Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Sama-Sama Keras Kepala


__ADS_3

Mendapati kabar lewat pesan singkat yang dikirimkan oleh Syafa. Afkar bergegas pergi menuju rumah sakit tempat bapaknya dirawat. Sesampainya di rumah sakit. Syafa yang melihat kedatangan suaminya itu berlari kecil menghampiri Afkar.


"Mas, kamu kemana saja?" Syafa langsung memeluk Afkar. "Bapak, Mas!" Ucap Syafa lirih disertai Isak tangis disela pelukannya dengan Afkar.


Tak lama pintu ruangan UGD terbuka. Beberapa petugas kesehatan mendorong brankar yang diatasnya terdapat jenazah dari Pak Setyo yang tertutupi kain putih.


Jenazah itu akan langsung dibawa ke rumah duka. Bu Nuri yang ada di belakang brankar itu baru menyadari keberadaan Afkar. Langkahnya terhenti saat itu juga. Termasuk jenazah Pak Setyo yang didorong pun ikut terhenti.


Syafa melepas pelukannya. Afkar pun mendekati jenazah dari Pak Setyo. Perlahan Afkar membukanya. Sosok bapak yang belum ia ingat jasanya itu telah memejamkan mata. Permintaan terakhirnya pun belum sempat ia penuhi. Pak Setyo ingin bertemu dengan Yara, itulah permintaan terakhir Pak Setyo padanya.


Tak terasa Afkar meneteskan air mata di sudut matanya. Entah mengapa begitu sakit ia rasakan saat melihat tubuh seorang pria yang terbujur kaku itu.


Bu Nuri yang ada di sisi Afkar segera memeluk pria itu.


Afkar hanya bisa terdiam dan terpaku mendapati kenyataan yang ada di hadapannya saat ini.


"Sebaiknya kita segera membawanya ke rumah duk! Agar segera dikebumikan. Tidak baik menundanya terlalu lama," ucap Syafa mengingatkan.


Afkar lekas menoleh pada Syafa. "Bukankah kamu sering berkomunikasi dengan Yara?" Tanya Afkar penuh selidik. "Hubungi dia, kabari kalau bapa meninggal dunia. Sebab permintaannya yang belum terpenuhi hanya bertemu dengan Yara. Dan bisa saja Dhiya bersama bundanya saat ini!" Titah Afkar dengan tatapan tajam pada Syafa.


Istrinya itu hanya bisa mengangguk pelan. Syafa tampak ragu saat akan menghubungi Yara di depan Afkar.


"Cepat hubungi!"


"Iya, Mas!" Syafa segera merogoh ponsel di tasnya. Wanita itu segera menghubungi Yara. Tapi seperti tadi siang. Nomer Yara tidak bisa dihubungi.


Syafa mengelengkan kepalanya pelan. "Tetap tidak bisa dihubungi, Mas!"


"Tinggalkan pesan padanya kalau kalau aku akan menuntut atas pengaduan penculikan. Jika benar Dhiya ada bersamanya. Aku akan fokus dengan pemakaman bapak dulu!" Afkar memberi kode kepada para petugas kesehatan untuk kembali mendorong jenazah menuju mobil ambulans.


"Ayo, Mba!" Ajak Mira sambil merangkul Syafa. Bu Nuri dan Afkar sudah berjalan lebih dulu dari mereka.


"Mir, tunggu!" Syafa mencekal Mira saat adik iparnya yang hendak melangkah.


"Apa, Mba?"


"Aku mau bertanya. Tolong jawab jujur!"


Mira menganggukkan kepalanya pelan.


"Apa sifat Mas Afkar memang seperti itu. Tidak mau dibantah dan harus dituruti? Aku belum terlalu paham dengan sikap asli Mas Afkar, Mir! Bagaimana perasaan dia sama Yara dulu?" Tanya Syafa ragu.


Seulas senyum Mira balas.


"Mba Syafa tidak perlu khawatir meskipun sikapnya egois dan tidak mau dibantah. Tapi Mas Afkar tipe sering pria yang tulus jika sudah menyayangi wanita. Dia tipe pria yang bertanggung jawab," ujar Mira menenangkan Syafa.


"Ya, aku paham itu hanya saja aku takut terjadi sesuatu." Risau Syafa.


"Jangan terlalu banyak berpikir. Ibu hamil harus banyak berpikir positif. Sudah ya, kita pulang. Kasihan jenazah bapak!"


Syafa pun mengangguk dan berbarengan melangkah bersama Mira.


Beruntung adik iparnya itu sudah sembuh jadi ada teman bertukar pikiran saat Syafa berada di rumah. Sebab Mira memang ikut tinggal bersama Syafa.

__ADS_1


Mira dan Syafa segera menyusul Afkar dan Bu Nuri yang sudah berada di dalam mobil.


Suara mobil ambulans pun mengiringi perjalanan mereka.




"Papa bangga padamu, Nak!" Gumam seorang pria tua saat melihat keberhasilan dicapai oleh Yara. Wanita itu terlihat cantik dengan penampilannya yang anggun di atas panggung catwalk.


"Ron, dia mirip sekali dengan istriku! Cantik, anggun dan ramah. Sayangnya aku yang bodoh ini malah memintanya pergi dari sisiku karena kesalahan yang tidak dia perbuat," ucap Pak Rio dengan sesak di hatinya.


"Apa bapak tidak ingin memberi selamat secara langsung?" Tanya Roni.


Pak Rio menggeleng kepala membalasnya. "Cukup melihatnya dari jauh sudah jadi kebahagiaan tersendiri buatku, Ron. Aku tahu dia pasti masih merasa kecewa padaku. Ada sebuah kalimat yang menyebutkan kalau luka di hati akan sembuh dengan berjalannya waktu. Biarlah aku tunggu sampai waktu itu tiba, Ron." Pak Rio tetap bersikeras dengan pendiriannya.


Sesaat Pak Rio merasakan sesak di dadanya. Beruntung asistennya itu selalu membawa inhaler khusus untuk sesak napas.


Roni dengan sigap memberikan alat itu pada Pak Rio. Hanya beberapa kali hisapan dari inhaler itu membuat deru napas pria tua itu berangsur membaik.


"Apa Anda masih mau di sini lebih lama, Pak?" Tanya Roni. Pria muda itu melihat waktu dipergelangan tangannya. "Sudah waktunya Anda beristirahat." Roni kembali mengingatkan.


Pak Rio menarik kedua sudut bibirnya saat mendapat perlakuan baik dari asistennya itu. Asisten yang belum lama ini menggantikan ayahnya, Pak Mardi.


"Kamu seperti ayah mu, Ron. Semua hal tentangku sama sekali tidak terlewati. Andai saja Syafa belum menikah aku benih rela dia bersama denganmu! ketulusanmu sungguh dapat saya rasakan selama ini," ujar Pak Rio pada Roni.


Roni hanya bisa tersenyum menanggapinya ucapan Pak Rio. "Saya merasa tersanjung dengan ucapan Anda, Pak! Rasanya sangat jauh dari bayanganku mendapat pasangan seperti Nona Syafa."


Pak Rio berdiri dari duduknya. "Kamu lebih mengerti siapa Syafa. Apa dia mempermasalahkan soal derajat dan kedudukan seseorang!" Pak Rio bangkit dari duduknya. "Kita pulang sekarang. Acaranya sudah selesai, kamu tidak lupa mengabadikan moment tadi 'kan? Aku ingin melihat ulang di rumah nanti!"


"Aku bisa sendiri, Ron. Jangan menganggap aku selemah itu!" Pak Rio kemudian berjalan pelan meninggalkan ruang itu.


"Benar kata almarhum ayah, dia benar-benar keras kepala tapi pada kenyataannya dirinya rapuh." Roni menggelengkan kepala melihat sikap Pak Rio.


Saat berada di dalam lift. Pak Rio memikirkan sesuatu. Apa benar dia akan meninggalkan tempat itu tanpa menunjukkan dirinya di hadapan Yara. Setidaknya memberikan sesuatu yang sudah dipersiapkan oleh dirinya sebagai hadiah untuk keberhasilan Yara saat ini.


"Ron, sebaiknya kamu ke mobil lebih dulu! Ada sesuatu yang harus saya lakukan sebentar!" ungkap Pak Rio.


"Apa perlu saya bantu, Pak?" Roni menawarkan diri.


Pak Rio mengelengkan kepalanya. "Tidak perlu! Saya bisa sendiri."


Roni sedikit membungkuk. Pria itu lekas keluar dari *lift* yang membawa dirinya dan Pak Rio turun dari lantai tiga gedung itu. Setelah Roni keluar, *lift* kembali tertutup dan membawa Paka Rio naik kembali ke lantai tiga di mana acara masih berlangsung.


Pak Rio membuang napas berat. Kemudian memejamkan mata sejenak. "Apa dia mau menerima pemberianku? Apa dia mau bertemu dengan pria sepertiku?" Tanya Pak Rio pada dirinya sendiri.


Ting ...


Lift pun terbuka. Pak Rio meyakinkan dirinya kalau semua akan baik-baik saja. Dia tidak meminta lebih hari ini, biarpun tidak mendapat maaf dari Yara tapi Pak Rio berharap barang pemberiannya bisa sampai di tangan putrinya.


Pak Rio berjalan pelan kembali ke dalam ruangan. Ternyata acara telah selesai. Hanya ada beberapa artis ibukota yang tampil. Pak Rio merasa putus asa. Harapannya tidak bisa terwujud. Matanya berkeliling memperhatikan satu persatu orang yang ada di dalam sana.


Manik mata Pak Rio berbinar saat menemukan sosok yang ia cari.Saat ingin mendekati Yara, ia melihat binar kebahagiaan terpancar di wajah putrinya itu. Pak Rio jadi merasa ragu untuk melangkah, ia takut keceriaan Yara hilang begitu saja saat melihatnya.

__ADS_1


Seseorang yang ia kenal melewatinya. Pak Rio memilih mundur. Ia tidak mau merusak kebahagiaan Yara.


"Bu Haryani!" panggil Pak Rio pelan saat wanita itu melewatinya.


Bu Haryani menyipitkan mata saat melihat pria yang ada dihadapannya itu.


"Pak Rio!"Bu Haryani menegaskan.


"Maaf saya menganggu waktu Anda. Saya ke sini hanya mau menitipkan ini untuk Yara." Pak Rio menyodorkan satu kotak kecil yang terbungkus rapi.


Bu Haryani menerimanya dengan sedikit ragu.


"Apa ini, Pak Rio? Kenapa Anda tidak memberikannya sendiri pada Yara?" seru Bu Haryani.


"Anda lihat sendiri keceriaan putriku. Apa dia masih bisa tersenyum seperti itu. Kalau saat ini aku tiba-tiba menghampirinya. Yara pasir terkejut, bisa saja saat ini aku adalah orang yang paling tidak diharapkannya kedatangannya saat ini. Aku tidak mau merusak kebahagiaan Yara. Satu lagi, terima kasih karena Anda telah menjadikan Yara wanita yang kuat dan sukses. Aku bangga dia jadi wanita yang mandiri dengan caranya sendiri." Pak Rio hendak berlalu dari ruangan itu.


Tak ada tanggapan sedikitpun dari Bu Haryani. Bu Haryani hanya bisa menangkap satu sikap yang sama dari keduanya.


"Mereka sama-sama keras kepala. Papa dan anak itu tidak ada yang mau mengalah. Satu sisi merasa sangat bersalah dan aku untuk mengakuinya dan satu lagi bersikeras dengan kebenciannya padahal aku lihat disudut hatinya ada rasa rindu yang tersimpan untuk pria itu. Hanya saja, rasa kecewa lebih besar daripada rasa rindunya. Aku berharap suatu hari nanti ada keajaiban untuk mereka. Aku tidak bisa menyudutkan siapapun, karena aku tidak ada di posisi salah satu dari mereka. Aku hanya berharap yang terbaik saja." Bu Haryani menyayangkan sikap keduanya. Ia menatap kotak kecil yang ada di tangannya.


Wanita itu ingin memberikan titipan Pak Rio pada Yara. Tapi benar apa kata Pak Rio. Yara sedang tertawa ceria bersama Erza, pria yang telah memberikan warna indah di hidupnya.



...🌱🌱🌱🌱...



"Benar 'kan ucapanku. Setelah menikmati es krim ini kamu jadi banyak tersenyum," ucap Erza sambil terus menikmati es krim di tangannya.


Erza tidak sabar menanti sampai sebuah kejutan itu Yara rasakan.


"Itu karena kamu gak berhenti melawak. Jadi aku terus tertawa!" Sanggah Yara. Wanita itu kembali menikmati es krim nya.Wajahnya langsung berubah saat Yara merasakan sesuatu yang aneh di dalam mulutnya.


Erza mulai menerka- nerka. Inilah saatnya Yara menerima kejutan darinya.


.


.


.


.


To Be continued.



Nikmati alurnya ya .. jangan lupa like dan komentar nya 😍😘😘😘



Mampir ke karya temanku yuk!

__ADS_1



![](contribute/fiction/6108799/markdown/9732297/1679056718009.jpg)


__ADS_2