh Bi Titin begitu pas di tubuhnya. Dress rumahan bermotif bunga kecil. Yara sangat nyaman saat memakainya. Saat itu Yara ingat pada Bu Haryani.


"Aku belum mengabari Bu Haryani. Dia pasti mengkhawatirkan ku!" gumam Yara. Ia segera meraih tas selempang miliknya kemudian menghubungi Bu Haryani.


Panggilannya langsung terhubung saat Yara menghubungi Bu Haryani. Yara memberitahu keberadaannya dan sama siapa sekarang ini.


"Syukurlah kamu baik-baik saja, Ra. Ibu khawatir padamu!" Ucap Bu Haryani dari sebrang telepon.


"Bu , sepertinya aku tidak bisa pulang malam ini. Tapi ibu tenang saja aku dan Erza tidak tinggal dal satu atap. Dia tidur di paviliun yang ada di sebelah villa ini," ungkap Yara. Ia tidak mau Bu Haryani berpikir yang tidak baik padanya.


"Ibu percaya, pasti kamu bisa menjaga diri dengan baik. Tenangkan dirimu dulu, jika perasaan kamu belum tenang di sana. Tante Anggi juga sudah memberitahu ibu tadi. Mungkin Erza sudah mengabari dia lebih dulu. Jadi ibu sudah tahu kabar kamu dari beliau."


"Aku merasa tidak enak, Bu. merepotkan seperti ini," lanjut Yara.


"Jangan berbicara seperti itu. Bersyukur lah aku berada bersama orang baik. Ibu kenal Tante Anggi, dia orang bai dan tulus. Jadi ibu yakin kalau Erza pasti tidak jauh berbeda seperti mama-nya.


"Ibu, benar! Erza memang sudah beberapa kali membantuku."

__ADS_1


"Nah, kamu sudah merasakan kebaikan dns ketulusannya 'kan?"


"Sudah, Bu. Tapi aku merasa tidak adil jika aku meneruskan perjodohan dengannya. Aku hanya membutuhkan sesuatu darinya saja," ucap Yara ragu.


"Apa kamu ada niat untuk kembali pada Afkar. Jika Syafa bersedia bercerai dengan Afkar dan dia melakukan itu demi dirimu, Ra." cetus Bu Haryani.


"Tidak mungkin, Bu! Aku tidak mungkin melakukannya."


"Kalau begitulah belajar untuk mencoba. Tidak ada salahnya bukan? Belajar melupakan yang sudah terjadi. Sakit hati dan terus terpuruk malah menimbulkan dendam dalam hatimu, Ra. Itu tidak baik! Hatimu akan dikuasai oleh dendam yang bisa membuat hidupmu tidak tenang. Ikhlaskan semuanya! Termasuk pada Syafa dan Pak Rio. Biarkan Sang Pencipta yang akan memberi mereka pelajaran. Kamu harus yakin, setiap perbuatan yang pernah kita lakukan pasti akan ada balasannya." Bu Haryani panjang lebar memberi nasehat pada Yara.


"Aku akan mencobanya, Bu. Terima kasih selalu mengingatkan ku."


"Ibu sudah menganggap kamu seperti putriku, Ra."


Yara tersenyum mendengarnya. Di balik kekecewaan pada Pak Rio dan Syafa ada rasa syukur yang berlimpah dalam hati Yara. Di saat ada orang baik di sekelilingnya.


"Satu lagi, Ra."


"Apa, Bu?"


"Sebesar apapun rasa kecewa dan amarahmu pada papa dan kakak kandungmu, kamu harus sabar dan memaafkannya. Setiap manusia pasti punya kesalahan. Mungkin harus dengan ini cara Sang Pencipta mempertemukan kamu dengan keluargamu. Yakinlah ada kebahagiaan dibalik ini semua. Ibu tidak membela mereka. Tapi, kalau kamu sudah merasa tenang. Ijinkan papa-mu untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Agar kamu bisa tenang menjalani hidup kedepannya. Bagaimanapun kalau bukan karena dia, kamu tidak akan ada di dunia ini, Ra! Bersyukur 'lah saat kita masih bisa melihat dan bertemu orang yang ingin kita jumpai!" Bu Haryani kembali mengingatkan Yara. Bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini.


Yara mengucapakan salam pada Bu Haryani sebagai tanda berakhirnya obrolan itu. Bersama Bu Haryani, Yara merasa bersyukur. Beliau seperti seorang ibu yang selalu memberi nasehat dan mengingatkannya dalam hal apapun. Karena itulah Yara bisa menjadi wanita kuat sekarang ini. Kalau bukan bantuan dari Bu Haryani. Yara bisa terus terpuruk atas apa yang terjadi padanya.


Yara diam sesaat memikirkan semua ucapan Bu Haryani. Tidak semudah itu memaafkan, karena dia hanya manusia biasa yang mempunyai perasaan dan ras kecewa. Mungkin waktu 'lah yang akan menyembuhkan semuanya meskipun goresan luka pasti akan tertinggal sampai kapanpun.


Keputusan Yara sudah bulat. Ia akan mengambil hak asuh Dhiya dengan bantuan Erza. Memberi jawaban untuk Erza. Pergi bersama pria itu setelah hak asuh Yara dapatkan. Membangun kehidupan baru, di tempat baru bersama Erza. Meninggalkan semua kenangan yang membuat hatinya hancur. Mungkin dengan tempat baru, perlahan sakit hati itu bisa terobati bersama waktu yang akan menemaninya.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. sore telah berganti malam. Pantas aja suasana semakin terasa dingin. Tapi hal itu membuat Yara merasa nyaman. Wanita itu berjalan menuju jendela kemudian membuka tirai yang menutupinya. Keindahan malam itu terlihat jelas. Sebab bangunan yang Yara tempati saat ini berada di posisi atas. Sehingga pemandangan malam hari di sana begitu indah. Lampu-lampu dari bangunan yang ada di bawahnya nyala membuat keindahan tersendiri di sana.


Di luar kamar. Seorang pria melangkah memasuki villa. Bangunan yang telah menjadi tempat bersejarah untuk kedua orang tuanya itu.


"Bi ...." Panggil Erza, saat pria itu masuk ke dalam villa.


"Ya, Den." Bi Titin segera mendekati Erza saat pria itu memanggilnya.


"Tolong siapkan makan malam. Kalau sudah siap, suru Yara makan dulu! Nanti, tolong bibi temani Yara tidur di sini juga. Aku akan tidur di paviliun depan saja!" Ujar Erza memberi perintah pada wanita yang sudah lama bekerja dengan orang tuanya itu.

__ADS_1


"Siap, Den! Den Erza makan di mana?" Tanya Bi Titin.


"Kalau saya gampang, 'kan mau makan singkong rebus campur keju buatan bibi! Jangan lupa kasih susu ya, Bi!"


"Iya, Den. Den Erza sama Mang Diman 'kan?"


Erza mengangguk pelan. Di saat yang bersamaan Mang Diman datang dari pintu samping sambil membawa satu kantong hitam di tangannya kemudian menyerahkan bawaannya itu kepada Bi Titin.


"Iyeu teh naon, Pak?" Tanya Bi Titin saat bawaan itu beralih padanya.


"Singkong, Bu! Buat nanti malam bapak sareng Den Erza bergadang di paviliun," Ujar Mang Diman.


"Ooh ... Nya ntos atuh, ibu bade ngabersihan heula singkong na!" Bi Titin pun berlalu menuju dapur dengan bawaan yang diberikan Mang Diman tadi.


"Mang, kayu bakarnya ada 'kan?" Tanya Erza.


"Ada, Den. Mamang langsung nyiapin semuanya. Den Erza pasti akan membuat api unggun di halaman belakang," tebak Mang Diman.


Erza lekas menepuk pundak Mang Diman. "Benar banget sih, Mang!"


"Gimana gak bener, Hal itu yang pasti dilakukan setiap kali Den Erza ke sini!"


Erza dan Mang Diman tertawa bersama sambil melangkah keluar villa. Tatapan Erza tertuju ke pintu kamar yang di tempati Yara. Dia merasa penasaran dengan keadaan wanita itu.


'Aku tunggu jawaban kamu, Ra! Aku harap mendengar berita baik malam ini!'


Batin Erza kemudian melanjutkan langkahnya menuju paviliun. Dia dan Mang Diman bersiap untuk membuat api unggun di belakang villa.


.


.


.


To Be continued


terima kasih yang masih setia membaca cerita ini jangan lupa follow akun Author ya..

__ADS_1


Like dan komen di setiap babnya.


Salam kenal buat kalian semua 😘😘


__ADS_2