
Derap langkah terdengar menggema di lorong rumah sakit. Pria berumur yang masih terlihat gagah itu berjalan cepat memasuki ruangan kelas VVIP di rumah sakit itu.
Wajah Syafa begitu senang saat melihat kedatangan papa-nya.
“Papa ...,” ucap Syafa dengan wajah berbinarnya. Ia merentangkan tangan saat Pak Rio berjalan mendekatinya di brankar rumah sakit.
Pelukan hangat pun terjadi antara papa dan anak itu. Syafa begitu merindukan sosok pria berumur yang ada di hadapannya itu. Terakhir bertemu saat pertemuannya bersama Afkar di salah satu perusahaan yang baru saja di pimpin oleh suaminya.
“Syafa kangen banget sama papa," ucap Syafa saat memeluk Pak Rio.
“Papa juga kangen sama kamu, Nak,” balas Pak Rio sambil mengelus pelan pucuk kepala Syafa. “Putri papa akan menjadi seorang ibu, apa benar?” tanya Pak Rio di sela pelukannya. Kemudian Syafa dan Pak Rio perlahan melepaskan pelukan mereka.
Syafa mengangguk pelan membalasnya.
Melihat Pak Rio dan Syafa saling melepas rindu Afkar pamit sebentar keluar ruangan untuk menerima telepon. Pak Rio melihat kepergian Afkar, ia lekas menatap Syafa yang terlihat agak kurus dan sedikit pucat.
“Apa Afkar memperlakukanmu dengan baik di sana!” Tanya Pak Rio.
“Mas Afkar baik, Pah. Bahkan ibu mertuaku juga sangat baik. Hanya saja aku merasa takut kalau Mas Afkar melupakanku,” ujar Syafa.
“Kenapa begitu?”
Syafa menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah karena berbohong pada papanya. Syafa pernah bilang jika istri pertama Afkar yaitu Yara sudah tidak tinggal lagi bersama mereka. Tapi kenyataannya sampai saat ini Yara masih ada di rumah mereka.
Ada alasan Syafa berbohong, karena Afkar yanng meminta itu padanya. Dan Syafa pun mengikutinya. Wanita itu rela berbohong demi Afkar.
“Maaf, Pah. Aku berbohong padamu!” Syafa mengakui kesalahannya. Dan saat itu juga Syafa menceritakan apapun yang terjadi padanya. Perasaan takut, gelisah dan pasrah ia rasakan di tambah kehamilannya yang belum di ketahui sehingga makin menambah beban pikiran Syafa.
“Afkar berani melakukan ini padamu. Papa tidak akan membiarkan itu terjadi, jika ia bersikeras mempertahankan istri pertamanya dia pasti akan menyesal. Suamimu harus memilih pergi atau terus bersamamu. Dia juga tidak akan bebas, papa tidak akan tinggal diam,” Pak Rio terlihat sangat marah mendengar kejujuran Syafa. Memang Wanita itu tidak bisa berbohong pada papanya. Karena hanya bersama pria berumur itu Syafa menjalani hidupnya selama ini.
Syafa terlihat begitu takut dengan ucapan papanya. Ia tahu sikap keras yang dimiliki papanya saat ini. Pak Rio bisa berbuat kejam jika apa yang ia sayangi tersakiti. Pengalaman pahit di masa lalu telah merubah semua sikap pria itu. Pak Rio yang dulu sifatnya hangat dan bersahabat kini menjadi keras dan tidak gampang percaya pada siapapun. Pengalaman terlalu percaya pada orang lain membuat pria itu kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.
“Jangan lakukan apapun sama Mas Afkar, Pah. Syafa sudah menerima keadaannya saat ini,” Syafa meyakinkan papa-nya. Tapi Pak Rio tetap saja tidak menerima itu semua. Menurutnya Afkar harus memilih salah satu. Atau dia tidak akan pernah melihat Syafa lagi.
__ADS_1
“Papa tetap tidak terima jika putri papa harus menunggu giliran untuk bersama suaminya di rumahnya sendiri, kamu harus menuruti apa ucapan papa kali ini,” ucap Pak Rio tegas.
Dan di saat yang bersamaan Afkar kembali ke dalam kamar Syafa. Pak Rio segera menghampiri pria itu.
“Kamu tidak tahu diri!” Pak Rio langsung memberikan pelajaran pada Afkar saat suami Syafa itu mendekati Syafa.
Bugh ....
Pukulan itu mendarat sempurna di rahang pipi Afkar.
Melihat itu, Syafa menjerit histeris. “Papa, hentikan!” jerit Syafa yang bergegas turun dari brankar. Belum juga kakinya menginjak lantai,Syafa meringis sambil memegangi perutnya.
“Awww ...” ringis Syafa.
“Sayang!” Afkar langsung bergerak mendekati Syafa tapi Pak Rio menahannya.
“Semua karena ulah mu!” Pak Rio menatap Afkar dengan penuh emosi. “Kamu akan mengalami hal yang sama seperti Ryan, mantan kekasih Syafa. Jika kamu berani menyakiti bahkan membuat putriku bersedih lagi. Ingat apa yang akan papa lakukan padamu dan seluruh keluargamu,” ancam Pak Rio pada Afkar.
Syafa hanya bisa diam dan berseduh mendengar kemarahan papa-nya. Ia tahu kalau dirinya salah telah mengungkapkan semuanya pada papanya tapi Syafa bukan tipe wanita yang pandai berbohong.
“Maafkan aku, Pah!” Ucap Afkar sambil tertunduk. Aku tidak akan pernah meninggalkan Syafa. Aku akan selalu bersama dia dan calon bayi kami,” lirih Afkar. Meskipun ia belum ingat sepenuhnya kenangan dengan semua keluarganya. Tapi Afkar tidak mau terjadi sesuatu pada mereka.
“Papa pegang ucapanmu, ingat jika kamu mengingkari, kamu sendiri yang akan menerima akibatnya,” ancam Pak Rio.
Syafa yang mendengar ucapan Afkar segera turun dari brankarnya dengan pelan dan hati-hati. Ia berjalan pelan ke arah Afkar kemudian menghamburkan tubuh dalam pelukan suaminya.
“Kamu janji akan bersamaku, Mas?” Tanya Syafa disela pelukannya.
“Ya, aku janji!” Balas Afkar.
“Tolong jangan diambil hati ucapan papa, ya, Mas!” Bisik Syafa agar tidak di dengar oleh papanya. Kemudian wanita itu meregangkan pelukannya. Afkar hanya mengangguk pelan. “Bagaimana dengan Yara?” Tanya Syafa untuk memastikan.
Pak Rio beralih pada ponselnya yang berdering. Melihat putrinya sedang bermanja pada Afkar. Pria berumur itu sedikit menjauh ke arah balkon agar bisa leluasa menerima telepon.
__ADS_1
“Aku akan meminta Yara untuk tinggal di rumah kontrakannya dulu. Agar hati dan pikiranmu merasa tenang tanpa kehadirannya di rumah. Maaf jika masa laluku menjadi beban untukmu.”Afkar mengelus pelan bahu Syafa.
“Terima kasih sudah mengerti aku, Mas.” Syafa melingkarkan tangan di pinggang suaminya. “Maaf bukan maksudku ingin mengusir Yara tapi aku hanya ingin punya privasi dengan kamu di rumah kita.”
Afkar mengangguk pelan. “Aku mengerti, Sayang!” Ciuman hangat mendarat di kening Syafa. “Sekarang, istirahat lah. Kamu tidak boleh terlalu lelah dan banyak berpikir. Jaga baik-baik kandungan kamu! Ingat ibu hamil harus rileks dan tersenyum agar anak kita nantinya sehat.” Afkar mendaratkan tangannya di perut Syafa kemudian mengelusnya pelan.
“Iya, Mas. Aku akan jaga baik-baik janin ini. Dia dalah bukti cinta kita berdua,x sahut Syafa dengan wajah yang berbinar bahagia.
“Kembalilah ke tempat tidur, aku kupaskan buah untukmu," Ajak Afkar.
Syafa mengangguk pelan di-iringi senyuman manis pada suaminya.
Di luar ruangan seorang wanita menelan kenyataan pahit mendengar semua percakapan Afkar, Pak Rio dan Syafa.
Dadanya bergemuruh hebat saat ini. Satu tangan menekan dadanya sendiri. Yara merasa semakin tidak berarti saat itu.
‘Ternyata kehadiran ku beberapa hari ini pun tidak berarti sama sekali buat kamu, Mas. Sebelum kamu meminta aku untuk pergi. Aku akan mengabulkannya, Mas. Aku akan pergi dan membawa Dhiya dari hadapan kalian. Aku pergi bukan karena aku kalah. Maaf jika selama ini kehadiranku membuat hidup kamu menjadi seperti ini.’
Batin Yara kemudian melangkah menjauh dari ruangan itu. Wanita itu sudah bertekad untuk pergi kali ini. Rasanya percuma jika Afkar tidak menginginkan keberadaannya.
Baru beberapa langkah berjalan. Yara berpapasan dengan seorang suster. Dan meminta suster tersebut mengantarkan bubur kacang ijo yang ia bawa ke ruangan Syafa. Yara ingat tadi pagi Syafa begitu lahap memakan makanan itu. Saat mengetahui Syafa harus dirawat di rumah sakit. Yara berniat membawakan kacang hijau itu ke rumah sakit dan meminta pak supir untuk mengantarkannya ke sana. Meski bagaimanpun Syafa telah baik pada Yara selama ini. Tapi Yara tidak menyangka kehadirannya ternyata menjadi beban bagi wanita itu.
Yara tidak bisa menampik hal itu. Pasti setiap wanita akan merasa tertekan jika harus satu atap dengan madu mereka. Sebab Yara merasakan hal yang sama dengan Syafa. Dan kenyataan pahit Yara dengar sendiri saat Afkar berucap akan meminta dirinya pergi. Tanpa diminta pun Yara akan pergi. Ia akan melepas seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.
‘Aku ikhlas melepasmu, Mas! Jika memang kita ditakdirkan untuk bersama, pasti ada jalan untuk itu.’
Yara mengusap setetes air yang hampir saja menetes dari sudut bibirnya. Mulai saat ini Yara berjanji tidak ada lagi air mata. Yara bertekad ingin hidup lebih baik bersama Dhiya untuk kedepannya.
.
.
.
__ADS_1
.