Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Mengangkatnya Sebagai Anak


__ADS_3

Seperti dugaan Yara, Dhiya pasti terbangun di tengah malam. Anak itu ingin pindah tidur bersama bundanya.


Dhiya terbangun dan berjalan ke luar dari kamar besar. Bocah kecil itu berjalan sembari mengucek matanya.


"Bunda," lirih Dhiya. Anak itu celingak-celinguk kanan dan kiri mencari seseorang. Tapi di luar sana sangat sepi. Dhiya tidak berani membangunkan anak panti yang lain. Alhasil anak itu duduk sendiri di depan kamar. Di depan bangku panjang yang terbuat dari besi.


Seorang anak laki-laki yang baru saja datang dari arah mushola melihat sosok anak perempuan yang ia perhatikan dari tadi siang. Azzam baru melaksanakan solat malam nya.


Tidak tega melihat Dhiya seorang diri. Azzam mendekati gadis itu.


"Kamu sedang apa sendirian di sini?" Tanya Azzam membuat Dhiya menoleh padanya.


"Kak Azzam!" lirih Dhiya sambil terus menguap karena mengantuk.


"Kenapa tidak tidur?"


"Aku mau ke bunda!" Dhiya berusaha membuka matanya tapi rasanya begitu berat. Tapi bibirnya masih saja terus berbicara. Kalau dia tidak nyenyak tidur di kamar besar. Membuat Azzam menyunggingkan senyum melihatnya.


"Ayo, Kakak antar!"


Dhiya pun mengangguk pelan. Akhirnya Azzam berjalan lebih dulu dari Dhiya. Saat berjalan, Azzam menoleh ke belakang. Tidak ada pergerakan dari anak itu. Dhiya masih duduk di bangku dan tidak beranjak sama sekali.


Azzam menghela napas berat. Anak lelaki itu berjongkok di depan Dhiya.


"Ayo, naik ke punggungku!" Titah Azzam.


Akhirnya saat ini Dhiya diantar oleh Azzam sambil digendong di punggung oleh anak lelaki itu. Dhiya malah meneruskan tidurnya dalam gendongan Azzam.


Senyum terukir saat Azzam menoleh ke belakang. Melihat Dhiya yang merebahkan kepala di bahunya.


Tok ... Tok ... Tok ...


Azzam mengetuk pintu kamar Mama Anggi. Dua kali ia melakukan hal yang sama dan tak lama pintu kamar terbuka.


"Dhiya," Mama Anggi begitu terkejut saat melihat Dhiya berada di punggung Azzam sambil tertidur.


Dhiya membuka matanya saat Mama Anggi memanggil namanya. "Oma," Panggil Dhiya. "Aku mau tidur sama bunda!" sahut Dhiya. Bocah itu merentangkan tangannya pada Mama Anggi.


Dhiya pun beralih pada gendongan wanita berumur itu.


"Maaf, Tante. Tadi saya ke kamar Kak Yara tapi tidak ada sahutan sama sekali. Jadi saya ke sini!"


Mama Anggi tersenyum melihat Azzam.

__ADS_1


"Tidak apa. Bagaimana kamu bisa bersama dengan Dhiya?" Tanya Mama Anggi.


Azzam pun menceritakan, bagaimana dia bisa bertemu dengan Dhiya. Mendengar penuturan Azzam. Mama Anggi semakin tertarik pada anak lelaki itu.


"Kamu anak yang baik. Terima kasih sudah mengantarkan Dhiya. Kebetulan bundanya Dhiya sedang tidak ada di tempat. Mereka terjebak dalam perjalanan jadi tidak bisa pulang malam ini. Biar Dhiya sama Tante di sini. Sekali lagi terima kasih ya, sudah mengantarkan Dhiya," ucap Mama Anggi.


"Sama-sama, Tante. Kalau begitu saya permisi dulu!" Azzam pun undur diri dari hadapan Mama Anggi. Anak itu kembali ke dalam kamar besarnya yang hanya ditempati para lelaki saja.


Melihat kepergian Azzam dari hadapannya. Membuat Mama Anggi yakin dengan niatnya pada anak itu. Besok pagi ia akan menghubungi Papa Rangga soal niatnya mengangkat Azzam sebagai anak. Setelah mendengar penjelasan dari Bu Lidia tadi. Mama Anggi semakin yakin dengan niatnya.


"Aku melihat kebaikan dalam diri anak itu. Entah mengapa perasaan ini begitu simpatik padanya," ucap Mama Anggi menatap kepergian Azzam dari hadapannya.


🌱🌱🌱


Dinginnya udara di pagi hari di desa ini benar-benar membuat enggan si pemilik tubuh yang lelah beraktivitas semalam. Yara yang awalnya tidak ingin ikut bergantian dalam pergulatan panas semalam. Nyatanya ikut serta dalam pembibitan yang dilakukan Erza.


keduanya bekerja sama agar mendapat hasil yang lebih baik.


Yara mengeratkan pelukan pada tubuh kekar Erza. Menyusup mencari kehangatan di suasana dingin pagi ini.


Saling memeluk erat dalam satu selimut dengan tubuh yang sama-sama polos membuat keduanya merasakan kehangatan dari tubuh yang saling bersentuhan itu.


Suara dari mesin pemotong padi terdengar mengusik pendengaran Erza. Pria itu terbangun dari tidurnya. Ia merasa penasaran dengan apa yang terjadi di luar cottage. Tidak lupa Erza menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh molek istrinya. Sebelum keluar dari kamar cottage, Erza membersihkan tubuhnya terlebih dulu.


Erza merasa penasaran dengan apa yang ia lihat. Pria itu memperhatikan dengan seksama kegiatan yang tengah berlangsung di persawahan itu.


Mesin pemotong padi itu dengan cepat memotong tangkai padi di beberapa kotak persawahan.


Ada beberapa orang yang membantu mengumpulkan hasil dari potongan tangani padi berupa jerami yang sudah bersih. Ada beberapa wanita juga yang membantu merontokkan padi dengan alat perontok.


Merontokkan padi dapat dilakukan dengan cara memegang segenggam batang padi. Pegang batang bagian bawah dan pukul-pukul kan padi ke alat perontok sampai semua padi rontok.


Semua kegiatan itu membuat Erza penasaran. Pria itu baru melihatnya secara langsung.


Erza tidak sadar kalau Yara sudah bangun dan sudah rapi dengan pakaiannya.


Yara dengan manja memeluk Erza dari belakang. "Lihat apa sih, Mas?" Tanya Yara yang memeluk erat tubuh kekar suaminya.


Erza sedikit tersentak dengan pelukan Yara. "Kamu sudah bangun! Kenapa aku tidak menyadarinya?" Erza balik bertanya sembari menengok ke belakang. Ia tersenyum senang mendapat perlakuan manis Yara yang sudah mulai tidak canggung padanya.


"Kamu asik dengan pandanganku," sahut Yara yang semakin mengeratkan pelukannya. Wanita itu merasakan kenyamanan saat memeluk tubuh Erza.


Erza tersenyum membalasnya. Pria itu dengan cepat mengubah posisinya. Erza memutar tubuh dan saat ini Erza yang ada di belakang tubuh Yara. posisi mereka berganti. Erza yang memeluk Yara dari belakang.

__ADS_1


"Hem, wangi sekali! Kenapa tadi tidak manis bareng saja!" Celetuk Erza.


"Kalau bareng-bareng gak mungkin sekarang kita berada di sini, Mas. Secara kamu kalau sudah main nggak cukup sebentar," cebik Yara.


"Hahaha ...." Erza tertawa renyah dengan penuturan Yara. "Siapa suruh tubuhmu membuatku candu!" Erza malah mencium tengkuk leher istrinya dari belakang kemudian memberikan gigitan kecil di lehernya.


Pria itu juga mengembangkan senyum saat melihat jejak kepemilikannya di leher putih Yara. Hasil lembarnya tadi malam dengan Yara.


Satu harapan yang ada di hati Erza. Ia berharap buah hati segera hadir diantara mereka.


"Mas, jangan seperti itu! Malu di lihat orang," protes Yara.


"Ngapain malu, yang lain saja cuek dengan kegiatan masing-masing. Lihat di sana!" Erza menunjuk cottage yang tak jauh dari tempatnya saat ini.


"Ya ampun kenapa mereka tidak melakukan itu di dalam kamar saja. Apa mereka tidak malu di lihat berciuman oleh para petani di sana." Yara menggelengkan kepala dengan tingkah dua orang yang mengisi cottage di sebelah mereka.


"Kita juga bisa melakukan itu, Sayang," bisik Erza.


"Aku cubit kalau mas melakukan itu, di sini!" Yara hendak melepas pelukan Erza dari tubuhnya.


Erza kembali terkekeh mendengarnya.


"Sudah jangan berontak. Kita nikmati saja pagi ini. Sebelum kembali ke panti, apa kamu mau kita bermalam lagi di sini? Anggap saja lagi honeymoon," ucap Erza.


"Nggak ah, aku mau cepat kembali ke panti. Dhiya pasti mencariku, Mas!" Tolak Yara.


"Makanya sepuluh menit lagi ya, Aku mau menikmati kebersamaan kita."


Yara menoleh ke sisi belakang. Kemudian mengangguk dan tersenyum pada Erza. Keduanya pun menikmati sisa waktu pagi ini di cottage itu. Tempat yang memberikan kenangan manis untuk Erza dan Yara.


.


.


.


To be continued.


Hai ketemu lagi ...


Maaf ya Author slow up. Author lagi kurang fit. Selama bulan puasa ini pola makan tidak teratur jadilah begini.


Buat kalian sehat sehat ya ..

__ADS_1


Jangan lupa Like, komen dan hadiahnya ...😁😁


__ADS_2