
Setelah beristirahat, tak lama Syafa dan Yara mengungkapkan kejadian yang sebenarnya terjadi pada keluarga Afkar.
Dan di saat yang bersamaan pula Syafa mengakui kesalahannya bahwa dia adalah orang yang telah menabrak Afkar. awalnya semua terkejut tapi karena tanggung jawab siapa terhadap Afkar membuat mereka memaafkan wanita itu.
"Aku minta maaf, kepada Mas Afkar. Jujur, aku takut masuk penjara karena itulah, aku berusaha bertanggung jawab atas semua pengobatan Mas Afkar. Aku tidak menyangka perlahan perasaan ini tumbuh padanya." Syafa menoleh kepada Afkar. "Aku yang baru saja dikhianati oleh kekasihku, merasa nyaman dan aman dekat dengannya." Syafa tersenyum manis kepada Afkar.
Semua yang ada di sana mendengarkan dengan baik cerita Syafa. Termasuk Afkar. Dan hal yang mengejutkan Yara adalah ucapan Afkar yang mengatakan bahwa Afkar tidak peduli siapa yang sudah menabraknya yang pasti agar sudah merasakan ketulusan dan kebaikan Syafa kepadanya.
"Tapi kamu membuktikan kalau kamu tulus merawatku, Sayang! Kamu bertanggung jawab atas hidupku. Secara tidak langsung kamu sudah menebus kesalahanmu yang telah menabrak ku." Sahut Afkar sambil menatap Syafa dengan lembut pria itu pun menarik jemari Syafa dan mengusapnya lembut. Afkar seakan tidak memandang Yara yang ada di hadapan mereka.
Sakit, perih rasanya ingin menjerit saat melihat orang yang dicintai bermesraan dengan orang lain di hadapannya. Bahkan mendapat dukungan dari ibu mertuanya, Bu Nuri.
Usai menceritakan semuanya Syafa merasa lega karena telah mengungkapkan yang sebenarnya pada Afkar. Kedepannya Syafa tidak ingin ada kebohongan lagi dalam rumah tangganya.
Yara menjadi sangat pendiam setelah itu.Tidak berguna itulah yang Yara rasakan saat ini. Wajar jika Bu Nuri begitu mengistimewakan Syafa dari pertama datang hingga malam ini.
Saat di meja makan pun, Bu Nuri terlihat begitu menjamu Syafa.
" Berarti kamu dan papamu sudah mengeluarkan uang banyak untuk pengobatan Afkar di Singapura? Terima kasih, Shafa. Ibu tidak tahu harus membalasnya dengan apa?" ujar Bu Nuri.
"Itu sudah menjadi tanggung jawabku, Bu!" Sanggah Syafa.
Saat berkumpul tiba-tiba ada seseorang datang ke rumah Bu Nuri. Dia adalah pemilik rumah kontrakan yang ditempati oleh Yara dan Afkar. Beliau mendengar kabar jika Afkar telah kembali. Di saat itulah pria tua itu langsung datang ke rumah Pak Setyo. Pria tua yang bernama Pak Mulyo itu ingin menanyakan kelanjutan tempat tinggalnya yang di kontrak oleh Afkar. Kebetulan memang beliau juga bersahabat sejak lama dengan Pak Setyo.
"Eh, Pak Mulyo. Apa kabar? Ada keperluan apa ya?" Tanya Bu Nuri pada pria tua itu.
"Saya dengar Afkar sudah pulang, ada yang mau saya bicarakan dengannya," ujar Pak Mulyo.
"Iya benar sekali, Pak. Putraku sudah kembali. Alhamdulillah sekarang dia ada di dalam. Tapi maaf, untuk saat ini sepertinya Afkar belum bisa diajak bicara soal masa lalu."
"Kenapa Bu Nuri? bukannya Afkar sehat-sehat saja. Maaf saya tahu ini dari tetangganya." Tanya Pak Mulyo penasaran.
__ADS_1
"Mungkin keadaan fisik baik-baik saja, Pak. Tapi Afkar sedang mengalami hilang ingatan, saat dia kecelakaan! Ya, saya harap bapak mengerti." Bu Nuri berbicara sopan kepada Pak Mulyo. "Oh, ya. Saya sampai lupa menawari Pak Mulyo untuk masuk. Silahkan, Pak! Kita bicarakan di dalam saja," ajak Bu Nuri sambil membuka pintu lebar-lebar agar Pak Mulyo ikut masuk ke dalam rumahnya.
"Kebetulan sekali kami sedang berkumpul. Ada menantu saya juga baru datang dari Jakarta." Bu Nuri berjalan ber-iringan bersama dengan Pak Mulyo. Ucapan yang yang dilontarkan Bu Nuri sampai terdengar oleh Yara yang saat itu baru saja beranjak dari dapur.
"Akhirnya Yara menemukan Afkar ya, Bu. Sehingga dia bisa pulang bersama dengan suaminya. Tiara memang menantu yang baik juga sopan," ujar Pak Mulyo.
"Bukan Yara, Pak Mulyo. Ini loh Syafa menantu baruku. Lihatlah! Cantik bukan?" Bu Nuri merangkul Syafa agar berdiri di hadapan Pak Mulyo. Syafa merasa diperkenalkan oleh ibu mertuanya kemudian mengangguk pelan pada pria tua itu.
"Oh, menantu baru. Jadi Afkar mempunyai dua istri? Maaf, saya kira tadi Yara. Lalu di mana dia?" Tanya Pak Mulyo.
"Itu dia!" Tunjuk Bu Nuri malas pada Yara yang baru saja muncul dari arah dapur. Ia baru saja membuatkan minuman hangat buat Pak Setyo.
Yara segera menghampiri Pak Mulyo kemudian mengulurkan tangannya untuk menyalami pria tua itu. Sebab Yara mengenal baik Pak Mulyo. Beberapa kali Yara sering bertemu dengan pria tua itu. Kadang mereka berbincang-bincang soal banyak hal.
"Apa kabar, Yara?" Sapa Pak Mulyo sambil tersenyum manis kepada wanita itu.
"Alhamdulillah baik, Pak," jawab Yara sambil tertunduk sopan dengan nada suara yang lembut kemudian berjalan sedikit mendekati Pak Setyo memberikan minuman hangat yang ia bawa.
"Semuanya cantik tapi sepertinya hanya satu yang bisa di andalkan," seru Bu Nuri sambil melirik sinis pada Yara kemudian tersenyum manis pad Syafa.
Mira bisa melihat perlakuan ibunya yang begitu membedakan kedua menantunya itu.
Pak Mulyo mengerutkan alis mendengarnya. Kemudian menatap Yara dan Syafa bergantian. Pria itu bisa menebak maksud dari Bu Nuri. Sebab Pak Mulyo tahu bagaimana sikap istri dari sahabatnya itu kepada menantu lamanya.
Yara yang mendapat sindiran pedas itu hanya bisa tertunduk. Pak Setyo menyentuh lengan Yara. Yara menoleh ke arah mertuanya. Kemudian tersenyum memberi tahu pada beliau kalau dia baik-baik saja.
Afkar hanya diam saja dengan perlakuan ibunya kepada kedua wanita yang ia tahu sebagai istrinya.
Diamnya Afkar karena pria itu sedang memahami sikap yang ditunjukkan oleh ibunya. Afkar penasaran kenapa Yara begitu dibedakan oleh Bu Nuri.
"Bu, tegur Mira usai mendengar ucapan Bu Nuri. Adik dari Afkar itu tahu jika yang disebut bisa diandalkan itu adalah Syafa. Sebab Bu Nuri baru saja mengetahui siapa Syafa sebenarnya. Dari cerita yang baru saja Syafa ungkapkan pada mereka semua.
__ADS_1
Bu Nuri bisa menyimpulkan bahwa menantu barunya itu berasal dari keluarga kaya. Ibu dari Afkar itu hanya melengos mendapat teguran anak perempuannya, Mira.
"Silakan duduk, Pak!" Mira mempersilakan Pak Setyo agar duduk bersama dengan mereka.
"Maaf kalau kehadiranku menganggu acara kumpul keluarga ini?" ucapnya sambil memandang semua anggota keluarga itu. Dan berakhir menatap Afkar.
"Nak Afkar, bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Pak Mulyo.
"Keadaan saya baik, Pak. Tapi maaf kalau saya benar-benar tidak ingat siapa, bapak!" balas Afkar tegas.
"Ya, bapak mengerti kondisi mu saat ini. Tak apa yang penting kamu ada dan semuanya hadir." Pak Setyo tersenyum pada Afkar.
"Kedatangan saya kemari hanya mau menanyakan kembali soal rumah yang di tempati Yara dan Afkar. Saya ingin menjualnya, tapi sesuai dengan perjanjian yang pernah saya ucapkan bersama Afkar, dia meminta saya agar tidak mengalihkan rumah itu kepada orang lain. Tapi sekarang saya sedang butuh uang, jika memang Afkar masih lama dan tidak jadi membeli rumah itu. Saya minta maaf, rumah itu akan saya jual pada orang lain," tutur Pak Mulyo.
"Maafkan saya, Yo. Tadinya saya ingin menunggu sampai Afkar mempunyai dana untuk membayar rumah itu, tapi mau bagaimana lagi, saya dan keluarga sedang butuh uang buat pengobatan Wahyu putraku," Ungkap Pak Mulyo dan mendapat anggukan pelan dari Pak Setyo.
"Biar saya yang membayar rumah itu! berapa harganya?" Tanya Syafa serius pada Pak Mulyo.
Semua orang langsung menoleh ke arahnya. Termasuk Bu Nuri yang menatap bangga pada menantu barunya itu.
"Benar 'kan Syafa bisa diandalkan dalam hal ini," celetuk Bu Nuri kemudian menatap Yara seakan meremehkan menantunya itu.
Yara tersenyum miris menyaksikannya. Dirinya semakin tidak berguna dan tidak berarti di keluarga itu.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1