
Meskipun masih gemetar menggerakkan tangannya. Tapi Pak Setyo tetap menyatukan kedua tangan Yara dan Afkar. Yara tak hentinya menangis saat itu. Memang hanya Pak Setyo yang mengerti isi hatinya saat ini.
Afkar menatap Pak Setyo seakan ingin memberitahukan sesuatu.
Pak Setyo tahu kalau Afkar hilang ingatan saat ini. Meskipun mengalami stroke tapi pendengarannya masih menangkap jelas semua ucapan yang disampaikan Mira semalam tentang kondisi Afkar.
Pegangan tangan antara Yara dan Afkar tak berlangsung lama. Afkar tiba-tiba melepaskannya begitu saja. Sebab pria itu melihat kedatangan Syafa ke dalam rumah.
"Pak, maafkan Afkar yang belum bisa mengingat semuanya. Tapi aku mau mengenalkan istri ku yang lain. Dia wanita yang telah menyelamatkan aku dan membantu pengobatanku selama ini. Kalau bukan karena dia mungkin saat ini Afkar sudah tidak ada di dunia ini." Afkar menoleh pada Syafa dan meminta wanita itu mendekat kearahnya.
Syafa sempat menggelengkan kepala menolak permintaan Afkar. Tapi Bu Nuri sedikit mendorong pelan tubuh menantu barunya itu.
"Sana, hampiri suamimu!" Titah Bu Nuri setengah berbisik pada Syafa. Kemudian menyuruh Dhiya untuk melepas tangan Syafa. Gadis kecil itu bisa langsung dekat dengan Syafa. Sifat lembut dari istri kedua Afkar itu dengan mudah diterima oleh Dhiya.
"Ini istriku, Pak!" Afkar memperkenal Syafa pada Pak Setyo. Dengan sopan dan santun Syafa menyalami Pak Setyo.
"Aku Syafa, Pak! Maaf kalau kehadiran aku di sini membuat kalian terkejut apalagi dengan status ku sebagai istri dari Afkar," ucap Syafa sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada sembari menundukkan sedikit tubuhnya pada Mira, Paman Yono, Bi Darmi dan Bu Nuri yang ada di dalam ruangan itu.
Syafa juga menatap Yara yang membuang wajahnya sambil mengusap pipinya. Syafa tau jika Yara tengah meneteskan air mata.
"Terutama Yara, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu kalau Mas Afkar sudah menikah," ucap Syafa sambil menatap Yara sedih. Rasanya kesedihan Yara bisa ia rasakan.
Yara hanya bisa membalas dengan dikit senyuman.
"Kamu tidak perlu minta maaf, seharusnya Yara berterima kasih karena kamu sudah menyelamatkan suaminya dari ambang kematian. kalau tidak ada kamu bagaimana nasib Afkar?" serobot Bu Nuri yang tiba-tiba ikut menimpali ucapan Syafa.
"Ya, benar kata ibu. Aku yang harusnya berterima kasih pada kamu, mba!" balas Yara sambil tertunduk sedih.
Mira, Paman Yono, Bi Darmi hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Bu Nuri. Mereka semua tahu kalau wanita paruh baya itu memang tidak suka pada Yara dari dulu.
Yara memilih mengalah daripada ada keributan di sana.
Pak Setyo nampak sedih dengan situasi itu. 'Yara, maafkan bapak yang tidak bisa membantu kamu kali ini, Nak. Sabar dan teruslah kuat demi Dhiya. Bapak yakin kamu wanita yang kuat.'
Batin Pak Setyo yang memperhatikan interaksi Bu Nuri, Yara dan semua orang yang ada di dekatnya.
__ADS_1
"Ya sudah ... Sudah... Sebaiknya kalian istirahat dulu. Kalian habis perjalanan jauh, pastinya cape 'kan? Nanti setelah kalian beristirahat baru ceritakan pada kami yang sebenarnya terjadi!" Bu Nuri menarik Syafa agar mengikuti langkahnya menuju ke arah sebuah kamar.
"Mir, antarkan bapakmu dulu ke kamar. sudah waktunya dia istirahat," titah Bu Nuri dan mendapat anggukan dari Mira. Anak bungsunya itu dengan Baik menuruti perintah ibunya.
Yara terkejut saat Bu Nuri, mertuanya itu menunjuk kamar miliknya pada Syafa. kamar yang biasa ia tempati bersama Afkar jika menginap di rumah itu.
"Loh, Bu. Itu 'kan kamar aku dan Mas Afkar?" protes Yara pada Bu Nuri.
"Kamar tamu sudah Mira bersihkan, kamu bisa tidur di sana! Nanti ibu pindahkan pakaian kamu dan Dhiya dari kamar itu. Syafa pasti tidak terbiasa tidur di kamar kecil. Kamar kamu dan Afkar 'kan lumayan besar jadi sekarang mengalah dulu sama mereka. Syafa juga istri Afkar, jadi kamu harus mau berbagi. Anggap saja ini balas budi kamu sama dia," ucap Bu Nuri kemudian hendak mengajak Syafa ke kamar. Tapi wanita itu menolak.
"Aku bisa tidur di kamar mana saja, Bu! Tidak harus besar, yang penting bersih." Syafa mencoba menolak secara halus. Wanita itu tidak enak tiba-tiba diperlakukan istimewa seperti itu.
Bu Nuri menoleh ke arah Yara usai mendengar ucapan Syafa yang berbicara sambil menatap Yara.
"Kamu keberatan, Ra?" Tanya Bu Nuri dengan suara tegasnya.
"Tidak, Bu. Silakan saja! Benar kata ibu, aku harus tahu diri untuk membalas budi kebaikan Syafa. Aku mungkin tidak akan sanggup membiayai semua perawatan Mas Afkar, kalau bukan pertolongan dari Mba Syafa tidak mungkin Mas Afkar bisa berkumpul dengan kita lagi di sini," ucap Yara sambil meraih tas jinjing miliknya dan bersiap melangkah menuju ruang tamu yang sudah dibersihkan oleh Mira sebelumnya.
"Ra," panggil Syafa. Ia merasa tidak enak dengan situasi yang terjadi saat itu.
"Aku tidak pa-pa, Mba!" Ucap Yara kepada Syafa kemudian menoleh ke arah Dhiya yang merasa bingung dengan ucapan orang dewasa di hadapannya.
"Tapi, Ayah tenapa cama Mamih Cafa, Mah. Beldua ke kamal?" Tanya Dhiya polos sambil di gandeng Lura ke kamar tamu.
"Nanti, bunda jelaskan sama Dhiya, ok." Dhiya mengangguk pelan menanggapinya.
Mira menggelengkan kepala dengan sikap Bu Nuri.
"Bu, harusnya jangan seperti itu sama Mba Yara, kasihan!" tegur Mira pada Bu Nuri kemudian beralih kepada Syafa.
"Mba Syafa sama Mas Afkar lebih baik istirahat dulu saja di kamar! Perjalanan dari Jakarta ke sini pasti membuat kalian lelah. Jika memang kalian sudah santap siang di luar tadi, makanan yang sudah disiapkan buat nanti sore saja," ujar Mira.
"Maaf... Kami jadi tidak makan, makanan yang sudah disiapkan. Aku yang minta makan saat dalam perjalanan ke sini, tadi. Aku lihat ada sate keong di jalan jadi rasanya ingin menikmati makanan itu," balas Afkar sontak membuat Mira terkejut.
"Mas, ingat makanan kesukaan Mba Yara sama Mas?" Tanya Mira.
__ADS_1
Afkar menggeleng pelan. "Tidak aku hanya penasaran saja saat melewati restoran itu. Jelas terpampang menu makan yang aneh itu," sahut Afkar.
"Itu makan kesukaan kalian berdua. Setiap Minggu pasti Mas Afkar dan Mba Yara ke tempat itu," ucap Mira sedikit mengungkapkan kesukaan kakaknya itu.
"Sudah, kamu ini gimana sih! Nyuruh Mereka istirahat malah menceritakan yang lain," sela Bu Nuri berusaha menghentikan Mira berbicara lebih banyak lagi sambil melangkah meninggalkan Syafa dan Afkar.
"Ibu... Mas Afkar harus diberi sedikit demi sedikit kenangan masa lalunya agar perlahan ingatannya kembali," Mira protes kepada Bu Nuri.
Afkar menggelangkan kepala mendengar ucapan ibu dan anak itu.
"Ayo... Masuk, Sayang!" Ajak Afkar pada Syafa.
"Mas, apa aku menyakiti perasaan Lura?" Syafa merasa tidak enak hati.
"Tidak!"
Syafa membuang napas pelan. Rasanya percuma bertanya pada Afkar.
"Dengar seharusnya kamu senang aku selalu mengingat kamu, coba bagaimana jika aku juga melupakan kamu?" bisik Afkar pelan di teling a Syafa. Pria itu berucap jahil pada wanita itu
"Jangan... Kamu tidak boleh melupakan aku, Mas!" Syafa memanyunkan bibirnya kemudian memeluk Afkar dengan erat dan manja.
Afkar terkekeh kecil dengan sikap manja dari Syafa. Istri keduanya yang memang dimanja oleh Afkar dan juga Tuan Rio, papanya. Keduanya kemudian masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan Bu Nuri. Kamar yang sebenarnya milik Yara dan Afkar.
Di kamar lain, Syara berdiri di balik tembok di dalam kamar tamu yang pintunya sedikit terbuka.
Yara memegang dadanya sendiri sambil sesekali menepuknya pelan. Rasanya di hati Yara sakit dan sesak. Buliran air mata kembali menetes di pipi Yara saat melirik ke arah mereka. Afkar begitu memanjakan dan bersikap lembut pada Yara. Satu hal yang sering Afkar lakukan padanya dulu.
"Aku rindu Mas Afkar ku yang dulu!" gumam Yara yang menengadahkan wajahnya ke atas sambil memejamkan mata. Berusaha menahan Air mata yang keluar dari matanya.
.
.
.
__ADS_1
.
.