Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Erza


__ADS_3

Bergulat dengan kertas gambar dan pensil membuat Yara tidak sadar jika waktu sudah berlalu hingga sore hari. Dan hasil karya yang sempurna membuat Yara mengembangkan senyumnya.


"Aku kira tangan ini sudah lupa bagaimana cara menggambar desain baju," gumam Yara sambil memandangi goresan pensil yang ia buat.


Yara tersenyum saat melihat hasil karyanya sendiri, ia ingat betul keinginannya dulu semasa sekolah. Sering mengikuti lomba menggambar desain pakaian. Bahkan Yara mendapatkan beasiswa masuk meneruskan kuliah ke luar kota karena lomba itu. Tapi sayang impiannya harus terkubur saat Afkar meminangnya setelah lulus sekolah SMA. Yara harus memilih antara menikah atau melanjutkan sekolah.


Yara memilih menerima pinangan Afkar daripada harus meneruskan kuliahnya. Sebab salah satu impian Yara adalah memiliki keluarga. Setelah wafatnya Mama Mira, Yara merasa sendir. Dan hanya Afkar yang mampu memberikan kasih sayang tulus dan perlindungan bagi Yara selain Ibu Lidia pengurus panti.


"Bunda," panggil Dhiya yang baru saja bangun dari tidurnya sambil berjalan dengan gerakan mengucek mata ke ruangan depan.


Yara tersenyum melihat tingkah Dhiya.


"Eh ... Dede sudah bangun. Sini, duduk sama bunda!" Yara menepuk paha agar Dhiya mau duduk di pangkuannya.


Dhiya masih menguap saat duduk di pangkuan Yara.


"Bunda agy apa?" Tanya Dhiya saat melihat kertas di hadapannya.


"Kebiasaan bunda di rumah dulu, Dede ingat gak?" Yara mengingatkan.


Dhiya mengangguk pelan. "Dede juga bisa gambal kaya bunda. Tapi Dede lebih suka gambal lumah dan gedung dalipada gambal baju," oceh Dhiya dengan lucunya.


Yara sampai menciumi dengan gemas pucuk kepala Dhiya.


"Bunda ...,” panggil Dhiya lagi.


"Apa sayang?"


"Dede Lapel," sahut anak kecil itu.


"Ya ampun, bunda lupa. Dhiya belum makan ya dari tadi siang?"


Dhiya mengangguk pelan menjawabnya.


"Dhiya mau bunda masakin apa? Atau mau makan di luar?" Tanya Yara.


"Telul ceplok aja pake kecap ya, Bun."


Yara mengangkat tubuh Dhiya agar duduk di karpet bulu yang ia duduki saat ini. Yara segera masak makanan kesukaan Dhiya. Makanan sederhana yang selalu jadi langganan anak itu. Telur ceplok pake kecap, beruntung Yara sudah memasak nasi sebelumnya.


Setelah telur ceplok matang. Yara hendak menyuapinya pada Dhiya. Tapi anak kecil itu menolak. Dhiya mulai terbiasa makan sendiri. Yara tersenyum bangga melihatnya. Ada rasa sedih di hari Yara saat melihat kemandirian Dhiya.


'Maafkan bunda, Nak! Kamu harus ikut dengan bunda yang keadaannya sangat berbeda dengan kondisi di rumah ayah yang sekarang. Tapi bunda janji, kamu tidak akan kekurangan tinggal bersama bunda.'


Batin Yara sedih.


Hari ini begitu sulit ia lalui. Yara masih harus menata hati saat ia mengambil keputusan untuk pergi dari Afkar. Melepaskan pira itu bersama istri keduanya. Tapi Yara merasa bersyukur pada Dhiya yang mengerti akan perasaannya saat ini. Anak itu tidak merengek minta kembali ke ruang mewah milik Syafa. Padahal anak kecil itu baru saja mendapatkan kamar impiannya dari Syafa.


🌱🌱🌱


Di rumah sakit.

__ADS_1


Syafa tidak tenang semenjak Afkar pamit pergi ke pabrik. Beberapa kali ia mencoba menghubungi Afkar tadi tidak tersambung begitu juga dengan Anton. sekretaris suaminya itu juga susah dihubungi.


Bu Nuri bisa menangkap kegelisahan yang Syafa rasakan.


"Kamu kenapa, Fa?" Tanya Bu Nuri.


"Ah, tidak pa-pa, Bu." Syafa mencoba mengelak.


"Kamu khawatir sama Afkar?"


Syafa mengangguk pelan. "Aku merasa takut jika jauh dari dia, Bu. Aku tidak mau jauh dari Mas Afkar," Ucap Syafa.


"Mungkin itu bawaan bayi kalian. Dulu ibu juga sama sepertimu, tidak mau jauh dari bapak saat hamil Afkar," ujar Bu Nuri.


"Benarkah?"


Bu Nuri mengangguk, membenarkan.


Kedua wanita itu melanjutkan obrolannya. Sikap Bu Nuri itu sangat berbeda dengan sikapnya kepada Yara. Hanya karena berbeda status dan derajat, sikapnya jelas membedakan.


Usai pertemuan dengan meninjau langsung pabrik tekstil bersama beberapa kliennya Afkar segera pulang tapi bukan ke rumah sakit. Afkar berencana untuk menemui Yara di rumah kontrakannya. Tapi rencananya gagal, karena Syafa kembali menghubungi Afkar. Mau tidak mau Afkar kembali memerintahkan kepada supirnya untuk kembali ke rumah sakit.


"Mas ...," Syafa langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan Afkar.


Afkar pun menyambutnya dengan baik.


"Papa sudah bilang tidak usah pergi ke kantor dulu, Fokus pada kesehatan istri dan anakmu! Kenapa tidak mendengar ucapan papa!" Hardik Pak Rio.


Mendengar balasan dari Afkar ada kebanggaan tersendiri bagi Pak Rio. ia menilai Afkar bukan orang yang gampang menikmati kenyamanan dan kekuasaan. Sikap tanggung jawabnya terhadap pekerjaan sangat jelas terlihat.


Beberapa hari terakhir ini juga Pak Rio memantau kinerja Afkar di perusahaan. Beliau menilai sikap Afkar bagus dan tegas dalam bekerja.


Afkar mengajak Syafa untuk kembali ke berbaring di brankar.


"Istirahat lah, aku tidak akan pergi meninggalkanmu," ucap Afkar membuat Syafa lega.


Pak Rio hanya diam saat melihat Afkar mencoba menenangkan Syafa. Ia melihat rasa ketakutan Syafa persis dengan kejadian dulu.


Melihat putrinya tertidur nyaman semenjak kedatangan Afkar. Pak Rio pamit pulang kepada Afkar dan Bu Nuri.


Saat ini hanya ada Bu Nuri, Afkar dan Syafa yang sudah terlelap.


"Menurut ibu, lebih baik kamu ikuti ucapan mertuamu. Temani dia dulu sampai pikiran dan hatinya tenang Kalau di rumah 'kan ada ibu, Dhiya juga Yara," ujar Bu Nuri.


"Yara pergi bersama Dhiya, Bu! Seperti kata ibu, Yara kesini tadi pagi, dan sepertinya dia mendengar semua keinginan Syafa dan ucapanku yang akan meminta dia untuk tidak tinggal bersama aku dan Syafa hanya untuk sementara waktu. Sampai Syafa merasa nyaman."


"Apa, Yara pergi? Kapan?"


"Aku tidak tahu kapa pastinya. Tapi ia menulis surat untukku," balas Afkar dengan wajah murung. Sedari tadi pikirannya tidak lepas dari Yara. Afkar merasa khawatir pada wanita itu.


"Ah ... Pasti dia sengaja pergi. Yara itu orangnya tidak betah di rumah. Dia pasti ingin bebas. Kamu mau tahu kenapa ibu tidak suka dengan istri pertamamu itu!" Bu Nuri mulai memancing Afkar agar terhasut oleh ucapannya.

__ADS_1


"Ya aku mau tahu, kenapa aku melihat sikap ibu kepada dia sangat berbeda. Sebenernya apa kesalahan yang Yara lakukan?" Afkar semakin penasaran. Ia ingin tahu yang sebenernya, berulang kali mencoba mengingat masa lalu bersama Yara. Tetap saja sulit bagi Afkar untuk mengingatnya.


Waktu dan kesempatan yang bagus bagi Bu Nuri. Ia memutarbalikkan fakta yang sebenarnya. Bu Nuri malah menceritakan hal yang tidak pernah Yara lakukan hanya untuk membuat Afkar benci pada Yara.


"Apa benar dia seperti itu, Bu. Aku melihat sikapnya baik."


"Itu di depanmu, nanti kamu cari tahu saja sendiri. Dia pasti lebih senang dan bebas hidup di luar. Dia bebas melakukan apapun yang ia mau, tanpa merasa terkekang olehmu.


Afkar mulai ragu dengan rasa ibanya pada Yara karena hasutan jelek Bu Nuri pada Afkar. Kamu Yara adalah wanita yang ingin bebas dan genit pada laki-laki.


Bu Nuri menarik sudut bibirnya saat melihat Afkar yang mulai terpengaruh oleh ucapannya.


"Ibu pulang dulu, sudah malam. Kasihan bapakmu di rumah." Bu Nuri pamit pada Afkar.


"Tidak usah membangunkan Syafa. Biarkan dia beristirahat. Ingat kamu harus jaga perasaan dan kandung Syafa sekarang." Bu Nuri memperingatkan.


"Iya, Bu. Mau aku antar pulang?" Afkar menawarkan diri.


"Tidak perlu ada pak supir yang mengantar." Bu Nuri berlalu dari hadapan Afkar untuk pulang.


"Hati-hati, Bu," Ucap Afkar saat melihat Bu Nuri meninggalkan ruangan itu.


Sampai malam tiba, di rumah kontrakan yang Yara dan Dhiya tempati kembali sepi saat anak gadisnya itu sudah terlelap. Yara terdiam sambil mengelus pelan punggung Dhiya.


"Bodoh sekali aku, berharap Mas Afkar akan ke sini menemui ku dan Dhiya. Aku yakin dia pasti sudah baca surat ku," lirih Yara. Wanita itu sedih mendapati kenyataan yang sedang ia alami saat ini .


Dua Minggu telah berlalu sama seperti sebelumnya. Yara menjalani pekerjaannya sebagai ojek online menggantikan Kak Ima yang berhenti karena hamil. Akun yang Yara pakai masih milik Kak Ima. Dhiya semakin betah bersama Yara. Tidak pernah ia menanyakan keberadaan ayahnya lagi. Sebab Kak Ima dan Bang Boy begitu manjakan Dhiya. Anak kecil itu begitu senang mendapat perlakuan hangat dari pasangan itu. Padahal saat ini Kak Ima sedang mengandung.


"Bu, aku mau beli makanan yang itu, boleh?" pinta Dhiya sambil menunjuk stand makanan yang ada di luar parkiran motor. Dhiya begitu senang bisa jalan-jalan dulu ke pusat perbelanjaan setelah pulang dari rumah sakit. Mereka sempat ke stand bermain anak-anak terlebih dulu sebelum pulang dan itu semakin membuat Dhiya makin girang.


"Boleh, ayo! Sambil nunggu apah ambil motor," balas Kak Ima sambil menggandeng tangan Dhiya menuju tempat yang ia mau.


Apah adalah sebutan untuk Bang Boy dari Dhiya.


Dhiya duduk di bangku sedangkan Kak Ima mengambil makanan yang diminta anak itu.


"Loh motornya mana?" Ucap seorang pria yang panik saat melihat motor miliknya tidak ada di tempat semula.


Pria itu langsung duduk di pinggiran jalan sambil menelepon seseorang.


Perhatian Dhiya terus tertuju pada pria itu. Kemudian turun dari tempat duduk lalu berjalan mendekatinya.


"Om, jangan sedih. Ini premen buat, Om!" Dhiya menyodorkan premen kepada Erza.


Ya, Pria yang saat ini sedang kehilangan motor itu namanya Erza. Pria yang sedang melarikan diri dari kehidupannya. Sambil membawa motor milik sahabatnya Jodi.


.


.


.

__ADS_1


Siapa Erza? ada yang tahu? apa tempe?


__ADS_2